Akhir Nikah Paksa

Akhir Nikah Paksa
Baiklah, setuju


__ADS_3

"Terserah sajalah. Aku akan mengikuti kalian," ujar Willow dengan wajah yang tertunduk. Asal tahu saja, hatinya sangat hancur. Mana ada orang yang mau, bahkan kisah cinta saja harus dipaksa.


"Papi hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik, Nak. Kami tidak berniat menjebloskanmu ke tempat penyiksaan yang tiada kebebasan untukmu. Kakakmu bahkan hanya bisa terhitung satu bulan dalam setahun tidur di rumah ini. Ia bolak balik ke luar kota dan juga luar negeri. Sedangkan Papi dan Mami juga demikian. Willow sering kami tinggalkan karena perkejaan. Umurmu sekarang sudah dewasa, dan Papi tidak mau jika kamu terus sendiri tanpa ada yang menjaga. Papi takut jika akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak ada orang tua yang menginginkan hal buruk terjadi pada anaknya," jelas Ketut dengan lembut. Perasaan Willow bercampur aduk. Ia merasa kecewa, namun juga terharu dengan kata orang tuanya itu, juga terhipnotis dengan nada bicara ayahnya yang lemah lembut.


"Iya, sekarang Will pergi tidur dulu. Will cape, tadi banyak kegiatan di kampus," ujar Willow yang berlalu pergi. Orang tua serta kakaknya hanya diam membiarkan.


Setelah sampai di kamarnya, Willow melanjutkan tangisnya yang tertahan. Jujur saja, ia belum bisa menerima kabar gila ini.


Willow menyergah isi tasnya, lalu memilih kontak di ponselnya. Inez Leta Leteshia, ya, ia menekan nama itu, lalu kemudian menyambungkannya dalam jaringan.


"Hallo, Will," sahut suara di seberang sana.


"Nez, besok aku absen," kata Willow seraya berusaha mengatur suaranya yang serak akibat menangis tadi.


"Loh, kenapa?"


"Ada acara keluarga yang penting," ujar Willow berbohong.


"Oh gitu, oke deh, besok beres."


"Makasih," ucap Willow.


"Sama-sama," balas Inez.


"E, Nez, gimana menurutmu tentang pernikahan muda? Kalau misal nih, diumur kamu yang sekarang terus dipaksa nikah, gimana?" tanya Willow.


"Eh, gila kali! Mana aku mau. Apalagi yang namanya dijodohkan. Iya nih, kalau misalnya cowoknya tampan wajahnya, tapi kalau hatinya busuk. Eh, amit-amit kita dapat cowok begitu, Will. Soal dijodohkan aku benar-benar benci itu sih. Keluargaku pernah hidup menjadi pasutri yang dijodohkan, dan hasilnya keluarganya tidak karuan. Yang lebih gilanya lagi, istrinya yang jadi kepala rumah tangga. Tiap hari dia berjualan sayur di depan komplek rumahku," jelas Inez dengan gaya bahasa khasnya. Willow yang mendengarnya tentu makin terluka hatinya. Ia membayangkan itulah dirinya nanti, menjadi si tokoh wanita dalam cerita Inez.


"Iya, Nez. Makasih jawabannya. dijodohkan pasti memang nggak enak."


"Eh, kamu kenapa? Mengapa juga bertanya tentang perjodohan? Apa jangan-jangan ...."


"Bukan apa-apa, tadi aku nonton drama dan alur ceritanya begitu. Ya sudah, aku tidur dulu, ya. Besok harus butuh kekuatan extra untuk mempersiapkan acara keluarga," ujar Willow lalu mematikan sambungan telepon.

__ADS_1


"Mempersiapkan tangis," gumam Willow setelahnya lagi.


***


Di rumah Viva, ia mempersiapkan makan malamnya sendiri. Ia hidup seorang sendiri di rumahnya sendiri. orang tuanya lengkap, namun jauh darinya. Semua anggota keluarganya berada di Kalimantan. Sedangkan ia seorang diri di ibu kota. Dengan kerja kerasnya ia sudah bisa tinggal di rumahnya sendiri walau masih kredit. Ia memilih bekerja di ibu kota, karena ia sudah terbiasa tinggal di sana. dari semenjak sekolah dasar dulu.


Dulu ia tinggal dengan kakek dan neneknya, tapi satu persatu kakek dan neneknya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Viva memang jarang bertemu dengan orang tuanya sedari ia kecil. Namun, ia masih sering bertukar kabar dengan orang tuanya di sana.


"Oh, mengapa aku tidak menghubungi Willow? Dia pasti mau ke rumahku," ujar Viva bermonolog. Ia kemudian menghubungi temannya itu. Ia tahu, Willow adalah orang yang mudah diajak main ke rumahnya dulu ketika mereka masih sama-sama bersekolah.


"Hallo," suara Willow di seberang sana.


"Hallo, Wil. Sedang apa?" tanya Viva berbasa basi.


"Sedang santai, aku ke rumahmu ya, Va," ujar Willow. Viva tersenyum karena tanpa disuruh Willow sudah berinisiatif ke rumahnya.


"Baiklah, kutunggu, ya. Oh iya, alamatnya aku kirim via whatsapp."


Viva yang mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya segera berjalan keluar dan membuka pintu rumahnya. Ia tersenyum senang melihat Willow.


"Ngapain hanya memandang rumahku? Apa kamu ingin membeli rumahku?" tanya Viva mengejek.


"Tidak, aku ingin membakarnya," kata Willow sembari terkekeh.


"Lalu aku akan membakar balik sepatu channelmu," balas Viva. Mereka kembali tertawa. Willow dan Viva kemudian masuk ke dalam rumah Viva.


"Va, rumahmu bagus juga. Dan kamu, apa tidak kesepian tinggal di rumah ini? Oh, aku tahu, pastinya kamu senang sendiri karena bisa bebas berpacaran dengan kekasihmu itu di sini, kan."


"Maksudmu Regar? Hahaha, jangankan ke sini, bertemu di luar saja kami sangat jarang," sahut Viva.


"Oh ya, mengapa?" tanya Willow.


"Aku yang melarangnya ke sini, bagaimana pun aku sendiri di sini. Kalau ada bisikan setan bagaimana? bisa-bisa aku tidak original lagi," jawab Viva. Willow tertawa lagi. Dadanya sudah tidak sesak lagi. Viva memang hebat membuatnya terhibur.

__ADS_1


"E, Viva, bagaimana kalau kamu tiba-tiba dijodohkan?" tanya Willow yang membuat suasana tiba-tiba berubah. Viva mengernyitkan dahinya.


"Ya, kalau aku mungkin akan sedih. Tapi kalau memang begitu jalan takdirnya, mau tidak mau aku harus menerimanya. Tapi, aku tidak ingin sih itu terjadi," kata Viva.


***


Malam yang ditunggu sudah tiba, Willow dan keluarganya sudah datang di rumah keluarga Yudha. Willow sedari tadi hanya diam. Senyum yang ia lontarkan pada orang lain hanyalah kepalsuan.


Begitu juga dengan Yudha, ia menatap Willow sebentar. Lalu melanjutkan bicaranya pada pak Ketut dan bu Mitha yang berada di depannya.


"Apa kabarmu, Will?" tanya Ranty.


"Baik, Tante."


"Kamu cantik sekali," puji Ranty.


"Terima kasih," jawab Willow dengan tersenyum getir.


"Will, kamu pasti sudah mendengar dari orang tuamu, jadi bagaimana tanggapanmu? Kami ingin mendengarnya sendiri," kata Fendo sembari tersenyum.


"Iya, Om. Saya setuju," jawab Willow singkat. Semua orang tersenyum bahagia, kecuali Willow dan Yudha.


"Kalau Nak Yudha, bagaimana?" tanya Mitha.


"Saya pun setuju," jawab Yudha. Senyum kembali terukir hangat.


"Baiklah, kalau begitu secepatnya niat baik ini kita selenggarakan," kata Fendo


"Iya benar, lebih cepat lebih baik," tambah Ranty.


"Bagaimana kalau 2 minggu lagi?" ujar Ketut memberi saran.


"Oh, bagus, itu bagus. 2 minggu waktu yang cukup untuk mempersiapkan hari pernikahan dan lain-lainnya," sahut Fendo menyetujui. Willow dan Yudha saling bertatapan karena terkejut dengan keputusan orang tua mereka.

__ADS_1


__ADS_2