
Iskandar kembali ke pelaminan dan duduk bersanding di samping Lilis. Jika sebelumnya Lilis menyambut nya dengan banyak senyum dan aura bahagia tapi kini wanita itu bahkan tak menoleh sedikitpun ke arah Iskandar. Aura nya terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Lilis lapar? Mau makan dulu?" Tanya Iskandar.
Meski tak cinta, namun ini adalah sebuah perhatian biasa dari nya untuk sang istri. Kini ia harus hidup bersama Lilis baik dalam suka maupun duka. Sehidup semati bersama wanita yang tak ia cintai.
"Abang habis dari mana?" Nada dingin Lilis terdengar begitu dingin hingga menusuk tulang Iskandar.
Ada apa ini? Apa Lilis tahu Sheila ada di sini? Tapi sejak kapan Lilis tahu? Bagaimana ini?!
"Saya tanya Abang habis dari mana?" Kini Lilis menanyakan kembali pertanyaan yang tak terjawab itu.
Lilis menahan dirinya dan merendah kan suara nya berusaha hanya mereka berdua saja yang mendengar. Sebab banyak nya tamu yang datang ia harus menjaga martabat suami dan keluarga nya.
"Tadi Abang mencari Ayah Abang lah, Mail pun ada juga nemanin Abang"
"Benarkah? Saya rasa masih banyak yang perlu kita bicarakan benar kan? Pernikahan ini maupun hubungan kita nanti nya" Ucap Lilis sambil berbisik di samping Iskandar.
"Apa maksud Lilis?"
Lilis tak menggubris Iskandar dan mengalihkan perhatian nya pada tamu yang hendak bersalaman kepada mereka. Sampai resepsi selesai pikiran Iskandar selalu bertanya - tanya mengenai apa maksud ucapan Lilis tadi. Yang pasti Iskandar dapat melihat raut tak suka dari istri nya itu.
.
.
.
"Alhamdulillah selesai sudah resepsi nya ini"
Para keluarga pun berucap Alhamdulillah beserta syukur dan doa - doa mereka untuk pengantin baru itu.
"Malam ini kalian istirahat saja di hotel ya, rumah kalian masih belum selesai di bereskan dan rumah kita semua sudah tidak ada kamar lagi karena keluarga lain pada nginap di rumah kita" Ucap Papa Lilis.
"Tak apa Pa, Is bisa tidur di manapun"
__ADS_1
"Mana boleh begitu, kalian kan pengantin baru, lebih baik gunakan waktu ini untuk saling mengenal dan barangkali besok kalian mau berbulan madu yang dekat - dekat saja kan"
"Baik pa, Papa udah pesan kan kamar nya kan? Kalau begitu Lilis dan Abang pamit dulu ya, rasanya lelah sekali hari ini, kami ingin cepat istirahat"
Tanpa memperdulikan suami nya Lilis langsung menyeret Iskandar setelah mengambil kunci kamar hotel yang sudah Orang tua nya pesan kan.
Sesampainya di Mobil....
"Lis! Lilis! Kamu kenapa sih?! Kenapa nggak tanya Abang dulu mau apa nggak ke hotel?! Kalau kita di hotel kita akan tidur sekamar! Apa itu yang kamu ingin kan?!!"
Lilis memasang wajah heran bercampur kesal. Lilis langsung melipat tangan nya dan terlihat ia sangat tak puas terhadap tingkah Iskandar.
"Abang nih kenapa? Aneh sekali, Kita suami istri! Wajar saja lah kalau kita tidur sekamar bahkan melakukan hal lebih wajar - wajar saja, kenapa Abang seheboh ini?!"
Iskandar tak bisa berkata - kata, apalagi yang Lilis katakan itu memang benar, itu juga lah yang membuat Iskandar semakin kesal.
"Tapi Abang belum siap! Lagian Kita nih baru aja kenal, tiba - tiba satu kamar rasanya aneh lah, Abang tak nyaman"
"Abang! Saya ini istri Abang, Istri yang sah secara hukum maupun agama, Apalagi lah yang belum siap? Saya yang seorang wanita aja sudah mempersiapkan diri ketika Abang membaca kan ijab Kabul pernikahan, kenapa Abang yang mengucapkan ijab itu sendiri tidak bisa siap?"
"Bang, bisa cepat jalan nggak? Di Belakang sudah ada yang ngantri mau lewat juga! Dan Lilis sungguh capek banget hari ini! Please kita ke hotel dulu biar bisa istirahat sisa nya kita omongin di sana"
Melihat situasi yang tak memungkinkan Iskandar pun menjalan kan mobil nya dan menuju ke hotel yang sudah di siapkan oleh orang tua Lilis. Sesampainya di hotel, Lilis sulit untuk keluar dari mobil dengan gaun nya yang kembang itu. Melihat hal tersebut Iskandar pun mengulur kan tangan nya membantu Lilis.
Dengan cekatan Iskandar mengeluarkan koper mereka dan membawa nya. Bahkan Iskandar juga membantu Lilis masuk ke elevator dengan gaun nya itu.
"Kamar berapa?"
Akhirnya Iskandar membuka suara nya.
"Tiga ratus lima 305"
"Ini kamar nya"
Kedua nya pun masuk dan Lilis dengan cepat berbaring di kasur yang besar itu. Suite room yang mewah sudah di pesan oleh orang tua nya.
__ADS_1
"Jadi? Kamu pilih mau tidur di mana?"
"Kenapa harus pilih? Kasur ini kan luas, bisa muat untuk kita berdua"
"Lis, Abang kan udah bilang Abang nggak siap"
"Abang nggak siap atau Abang memang nggak akan pernah mau menyentuh Lilis?!"
"Apa maksud Lilis?"
Lilis pun mengeluarkan Handphone nya dan menunjukkan foto Iskandar bersama Sheila. Foto saat Sheila menemui Iskandar di sana juga tampak sedikit tubuh dari Mail.
"Abang belum siap karena masih berhubungan dengan wanita ini kan?!"
"Lis, biar pun Abang tak bisa mencintai Lilis tapi Abang tak mungkin bermain di belakang Lilis!"
"Bagaimana bisa Lilis percaya?! Tidur satu ranjang aja Abang tidak mau!!"
"Abang mungkin tak bisa memberikan hati Abang tapi Abang janji akan menghormati Lilis dan tidak akan mendua kan Lilis, Apa sesulit itu percaya?!"
"Baiklah! Tapi Abang harus lakukan Lima permintaan Lilis"
"Apa?!!"
Lilis langsung menatap tajam ke arah Iskandar.
"Kata nya mau buat Lilis percaya?! Lakukan Lima hal ini dan jika dalam setahun pernikahan ini setelah semua yang Abang lakukan pada lilis Abang masih belum juga ada rasa ke Lilis, Saya rela Abang talak"
"Apa?! Istighfar Lis, Kita sudah menikah, Abang menghormati Lilis, Apa itu saja tidak cukup? Abang tak mau!"
"Abang, pernikahan yang saya impikan adalah bersama pria yang bisa membagi hati nya bersama saya, walaupun kita ini di jodoh kan, tapi saya tak tahu Abang nih masih mencintai wanita lain, karena yang saya dengar hubungan kalian sudah berakhir, dengan perasaan seperti itu bagaimana saya bisa yakin Abang tak menduakan saya?"
"Abang tak sekeji itu!!"
"Abang tahan dulu hati Abang tu dan fokus pada Lilis selama setahun ini, lakukan Lima permintaan Lilis itu! Kalau dalam setahun hati Abang masih mencintai wanita Abang dan tidak ada sedikit pun perasaan Abang pada saya, Saya relakan Abang untuk wanita itu! Bagaimana? Adil kan?!"
__ADS_1
-bersambung-