
Iskandar hanya termenung sambil menunggu kedatangan tamu penting yang sudah sejak tadi ia tunggu. Namun dari luar ruangan nya terdengar suara heboh dan hal itu cukup mengganggu lamunan Iskandar.
"Pak Boss terimakasih ya makanan nya, tau aja boss kami lapar, kita udah lembur dua hari....ee tau nya di traktir makanan mewah begini" Ucap salah seorang karyawan nya.
Iskandar pun terheran, bahwasanya ia tak pernah memesan semua makanan mewah di hadapan nya saat ini.
"Saya tidak...."
"Pak Boss! Seperti nya ini khusus untuk Pak Boss deh, ada note nya juga" Ucap Sekertaris nya.
Iskandar pun mengambil kotak makanan mewah dengan sebuah note di atas nya.
"Makan yang banyak ya Abang, Jangan sampai lupa makan, Semua nya untuk karyawan Abang tapi kotak ini khusus untuk Abang"
"Jangan bilang ini dari pacar nya Boss, Mbak Sheila ya?" Tanya yang lain nya.
Namun ucapan itu segera di bantah oleh sekertaris Iskandar dengan cepat lantaran yang paling tahu mengenai siapa sheila adalah sang sekertaris itu sendiri.
"Mbak Sheila itu nggak romantis dan nggak seperhatian seperti ini pada pak Boss, nggak mungkin lah, saya dengar dari Ibu Pak Boss kata nya pak Boss sudah mau menikah kan? Mungkin ini dari calon istri pak Boss"
Seperti itulah kesan Sheila di mata Sekertaris nya. Tidak Romantis dan tidak perhatian terhadap dirinya. Lalu kenapa ia masih mengharapkan Sheila bersama nya?
"Benar ini dari calon Istri saya" Jawab Iskandar sambil lalu.
Semua nya mengucapkan banyak selamat atas kebahagiaan Boss nya yang akan menempuh hidup baru. Melihat ucapan tulus itu, Iskandar hanya mampu tersenyum dan mengatakan terimakasih namun hati nya masih bimbang bahwa ia harus menjalin rumah tangga bersama wanita yang tidak ia kenal sekaligus tidak ia cintai itu.
.
.
.
Seminggu kemudian.....
.
.
.
Pagi hari, rutinitas biasa yang Iskandar miliki adalah bangun, sholat, mandi, sarapan dan kemudian pergi bekerja. Namu. kepergian nya pagi ini tertahan oleh sebuah pesan dari calon Istri nya itu.
__ADS_1
Abang...Hari ini ada fitting baju pengantin, Lilis dan keluarga Abang akan disana sekitar pukul satu siang, Lilis harap Abang bisa menyempatkan waktu sebentar untuk itu...
Sudah seminggu ini, Lilis terus mengirimi nya pesan singkat yang isi hanya sekedar menanyakan keadaan ataupun memberikan informasi jalan nya persiapan pernikahan. Dengan dalih sibuk nya, Iskandar terus mengatakan tak sempat ikut dan menyerahkan semua persiapan kepada Keluarga nya dan Lilis. Baginya pernikahan yang hanya sebuah perjodohan ini, tak memiliki arti apapun jadi buat apa dirinya harus ikut terlibat dalam persiapan itu.
Namun demi menghormati sang calon, Iskandar pun hanya membalas dengan jawaban dingin.
Saya akan datang jika tidak sibuk.
Jawaban dingin dan singkat itu bukan hal baru bagi Lilis. Namun Lilis sudah terbiasa, bahkan Iskandar mengagumi mental baja milik Lilis yang tidak pernah mempermasalahkan hal itu dan tetap dengan kebiasaan nya menghubungi Iskandar meski sering tak mendapatkan balasan.
.
.
.
Pukul Satu siang....
Keluarga Iskandar dan Lilis sudah berkumpul di Boutique Harapan. Butik itu adalah tempat kenangan milik Ibu dan Ayah Iskandar yang menggunakan pakaian pernikahan mereka disana. Semua nya menunggu kedatangan Iskandar namun tak ada tanda - tanda bahwa Iskandar akan datang.
Dengan rasa tidak sabar sang Ayah pun menelfon Iskandar saat itu juga.
"Assalamu'alaikum nak, kamu di mana? Semua nya sudah di sini, kapan kamu akan kesini?"
"Apa tidak bisa rapat nya kamu tunda atau selesai kan lebih cepat?"
"Tidak bisa ayah, ini rapat dengan proyek besar jadi banyak yang sudah kami persiapkan"
Niat awal Iskandar memang ingin menghindari fitting itu namun siapa sangka bahwa hari ini ia memang di sibuk kan dengan semua rapat tiba - tiba ini.
"Ayah, Boleh Lilis pinjam telfon nya?" Tanya Lilis dengan sopan.
"Sebentar....Is Lilis mau bicara dengan kamu" Sang Ayah pun segera memberikan telfon itu kepada Lilis.
"Ayah...tak usah...ayah...." Iskandar enggan namun Lilis dengan cepat mengucap salam.
"Assalamu'alaikum Abang"
"Wa...wa... Waalaikumsalam Lilis" Nada canggung lagi yang mendarat dari Bibir Iskandar.
"Abang sungguh sibuk dengan rapat atau maksaiin diri buat rapat sekarang?" Tanya Lilis dengan wajah serius.
__ADS_1
"Eee....Nggak gitu lah Lilis Abang memang sibuk, Nih ada rapat tiba - tiba aja"
"Sungguh?"
"Iya, tak mungkin Abang bohong ke Lilis, Banyak kerjaan penting tak bisa di cancel juga untuk hari ini, lagipula kita kan sudah mau menikah, jadi Abang perlu lah urus semua nya sampai beres"
"Ya udah, Kali ini aja ya Lilis maaf kan"
"Terimakasih Lilis"
"Tapi Abang nggak mungkin lari kan pas pernikahan kita nantinya?" Goda Lilis kepada Iskandar.
"Lilis!!" Pekik orang tua nya untuk menegur bahwa anak nya tidak sopan.
"Insyaallah Tidak"
"Lilis cuma takut aja kalau Abang lari pas hari pernikahan, jadi kalau mau lari sekarang waktunya nya masih sempat, Assalamu'alaikum!"
Lilis pun segera mematikan telfon itu. Iskandar pun terheran - heran apa benar Lilis ini anak desa yang polos. Kenapa cara dia berbicara tidak ada nada kepolosan dan kesan anak desa di nada bicara nya.
"Nak, kenapa bicara begitu pada Calon suami kamu?"
"Habis Lilis kesal Ma! Pas Fitting pun Abang nggak mau datang juga"
"Maaf kan Ibu ya Lilis, Iskandar itu...."
"Ini bukan salah Ibu" Ucap Lilis kepada Ibu mertua nya.
"Iskandar seperti nya memang sibuk sayang, Kamu saja yang pilih gaun nya, Mama yakin Suami kamu pasti akan setuju saja dengan baju pilihan kamu"
"Kalau setuju aja berarti dia nggak perduli sama pakaian yang bakal Lilis gunakan!"
Baru resah hati Lilis dengan ketidak pedulian dari Iskandar sebuah pesan mengejutkan nya. Lilis pun membaca pesan itu dan mata nya terbelalak dengan lebar. Lilis sempat terdiam beberapa saat namun senyum di wajah nya segera merekah seperti bunga yang mekar di pagi hari.
"Baju nya warna Putih dan Biru langit ya Tante!" Ucap Lilis dengan gembira kepada si pemilik Butik.
"Model nya kak?"
"Model nya yang simpel dan kelihatan elegan aja ketika di pakai kalau bisa yang bahan nya nggak panas"
Perubahan itu terjadi ketika Iskandar memberikan pesan kepada Lilis dengan menulis kan..
__ADS_1
*Lilis...Abang rasa baju untuk akad nya kita perlu warna putih dan resepsi nya warna biru langit atau pun Cream, lebih bagus lagi baju kita punya nuansa simpel dan elegan namun nggak norak kalau di pakai, Abang percaya kan semua nya kepada Lilis ya.
-bersambung*-