
Setelah perjanjian yang dibuat oleh Lilis dan Iskandar itu, Lilis bisa merasakan bahwa Iskandar kini mulai lebih kalem dan hilang sifat jutek nya.
Lilis kadang - kadang tidak mengerti kenapa Iskandar bis begitu jutek dan cerewet melebihi wanita yang sedang terkena datang bulan.
Hari dimulai dari kedua nya yang Sholat berjamaah. Lilis memanjatkan doa nya agar sang suami bisa ikhlas menerima nya dan membuka hati kepada nya dan melepaskan Sheila dari hidup nya.
"Habis Sholat jangan tidur lagi bang, Lilis tahu abang susah bangun kalau udah tidur tapi hari ini kan abang mulai masuk kerja, jadi jangan tidur!! " Lilis memperingati Iskandar.
"Lah?! Kalah - kalah Ibu abang aja? Lilis nih Ibu abang atau Istri? Tak perlu lah seperti itu"
"Lilis nih begini karena perhatian, kalau nggak lilis biarin nih abang kesiangan bangun nya? "
Iskandar hanya bisa menghela nafas. Setiap hari helaan nafas Iskandar menjadi akhir dari percakapan mereka.
Lilis pun mulai sibuk di dapur dan Iskandar yang sedang lewat ke arah dapun pun mendekati Lilis.
"Masak? Buat apa? " Tanya Iskandar dengan heran.
"Emang abang nggak perlu sarapan? "
"Beli saja, di depan tu jual bubur dan nasi kuning"
"Beda lah!! Itu buatan orang! Ini buatan istri!! "
"Sama aja, mau buatan orang atau istri yang penting sarapan, lagian Lilis nih tak malu ke? masa nikah cuma ngurus suami apalagi sampe repot - repot masakin suami gini, bagus kamu istirahat aja ataupun mau kita pekerjaan ART? "
Lilis terus mengangkat alis nya mendengar ocehan Iskandar yang tanpa henti itu.
"Lilis ikhlas dan bahagia kalau suami lilis makan masakan lilis, lalu apa masalah nya? "
"Tak perlu lah repot - repot! ART ada bisa kita pekerjakan"
"Abang!! " Pekik Lilis dengan kesal.
"Ini nih yang Lilis mau!! Lagian bukan kah ini jadi pahala juga buat lilis? Membuat suami kenyang dapat pahala apa lagi yang perlu lilis cari? Lilis mampu urus abang jadi sekarang kalau abang masih mau ngomel, bagus sapu halaman jak! halaman tu udah ndak ada bentuk nya"
Lilis memberikan sapu ijuk kepada Iskandar dan menyuruh nya pergi ke halaman dengan mata nya.
"Rumah - rumah abang, kenapa abang pula yang harus nyapu nya? "
Meski Iskandar berkomentar namun ia tetap menyapu halaman dengan tekun dan selesai. Pagi hari ia lalui dengan keringat yang membanjiri tubuh nya.
"Capek sekali lah! lebih capek dari jogging rasa nya! "
"Abang.... " Panggil Lilis dengan lembut.
__ADS_1
"Ha? Nak apa lagi? Mana lagi yang mau di sapu?" Iskandar menyindir lilis meski tenaga nya sudah hilang.
"Lilis bawakan jus untuk abang, sarapan udah di meja, Abang mau makan dulu atau mandi dulu? "
Iskandar menyambar Jus yang di pegang lilis dengan cepat karena rasa haus dan letih nya.
"Abang mau mandi dulu lah, oh iya lis, tolong siapkan dasi yang cocok dengan jas abang soal nya hari ini ada rapat"
"Siap suami ku sayang"
Iskandar bergidik ngeri dengan jawaban Lilis namun ia mengabaikan hal itu dan bersiap mandi.
Lilis pun fokus menunggu Iskandar di meja makan dan menyiapkan sarapan di piring yang ia sediakan untuk Iskandar nanti nya.
"Nggak salah nih lilis? " Suara Iskandar yang heran terdengar mendekat ke arah Lilis.
"Warna nya kok cerah banget sih? Kayak cewek lah warna biru begini"
"Biru langit itu bisa cocok dengan cewek atau pun cowok kalau di padukan dengan warna putih"
"Emangnya nggak aneh? Ini rapat penting lho"
"Nggak!! Trust Me!! "
Iskandar pun menghela nafas lagi.
"Jangan hanya lihat bilang aja mau komen apaan!"ucap Lilis yang sejak tadi memperhatikan Iskandar..
" Sarapan begini bisa beli, kirain menu nya luar biasa kayak apa, ini nasi goreng, sandwich dan salad bisa beli kali"
"Kapan sih abang bisa paham inti nya bukan ke makanan tapi makna dari nya! Makna! Dah lah abang nih sangat tidak peka!! Duduk dan Makan! nunggu abang berhenti ngomong udah tenggelam matahari!! "
Iskandar pun duduk dan mencoba masakan Lilis..
"Enak kan? "
"Standar"
Meski kata standar yang terdengar tapi mulut nya terus mengunyah sarapan dari Lilis itu. Lidah nya tak bisa berbohong bahwa masakan Lilis sangat enak dan sesuai dengan selera nya.
Setelah sarapan, Iskandar pun berpamitan untuk pergi kerja. Lilis berdiri di depan pintu rumah dengan menyodorkan sebuah kotak bekal.
"Apaan nih?!! "
"Punya mata kan?! Itu bekal lah! "
__ADS_1
"Iya bekal buat apa?! "
"Dimakan lah!! "
"Tau! tapi abang bisa beli lah! dikantor pun banyak kantin! "
"Besok- besok nggak perlu, abang cukup makan bekal buatan lilis dan tabung uang makan abang tu ya"
Iskandar menatap lilis dengan kesal...
"Hati - hati di jalan abang"
Lilis pun mencium tangan suami nya lalu ke pipi suami nya dan kemudian masuk ke dalam dengan meninggal kan rasa heran ke Iskandar.
.
.
.
Di Kantor....
Iskandar menerima banyak selamat dan doa atas kehidupan baru nya yang kini sudah melepas status lajang nya. Hingga tiba waktu makan siang.
"Pak mari kita makan"
Seperti biasa karyawan nya mengajak Iskandar makan di kantin.
"Seperti nya hari ini nggak deh, Istri saya buatin saya bekal, harus habis di makan kalau nggak merajuk dia"
"Ya ampun pengantin baru so sweet banget"
Semua karyawan nya yang masih lajang memandang kotak bekal itu dengan iri, apalagi ketika Iskandar membuka kotak bekal itu. Isi nya sama persis dengan Bento di restoran Jepang.
"Ini istri bapak yang masak nya? persis kayak di restoran pak"
"Iya ya...,"
sejak kapan dia buat ini? padahal waktu nya cuma sebentar tapi dia bisa buat tempura yang besar dan roll sushi dengan berbagai model begini.
Iskandar tak bisa melepaskan rasa heran serta takjub nya atas masakan lilis yang sangat luar biasa itu.
"Wah beruntung bapak bisa dapat istri cantik dan pandai masak pak, istri saya jangan kan kasih bekal pak, sarapan aja saya nggak dikasih sama sekali pak" Curhat salah satu karyawan nya.
Memang benar, di kota yang besar ini jarang sekali ada istri yang mau masak sarapan maupun bekal untuk suami nya. Terutama jika suami istri saling kerja, dari kejadian tersebut Iskandar bisa merasakan ketulusan lilis dan betapa beruntung dirinya yang bisa menikmati kemewahan dari layanan yang di berikan sang istri.
__ADS_1
Harus nya aku bersyukur bisa mendapatkan istri seperti lilis.... tapi kenapa hati ku sulit untuk membuka diri nya kepada lilis?