
Sore hari, Lilis dan Iskandar pun menuju ke rumah orang tua Iskandar. Semua sanak saudara dan keluarga sudah berkumpul disana untuk merayakan kepulangan pengantin baru tersebut dari malam pertama di Hotel mewah.
"Ini lah nih gara - gara Lilis, kenapa lah pakai kirim foto kita berdua, Abang tak suka lah, liat aja nanti pasti foto kita dijadikan candaan keluarga, semua nya pada kumpul semua nih hari ini" Iskandar tidak menutup mulut nya dan terus mengomel meskipun fokus nya sambil menyetir.
"Abang nih, tak habis - habis lagi kah suara tuh?! Kiraiin satu jam ngomel suara Abang udah habis?"
Lilis pandai mengimbanginya Iskandar. Meski ia juga kesal dengan sikap Iskandar pada nya tapi Lilis berusaha menahan nya dan menjawab dengan sindiran yang tidak menyakiti hati suami nya. Biar bagaimanapun Lilis tahu bahwa sekarang Pria ini adalah suami nya dan ia wajib menghormati pria ini sebawel apapun pria ini.
"Nah liat! siapa yang buat Abang jadi ngomel gini? Lilis kan?! Kenapa jadi Lilis yang ngomong sinis begitu?"
"Lah Abang nih! Hanya satu foto aja! Lilis hanya kirim satu foto! Abang kira Lilis bisa kirim semua foto kita yang tadi?!!"
Lilis mengambil handphone nya dan membuka kembali galeri foto nya. Lalu Lilis menunjukkan ke Iskandar.
"Lihat!!! Dari dua puluh foto cuma satu wajah Abang yang bagus, yang lain nya kecut! Masam! Kayak buah belum matang"
"Eissh! Dah lah! Abang mau fokus nyetir"
"Kalau mau fokus! Tutup dulu mulut Abang tu, baru bisa fokus nyetir"
Setelah perdebatan panjang dalam mobil, akhirnya kedua nya sampai di rumah Keluarga Iskandar. Mereka pun saling salam salaman dan mendapat banyak selamat serta doa dari keluarga.
"Bagaimana nak malam pernikahan kamu? Lancar?" Tanya sang Ayah.
"Ehhh? Apaa? Ayah tanya apa?" Iskandar menjawab dengan gugup.
"Jangan begitu lah besan, menantu saya jadi malu tuh" Ucap Papa Lilis.
"Mungkin karena pengantin baru maka nya masih malu ya" Ayah Iskandar pun mengerti.
Pertanyaan selanjutnya pun mengarah ke Lilis dan menanyakan malam mereka namun diucap oleh Ibu nya dan Mama mertua nya itu.
"Lancar - lancar saja Ibu, Mama juga dong masa nanya yang begituan sama kami"
Lilis pun menggenggam tangan Iskandar dengan mesra.
"Lilis kan jadi malu iya nggak Abang?" Lilis melempar respon ke arah Iskandar dan Iskandar segera menjawab dengan segera.
"Iya, Lilis gimana? Baik - baik aja? Atau sakit? Kalau nggak salah tadi di mobil badan nya masih sakit? Apa mau pulang aja sekarang?"
"Apa?" Lilis mulai tidak paham.
"Maaf nih Ayah, Papa, Bunda, mama, Kayak nya Lilis masih sakit sekali badan nya jadi kami seperti nya langsung pulang saja ya"
"Kalian pulang ke mana?" Tanya Mama Lilis.
"Ke rumah saya ma, Barang Lilis juga udah di kirim kesana semua kan, kami kan mulai sekarang akan tinggal serumah"
__ADS_1
Entah kenapa bibir Iskandar lancar berbicara seperti ini.
"Baiklah hati - hati di jalan"
.
.
.
Di Rumah Iskandar..
"Assalamualaikum" Ucap Lilis saat masuk ke rumah itu.
"Waalaikumsalam" Jawab Iskandar.
"Waah bagus nya rumah kita, Lilis yakin bisa betah di sini"
"Ganti dulu sepatu kamu sebelum masuk" Ucap Iskandar sambil membawa koper mereka masuk ke dalam.
Lilis pun buru - buru mengganti sepatu heels nya dengan sendal rumah dan mengikuti Iskandar.
" Biar Abang perjelas lagi, ini rumah Abang dan tak perlu lah pura - pura suka rumah sederhana kayak begini, Di banding rumah kamu yang seperti istana itu, rumah cicilan seperti ini, mana bisa membuat mu senang"
Lilis heran dengan pikiran suami nya itu, kenapa selalu memandang nya dengan tatapan negatif dan curiga.
"Tapi disini kan ada Abang, maka nya Lilis suka tinggal di sini, terus rumah ini semua nya ada aroma Abang, lilis makin betah disini dengan aroma Abang"
"Aneh banget sih" Iskandar melepaskan tangan Lilis dan membawa masuk koper mereka ke kamar.
Lilis pun mengambil koper nya dan ikut masuk ke kamar Iskandar.
"ehhh stop! Ini kamar Abang! Kamar Lilis di sebelah!"
"Abang suami dan istri itu wajib tidur bersama"
"Tapi Abang tidak mau dan abang nggak bisa"
"Abang masih ingat kan syarat dari Lilis?"
"Hah? Lima syarat itu? Ingat! Kenapa?!"
Lilis pun duduk di tempat tidur dan memanggil Iskandar untuk duduk dengan menepuk tempat tidur lalu memanggil dengan tangan nya.
"Kenapa?"
"Abang duduk sini"
__ADS_1
"Nggak!"
"Abang duduk"
"Ngomong aja!!"
Lilis pun menarik Iskandar dengan paksa dan akhirnya Iskandar duduk.
"Lilis punya lima syarat kan, Pertama kita harus tidur di ranjang yang sama setiap hari nya, tanpa terkecuali"
"Apa?! Nggak...Abang nggak...."
"Shutt!!! Abang dengar dulu"
Iskandar pun menutup mulut nya.
"Kedua Lilis mau Abang mengimami Lilis sholat jika Abang ada di rumah, terutama sholat subuh. Tapi jika Abang di luar mau nggak mau ya nggak bisa"
Lilis pun melanjutkan ke syarat ke tiga.
"Ketiga Lilis minta Abang untuk pulang sebelum magrib ke rumah, Lilis kan mau sholat sama Abang terus Lilis harus makan makanan buatan Lilis, Lilis tahu jadwal pulang Abang itu sore dan kalau ada lembur kan nggak tiap hari juga, inti nya langsung pulang dari kantor jangan ke mana - mana"
"Ah bisa gila aku"
"Abang!!!!"
"Yang ke empat, Di kamar sebelah Lilis mau minta ruangan itu, Lilis mau jadikan itu ruang kerja Lilis terutama untuk bermain piano disana, Lilis akan buat ruangan itu kedap suara jadi nggak bising dan nggak ngganggu Abang"
"Oke Fine, yang terakhir?"
"Yang ke lima akan Lilis kasih tahu saat perjanjian kita ini habis, syarat itu nggak akan membebankan Abang, Lilis janji"
"Bagaimana Abang bisa percaya?"
"Karena Lilis akan pakai sistem penalti ke Abang, kalau Abang bohong dan melanggar janji, Akan ada bunga nya lho"
"Haaahhh aku bisa gila, Abang tak suka di kekang lah Lilis"
"Abang ini bukan kekangan, kalau abang nggak mau melakukan nya tidak apa, tapi Lilis pun berhak meminta hak Lilis sebagai istri yang sah!"
Percakapan itu kembali lagi kepada Hak dan Tanggung jawab.
"Baik! Abang turuti tapi Lilis juga begitu, jangan sampai Lilis mengingkari nya, Tapi Abang kasih tahu saja bertahun - tahun di hati Abang terukir nama Sheila jadi....Silahkan saja coba menghapus nya bahkan Lilis pun tak mampu menggantikan nama ini satu huruf pun."
"Kalau belum di coba mana ada yang tahu"
"Kita belum kenal, bahkan Abang tak ingin lebih jauh mengenal Lilis"
__ADS_1
-bersambung-