
Setelah Lilis mengatakan semua yang ia mau, Lilis segera menuju ke kamar mandi. Di nyalakan nya air shower itu dengan kencang. Hati nya sakit saat berbicara seperti barusan. Mengemis hati suami nya yang bahkan tak mau bergerak ke arah nya. Iskandar hanya menjalankan kewajiban nya tanpa memberikan hati nya. Hal itu lebih menyakiti Lilis yang sejak awal melakukan semua nya dengan tulus.
Tahan Lilis....tahan suara mu....jangan sampai Abang tahu kamu sedang menangis....
Lilis menutup mulut nya meskipun air mata nya terus berjatuhan. Semua pilihan nya tak bisa ia sesali lagi, karena semua nya memang lah pilihan nya sendiri. Lilis tak ingin Iskandar melihat nya yang lemah dan menangis seolah ingin bermanja dengan nya. Lilis ingin menampakkan diri nya yang bisa di andal kan dan tegar bagi Iskandar.
Selama lebih dari satu jam Lilis baru keluar dari kamar mandi. Dengan menggunakan jubah tidur nya serta rambut ny yang masih basah itu, Iskandar bisa melihat bahwa Lilis memang lah sangat cantik.
"Abang Mandi lah" ucap Lilis dengan tenang.
Lilis tak ingin Iskandar menyadari suara nya yang serak karena menahan tangis terlalu lama.
"Kenapa kamu lama sekali mandi nya?"
"Cewek memang begitu, kalau Abang keberatan besok - besok Lilis akan mandi lebih cepat"
"Nggak perlu, sesuka mu saja lah" Ucap Iskandar dengan cepat lalu menuju kamar mandi.
Iskandar pun tak mengerti kenapa Lilis harus menyesuaikan lama mandi nya, bahkan menanyakan pendapat nya. Bukan kah setiap orang bebas mau mandi selama apapun? Setidak nya itu lah yang Iskandar pikir kan. Iskandar hanya khawatir bahwa Lilis tak enak badan sehingga mandi selama itu, namun Iskandar yang memang tak pernah bisa berbicara lembut dengan wanita selain Sheila hanya bisa menanyakan semua itu dalam hati nya.
.
.
.
Iskandar pun selesai mandi dan keluar dengan jubah mandi nya. Iskandar melihat Lilis yang tidur di atas ranjang dengan lelap nya. Iskandar ingin mengambil bantal di sebelah Lilis dan pindah ke sofa namun niat nya segera ia urungkan. Malam ini sangat melelahkan bagi nya, ia ingin segera istirahat dan ranjang bukan lah hal buruk karena ranjang mereka sangat luas.
Gelisah....gelisah....dan gelisah
Iskandar belum pernah membiarkan orang lain tidur di sebelah nya baik pria maupun perempuan. Kepribadian nya yang pendiam tak membuat ia banyak memiliki teman atau kegiatan yang membuat nya harus bertemu banyak orang. Melihat ada orang lain tidur di samping nya membuat mata nya terus terbuka.
Haahhh kenapa aku tidak bisa tidur seperti ini? Padahal aku sangat lelah sekali hari ini.
Pikiran nya yang gelisah tak ia sia - siakan begitu saja. Iskandar meraih handphone nya dan mengecek status WhatsApp nya. Tak ada pesan maupun story dari wanita yang ia cintai. Pikiran Iskandar pun terbuai kembali dengan kenangan nya. Cinta lama nya, masa di mana ia memuja Sheila dan mengemis cinta wanita itu, kini setelah berhasil bersama ia harus melepaskan Sheila dan menikahi wanita pilihan orang tua nya.
Iskandar yang sedang bertarung dengan hati dan nostalgia cinta nya tiba - tiba terkaget kan dengan sesuatu yang mendarat di tubuh nya dengan kuat.
"Aduuhhh" Ucap nya.
__ADS_1
Iskandar melihat sebuah kaki mendarat di tubuh nya. Kaki yang panjang dengan kulit yang putih mulus bahkan terlihat indah itu adalah milik Lilis. Kaki Lilis memeluk tubuh Iskandar dengan kuat dan lengket.
"Heii!! Lilis!! Jangan begini!!"
Iskandar berusaha melepaskan kaki Lilis namun kini tangan Lilis pun bermain dan memeluk tubuh Iskandar dengan kuat juga.
"Lilis bangun! Abang bisa marah jika kamu begini!!"
Iskandar berusaha menarik Lilis namun tak berhasil. Iskandar pun menyubit pipi Lilis namun bukan nya bangun Lilis malah mendesah dengan menggoda.
"Astagfirullah" Ucap Iskandar.
Tanpa ia kehendaki tubuh nya bereaksi dan bangun di area bawah nya. Hati nya tak menghendaki itu namun tubuh nya bereaksi semau nya sendiri.
"Ya Allah bagaimana ini?!"
.
.
.
"Uhmmm"
"Uhmmmm"
"Uhmmmmm?"
Lilis merasakan tubuh nya tertahan. Ia tak bisa bangun maupun bergerak. Lilis pun membuka mata dan melihat tubuh nya yang terbelit oleh selimut dan kedua bantal mengapit di kanan dan kiri nya. Sedangkan suami nya tidur nyenyak di sebelah nya.
Apa ini? Kenapa aku di lilit dengan selimut seperti ini? Aku jadi mirip dengan Kimbab yang di balut dengan Nori.
"Abang!! Abang!!!" Panggil Lilis.
"Ihh Abangggg!!!" Kini suara Lilis sedikit meninggi.
"Lilis Berisik!!!"
Iskandar berbicara dengan bibir nya namun mata nya masih terpejam. Sambil menyilang kan kedua tangan nya dan berbaring dengan santai, Iskandar masih ingin tertidur lebih lama.
__ADS_1
"Ini kenapa Lilis jadi begini?!!! Abang sengaja kan?!!"
"Salah sendiri tidur kamu ganggu orang! Abang nggak bisa tidur karena kamu tidur nya nggak anteng!"
"Apa?! Baru kali ini Lilis tahu kalau tidur lilis nggak anteng! Abang sengaja kan mau bikin Lilis kesal pagi - pagi?!"
"Berisik! Abang mau tidur terserah Lilis mau bangun atau tidur"
Iskandar menarik bantal yang ada di sebelah nya dan membenam kan telinga nya ke bantal itu.
"Abang paling nggak bantuiin Lilis bangun dulu! Lilis nggak bisa bangun sama sekali"
Iskandar tidak menjawab apapun.
"Abang! Lilis lapar"
Masih tak ada jawaban dari Iskandar.
"Aduuhhh lapar!!! Suami nggak pengertian! Istri lapar di biarin"
Iskandar masih tak berkutik dari tidur nya.
"Udah bikin istri nya kesal pagi - pagi sekarang istri nya di biarkan kelaparan! Ini nama nya penyiksaan terhadap istri! Menelantarkan istri! Istri berhak makan juga! Istri nggak berhak kelaparan!!"
Iskandar pun berbalik dan tertawa dengan kencang. Rupa nya sejak tadi Iskandar menahan tawa nya di balik bantal itu. Aneh nya Lilis merasa lega dengan tawa Iskandar, ada rasa lega di hati nya dan membuat lapar nya hilang sejenak karena hati nya terasa penuh.
"Abang....Lilis benar - benar lapar" Kali ini Lilis memohon dengan sungguh - sungguh dan dengan sangat manis di hadapan Iskandar.
"Baiklah! Abang biar kan kali ini karena kamu lucu! Apa nya yang menelantarkan sih baru juga lima menit sejak kamu bilang kamu lapar, itu mana bisa di bilang menelantarkan"
"Sama aja!!" protes Lilis.
Iskandar pun mengambil gagang telfon di samping nya dan menelfon.
"Abang ngapain?"
"Kita sarapan di kamar saja, Abang masih ngantuk dan lelah, kita pesan makanan saja"
Dengan terampil dan cekatan Iskandar memesan beberapa menu untuk sarapan mereka.
__ADS_1
Suami ku tidak berniat tahu makanan kesukaan ku dan apa yang boleh ku makan....Abang kalau kamu begini terus bisa semakin bahaya lho...