
Iskandar masih merasakan kebimbangan meski hari ini adalah hari pernikahan nya. Ia masih memikirkan apakah semua yang ia pilih ini adalah jalan terbaik yang ia punya. Dengan mengenakan warna putih pada baju akad nya Iskandar pun bersiap - siap dalam kebimbangan.
"Iskandar! Sampai kapan kamu mau menatap kaca itu! Tak ada yang berubah dari kaca nya! Ayo cepat keluarga kita yang lain sudah ada di tempat acara!"
Suara lantang sang Ayah pun membuyarkan kebingungan nya. Iskandar pun melangkah maju dan segera memakai sepatu nya dan segera masuk ke Mobil. Dalam hati kecil Iskandar, ia masih berharap bahwa Sheila akan hadir di hadapan nya dan mengemis cinta nya bahkan memohon menikah dengan nya tapi ia merasa semua sia - sia. Cinta nya harus kandas karena sebentar lagi ia adalah pria yang akan memiliki seorang Istri.
"Kamu bawa kan cincin untuk Lilis? Hantaran sudah beres?" Tanya Bunda nya.
"Sudah" Jawab Iskandar dengan pelan.
"Is nih kan sudah mau menikah senyum lah sedikit wajah tu, lari nanti calon mu liat muka sangar begitu" Goda sang kakak.
"Iya" Jawab Iskandar lalu tersenyum.
Dalam pikiran dan hati nya yang gundah itu, Iskandar menginjak kan kaki nya di sebuah gedung mewah dan di sana pihak keluarga besan dan keluarga besar nya sudah menunggu.
"Assalamu'alaikum Pa, Ma maaf baru bisa hadir selama ini Is Sibuk sekali, sudi lah kira nya jika Saya ini di maaf kan" Ucap Iskandar dengan sopan kepada mertua nya.
"Tak apa, Mama juga dengar dari Lilis kamu sangat perhatian juga pada Lilis, pernah juga kan saling telfonan untuk menanyakan jalan nya pernikahan"
"Benar ma"
Itu saya lakukan hanya sebatas kewajiban saya sebagai calon saja, tapi hati ini tak pernah merasakan apapun. Hati saya masih milik Sheila.
"Alhamdulillah datang juga nih si Iskandar" Ucap seseorang.
"Eh, Mail? Kenapa kau di sini?!" Iskandar heran bahwa sahabat nya yang menjadi mitra bisnis nya bisa berada di pernikahan nya padahal ia tak pernah mengundang nya.
__ADS_1
"Eh kau nih, Aku nih Abang sepupu Lilis, wajar lah aku di sini, kenapa? tak senang aku di sini?"
"Tadak lah Mail, saya suka kau di sini, Makasih banyak sudah datang"
"Sama - sama...Wiihh beruntung sekali kau dapat kan Lilis nih, Sebelum ini bejibun orang tu nak melamar die, bunga, tas, sepatu, bahkan emas, semua para pelamar dia tu berikan tapi tak Ada yang di terima nya, cuma kau saja yang langsung mau di terima nya."
Iskandar hanya tersenyum dengan wajah bingung. Jika banyak sekali yang melamar kenapa Lilis mau memilih nya? Padahal pasti banyak yang lebih baik dari diri nya.
Mail yang tadi nya senang pun kini dengan wajah serius berbisik ke arah Iskandar.
"Hubungan mu dan Sheila sudah berakhir kan?"
Sesaat Iskandar lupa bahwa Mail ini adalah sahabat dekat nya. Mail telah kenal dengan nya sejak ia SMA. Mail pun tahu betul bahwa selama ini hati nya hanya selalu untuk Sheila. Mail juga lah yang menjadi saksi bahwa Sheila dan Iskandar saling berjanji untuk saling mencintai.
"Sudah, Sheila tak ingin menikah dan menjadi istri ku, sedang kan aku saat ini harus menikah dan memiliki istri" Jawab Iskandar dengan cepat.
"Tau, Kau tak perlu khawatir kan apapun lah mail"
"Yah bagus lah, meski pun kau menikah dengan Lilis karena terpaksa ataupun karena alasan lain, Kau tetap akan jadi suami Lilis, cinta ataupun tidak nya kau, tugas dan kewajiban mu tetap harus kau jalan kan sepatut nya seorang suami, Kau tahu sekali kan? Aku nih yang nakal gini pun tau lah hal itu, masa kau yang alim nih tak tau?"
"Tau mail, kenapa kau nih jadi bawel sangat?"
"Pasti lah! Kebahagiaan sepupu ku"
Iskandar pun duduk dan meletakkan tangan nya di atas meja. Meski ia tak kenal dengan Lilis ini tetap saja pernikahan pertama bagi nya tak bisa ia pungkiri bahwa kini ia sangat berdebar. Dari arah samping nya terdapat pembatas kain jaring yang sedikit transparan. Disana lah Lilis akan bersanding dengan nya. Adat di daerah mereka jika belum sah maka harus di batasi oleh sebuah kain dan mereka belum boleh saling memperlihatkan wajah masing - masing.
Dari jauh Iskandar melihat seorang wanita yang berjalan pelan duduk di samping nya. Meski terbatasi kain, Iskandar bisa mencium harum nya wanita itu dan bisa di lihat dari bayangan nya bahwa wanita ini sangat lah cantik.
__ADS_1
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara (Muhammad Iskandar) bin (H. Abdul Qodir) dengan anak saya yang bernama (Amaryllis Silvia Anastasia) dengan maskawinnya berupa (Cincin Emas seberat 75 gram dengan berlian 11 Karat dan sebuah rumah ), tunai.”
"Ma...ma...maaf siapa? Bukan nya nama nya Lilis?" Tanya Iskandar pada Ayah mertua nya.
Sang Ayah nya pun langsung mencubit sedikit pinggang Iskandar. Lalu berbisik dengan pelan.
"Itu lah nama lengkap Lilis, Is nih buat malu Jak, maka nya undangan tuh ayah suruh Liat dulu tu diliat lah, Nama lengkap Lilis tuh ada di sana dan juga di papan depan nama tuh ada lah, kamu ini"
Iskandar pun dengan gugup mulai membuka kembali surat nikah yang ada di depan nya.
"Iskandar nih hanya gugup saja pak" Ucap sang ayah mertua. Lilis yang melihat itu pun tertawa pelan.
Kali ini Iskandar pun memulai lagi ijab nya dengan Bismillah. Dan dalam satu tarikan nafas nya Ijab pun terlaksana.
"Alhamdulillah" Ucap semua keluarga yang akhirnya bisa melihat pasangan itu sah dalam ikatan pernikahan.
Jadi nama nya Amaryllis Silvia Anastasia, nama yang sangat keren dan cantik kenapa harus menggunakan nama Lilis?
Setelah Ijab sah, kini kain pembatas mereka harus di turun kan. Iskandar tak berharap banyak pada wanita nya, ia hanya berharap bahwa wajah nya tak akan jauh dari nama cantik nya. Perlahan dari mata nya, Iskandar melihat sepasang mata yang sangat indah memandang wajah nya.
Kemudian turun perlahan ke hidung nya yang mancung lalu ke bibir nya yang merah dan ranum dan kini kain itu sepenuhnya jatuh tanpa ada pemisah di antara mereka.
"Assalamu'alaikum Abang" Ucap Lilis.
"Wa... Waalaikumsalam"
Wajah cantik Lilis jauh sekali dari nama nya. Lebih cantik dari nama nya. Cantik yang sempurna dari wajah itu.
__ADS_1
-bersambung-