
Namanya secantik bunga segar yang mekar. Wajah cantik nya itu bahkan melebihi cantik nama nya. Bukan nama gadis kampung atau gadis desa yang selama ini ia bayangkan. Wanita itu bernama Amaryllis Silvia Anastasia dan biasa di panggil Lilis. Dalam bayangan Iskandar wanita itu pasti nya akan seperti wanita kampung lain nya yang berwajah polos namun ketika kain pembatas itu di lepas saat itu lah Iskandar pun melihat kecantikan yang tiada Tara dari wajah Istri nya.
"Bukan nya kalian sebaiknya saling bersalaman terlebih dahulu?" Tanya Sang Bunda.
"Iya Suami dan Istri itu saling menunjukkan penghormatan mereka dengan Istri yang mencium tangan suami nya" Jelas Ayah Iskandar.
Iskandar pun yang masih terpaku dengan wajah cantik Lilis pun menyodorkan tangan nya dan dengan lembut tangan Lilis menggapai tangan Iskandar.
Ya Allah godaan apakah ini? Kenapa tangan nya begitu lembut? Dan....harum....
Lilis pun dengan pelan mengecup tangan Iskandar dengan bibir nya.
Terlebih bibir nya...terasa hangat....
"Alhamdulillah" Ucap para hadirin yang datang.
"Bunda! Iskandar nya belum nyium Lilis tu! Masa cuma Lilis aja yang memberikan hormat" Ucap Mail dengan mengejek.
Iskandar langsung menoleh sinis ke arah Mail teman nya yang merupakan Abang sepupu Lilis itu.
"Iya nak sekarang kamu cium lah Lilis, udah halal itu nak"
Mau tak mau Iskandar pun mengecup pucuk kepala Lilis. Semakin dekat Iskandar dengan Lilis semakin harum nya Lilis membuat hati nya tak karuan bahkan tubuh nya semakin merasakan panas. Iskandar tak bisa mengontrol hati nya yang tak karuan dan segera mengakhiri kecupan lembut itu.
"Kenapa sebentar sekali? Ayo Is sekali lagi, tadi foto nya belum dapat banyak" Ucap Fotografer.
Fotografer itu adalah sepupu dekat dari Iskandar meski hanya beda beberapa tahun lebih muda, tapi mereka sangat dekat. Nama nya cukup terkenal di majalah karena ketampanannya dan kemampuan nya memotret dengan sangat indah.
"Faiz! Bukan kah satu saja cukup?" Iskandar menginginkan Faiz merespon dengan jawaban Iya namun Faiz bukan lah orang yang sangat penurut seperti bayangan Iskandar.
"Lah Abang nih Aneh sekali, Dekatkan aja wajah Abang tu habis itu senyum, Kak Lilis aja enjoy aja kenapa Abang nih nak cepat - cepat? Hari baik tu di nikmati lah"
__ADS_1
Sekali lagi Iskandar mengecup Lilis, mulai dari kepala hingga ke pipi nya atas pinta dari Faiz si Fotografer. Setelah itu acara langsung di lanjutkan dengan resepsi pernikahan. Iskandar dan Lilis yang harus duduk di pelaminan berdua harus menyalami tamu - tamu yang hadir dan berfoto bersama.
Akhirnya tiba lah istirahat, dimana mereka harus mengenakan pakaian selanjutnya. Saat menuju ruang ganti Lilis ingin mengakrabkan diri dengan Iskandar dan menyusul suami nya dengan langkah besar dan cepat mengikuti langkah suami nya. Lilis pun berbicara dengan riang nya.
"Bang bagaimana? Lilis cantik kan hari ini? Abang pasti nggak sadar...."
Bukan respon baik dan seperti harapan Lilis, suami nya memandang nya dengan tatapan setajam pisau dan berkata...
"Apa kamu tidak lelah? Lebih baik cepat ganti baju saja" Ucap nya dengan nada dingin.
Iskandar pun segera pergi menuju ruang ganti nya. Lilis memasuki ruang ganti nya yang tepat berada di sebelah Iskandar itu dengan raut wajah syok. Disana Lidia sepupu nya yang bertugas sebagai perias pengantin melihat wajah kakak sepupu nya begitu pucat.
"Wajah kakak pucat banget? jangan bilang kakak syok ya sangking kaget nya bisa menikah dengan Bang Is? Kakak kan udah lama banget ketemu bang Is sejak lihat foto nya itu"
Lidia pun membantu kakak sepupu nya itu untuk melepas pakaian nya dan berganti gaun selanjutnya. Lilis masih sangat syok dan diam terus bahkan hingga ia di rias kembali seperti ini.
"Lidia nggak bakal merias wajah kakak dengan tebal karena kak Lilis udah cantik, yang perlu kita tebal kan alis dan bulu mata kakak aja"
.
.
.
Ruang ganti Iskandar....
Betapa rendah nya diri ku!! Aku berusaha setia dan tak akan terpengaruh dengan istri ku! Tapi kenapa aku malah merasakan banyak hal dalam hati ku?! Padahal itu hanya kecupan singkat saja! Tenang Iskandar yang pasti hal suci mu masih terjaga dan itu tak akan berubah....Kamu harus menjaga nya untuk wanita yang kamu cintai...Lilis bukan wanita itu....
"Woii !! Bengong Mulu !! Kesambet?!" Suara dari Mail membuyarkan lamunan Iskandar.
"Apa sih?! Masuk tanpa ketuk?!"
__ADS_1
"Kenapa? Udah mulai merasakan sesuatu pada Lilis?!"
"Apa sih?! Aneh! Pikiran mu tuh kalau nggak aneh nggak bisa?!" Jawab Iskandar dengan sinis.
"Tadi Sheila menelfon Ku dan sekarang Ayah mu yang sedang menemui Sheila di luar"
"Apa?!"
Mail memandang Iskandar dengan tatapan menguji. Ia ingin memperhatikan ekspresi Iskandar dan mencari tahu dari wajah nya perasaan Iskandar terhadap pernikahan ini.
"Katakan di mana Ayah bertemu Sheila?!"
"Buat apa?" Tanya Mail dengan santai.
"Apa?!"
"Buat Apa lelaki yang sudah beristri mau menemui perempuan lain yang bukan mahram nya?"
Iskandar tersadar kini ia sudah menikah dan memiliki Istri. Tapi tetap saja Sheila sedang menunggu nya di luar. Apakah Sheila yang ia tunggu itu menyesal dan akan mengatakan cinta kepada nya. Jujur saja selama mereka menjalin kasih mereka memang tak pernah bersentuhan, selain pikiran Iskandar yang kolot dan ingin menjaga kesucian hingga menikah bahkan Iskandar menghargai Sheila layaknya wanita yang berharga. Sheila kerap kali menggerutu dengan pikiran kolot Iskandar hal itu juga lah yang membuat Sheila tak pernah mengatakan perasaan suka dan cinta nya kepada Iskandar. Selama ini hanya Iskandar yang selalu memberikan perasaan itu.
"Aku perlu berbicara pada Sheila untuk terakhir kali nya"
"Terakhir kali nya pun untuk apa? Untuk mengakhiri atau menjalin lagi diam - diam di belakang Lilis? Atau dari awal itu memang niat kau?!"
"Mail, Sheila itu wanita yang ku cintai! Aku hanya perlu bicara saja pada nya!"
"Is !! Sheila memang wanita yang kau cintai tapi sekarang wanita mu itu adalah Lilis Istri mu yang baru saja kau Nikahi, Meski kau tak cinta pada Lilis hormati dia, jangan bertemu wanita lain di belakang seperti ini"
"Aku menghormati Lilis maka nya aku akan bertemu Sheila untuk mengakhiri semua nya, Tapi hati ku memang benar milik Sheila, Aku masih mencintainya di hati ku, Sedangkan Lilis.... Bagaimana bisa aku mencintai wanita yang baru saja ku temui"
Tanpa mereka berdua sadari ada seseorang yang mendengar percakapan mereka di balik dinding yang tipis itu.
__ADS_1
-bersambung-