AKU BIKIN KAMU CINTA YAA..!!

AKU BIKIN KAMU CINTA YAA..!!
Bab 10


__ADS_3

Kafe Champion, sebuah kafe kelas menengah yang digemari anak muda. Setiap malam kafe ini akan menjadi tempat nongkrong anak muda berbagai kalangan. Anak SMA, mahasiswa mahasiswi hingga para karyawan. Tempat yang tepat untuk melepas lelah, berkumpul bersama teman-teman.


Tempat yang tepat untuk kencan. Dengan budget terjangkau tentunya. Itu yang paling utama.


Lokasinya strategis. Tidak berdesakan dengan pemukiman warga. Pemandangan yang menyegarkan di sekitar menambah suasana betah bagi pengunjung.


Halaman dan parkiran luas dengan pohon rindang. Keamanan terjamin dan kebersihan terjaga.


Karyawan kafe ramah dan pilihan menu yang beragam menjadikan kafe ini rekomendasi yang tepat untuk kawula muda. Cocok untuk mengajak gebetan ke sini.


Begitu slogan kafe yang sudah terkenal.


Tobey, Senia dan Lulu sampai setelah lima belas menit berjalan. Kafe ini sekitar lima ratus meter dari kost mereka.


Tobey melihat suasana yang benar benar hidup dari kafe ini. Parkiran penuh kendaraan, pelanggan keluar masuk dengan ceria.


Cahaya lampu yang temaram menambah kesan romantis.


Pasangan muda mudi terlihat bercengkerama dengan gembira.


Tobey dan dua gadis memasuki kafe. Selain di dalam kafe, di luar juga terdapat meja dimana pelanggan bisa memilih tempat yang nyaman.


Melewati pintu utama, Tobey melihat dua meja biliar di sebelah kiri ruangan. Agak jauh dari meja meja makan. Beberapa pemuda bermain biliar dengan sebagian wajah mereka tercoreng oleh kapur.


Lurus dari pintu utama adalah tempat pemesanan. Berdiri di belakang konter, seorang karyawan wanita menyapa dengan senyum ramah.


Tobey dan dua gadis menyita perhatian begitu mereka masuk kafe. Banyak pelanggan menoleh untuk melihat. Menemukan seorang pemuda tampan dengan pakaian yang sepertinya dibeli dari kaki lima, membawa dua gadis dimana salah satunya hampir membuat seisi kafe berteriak.


Laki laki manapun tidak bisa menolak pesona gadis ini, pikir orang orang. Bagaimana pemuda yang terlihat udik ini bisa jalan bareng dengan bidadari surga?. Orang orang tidak habis pikir.


Pemuda ini memang tampan. Tapi lihatlah tongkrongannya, ampun cinta ampun cinta. Dia benar benar amatir dalam hal kencan.


Lalu lihatlah gadis cantik kita malam ini. Dia anggun dengan riasan yang tidak mencolok. Sekilas pandang dia adalah tipe gadis yang membuat semua orang ingin melindunginya.


Tobey merasakan pandangan semua orang dan tidak bisa tidak merasa bangga pada diri sendiri.


"Ahh aku memang tampan dan layak mendapatkan ini semua." Katanya dalam hati.


Tobey mempersilakan Senia dan Lulu untuk memilih meja dan duduk.


"Duduklah dan biarkan aku membuat pesanan." Katanya seolah pria sejati yang romantis pada pasangan.


"Kamu manis sekali Tobey" Lulu menggoda.


"Buat diri kalian nyaman nona nona, dan serahkan selanjutnya padaku." Mulai menggombal.


Senia menatapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Dua gadis itu memilih menu yang tersedia di meja lalu menyerahkan kepada Tobey.


Tobey berjalan ke arah konter dan sebelum dia bisa berkata, gadis penjaga menyapanya.


"Selamat malam kak, selamat datang di kafe Champion." Sapanya dengan senyum ramah.


"Sudah menentukan yang dipesan kak?." Lanjutnya


"Iya mbak, ini.." jawab Tobey sembari menyerahkan pesanannya.


"Baik kak silakan ditunggu yaa.." sahut pegawai kafe meyakinkan.


Tobey berjalan kembali ke meja dan mengedarkan pandangan ke seisi kafe. Malam ini kafe terlihat penuh. Mungkin karena malam Minggu.


Banyak yang datang dalam bentuk kelompok empat atau enam orang. Semua terlihat menikmati suasana.


"Aku harus sering sering ke sini" pikir Tobey yang kagum dengan suasana di sekitarnya.


"Jadi sudah berapa lama kalian kerja di GMR?." Tanya Tobey pada dua gadis ketika dia kembali duduk di kursi.


Lulu adalah yang pertama menjawab. Dan itu sudah diharapkan Tobey.


"Aku hampir dua tahun di sini.." lalu dia melihat ke arah Senia dan berkata


"Kalo Senia baru sekitar setengah tahun, iya kan Senia?." Katanya meminta kepastian.


"Iya, benar. Aku belum lama di sini." Jawab Senia sembari menaruh HP di meja.


Senia diam berfikir sebentar sebelum menjawab.


"Aku dari kota Malang, dan aku sendirian di kota ini. Sampai bertemu dengan Lulu dan teman lainnya." Jawabnya dengan nada samar.


"Kalau aku dari Lamongan, jika kamu bertanya." Sahut Lulu.


"Permisi kakak, ini pesanannya.." suara karyawan kafe menyela obrolan mereka. Seiring dia meletakkan piring dan gelas ke meja.


"Kalau ada yang mau ditambahkan silakan panggil saya kak.." lanjutnya menyarankan.


"Baik terima kasih mbak.." jawab mereka bertiga.


"Yukk segera dinikmati " Lulu adalah yg pertama meraih gelas dan hampir mengosongkan gelasnya secara langsung.


Senia tersenyum melihat sahabat dekatnya itu. Meraih gelasnya juga dan minum sedikit kemudian berkata


"Aku permisi ke belakang sebentar.."


"Mmhh iya .." jawab Lulu dengan mulut penuh makanan.

__ADS_1


Tobey hanya mengangguk mengiyakan.


Senia mengambil HP di meja lalu berjalan ke arah toilet yang letaknya di samping kafe. Itu agak tersembunyi sehingga tidak menganggu pemandangan.


Sebelum dia bahkan masuk ke toilet, dia melipir ke tempat agak gelap lalu berkata


"Keluarlah dan jelaskan apa yang kalian lakukan..!!". Katanya dengan nada tidak suka.


Kemudian dari balik bangunan terpisah dari kafe. Berjalan seorang laki laki agak terburu buru.


"Maaf nona, kami hanya mematuhi perintah tuan." Katanya setelah berjarak cukup dekat dengan Senia.


"Apalagi yang diinginkan orang tua itu?".


batin Senia.


"Apa perintahnya pada kalian?". Senia bertanya pada pria berbaju hitam di depannya.


Pria itu menjawab sambil menundukkan kepalanya


"Tuan memerintahkan kami untuk mengawasi dan melindungi nona" jawabnya pelan.


"Huhh benar benar menjengkelkan. Sampai kapan dia akan menggangu hidupku?." Gerutu Senia.


Pria itu tidak menjawab hanya menunduk. Dia tidak menyangka pengintaian yang dia lakukan akan diketahui oleh nona ini.


"Apakah paman Rahmat juga ada di sini?." Sambung Senia.


Pria itu mendongak untuk melihat Senia, lalu menjawab


"Pak Rahmat ada di kota ini tapi tidak ikut ke sini malam ini nona." Jawab pria itu. Dia mengingat bahwa nona mudanya ini cukup dekat dengan Pak Rahmat, yang adalah orang kepercayaan tuan besar. Ayah gadis di depannya.


Senia menghela nafas, dia hendak bicara namun pria itu menyela


"Anu nona, siapa pun dari kami yang bertemu nona mendapat instruksi untuk menyampaikan pesan tuan besar.." kata pria itu agak ragu ragu.


"Apa itu?." Senia menjawab dingin. Pasti sesuatu yang tidak menyenangkan. Batinnya.


"Begini nona, apabila nona tidak berkenan pulang ke rumah. Tuan besar berharap nona membuka saluran komunikasi supaya tuan besar dan orang rumah tidak khawatir." Pria itu berkata seolah melibatkan seluruh keberaniannya.


Senia hanya berdecak kesal..


"Katakan pada paman Rahmat untuk disampaikan kepada orang tua itu, aku belum akan pulang dalam waktu dekat. Dan hentikan kegiatan spionase bodoh ini. Atau aku tidak akan memaafkannya." Ancam Senia.


"Baik nona, baik. Akan saya sampaikan pada pak Rahmat segera." Jawab pria itu panik.


"Sekarang pergilah, aku sedang dalam suasana hati yang baik sebelumnya." Kata Senia sambil berjalan kembali ke kafe.

__ADS_1


"Baik nona, saya permisi"


Jawab pria itu yang sayangnya tidak didengar Senia.


__ADS_2