AKU BIKIN KAMU CINTA YAA..!!

AKU BIKIN KAMU CINTA YAA..!!
Bab 07


__ADS_3

Secara umum jam istirahat kantor adalah jam dua belas hingga jam satu siang.


Tobey dan Toni kembali ke tempat kerja segera setelah membayar makanan mereka.


Setelah yakin sudah waktunya masuk kerja, para karyawan dengan tidak berdaya hanya bisa kembali ke pos masing-masing. Beberapa dengan menggerutu, beberapa melangkah malas menendang nendang kaki


Dasar pemalas..


Toni mengajak Tobey menemui Arivi.


"Kalian sudah makan? Kau sudah makan Tobey??" tanya Arivi begitu melihat dua orang ini. Dia melihat Toni, lalu Tobey. Toni adalah karyawan lama, Arivi sudah tidak asing dengan sosok Toni. Pemuda dengan tinggi badan sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, kulit agak gelap dan wajah yang standar. Hanya sedikit manis. Namun secara umum adalah pemuda yang baik.


Sedangkan Tobey, menurut Arivi. Pemuda yang sepertinya seumuran dengan dirinya ini. Terlihat naif dan bodoh. Meski tampan. Ya dia tampan. Sialan. Dia juga punya postur tubuh yang bagus. Tinggi dengan rambut hitam bergelombang. Alisnya tebal melengkapi mata yang tajam. Wajahnya halus dan kulit lembut.


Sial, apa yang aku pikirkan. Batin Arivi


"Aku sudah makan, dan terima kasih atas perhatian kamu" jawab Tobey.


"Siapa yang perhatian padamu?? Arivi menyela


" Aku hanya ingin memastikan kamu tidak pingsan di tempat kerja, setelah ini banyak kerjaan "


Arivi memberi instruksi dan catatan kepada Toni tentang apa yang harus dilakukan.


"Jangan ada kesalahan" tutup Arivi melenggang pergi.


"Adakah wanita cantik sedingin dia?" gerutu Tobey


Sisa siang itu mereka habiskan dengan bekerja.


Dan begitulah hari hari berikutnya.


"Bagaimana menurut Anda tentang karyawan baru itu nona? Sepertinya Anda memperhatikan dia?" Feby bertanya pada nonanya suatu sore ketika mereka berdua dalam perjalanan pulang kerja.


"Tobey maksudmu?" Arivi berkata tanpa menoleh sambil memegang setir.


Feby mengangguk sebagai respon.


"Sebagai karyawan dia bagus. Bekerja dengan baik dan tidak banyak mengeluh".


" Dia tampan juga kaaan??" kelakar Feby.


"Yaaa dibanding yang lain lumayanlah, tidak buruk" jawab Arivi.


"Apakah tidak cukup untuk menarik hati nona Arivi Kusuma?" gurau Feby.


Arivi menghela nafas sebelum menjawab. Di hatinya ada sebuah getaran setelah beberapa waktu berinteraksi dengan Tobey.

__ADS_1


"Aku ingin fokus dengan belajar tentang perusahaan, apalagi aku tidak akan lama di perusahaan cabang" katanya dengan nada tidak yakin.


"Ya biarkan berjalan apa adanya"


Tobey sedang berjalan kaki ke tempat kost ketika tiba tiba dia bersin.


"Apakah seseorang membicarakan aku? Mau bagaimana lagi, aku adalah pria tampan" gerutunya.


Tempat kost yang dia sewa tidak jauh dari tempat kerja. Cukup berjalan lima belas menit dan sampai. Lagipula banyak orang melakukan hal yang sama. Berjalan kaki saat berangkat dan pulang kerja. Dari itu Tobey mengenal dan mendapat beberapa teman.


Begitu juga penghuni komplek kost. Sebagian pasangan suami istri, sebagian kost bersama teman mereka. Beberapa tetangga kost adalah karyawan dan karyawati.


Tobey sedang memasukkan kunci dan hampir membuka pintu ketika sebuah suara terdengar.


"Hai baru pulang?" suara seorang wanita.


Tobey menoleh hanya untuk melihat pemilik suara yang rupanya seorang gadis berseragam biru. Gadis itu baru keluar, yang seolah disengaja, dari kamar di sebelah kamar Tobey.


"I.. iya baru pulang" jawab Tobey hampir menjatuhkan kunci dari tangannya. Terus terang dia cukup dikagetkan dengan kemunculan gadis ini.


"Mmhh maaf" seolah gadis itu menyadari.


"Aku Lulu, penghuni kamar di sebelah kamu. Nama kamu Tobey kan?"


Tobey hampir membuka mulutnya saking herannya mendengar gadis ini tahu namanya.


"Aku memang tampan sih tapi apa aku seterkenal itu" batinnya


"Anu..aku kerja di GMR, satu kawasan yang sama dengan tempat kerja kamu" jawab Lulu


Tobey kemudian memperhatikan seragam biru yang dikenakan Lulu, baru dia ingat pernah melihat seragam yang sama di kantin beberapa waktu lalu. Yang juga mengingatkan dia kepada Sita dan juga, Senia..


"Oww.." Tobey memandang Lulu, gadis awal dua puluhan tahun dengan badan agak berisi, rambut sebahu. Ada beberapa jerawat di wajahnya. Tipe gadis yang bukan pemeran utama. Pikir Tobey yang bila Lulu tahu pasti akan memukul kepalanya.


"Jadi kamu satu tempat kerja dengan mbak Sita dan juga..mmhh??" tanya Tobey menggantung.


"Dengan siapa? Senia kah maksud kamu??" Lulu menyambar sambil menaik turunkan alisnya.


"Ekspresi apa itu?" gerutu Tobey dalam hati.


Meski begitu dia tetap mengangguk sebagai jawaban.


"Iya, kami satu tempat kerja. Bahkan dia mau aku ajak kost di sini juga". Jawab Lulu dengan ekspresi bangga.


Tobey hampir melompat mendengar itu. Sampai dia mendengar Lulu melanjutkan.


" Dan dia akan sekamar dengan aku. Di sini. Di sebelah kamar kamu"

__ADS_1


Tobey hampir melotot mendapati perkembangan seperti ini.


"Mmhh baiklah aku harus membersihkan badan, sampai jumpa". Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan.


" Apa tujuan Lulu mengatakan itu semua?" dan kenapa Senia pindah ke sini?". Pikiran seperti itu berputar putar di kepalanya.


Hari hari berikutnya Tobey menghadapi teror Lulu yang selalu menyapa dan memulai obrolan. Setiap kali dia keluar dari kamar makan dia akan tertangkap basah seolah Lulu adalah kucing pengintai yang sabar menunggu mangsa.


Tobey benar benar dibuat tak berdaya. Namun dari itu dia tahu seminggu lagi dia akan punya tetangga baru.


Pekerjaan berjalan dengan baik. Tobey semakin akrab dengan para rekan kerja.


Pagi itu dia melihat Arivi berjalan dengan seorang wanita. Terlihat beberapa tahun lebih tua dibanding Arivi dan dia sendiri.


"Selamat pagi" walaupun Tobey tahu nama Arivi tapi dia tidak pernah memanggil namanya. Mereka belum berkenalan secara resmi. Haha


Arivi memandang sekilas lalu hanya mengangguk dan berjalan melewati. Namun wanita yang mengikuti di belakang menjawab sambil senyum senyum.


"Selamat pagi Tobey"


"Apa apaan dengan gadis itu? hari ini aneh sekali" batinnya merujuk pada Arivi.


"Apakah Anda tidak merasa terlalu dingin nona?". Tanya Feby ketika dia dan Arivi berjalan menuju meja kerja.


" Apa nona cemburu karena kabar banyak yang naksir padanya?. Lanjut Feby.


Arivi hanya mendecak.


"Huhh pemuda bodoh seperti dia, aku tidak perduli". Katanya ketus.


Meski begitu di dalam hatinya dia sedikit penasaran dengan gosip murahan yang tidak penting.


Arivi adalah pemimpin masa depan yang disiapkan papanya untuk perusahaan besar keluarganya. Dia selama ini acuh tentang perasaan dengan lawan jenis.


Banyak pemuda kaya dari kolega papanya yang mencoba mendekatinya dengan memanfaatkan koneksi dan kerja sama antar perusahaan.


Namun Arivi selama ini tidak tersentuh.


Pengaruh didikan disiplin yang didapatkannya dari keluarga telah membentuk karakter yang kuat.


Dia adalah gadis yang pandai mengendalikan emosi.


Walau dia jarang muncul di kalangan bisnis sebagai pewaris perusahaan Kusuma grup. Semua orang tahu bahwa Tuan Hermawan Kusuma memiliki seorang putri yang cantik, cerdas dan berhati dingin.


Selama ini di perusahaan cabang Arivi telah bersikap layaknya karyawan biasa. Sebuah sikap yang agak bertentangan dengan karakternya yang dingin.


Meski begitu dia masih tidak mempunyai kesan tertentu terhadap laki laki.

__ADS_1


Sampai dia mengenal Tobey..


__ADS_2