AKU BIKIN KAMU CINTA YAA..!!

AKU BIKIN KAMU CINTA YAA..!!
Bab 08


__ADS_3

Sejauh Arivi tumbuh berkembang sampai usia saat ini, dia selalu bergulat dengan pendidikan. Seolah otaknya telah terdoktrin hanya untuk mencapai puncak karier. Hal seperti itu dipengaruhi pula oleh tekanan dan ekspektasi tinggi dari keluarga, khususnya papanya.


Dia jarang memikirkan tentang asmara dan drama cinta. Dia tidak tersentuh sama sekali dengan romansa.


Namun pendirian kuatnya perlahan melunak. Hati dan perasaan yang beku sedingin salju perlahan mencair.


Itu semenjak dia melihat Tobey, atau pemuda yang dia panggil Tobey. Kalau dipikir lagi dia belum tahu nama pemuda tersebut.


Arivi melamun sambil tersenyum.


Senyum yang agak pahit.


Dia tahu saat ini bukan saat yang tepat untuk jatuh cinta.


Harus fokus dalam belajar tentang perusahaan, tentang bisnis dan karir.


Arivi sedang termenung ketika sebuah suara mengagetkannya


"Hei.." rupanya suara Tobey


"Apa tugasku pagi ini?".


Sebenarnya Tobey tahu lebih baik tentang apa yang harus dilakukan. Setelah bekerja beberapa waktu dia sudah mengerti tentang urutan pekerjaan dan prioritasnya.


Namun dia sedang ingin berbicara dengan Arivi. Gadis yang pagi ini agak aneh.


Tobey memandang Arivi penuh antisipasi.


Di matanya Arivi adalah gadis dengan sifat yang tidak sesuai teori. Aneh dan anomali.


Di samping sifatnya yang misterius, Arivi adalah gadis cantik. Tipe wanita yang layak berdiri di puncak kebanggaan. Di tempat seperti ini dia seolah tidak pada tempatnya.


Arivi memiliki bentuk tubuh yang paling diinginkan wanita. Dari kaki sampai kepala, dia setinggi seratus enam puluh delapan senti meter. Badan semampai. Kulit kuning langsat khas Indonesia. Wajah oval dengan alis hitam tebal selaras dengan rambut panjangnya. Hidung yang mancung dipadukan dengan lesung pipi yang membuat semakin manis kala tersenyum.


Arivi adalah gadis impian.


Tobey dari awal punya kesan dengan gadis ini. Namun entah kenapa dia merasa gadis ini terkesan jauh, seperti bulan purnama di langit.


Arivi terkesiap dengan pertanyaan yang didengarnya.


"Mmhh itu, sebentar aku lihat catatan pemesanan" jawabnya gugup.


"Kamu baik baik saja?" tanya Tobey melanjutkan.


"Ohh iya aku baik baik saja?"


"Memangnya kenapa tidak baik baik saja?" katanya mengembalikan rona wajah.


Tobey hanya garuk garuk kepala.


"Kamu dan Toni atur saja susunan barang yang berantakan. Nanti aku kabari tugas berikutnya" Arivi berkata sambil melihat lihat buku.


"Baiklah kalau begitu" jawab Tobey sambil berjalan kembali.


"Mmhh anu..


Tobey apa kamu betah kerja di sini?"

__ADS_1


Arivi bertanya dengan nada yang tidak yakin. Bahkan harus memaki diri sendiri kenapa harus bertanya seperti itu.


Tobey berbalik lalu menatap Arivi sebelum menjawab.


"Aku yaa, ku rasa aku menikmatinya. Lagipula ada seseorang, maksudku beberapa orang yang membuat aku betah" jawab Tobey ambigu.


"Baguslah.." kata Arivi singkat.


Tobey berjalan dan berpikir.


"Ada apa dengan gadis ini'


Semakin dia berpikir semakin tidak mengerti.


Berjalan sambil berpikir sepertinya bukan kegiatan yang bagus. Itu terbukti karena Tobey tanpa sadar menabrak bahu seseorang.


" Sialan, orang bodoh mana yang berjalan dengan tidak memperhatikan sekitar?". Suara seorang wanita galak terdengar.


"Maaf kakak aku tidak sengaja" jawab Tobey tidak berdaya. Dia merasa seolah menyinggung macan betina.


"Dasar tidak berguna" maki wanita itu.


Tobey hampir mengeluarkan kata makian ketika itu Toni berjalan mendekat.


"Hei Tobey ayo cepat ikut aku" katanya tanpa menghiraukan wanita yang sedang mencak mencak di depan Tobey.


Tobey seolah dibebaskan dari vonis hukuman ketika melihat Toni. Menghela nafas lega dan berjalan begitu saja melewati wanita sialan itu.


"Awas kamu ya.."


Suara wanita itu masih terdengar kesal.


"Dia karyawan lama yang sudah terkenal cerewet. Mungkin karena dia perawan tua" lanjut Toni setengah bergosip.


"Kenapa tidak kau sikat saja?" usul Tobey.


"Sikat kakimu.." jawabnya disusul tawa mereka berdua


Mereka masih menjadi tim yang sama saat bekerja.


Lalu lalang karyawan dengan kesibukan masing - masing membuat suasana makin hidup. Sesekali terdengar tawa, teriakan dan canda.


Arus keluar masuk barang hilir mudik tanpa henti.


Begitulah kesibukan dalam perusahaan distributor barang kebutuhan masyarakat.


Tobey larut dalam pekerjaan hingga waktu istirahat tiba.


Waktu yang ditunggu semua orang.


Tobey suka waktu istirahat. Tobey suka saat harus ke kantin.


Masih bersama teman setia, Toni. Dia ke kantin dan menunggu untuk melihat seseorang. Hal yang telah dia lakukan beberapa hari belakangan.


Sita dan rombongan sedang duduk di pojokan ketika Tobey datang. Setelah beberapa kali interaksi, mereka sudah akrab. Kecuali Senia gadis pemalu, yang lebih banyak diam. Meski begitu perhatian Tobey lebih banyak kepada gadis ini ketimbang kepada es teh paling manis sekali pun.


Begitu pula siang ini, setelah memesan makanan. Tobey dan Toni bergabung dengan kelompok Sita.

__ADS_1


"Anggap rumah sendiri" Sita memulai obrolan.


Toni tersenyum dan duduk di dekat Sita.


Sepertinya Toni sedang berusaha mendekati gadis itu.


"Dengan senang hati mbak Sita" Tobey yang menjawab tawaran Sita.


Obrolan siang itu masih seputar pekerjaan saja. Dengan sesekali godaan dan candaan antara Toni dan Sita yang seperti merasa saling cocok.


Tobey sesekali melirik Senia, yang juga memberi balasan senyuman. Komunikasi dalam diam mereka sejauh ini lancar.


Belum pernah ada kesempatan bagi mereka berdua untuk berbicara secara langsung. Lulu hanya senyum senyum melihat semua itu.


Secara keseluruhan, itu adalah siang yang hangat.


Beberapa hari berlalu, beberapa momennya membosankan.


Itu Sabtu sore ketika Tobey yang hanya setengah hari kerja di akhir pekan, mendengar kamar sebelah yang sepertinya sedang sibuk.


Suara Lulu terdengar seolah berdiskusi serta memberi instruksi kepada seseorang. Bunyi barang barang dipindahkan kesana kemari.


Tobey bisa mengira itu adalah situasi yang diceritakan Lulu beberapa waktu lalu. Dia mengajak temannya untuk tinggal sekamar. Dan temannya itu adalah Senia.


Sial..itu Senia kawan..


Tobey pura pura tidak mendengar keributan itu dan menyibukkan diri dengan membaca novel.


Tobey punya hobi membaca akhir akhir ini. Itu adalah aplikasi novel online.


Ada seorang penulis amatir yang sedang dia ikuti karyanya. Sayangnya penulis tersebut sangat payah dan lama dalam update karyanya.


Tobey bahkan menuliskan komentar makian ke penulis tersebut.


Penulis payah, tidak berguna.


Kalau tidak bisa menulis pulang saja ke desa dan berternak kambing.


Makinya.


Dia sedang mempertimbangkan makian selanjutnya ketika pintu kamarnya diketuk.


tok tok tok..


"Tobey apakah kamu di dalam?" suara Lulu menyusul ketukan pada pintu.


"Yaa aku di dalam, ada apa?" sahutnya dari dalam tanpa gerakan.


"Jangan di dalam saja seperti orang bodoh, keluar lah dan bantu kami" lanjut Lulu sedikit lebih keras.


"Hoaambb aku mengantuk dan mau tidur" jawabnya mengelak.


Beberapa hari terakhir Lulu sering mengajaknya ngobrol hingga akhirnya akrab.


"Begini lah kalau orang sudah akrab, akan sering diminta tolong" gerutunya dalam kamar.


"Cepat keluar atau aku akan berteriak" ancam Lulu dari luar.

__ADS_1


"Iyaa iyaa, tunggu sebentar". Tidak pilihan lain baginya selain keluar dan melihat keadaan.


__ADS_2