
"Bagaimana keadaan Alfi di kampung? Apakah dia merindukan aku? Apakah kamu bertemu dengannya? Apakah dia makin cantik?? Tanya Jono dengan alis naik turun dan penuh antisipasi malam itu ketika mereka berdua sudah di tempat tidur.
"Yaahh dibandingkan dengan wajahmu yang pas pasan itu, bisa dibilang kamu dapat gadis cantik haha.." jawab temannya agak sarkas. Jono hanya mengumpat mendengar jawaban sialan itu.
" Tapi omong omong dia baik baik saja dan tambah cantik, tapi kamu tidak akan bisa membandingkan dia dengan Nia. Hhmm.." dia berhenti cerita sembari menghela nafas seolah memandang sesuatu di udara kosong.
Jono terpengaruh dengan itu dan setelah beberapa saat bertanya dengan tidak sabar "Ya yaa bagaimana dengan Nia? apakah dia dekat dengan seseorang akhir akhir ini??".
" Kamu jangan bermimpi tentang Nia, sialan..
Kalau aku tidak harus pergi merantau kali ini, mungkin aku sudah bermanja-manja dengan sang bunga desa.."
"Preett..gayamu sok pede" Jono memotong imajinasi liar temannya dengan ekspresi tidak terima.
"Lohh memang benar koq, sayangnya dia belum membalas surat yang aku beri sebelum aku pergi". Jono apakah aku begitu tampan bahkan dia sampai tidak sanggup membalas suratku??"
"Teruslah bermimpi bocah sialan.." Jono menggerutu menghadapi temannya yang tak tahu diri ini.
"Baiklah kalau begitu aku akan tidur dan bermimpi seperti yang kau katakan". Tidak menunggu jawaban Jono dia langsung menarik selimut dan memejamkan mata.
" Sialan, main langsung merem saja..".
Malam berlalu dengan cepat bahkan tidak diketahui mimpi apa yang dialami Jono dan temannya.
Dua bulan lalu
"Apa kamu yakin ingin memulai dari cabang kecil kita di Sidoarjo?. Kenapa tidak sama papi saja di perusahaan induk?". Seorang ayah dengan penuh kasih bertanya kepada anaknya.
" Iya papi, Arivi yakin. Lagipula Arivi pengen belajar mandiri tanpa bayang bayang kehebatan papi dan nama besar papi". Seorang gadis muda usia 20 an menjawab keraguan ayahnya dengan alasan yang idealis.
Lelaki tersebut, yakni Hermawan Adi Kusuma adalah pengusaha besar. Perintis, pemimpin sekaligus pemilik Kusuma group. Perusahaan dengan banyak anak cabang diberbagai bidang. Dengan kemampuan bisnisnya yang handal dia berhasil mencapai puncak kejayaan dalam waktu lima belas tahun.
Pak Hermawan memandang Arivi, putrinya. Melihat bahwa anaknya tidak akan berubah pikiran dia menjadi tidak berdaya. "Hhmm dia benar-benar mewarisi sifat keras kepala dariku" batin Pak Hermawan.
"Baiklah papi tidak akan mencegah kamu melakukan itu, tapi papi punya satu syarat. Kamu harus didampingi orang pilihan papi, oke jangan menolak" Pak Hermawan menegaskan.
__ADS_1
Arivi memandang papinya dan melihat tidak ada lagi ruang negosiasi.
"Ya udah kalau itu mau papi, tapi beri Arivi orang yang masih muda yaa piii.." rujuknya.
"Iyaa, apa sih yang tidak buat putri cantik papi.." jawab pak Hermawan menggoda anaknya.
"Pa'an sih papi, oya satu lagi papi jangan kasih tahu orang orang cabang kalau Arivi putri papi yaa..yaah yaah ya pii.." Arivi memohon dengan menampilkan wajah imut sialan.
Pak Hermawan mengurut pelipisnya tak habis pikir dengan anaknya. "Apa dia pengen kayak cerita di novel ya?" Pak Hermawan hanya bertanya dalam hati tentang putrinya ini.
"Ya wis jika itu mau kamu, tapi nanti kalau ada yang macam macam langsung bilang aja ke papi, oke.."
"Okee papi sayaangg, jangan bilang ke mami dulu yaa"
"Ehh apa yang jangan bilang ke mami. hayooo pada bicarain apa??" seorang wanita anggun mendekat sambil memasang ekspresi penasaran.
"Ehh mami, enggak koq bukan apa-apa.."
"Ya sudah ayo makan malam dulu, semua sudah disiapkan"
Jono mengantar temannya ke alamat sebuah perusahaan yang berlokasi di kawasan kantor dan pergudangan. Itu tidak jauh, sekitar enam kilometer dari tempat kerja Jono.
"Baiklah teman, kita sudah sampai" Jono berkata setelah mereka turun dari angkutan umum. Di depan mereka adalah deretan pergudangan, pabrik, kantor pemasaran dan bangunan komersial lain. Mereka berjalan masuk melewati pos keamanan sambil bertanya tentang nama perusahaan kepada seorang sekuriti.
"Oke Jono temanku yang baik, terima kasih. Lain waktu aku pasti main ke tempatmu"
"Tidak perlu terima kasih, cukup dengan menjaga dirimu dan baik baik dalam bekerja, kau mendengarkan aku bukan??" Jono berpesan pada temannya yang tidak bisa diandalkan dalam bersosialisasi.
"Yaa yaa kamu sudah mengatakan itu beberapa kali..
" Hehehe, baiklah sampai jumpa. Aku harus segera kembali bekerja " pamit Jono ketika mereka sampai di depan tempat tujuan.
"Jangan lupa beri kabar.."
"Oke hati hati di jalan.."
__ADS_1
CV ALAM TOTALINDO
Nama perusahaan terpampang di gerbang masuk warna biru. Dibalik gerbang adalah tempat parkir lalu berjalan lagi menemukan pintu kaca yang bila kita buka maka pemandangan yang akan menyambut adalah meja resepsionis dengan petugas yang berjaga di sana. Ruang resepsionis tidak besar, itu seolah di pojokan begitu saja namun tetap nyaman.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" petugas resepsionis berdiri begitu melihat pintu kaca terbuka dan secara naluri bertanya begitu yang dia lihat adalah orang asing, orang tidak dikenalnya.
"Mmhh iya mbak, meskipun saya tidak terima dipanggil Pak, tapi memang saya butuh bantuan"
Petugas resepsionis hampir jatuh mendengar itu, antara ingin marah atau tertawa. Pemuda di depannya tampak imut dan polos pada pandangan pertama. Tipe orang yang mudah dibodohi tali ternyata mulutnya sialan juga. Meski begitu dia adalah ujung tombak perusahaan yang pandai menjaga emosi.
Berhasil tetap tersenyum dia berkata "Silahkan duduk dan saya akan berusaha membantu Anda".
Melihat tamu duduk dengan cepat seolah takut kursinya akan direbut orang, petugas resepsionis melanjutkan.
" Sebelumnya perkenalkan saya Fani, seperti yang Anda lihat saya adalah petugas resepsionis " Fani memperkenalkan diri, seperti itulah rutinitas dia.
"Jadi Anda kesini untuk..
Fani tidak menyelesaikan pertanyaannya, lebih tepatnya tidak sempat.
" Saya kesini untuk bekerja mbak Fani, saya disuruh memperlihatkan ini bila sudah sampai di perusahaan ini" jawabnya sambil mengeluarkan sesuatu dari tas.
"Baik.." Fani sang resepsionis menerima stopmap warna biru lalu membuka dan membaca sekilas.
"Sepertinya Anda punya kenalan orang dalam disini, jadi saya akan menyerahkan berkas Anda kepada atasan saya dan mudah mudahan akan segera mendapatkan keputusan" Fani memberikan penjelasan sambil sesekali melihat pemuda di depannya. Dia berasumsi bahwa pemuda ini direkomendasikan oleh seseorang di dalam perusahaan namun dia tidak tahu siapa.
"Baik nona Fani, maaf merepotkan Anda"
"Mbak saja, jangan nona. Oke..
Baiklah silahkan tunggu sebentar"
Fani menghilang melalui pintu dibelakang ruang resepsionis meninggalkan pelamar kerja kita sendirian.
"Petugas resepsionis saja cantik apalagi para karyawan tingkat tinggi" pikirnya.
__ADS_1
Dasar orang kampung ( maki author ).