AKU BIKIN KAMU CINTA YAA..!!

AKU BIKIN KAMU CINTA YAA..!!
Bab 01


__ADS_3

Sebagai salah satu terminal terbesar di Indonesia, terminal Purabaya tidak boleh sepi dari aktivitas yang bisa dikatakan itu itu saja. Lalu lalang orang orang yang terdiri dari calon penumpang yang tergesa-gesa, makelar tiket yang penuh trik, calo yang berteriak tanpa henti, copet yang spekulatif, pedagang keliling yang agak tidak bersemangat. Kamu bisa melihat berbagai jenis orang dengan urusan yang beraneka macam. Bahkan jika kamu adalah orang desa yang baru keluar, kamu akan menemukan dirimu sendiri dalam keheranan yang mencolok.


Terminal Purabaya biasa disebut -baik oleh mas mas kenek bus atau kondektur dan juga semua orang sih - sebagai terminal Bungurasih. Itu karena lokasi terminal Purabaya ada di desa Bungurasih yang masuk dalam kecamatan Waru Sidoarjo. Namun malangnya, itu kesohor sebagai terminal Surabaya begitu saja.


Jadi, suatu ketika di terminal yang telah kamu sekalian ketahui tersebut, datanglah seorang pemuda tanggung dan naif, juga sedikit bodoh. Yang telah menempuh perjalanan jauh dengan diiringi perpisahan yang tidak terlalu disesali orang rumah. Membawa harapan di pikirannya bahwa dia akan merubah masa depan hanya dengan pergi dari kampung halaman. Melihat sekilas dari sosoknya yang tidak bisa diandalkan orang akan mengira dia hanyalah orang dusun yang seharusnya di kampung saja mengurus kebun. Namun bila diperhatikan lebih dekat atau sangat dekat. sebenarnya dia tidak terlalu buruk. Bahkan cukup tampan, iya benar dia sangat tampan. Sialan..


Sayangnya tidak ada orang yang memperhatikan dia atau bahkan bertanya kepadanya, jadi kita belum bisa tahu namanya, ehh tunggu seseorang mendekat. Rupanya adalah babang tukang ojek yang menyampaikan keprihatinan beliau kepada tokoh utama kita yang terlihat bingung dan kesusahan membawa barang - barang. Babang ojek tolong tanyakan namanya, pliiisss.. Itulah harapan para pengamat dan pembaca.


Sejatinya bang ojek adalah orang dengan kepribadian baik yang peduli pada penumpang bus yang berhamburan begitu bus berhenti di terminal. Mereka adalah tipe orang yang ramah menawarkan jasa dan menanyakan tujuan para pelancong. Namun sayangnya bang ojek tidak totalitas dalam kebaikan karena tidak menanyakan nama turis lokal kita yang tampan. Namun bang ojek tetaplah profesional dan tidak diskriminatif. Walaupun calon penumpang prospektif ini tampak sederhana walau tampan, beliau tidak menawarkan diskon. Jadi apa yang terjadi selanjutnya bisa ditebak, yaitu negosiasi alot antara tukang ojek yang sepi penumpang sejak pagi dan calon penumpang yang sayangnya adalah tokoh utama kita. Maka kang ojek pun harus menggerutu karena hanya mendapat uang hanya 75% dari yang seharusnya. Malang nasibmu kang ojek, makanya jangan melawan tokoh utama. Kalo mau protes ya sana ke author hehe..

__ADS_1


Walhasil teman kecil kita telah sampai di tempat tujuan yang rupanya tidak jauh jauh amat dari terminal. Rupanya dia sudah punya kontak di sini dan sudah ada janji sebelum keberangkatan.


Bila kalian keluar dari terminal maka kalian akan menemukan pertigaan dengan flyover diatasnya, itulah pertigaan Waru. Jika kalian ingin ke Surabaya maka ambillah arah ke kiri, yaitu arah berlawanan dengan yang dipilih perantau amatir kita. Rupa rupanya si lugu kesayangan kita menuju ke arah selatan, yaitu arah Sidoarjo kota. Mari kita buntuti saja kemana perginya bocah kampung ini.


Layaknya orang yang pertama kali keluar rumah, penumpang satu ini nampaknya membuat kesal kang ojek yang tak disebutkan namanya karena hanya peran sampingan wkwk. Diawali dengan tawaran mati matian soal harga kini ditambah dengan banyak pertanyaan tentang hal-hal di sekitar. Orang desa ini benar-benar merepotkan, pikir kang ojek. Dia menanyakan hampir semua hal yang dilihatnya, hampir seperti balita yang diajak ke pasar oleh ibunya untuk pertama kali. Kalau saja kang ojek adalah warga asli Surabaya, beliau sudah akan mengeluarkan kata - kata khas dan logat suroboyoan yang penuh umpatan. Dengan penuh gerutuan di hati tentang kesialan yang dialami, kang ojek tetaplah mengantarkan penumpang miskin ini ke tempat tujuan dan berharap segera berpisah secepatnya.


Kang ojek dengan pedih berhasil menyelesaikan tugasnya mengantar penumpang tak tahu diri tersebut ke tempat tujuan, dan segera amblas tanpa basa basi.


Matahari sudah tergelincir ketika teman terkasih kita berjalan hendak menyeberang rel kereta menuju tempat ketemuan dengan temannya. Setelah bertanya beberapa kali kepada penjual es degan, pedagang buah, penjaga konter pulsa, mbak mbak Indomaret yang bekerja di sebelah Alfamart , akhirnya dia bisa mengira ngira dimana tempat yang dimaksud temannya. Itu ternyata sebuah warung nasi Padang di seberang rel kereta. Tempat yang strategis dan nyaman dengan es jeruk manis yang menunggu.

__ADS_1


Di sini di Waru Sidoarjo, dipinggir jalan penghubung Surabaya Sidoarjo, tepatnya di depan perumahan elit Delta Sari. Di sepanjang rel kereta dulunya adalah deretan warung warung. Kalian akan menemukan warung pecel lele Lamongan, nasi uduk ikan bakar, nasi Padang Ampera, sate kambing Madura dan masih banyak lainnya. Kawasan yang selalu ramai oleh pengunjung dari berbagai kalangan. Karyawan pabrik, atasan karyawan pabrik, pembantu agak pemalu dari perumahan, pengamen. Semua suka makan di sini dan mereka selalu bersedia membayar untuk itu wkwk.


Namun sekarang beberapa tempat telah berubah semenjak adanya pelebaran jalan dan penertiban dari pihak KAI. Tapi biarlah itu menjadi perhatian pihak terkait. Mari kita amati saja apa yang terjadi dengan teman desa kita setelah sampai di kota, bertemu dengan temannya dan petualangan serta nasib apa yang akan menimpanya.


"Hay bro.." suara seseorang mengagetkan ketika pemuda tampan kita sedang celingak-celinguk. Ahh rupanya itu adalah temannya.


"Halo Jono teman lamaku.." senyum sumringah langsung merekah saat mereka berdua bersalaman. " Tidak bisakah aku berganti nama?? kenapa harus Jono??" gerutu Jono dalam hati.


"Ayo ke warung, kamu pasti lelah haus dan lapar, aku yang traktir" lanjut Jono. Selanjutnya mereka ke warung sambil ngobrol ngalor ngidul. Warung nasi Padang ini berukuran sedang dengan agak memanjang, dihiasi cermin dimana-mana. Tokoh kita bahkan berpikir tempat ini juga jualan kaca cermin. Namun yang paling menarik perhatiannya adalah menu makanan yang terpampang di etalase utama. Dia hampir tidak mengetahui nama nama mereka, melihat ke arah Jono dengan senyum sekilas seolah minta ijin, dia segera menggosok tangannya dengan penuh semangat. Dimana bagi Jono ini membangkitkan kewaspadaan, sepertinya mentraktir orang desa ini adalah ide yang salah. Walaupun Jono juga orang desa. Dasar sialan..!!

__ADS_1


__ADS_2