
Bisa dipastikan bahwa warung nasi Padang adalah warung dengan banyak pilihan menu. Untuk orang desa jarang makan enak, itu ibarat menemukan harta karun.
Jono melihat teman udiknya dengan pikiran yang agak menyesal. "Lihatlah pemuda kampung ini, apakah dia belum makan beberapa hari ini??" gerutunya dalam hati.
Pemuda tampan kita saat ini seperti lembu yang masuk ke ladang penuh tanaman. Dia melompat ke sana kemari penuh kegirangan, menunjuk ini itu dengan sesekali meletakkan jari ke bibirnya yang mulai penuh liur.
Celakanya ini adalah warung prasmanan. Keadaan tidak bisa lebih buruk lagi.
Dia mengambil piring lalu dengan gegabah mendongkel nasi dalam porsi besar seolah alat berat menggaruk tanah. Idenya adalah mengambil satu piring untuk nasi dan piring lain untuk lauk. Nekat bukan..
Jono sudah tidak sabar lagi untuk menyelamatkan harga dirinya serta dompetnya dari memiliki teman seperti hantu kelaparan ini. Segera dia menghentikan penjarahan biadab di hadapannya.
"Temanku yang baik, sudah sudah jangan memaksakan diri. Di tempat ini, makan adalah hal yang biasa dilakukan orang orang. Kamu bisa mengulanginya kapan saja". Ucap Jono sembari menarik temannya ke meja makan. Perantau amatir kita yang kelaparan hampir tidak tega meninggalkan setumpuk menu makanan di etalase, dengan tatapan perpisahan yang sayu dia menguatkan diri untuk merasa cukup saat ini. Sialan memang si bodoh ini..wkwk
" Bagaimana keadaan di kampung kita?" tanya Jono sambil melihat teman di depannya melahap kaki ayam goreng yang gemuk. "Sial itu dua puluh ribu tauu" umpatnya dalam hati.
"Baik, sangat baik.." jawab orang kedua, dengan suara yang tidak jelas. Mendorong begedel bulat bulat ke mulutnya dia melanjutkan "emak bapakmu juga sehat semua, hanya berpesan supaya kamu jangan boros boros di perantauan". Cukup datar juga dia mengatakan itu. Bukankah dia dalam proses mengosongkan dompet Jono saat ini??
" Alhamdulillah syukurlah kalau emak bapak sehat". Jono tampak senang mendengar kabar seperti itu, meski selanjutnya tersenyum masam tentang nasehat orang tuanya. "Apakah soal lowongan pekerjaan yang akan kamu masuki itu sudah positif??". Jono minum es teh untuk menghalau dari melakukan menelan ludah demi melihat temannya makan dengan lahap. " Anak ini benar benar wadah nasi " batinnya.
"Tentu saja Jono teman lama, tentu saja.." jawabnya. "Aku sudah menyimpan alamatnya, besok aku akan ke sana" cerocosnya. "Kamu bahkan harus mengantar aku karena pasti lebih tahu daerah sini".
" Akan aku usahakan " ujar Jono.
"Ngomong-ngomong bagaimana rasanya makanan itu, menurutmu??". Jono tidak bisa tidak bertanya begitu karena melihat cara makan temannya yang brutal.
"mmhh mmhh luar biasa, kelak kamu harus sering mengajak aku ke sini dan mentraktir aku". Jawabnya dengan wajah datar.
__ADS_1
" Traktir kakekmu..!!??" maki Jono setengah bercanda.
"Lain waktu kamu harus membalasku" lanjutnya.
"Asiaapp.." jawabnya penuh nada sok.
"Aku malam ini nginep di tempat kamu yaa". katanya setelah menyapu nasi terakhir, udang goreng terakhir, sambal dan sayur terakhir dari piringnya.
" Baiklah nanti aku bicarakan sama teman2 satu mess" ujar Jono yang sudah berpikir akan terjadi hal seperti ini.
"Terima kasih temanku yang baik..
hey aku baru sadar kenapa kamu tidak makan bersamaku??".
" Aku belum lapar dan aku tidak kelaparan " jawab Jono agak sarkastik. "Apakah kamu sudah cukup dengan semua itu? Kamu menghabiskan makanan yang cukup untuk dua orang, kau tahu??".
Terkekeh pada diri sendiri, perantau baru kita mengelus perutnya sambil berkata "ayolah Jono teman kecilku, aku kelaparan sejak dalam perjalanan dan jajanan di bus sangat mengecewakan. Itu tidak jelas dan harganya mahal hahaha.."
"Apa yang kamu katakan?" tanya kasir warung yang mendengar omelan samar Jono.
"Tidak ada tidak ada" katanya, "makanan disini sangat enak hehehe terima kasih.." jawabannya sambil berjalan kembali ke meja. Kasir memandang dengan mata curiga namun segera tidak peduli.
"Baiklah hari sudah sore, jadi mari kita kembali ke tempatku. Aku sudah meninggalkan pekerjaan demi kamu" Jono berkata.
"Okee aku juga lelah dan butuh istirahat, dan harus merepotkan kamu hari ini" katanya sok sungkan.
Mereka berdua berjalan menuju tempat dimana Jono bekerja, rupanya tempatnya bekerja menyediakan mess untuk para karyawan. Itulah yang dikatakannya selagi di jalan, dia bercerita banyak hal dengan nada sedikit sombong. Secara dia sedang menghadapi amatir yang baru keluar kandang. Untungnya temannya cukup bodoh untuk menyadari bualannya.
__ADS_1
"Ini sudah 20 menit berjalan dan kenapa kita belum sampai?". Jono yang sedang ditengah cerita terpotong oleh pertanyaan temannya.
" Sedikit lagi kita sampai, setelah perempatan lalu ke kanan lalu pertigaan lalu masuk gang lalu.."
Faktanya itu adalah jalan kaki selama 15 menit lagi, dimana pemuda desa kita hampir protes keras. Namun saat itulah Jono berseru.
"Itu dia, kita sampai.."
Terlihat di depan yang ditunjuk Jono adalah gerbang besi berwarna biru dengan coretan coretan warna putih. Ada beberapa tulisan grafiti tidak jelas, pasti orang iseng yang melakukannya, pikir pengamat. Namun dari beberapa tulisan, yang tampak dominan adalah tulisan warna putih berbunyi Suroboyo wani.
"Yukk masuk.." Jono mendorong pintu gerbang yang dengan itu menghasilkan suara berderit gesekan logam.
Rupanya itu adalah tempat semacam gudang. Halaman cukup luas yang juga berfungsi sebagai parkiran, nampak di sana beberapa truk pengangkut barang. Ada pohon di pojokan, pohon yang teman kita tidak tahu namanya.
Dia mengikuti Jono masuk ke gudang yang penuh dengan alat-alat dan perkakas.
"Ini adalah tempat kerja ku, di sini membuat perabot dan hal hal dari bahan besi dan logam lain" Jono bernarasi menjawab wajah bingung sahabatnya.
Beberapa orang karyawan terlihat membereskan peralatan.
"Cak Mat wis mari tah??" tanya Jono ke seorang paruh baya yang sedang mengatur kotak peralatan.
"Ehh Jono gek balik koen, suwe banget rek banyak kerjaan lohh iki maeng.." Cak Mat menjawab sambil berdiri.
"Iya Cak ini nunggu temanku lalu mampir makan" jawab Jono sambil menggaruk kepalanya. " Kenalkan Cak temanku dari kampung, mau nginep semalam di sini..".
"Ohh yaa gak apa apa" jawab Cak Mat sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Selanjutnya para karyawan yang lain juga mendekat untuk sekedar mengobrol dan berbasa basi.
__ADS_1
Namun rupanya basa basi khas Surabaya adalah pembicaraan yang panjang dan melelahkan teman kita. Di samping dia kurang mengerti bahasa khas Surabaya dan logat mereka yang berbeda. Teman kita yang bodoh makin tampak bodoh dan tidak berdaya kala menghadapi pertanyaan banyak orang.
"Bagaimana Jono bisa bertahan selama ini.." pikirnya getir sambil menghela nafas.