AKU BIKIN KAMU CINTA YAA..!!

AKU BIKIN KAMU CINTA YAA..!!
Bab 04


__ADS_3

Ruang resepsionis ini bersih rapi dan nyaman. Berukuran tiga kali dua setengah meter, terdapat meja kerja untuk karyawan jaga. Kursi tunggu di dekat pintu masuk, rak kecil untuk majalah dan pot bunga di sudut ruangan. Aroma lembut dan segar. Beberapa foto di dinding, yang kemungkinan foto para atasan perusahaan. Tidak ada foto boyband??


Pengamatan berakhir ketika sosok resepsionis muncul dari pintu belakang dan tersenyum.


"Selamat.." ujarnya buka suara.


"Anda diterima untuk bekerja di perusahaan ini, Anda bisa mulai bekerja besok pagi. Untuk sementara bisa memakai baju bebas sambil menunggu seragam kerja Anda tersedia"


"Terima kasih mbak.." sedikit terkejut dengan yang didengar dan kemudahan yang didapatkannya, matanya bersinar tanpa menyembunyikan emosinya.


"Kalau begitu saya pamit mbak, sampai jumpa.."


"Silakan.." sang resepsionis berkata sambil berdiri.


"Mmhh..sebaiknya aku gunakan hari ini untuk mencari kamar kost, akan lebih baik jika tidak terlalu jauh dari tempat kerja".


Dengan itu dia berjalan ke arah kampung di seberang jalan, untungnya Jono sudah memberikan gambaran kasar tentang daerah padat kost dan rentang harga. Itu tidak sampai dua jam ketika dia menemukan tempat yang cocok setelah beberapa kali pindah lokasi.


" Well, tidak buruk..benar benar tidak buruk.."


Memandang sekeliling pada kamar barunya dengan tangan di pinggang, merasa puas dengan pilihannya.


"Ahh kehidupan kota, akhirnya aku di sini untuk menjalaninya".


Berdehem sejenak, dia memutuskan untuk membersihkan kamar sebelum istirahat siang.


Itu sekitar jam 3 sore saat Jono bergulat dengan pekerjaan ketika dia melihat lagi temannya. Dia mendapati wajah temannya yang ceria. Meletakkan peralatan kerja dia berjalan menyambut.


"Jadi temanku yang baik, bagaimana di sana??"


"Tidak banyak, Jono sahabatku. Aku diterima kerja. Besok harus mulai bekerja. Aku kemari untuk mengabarkan hal ini kepadamu sekaligus mengambil barang-barangku yang tidak banyak itu dari tempatmu.."


"Baiklah, tapi tidak usah terburu-buru, santai di sini dan tunggu aku sebentar lagi selesai kerja. Kita bisa sedikit makan untuk merayakannya" Jono mengusulkan.


"Ide bagus temanku, kali ini biar aku yang traktir. Jangan khawatir"


Jono yang mendengar itu seolah mendapat kesempatan untuk membalas perampokan sebelumnya oleh temannya.


"Baik dan jangan sesali kata katamu" sahutnya cepat seolah khawatir temannya berubah pikiran.


"Hahaha..oke sobat kecil, lanjutkan pekerjaan dan pastikan kamu lapar setelahnya"

__ADS_1


Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan gembira, sesekali mengenang masa lalu sesekali bersemangat tentang masa depan.


'Nanti ku antar kamu ke kost barumu. Aku ingin melihatnya " Jono mengusulkan


"Baiklah bila kau memaksa".


"Bagaimana caramu menemukan kendaraan seperti ini?"


Jono yang sedang memegang kemudi menoleh karena pertanyaan.


"Haha jangan meremehkan benda tua ini bung".


"Yaa sebaiknya benda butut ini tidak mogok di tengah jalan".


Jono hanya tersenyum sebagai balasan.


" Jadi ini kamar yang kamu sewa? Lumayan.. ". Kata Jono sambil menerima segelas kopi dari tangan temannya.


" Mau menginap?"


"Tidak tidak, aku kembali saja"


" Baiklah kamu bisa datang kapan saja"


Pagi menjelang dan aktivitas kota kembali hingar bingar dengan berbagai kegiatan yang bila kamu lihat satu persatu terkadang membuat kita berpikir keras bagaimana hal hal itu saling berhubungan.


Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang. Dua wanita muda duduk di kursi depan. Salah satunya memegang kemudi, jelas.


" Setelah berjalan dua bulan ini, bagaimana pendapat nona tentang perusahaan cabang dan apakah yakin masih ingin melanjutkan? " wanita di kursi copilot bertanya.


"Yaahh perusahaan cukup sehat dan meskipun cabang kecil itu cukup tangguh..


Dan bila kamu bertanya apakah aku ingin melanjutkan, begitulah untuk saat ini aku masih ingin melihat lebih jauh. Anggaplah untuk sebulan ke depan".


Wanita muda yang memegang kemudi menjawab, lalu menambahkan


" Dan sudah kukatakan berapa kali padamu Feby, kak Feby yang baik. Panggil namaku saja, Arivi atau Vivi"


Feby tersenyum dan berkata "Baiklah aku akan melakukannya saat dihadapan orang lain"


Arivi memutar matanya " Lakukan saja yang kamu suka "

__ADS_1


hehehehe..


Sudah dua bulan ini Arivi bekerja di cabang perusahaan papinya. Dia tidak mengungkapkan identitasnya sebagai putri pemilik perusahaan. Dia ingin belajar dari bawah dan menjalani kehidupan dengan merasakan perjuangan.


Arivi memarkir mobilnya cukup jauh dari tempat kerja kemudian berjalan bersama Feby. Selalu seperti itu.


"Selamat pagi mbak Fani, kepada siapa saja harus melapor dan dimana saya akan ditempatkan?"


"Selamat pagi juga, silakan Anda temui Bapak Agus dan beliau akan menjelaskan tugas dan tanggung jawab Anda" jawab resepsionis yang sudah mengantisipasi karyawan baru ini


Dari luar gedung di samping ruang resepsionis terdapat pintu besar, selain jalan keluar masuk karyawan juga merupakan aliran barang masuk dan keluar. Begitu kita masuk maka akan terlihat pemandangan banyak kardus berbagai ukuran tersusun di sana sini. Terdapat pula rak rak berisi aneka macam barang. Karyawan sudah mulai beraktivitas dengan tugas masing-masing.


Arivi memegang catatan permintaan barang dan sedang berjalan menuju deretan rak ketika dia melihat seorang pemuda keluar dari ruangan Pak Agus. Pemuda yang tampak bodoh ini linglung tidak tahu harus berbuat apa.


"Hei apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu karyawan baru??"


Pemuda itu hampir saja membuka mulut dan berhasil menjawab ketika wanita di depannya melanjutkan.


"Kebetulan sekali.."


"Siapa namamu? Ahh sudahlah aku panggil saja kamu Tobey. Oke ikuti dan bantu aku"


"Siapa gadis ini dan kenapa memerintah seenaknya?. Baiklah dengan perintah itu bisa aku terima, tapi apa apaan nama Tobey sialan ini??"


Karyawan baru ini benar benar tidak berdaya.


Dia hanya bisa mengikuti gadis di depannya. Berpikir bahwa ada baiknya jika dia diberi tugas dan membaur dengan karyawan lain.


Mereka berdua berjalan melalui lorong yang tercipta dari tumpukan kardus dan barang. Sampai diujung lorong Arivi berhenti.


"Baiklah Tobey, bawakan aku enam karton barang ini dan letakkan di dekat pintu depan. Dan setelah itu temui aku untuk mengambil barang yang lain". Arivi senang.


" Okey, aku lakukan tapi..


"Tapi apa!??" Arivi menyela.


"Begini, aku seorang karyawan baru dan terima kasih sudah menunjukkan tugas padaku, tapi ada apa dengan nama Tobey itu??. Kenapa kamu memanggilku begitu??.


" Kau tidak suka nama itu?. Baiklah kamu bisa mengusulkan nama lain yang lebih cocok. Silakan, apa kami punya yang terdengar lebih baik??".


"Kenapa arahnya seperti itu?. Apakah gadis ini gila atau sesuatu?. Bukankah seharusnya bertanya siapa namaku atau berkenalan naik baik seperti di novel??"

__ADS_1


"Tapi Tobey juga tidak terdengar buruk.."



__ADS_2