
Pujasera berada di bagian belakang dari kawasan pergudangan. Itu ada sebuah bangunan memanjang, terdiri dari beberapa penjual makanan yang beraneka macam. Banyak karyawan dari berbagai pabrik dan perusahaan menghabiskan waktu istirahat siang disini. Suasana asri oleh pohon rindang di depan bangunan. Tempat yang nyaman untuk melepas lelah dan menikmati hidangan.
Meja dan kursi di susun sedemikian rupa di depan warung penyedia makanan. Karyawan dari berbagai kalangan berbaur tanpa ada penghalang diantara mereka. Suasana benar-benar hidup.
Pengunjung mengalir keluar masuk. Kebanyakan suka makan di tempat namun beberapa juga membeli dalam bentuk bungkusan.
Toni dan Tobey tiba dan menuju salah satu warung.
"Di sini banyak pilihan menu, dijamin semua enak" kata Toni memberi panduan.
"Aku mau makan mie ayam siang ini, kamu mau makan apa?" tanya Toni.
"Kebetulan aku juga suka mie ayam, jadikan itu sama. Dan juga es teh manis" Tobey tidak mau repot repot dengan pilihan makanan.
Mereka berdua duduk menunggu di antara pelanggan lain.
Berhadapan dengan Tobey dengan meja sebagai pembatas adalah kelompok karyawati dari perusahaan lain. Seragam mereka baju lengan pendek berwarna biru. Beberapa dari mereka memakai jilbab dengan deker hitam sebagai penyambung lengan baju seragam.
Tobey adalah pemuda kampung yang baru saja keluar dari desa untuk merantau. Meski begitu dia adalah pemuda tampan, dan bukan hanya ibunya saja yang mengakui hal itu. Jadilah dia cukup menjadi perhatian gadis gadis karyawati di depannya.
Karyawan pabrik adalah orang orang dengan pemikiran terbuka dan cenderung blak blakan dengan kata kata merdeka. Meski beberapa orang adalah pemalu dan cenderung diam, namun wajah tampan dan sedikit bodoh Tobey berhasil menarik beberapa orang untuk memulai obrolan.
Sebelum Tobey menduduki kursi, dia sempat mengucapkan permisi kepada orang di sekitar. Dan itu seperti cacing di ujung kail yang menarik banyak ikan untuk mendekat.
"Silakan mas.." ucap seorang karyawan wanita yang terlihat senior. Dia berusia sekitar dua puluh empat tahun dan punya tampilan seseorang dengan banyak pengalaman menghadapi lawan jenis. Riasan di wajahnya cukup tebal meski di beberapa tempat telah dialiri keringat.
"Masnya kerja dimana?" lanjutnya, melihat Tobey yang tidak mengenakan seragam perusahaan tertentu.
"Saya bekerja di CV ALAM mbak" jawab Tobey sambil tersenyum. Dia sekilas juga melihat karyawati lainnya.
"Mbaknya kerja dimana?" tanya balik Tobey. Tidak sopan bila tidak ganti bertanya pikirnya.
"Ohh saya, kami bekerja di PT GMR mas" jawabnya sambil mengedarkan pandangan ke arah teman temannya. Yang lain juga mengangguk.
Tobey refleks juga memperhatikan yang lain. Dia memperhatikan bahwa ada satu gadis yang menundukkan kepalanya dan tidak banyak bicara.
Tobey jelas tidak tahu PT GMR tapi dia tidak bertanya secara rinci. Daripada itu lebih baik mencari tahu tentang gadis pendiam dan terlihat polos ini. Siapa tahu dia mudah ditipu, pikirnya.
"Masnya baru di sini? Kalau boleh tahu namanya siapa?. Tanya wanita itu lagi.
Hhmm wanita yang terbuka. Dia yang mengambil inisiatif. Atau karena aku sangat tampan ya. Pikir Tobey.
Menghela nafas dan berpikir betapa tampannya dia. Dia pun menjawab dengan anggukan.
" Nama saya mmhh..
__ADS_1
Panggil saja Tobey mbak. Saya memang baru di sini, dari mana mbaknya tahu??. Tobey cukup heran juga.
"Itu karena kamu, Tobey belum memakai seragam. Setahu saya CV ALAM berseragam hitam merah" jawabnya
"Ngomong ngomong nama saya Rosita, panggil saja Sita" katanya menyebutkan nama walau tidak ada yang bertanya.
"Makasih mbak, ini semua teman mbak Sita?" tanya Tobey sambil melihat yang lain.
"Iya, cantik cantik kan?" canda Sita.
"hehe iya mbak" cengenges Tobey sambil melirik gadis pendiam di samping Sita.
Sebelum obrolan berlanjut lebih jauh, pesanan mereka datang.
Toni terlihat menikmati makanan dan tidak terlalu perduli pada suasana sekitar. Padahal banyak cewek cantik lho Ton, awas nanti kamu nyesel. Bisik author.
Tobey makan sesekali menjawab pertanyaan dari Sita. Dia akhirnya juga tahu gadis pendiam itu dipanggil Senia. Nama yang unik, tapi memang manis dan cantik pikir Tobey.
Tobey sedang menikmati suap terakhir mie ayam dari mangkuk ketika tatapan matanya bertemu dengan Senia yang sedang mengangkat gelas es teh.
Deg
Momen itu terjadi dalam beberapa detik singkat namun memiliki efek damage yang besar.
Tobey bahkan rela bila harus tersedak.
Namun seper sekian detik berikutnya Senia tersentak.
Saat sadar dia tersenyum, senyum singkat. Sangat singkat. Tapi,
Senyum itu sangat manis, terlalu manis.
Lalu dia menundukkan lagi kepalanya.
Tobey hampir mabuk oleh momen singkat itu. Bila saja dia tidak merasakan pedasnya sambal mie ayam, dia pasti akan merasa bahwa mulutnya manis karena senyuman gadis di seberang meja.
Jantungnya berdebar.
Dia hampir tidak percaya dengan matanya.
Gadis pendiam itu tersenyum padaku. Pikirnya.
Dia memperhatikan lagi gadis itu yang menunduk tersebut. Ingin mendapat konfirmasi tentang yang terjadi. Namun itu tidak terpenuhi.
Gadis ini sangat pendiam. Simpulnya
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian mereka selesai dengan makanan masing masing.
Dan setelah basa basi singkat. Sita pergi bersama teman temannya.
"Tobey, kami harus kembali ke tempat kerja" katanya sambil melihat Tobey dan Toni juga.
"Lain waktu kita jumpa lagi" lanjutnya
"Iya mbak Sita terima kasih" Tobey menjawab singkat saat melihat para wanita berdiri dari kursi.
Sita memimpin teman temannya untuk membayar tagihan makanan lalu berjalan kembali melewati meja Tobey.
Saat itulah Senia kembali menatap Tobey dengan tatapan dalam dan penuh arti.
Dia tidak tersenyum. Dia hanya menatap. Namun tatapan yang intens. Tatapan yang penuh kata kata antisipasi.
Seolah berharap hal ini akan terjadi lagi. Namun Senia adalah gadis pendiam. Dia hanya menyampaikan kata kata melalui matanya.
Tobey yang ditatap seperti itu hampir saja melongo.
Namun dia berhasil mempertahankan penampilan kerennya dan menatap balik Senia, sambil tersenyum tipis.
Dia mengangguk
Anggukan yang memberikan keyakinan dan kepercayaan akan keinginan yang sama.
Sial ini baru pertama kali bertemu kenapa harus sedramatis ini?
Akhirnya rombongan Sita dan lainnya menghilang dari pandangan. Menyisakan Tobey yang masih diam dengan pikiran macam macam.
"Hhmm apakah aku begitu tampan, temanku Toni yang baik??"
Toni yang melihat sekilas kejadian itu, dan kini mendengar pertanyaan Tobey serasa ingin memukul kepalanya.
"Kau benar benar mudah besar kepala" katanya.
"Tapi gadis itu memang cantik, sangat cantik" lanjutnya.
"Sebaiknya kamu tidak usah bermimpi terlalu tinggi" ledeknya.
"Haha..siapa tahu aku akan dapat kekasih lebih cepat dari yang kamu bayangkan" sombongnya.
"Di kampung aku terkenal sebagai Arjuna desa lohh" kelakarnya.
"Terserah apa katamu saja" Toni berkata sambil berdiri berjalan ke arah kasir.
__ADS_1