
Senia berjalan dengan langkah malas ke arah kafe. Wajahnya cemberut, hatinya dongkol. Dia sudah menyadari bahwa ada beberapa orang yang mengikuti secara diam diam. Dia juga sudah menebak bahwa orang orang ini adalah suruhan ayahnya.
Dia mencoba menikmati malam ini dengan tidak memperdulikan anak buah ayahnya. Dia ingin menikmati malam minggu. Malam kencannya.
Namun pada akhirnya dia tidak tahan untuk tidak bertindak. Orang orang ini harus diusir, pikirnya.
Walau begitu dia tidak yakin bahwa orang orang ini bakal pergi begitu saja. Mereka adalah pegawai yang keras kepala.
Senia gemas, sebal pada ayahnya.
Meski begitu ketika dia masuk ke dalam kafe, dia langsung mengubah ekspresi wajahnya.
Menyesuaikan suasana hatinya, dia memegang sandaran kursi.
"Maaf lama.." katanya memandang kepada Tobey dan Lulu sembari duduk.
"Ngapain aja sih lama banget?." Keluh Lulu.
"Aku kan jadi canggung berduaan dengan Tobey di sini" lanjutnya merajuk.
"Iya sorry banget Lulu bawel, toilet antre" jawab Senia beralasan.
"Yukk lanjut makan.." katanya dengan tangan sudah di atas piring.
Tobey melihat bahwa tidak ada yang berbeda dari Senia sebelum dan sesudah dari toilet. Tidak ada sisa basah di tangan atau baju. Tidak ada perubahan pada make up. Seolah dia tidak pernah ke toilet sama sekali.
Tobey memikirkan beberapa kesimpulan. Senia melakukan panggilan telfon misalnya. Atau dia menemui seseorang, bisa juga.
Namun Tobey tidak bertanya lebih lanjut.
Mereka melanjutkan menikmati hidangan dan juga suasana.
Waktu berjalan cepat bagi orang orang yang sedang menikmati kesenangan.
Jam sebelas malam.
Meski begitu suasana kafe belum menunjukkan tanda-tanda akan sepi. Para pengunjung masih betah dengan kegiatan ghibah mereka. Sesekali suara tawa dan umpatan terdengar.
"Jadi bagaimana? kita pulang atau?." Tanya Tobey kepada dua gadis, lagipula dia sudah kenyang dan mulai jenuh.
"Oke deh balik, sudah malam juga". Tukas Lulu yang disambut dengan anggukan Senia.
" Aku bayar dulu " sambungnya sambil berdiri.
"Senia, bagaimana menurut kamu tentang kafe ini?." Suara Tobey memecah keheningan ketika Lulu pergi ke meja kasir.
Senia menoleh sebagai respon, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kafe.
"Tidak buruk, bagus kok" katanya setelah beberapa saat.
"Aku suka suasananya. Nyaman dan menyenangkan" lanjutnya lagi.
Tobey mengangguk.
"Kalau begitu kita berdua harus kembali lagi ke sini kapan kapan..". Katanya sambil mengaitkan jari jari tangan. Menunggu respon Senia.
Senia tertawa kecil yang nyaris tanpa suara.
" Apakah ini ajakan kencan langsung?. " Ujarnya menatap lurus ke arah pemuda di depannya.
"Kau bisa menganggapnya begitu, lagipula kita harus mengakrabkan diri bukan?." Argumennya dengan ekspresi polos.
__ADS_1
"Haha.."
Kali ini Senia benar benar tertawa.
"Baiklah, itu bisa dipertimbangkan. Lagipula kamu pemuda yang cukup menarik" katanya lebih lugas.
"Senia cukup terbuka juga, dia tidak sependiam yang aku kira" batin Tobey.
Dia awalnya mengira akan sulit untuk memulai obrolan dengan Senia. Gadis yang di awal pertemuan mereka sangat pemalu dan lebih banyak diam.
Namun malam ini Senia seolah orang yang berbeda.
Atau mungkin karena dia merasa nyaman.
Atau karena aku tampan.
Tobey menghela nafas betapa ajaibnya bagiamana wajah tampannya bekerja.
"Awal yang bagus" katanya dalam hati pada akhirnya.
"Hanya cukup menarik?." Timpal Tobey setengah bercanda dengan kening berkerut.
"Kalau aku yang sekeren ini hanya cukup menarik, lalu siapa yang berani mengaku sangat menarik??." Katanya kali ini dengan menaik turunkan alis.
Senia menutup mulut dengan tangannya untuk menahan tawa.
"Apa yang kalian bicarakan?."
Suara Lulu mengagetkan dari belakang.
"Tidak ada, ayo pulang" jawab Tobey sambil berdiri dari kursi.
Mereka bertiga berjalan kembali ke rumah kost. Tidak banyak obrolan yang tejadi dalam perjalanan itu.
Hanya Lulu yang cerewet bertanya pendapat orang orang tentang pisang coklat, roti bakar, milk shake dan lain lain.
Tobey dan Senia hanya mengangguk mengiyakan dan menjawab ala kadarnya. Yang mana itu membuat Lulu kesal. Namun dia berhasil menghibur dirinya dengan fakta bahwa dia telah mengambil banyak foto sewaktu di kafe.
"Jangan lupa kasih komentar yaa Sen" katanya kepada Senia ketika menyampaikan rencana akan mengunggah foto ke jejaring sosialnya.
"Lagipula kamu pasti aku tandai" lanjutnya.
"Dan Tobey, kita harus bertukar kontak serta media sosial, oke" katanya sembari memandang Tobey.
"Iya nanti kalau ada waktu.." jawab Tobey asal asalan.
"Apa apaan dengan jawaban itu? Dan mana ucapan terima kasih karena sudah ditraktir??." Tuntut Lulu dengan bibir manyun.
"Iyaa iya, terima kasih boss Lulu" jawab Tobey dengan ekspresi tidak percaya dengan kata kata gadis tambun ini.
"Bukankah dia mentraktir aku sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu menata kamar" batinnya mengeluh tak berdaya.
Pada akhirnya dia mengambil kesimpulan bahwa wanita memang selalu menuntut untuk dihargai.
"Kau tidak merokok Tobey? Dari tadi aku tidak melihat kamu melakukannya." Ucap Lulu agak heran.
"Tidak, aku tidak.." awab Tobey apa adanya.
"Aku tahu aku tahu, gajimu tidak cukup?." tanya Lulu berdasar kesimpulan sesat.
"Imajinasimu berlebihan nona, aku tidak merokok karena tidak bisa menikmatinya" jawab Tobey diplomatis.
__ADS_1
Senia yang dari tadi diam akhirnya buka suara.
"Itu bagus, dan sebaiknya selalu seperti itu..
Kebiasaan sehat harus dipertahankan" katanya bijak.
Mereka bertiga akhirnya sampai di kost dan harus berpisah. Perpisahan yang dibatasi oleh dinding tembok saja.
"Baiklah kami masuk dulu, terima kasih sudah menemani kami malam ini." Kata Senia ketika sampai di depan pintu kamar masing-masing.
"Iya sama sama, kamu cepat istirahat. Jangan begadang" balasnya selagi mengeluarkan kunci dari saku.
"Senia saja yang disuruh cepat istirahat..!!?! Aku tidak..!!!??. Protes Lulu.
" Iya kamu jaga keamanan sampai pagi " ledek Tobey langsung masuk kamar dan tidak perduli reaksi Lulu.
"Bedebah sialan.." maki gadis itu.
"Ayo Senia.." katanya kemudian setelah membuka pintu kamar.
"Kamu masuk duluan, aku mau menelfon sebentar" tukas Senia.
Lulu hanya mengangguk lalu menghilang ke dalam kamar.
Pak Rahmat baru saja mendengar laporan anak buahnya. Malam ini dia mengutus empat orang untuk mengawasi dan memastikan keamanan nona muda atas perintah tuan besar.
Pak Rahmat sedikit terkejut mendengar laporan rinci dari Heri, salah satu anak buahnya. Orang yang telah tertangkap basah oleh Senia, nona mudanya.
Pak Rahmat sangat mengenal baik nona mudanya. Senia adalah gadis yang ceria, ramah dan tidak memandang status. Dia baik kepada semua orang yang bekerja untuk keluarganya.
Sampai tujuh bulan yang lalu. Kejadian yang mengubah kepribadian Senia menjadi tertutup dan dingin. Bahkan berujung dia pergi dari rumah.
Butuh beberapa waktu dan usaha untuk menemukan keberadaan Senia.
Keluarga dibuat kelimpungan. Ayahnya murka dan menjadikan anak buah sebagai sasaran amarah.
Hingga kemudian terendus bahwa Senia berada di Sidoarjo. Bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksi bahan dasar makanan dan kue.
Ayahnya gemas tentang hal itu. Bila anak bungsunya ini mau, dia bisa membeli perusahaan tersebut dan menjadikannya seorang boss. Untuk apa repot bekerja sebagai karyawan.
Bahkan setelah keberadaan Senia ditemukan. Ayahnya sendiri datang menjemputnya untuk pulang. Hanya untuk mendapati fakta bahwa Senia menolak dan tidak mau menemui ayahnya.
Merasa tak berdaya, sang ayah hanya bisa mengatur anak buah untuk mengawasi dan menjaga keselamatan putrinya.
Dan juga mengutus pak Rahmat. Orang yang dekat sekaligus sopir Senia semenjak sekolah dasar hingga kuliah, yang mana kuliahnya ditinggal di tengah jalan.
Pak Rahmat yang kini terbebani dengan tugas berat, berfikir bagaimana melaporkan ini kepada tuannya.
"Ahh pusing kepala.." desahnya.
Sejenak dia mengurut pelipis dan hendak menyeruput kopi, ketika hapenya berdering.
Panggilan masuk. Nomor tidak dikenal.
Dia mengangkat gawainya. Menggeser tombol jawab.
"Halo, dengan siapa??" Ucapan standar ketika menerima telfon nomor baru.
Mendekatkan benda tipis itu ke telinga. Dan saat suara penelfon memasuki indra dengarnya.
Ekspresinya berubah sembilan puluh derajat. Wajahnya berbinar..
__ADS_1