
"Halo paman Rahmat, selamat malam.."
Suara di ujung telfon adalah suara seorang gadis yang sangat akrab bagi pak Rahmat.
Dia yang semula pusing tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya terkait situasi, kini berubah sumringah.
"I..iya nona, selamat malam.." jawabnya gugup sekaligus senang.
Dia tidak akan salah. Ini adalah suara Senia, yang meskipun menghubungi memakai nomer tidak dikenal.
"Akhirnya nona muda ingat untuk menghubungi paman tua ini..
Saya..tidak, kami semua mengkhawatirkan keadaan nona". Jawab pak Rahmat hampir histeris. Andai di depannya tidak ada anak buah yang barusan melapor, mungkin dia akan melompat lompat saking girangnya.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda nona??
Dan anu..tuan besar.."
Sebelum pak Rahmat bahkan selesai berkata, Senia menyela dari ujung telepon.
"Berhenti di sana paman. Jangan menyebut orang tua itu..
Dan tidak perlu berpura pura khawatir tentang aku, lagipula paman mengawasi semua kegiatanku bukan??"
Kata Senia dengan nada menyindir.
Pak Rahmat hanya bisa menggaruk kepala dan mengurut pelipis. Pusing.
Kena marah dari kanan kiri. Satu pihak tuan besar, pihak lain nona muda
Kenapa ayah dan anak ini sama sama keras kepala?
Batin pak Rahmat tak berdaya.
"Aduh nona, jangan bicara seperti itu. Ini semua perintah dari tuan besar dan demi kebaikan nona."
Argumen pak Rahmat yang sebenarnya masuk akal.
"Baiklah baiklah..maaf telah membuat paman berada dalam posisi sulit". Lanjut Senia melunak.
"Lalu apa yang bisa kami lakukan untuk Anda nona?" Pak Rahmat kembali meminta keputusan.
"Jangan melaporkan semua hal kepada orang tua itu. Paman pasti mengerti maksudku," jawab Senia.
"Dan juga Paman, berikan aku uang saku. Aku tidak bisa dalam keadaan seperti ini terus." Senia menambahkan.
Dalam hati pak Rahmat sedikit senang mendengar perkataan Senia yang terdengar prihatin.
"Merasakan juga kan akhirnya, sudah enak di rumah fasilitas penuh. Ehh malah minggat." Kata batin pak Rahmat.
__ADS_1
Meski begitu dia tetap menjawab dengan lembut di telepon.
"Baik Nona, akan saya lakukan sesuai keinginan Nona." Jawabnya sambil mengangguk.
"Terima kasih Paman, selamat malam." Tutup Senia tanpa menunggu jawaban pak Rahmat.
"Jangan panggil aku paman anak kecil, aku Rahmat namaku adalah Rahmat."
Hampir saja pak Rahmat kumat latahnya.
"Baik Nona, selamat malam."
Pak Rahmat menaruh HP di meja dengan senyum bahagia.
Setelah sekian lama berusaha keras mencari keberadaan Senia. Nona muda yang minggat dari rumah orang tuanya di Malang, akhirnya terlacak di Sidoarjo. Meski begitu kesulitan berikutnya adalah menjalin komunikasi dengan nona muda ini yang selalu menghindar. Bahkan berpindah pindah tempat.
Namun kini sang nona yang berinisiatif menghubungi pak Rahmat lebih dulu. Tentu saja ini perkembangan yang bagus dalam usaha membawa sang nona muda kembali pulang ke rumah.
Pak Rahmat tersenyum lebar. Namun perlahan senyumnya pudar ketika ingat perkataan Senia agar tidak melaporkan secara rinci tentang apa kegiatan Senia. Khususnya malam ini, seolah Senia menekankan hal itu.
Lalu pak Rahmat mengingat kembali laporan anak buahnya bahwa malam ini Senia berkunjung ke sebuah kafe bersama dua teman. Dan salah satunya adalah laki laki.
Pak Rahmat seketika kembali pusing.
"Jangan jangan non Senia menghubungi lebih dulu karena mengantisipasi gerakan kami?
Sial kenapa aku merasa sudah diperdaya?"
"Gadis yang cerdas. Benar benar memenuhi reputasi sebagai putri tuan besar."
Meski merasa dibodohi, pak Rahmat tidak bisa menyembunyikan perasaan kagumnya.
( hey hentikan mental penjilat itu paman )
"Tugaskan satu orang untuk mengawasi pemuda yang bersama nona tadi," perintah pak Rahmat kepada Heri yang masih setia menanti kelanjutan instruksi.
"Dan juga bawakan aku foto kegiatan nona malam ini," lanjut pak Rahmat.
"Baik Pak." Jawab Heri singkat.
Pak Rahmat meraih gawai di meja untuk melakukan permintaan Senia yang kedua. Mentransfer sejumlah uang.
Di sisi lain setelah memutus sambungan telepon Senia masuk kamar dan mendapati Lulu yang terlentang di kasur.
"Telfon siapa malam malam begini?". Tanya Lulu tanpa menoleh dari gawai di tangannya dengan nada penuh selidik.
"Bukan siapa-siapa, kasih kabar keluarga saja
Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
__ADS_1
Jawab Senia sambil berjalan ke arah kamar mandi.
"Aku masih membaca novel. Ada cerita menarik tapi sayang jarang update, mungkin pengarangnya sibuk atau apalah." Kata Lulu setengah menggerutu.
Di saat bosan main aplikasi video pendek, Lulu memang suka beralih ke aplikasi novel online. Semua novel bergenre romantis dilahapnya. Dia bahkan berimajinasi bila dia adalah tokoh utama wanita yang dikejar banyak pria. Sialan.
Pagi itu Arivi sedang menikmati sarapan pagi bersama papa dan mamanya. Sebentar ada satu lagi anggota keluarga, yakni adiknya. Namun bisa dipastikan bahwa adik laki lakinya masih tidur. Bocah sialan itu pasti begadang semalaman.
"Kapan kamu mau pindah ke perusahaan utama, Rivi?." Papanya membuka suara disela sarapan mereka.
"Nggak tau pa, mungkin bulan depan mungkin tahun depan," jawab Arivi asal.
"Bukankah kamu sudah cukup mengenal perusahaan cabang?. Dan keadaan di sana juga baik baik saja, kan?" Kali ini mamanya yang bertanya dengan lembut.
"Iya sih ma, tapi Rivi mulai nyaman di sana." Katanya beralasan.
Dia berpikir bahwa di perusahaan pusat pasti lebih sibuk dan menyita waktu. Lagipula di perusahaan pusat dia tidak bisa bertemu dengan Tobey. Yang entah bagaimana beberapa hari belakangan Arivi memikirkan pemuda itu.
"Ya sudah tidak apa-apa, tapi yang pasti kelak kamu akan memimpin perusahaan. Jadi persiapkan dirimu sejak dari sekarang." Kali ini papanya yang memberikan wejangan.
"Oh ya ma, kemarin papa ketemu sama pak Lukman. Itu lho pemilik JatNet Media, mama ingat kan?". Pak Hermawan berkata sembari memandang istrinya.
Sang istri terlihat berpikir sejenak. Seolah teringat sesuatu, dia berkata
" O yang kita dulu pernah bertemu sewaktu acara pelantikan Walikota ya pa?". Kata nyonya Hermawan meminta kepastian dari suaminya.
"Iya ma betul
Kemarin beliau bercerita tertarik untuk memperluas bisnisnya, dan ingin menjajal kerjasama dengan perusahaan kita." Pak Hermawan penuh semangat menceritakan pertemuan dan peluang yang didapatnya.
"Bagus itu pa, lagipula beliau memiliki jaringan media massa. Sangat membantu dalam perkembangan bisnis jaman sekarang." Tukas nyonya Hermawan tak kalah antusias.
"Beliau juga memperkenalkan putranya kepada papa ma. Anaknya baik dan sopan. Sudah jago ngurus perusahaan juga." Kali pak Hermawan berkata sambil memandang ke Arivi. Ingin melihat reaksi putrinya tersebut.
Arivi menghentakkan kegiatan makannya. Memandang papanya dan berkata
"Kenapa papa melihat Rivi seperti itu?. Bukankah banyak pemuda yang merupakan putra seorang pebisnis menjadi jago juga dalam mengurus perusahaan?" Kata Arivi sambil memutar matanya.
Kali ini pak Hermawan berkata dengan nada menggoda
"Dan dia juga tampan lho."
"Memang kenapa? Papa merusak mood sarapanku hhmm ... kata Arivi merajuk.
"Bukannya papa ingin supaya Rivi fokus dalam mempelajari perusahaan?." Katanya kemudian.
"Iya tentu saja papa ingin kamu begitu. Lagipula papa tidak membicarakan sesuatu tentang kamu dan dia. Kenapa kamu jadi sewot?? Jangan jang--
"Ihhh papa, bikin males ahh." Potong Arivi sambil berdiri dan pergi dari meja makan.
__ADS_1
Pak Hermawan dan istrinya hanya saling memandang, kemudian tertawa melihat tingkah putri mereka itu.