Aku Bukan Daria

Aku Bukan Daria
Siapa Daria??


__ADS_3

"Darla, ayo." Wanita itu berkata kepadaku,


Sebelum aku sempat protes, dia mengaitkan lengannya di lenganku dan menyeretku ke dalam mansion.


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, mansion itu sangat besar dan indah. Semua yang ada di dalamnya memiliki warna yang terkoordinasi dengan warna putih dan emas. Itu tampak elegan.


"Ny. Daralyn, mungkin akan lebih baik jika saya berbicara dengan Daria sebentar," kata Anna sambil melangkah ke arahku. Mataku menyipit ke arah Anna ketika dia memanggilku dengan nama Daria.


Nyonya Daralyn tersenyum pada Anna dan mengangguk, "Tentu."ucapnya


"Terima kasih," katanya, ia menggenggam lenganku dan membawaku ke sebuah ruangan yang sama dengan tempatku saat pertama kali terbangun.


Aku hendak bertanya apa yang terjadi tapi dia menatapku dengan tatapan yang langsung menyuruhku diam. Aku memutuskan untuk mematuhinya.


Saat aku memasuki ruangan, Anna menutup pintu di belakangnya.


"Duduklah," katanya, dia berjalan ke tempat tidur berukuran besar dan duduk di pinggirnya. Anna menyodorkan segelas air dan duduk di sampingku. Aku meminumnya, menyadari betapa hausnya aku. Aku meletakkan gelas dan menoleh ke arahnya.


"Bisakah kau ceritakan padaku apa yang sedang terjadi pada kita?" Aku bertanya dan dia mengangguk.


"Kamu ingat saat kita berada di dalam kamar dan panik karena kita diculik. Dan seseorang masuk ke dalam kamar setelah itu dan kamu pingsan, aku sangat ketakutan. aku pikir orang-orang itu akan membunuh kita. Tapi kemudian, wanita tua itu masuk ke dalam dan dia memanggilmu Daria dan-"


Ah wanita yang menggunakan dress merah sebelum aku pingsan


"Ya! Kenapa dia memanggilku Daria!!!? Namaku Darla!!". Sebelum Anna bisa menyelesaikan kalimatnya, aku memotongnya.


"Tepat sekali. Dia memanggilmu Daria. Setelah kau pingsan, dia melepaskan ikatan kami berdua dan mengatakan padaku bahwa kami benar-benar aman dan dia tidak akan menyakiti kami. Dan aku tidak tahu mengapa, tapi ada sesuatu yang aneh dalam cara dia berbicara padamu. Hampir seperti seorang ibu."


"Apa maksudnya?"


"Aku pikir Daria adalah seseorang, yang wanita tua itu pikirkan. Dia juga mengoceh tentang bagaimana dia menyesali apa pun yang telah dia lakukan yang membuatmu melarikan diri."


"Apa? Itu tidak masuk akal bagiku."


"Aku tahu. Tapi pikirkan Daria ini adalah gadis yang dia bicarakan."

__ADS_1


"Tapi kenapa dia mengira aku Daria? Apa aku mirip dengannya atau apa?" Itu tidak mungkin sama sekali. Benarkan?


"Aku juga tidak tahu. Mungkin saja. Jika wanita itu mengira kau sebagai Daria, maka kau pasti memiliki kemiripan yang kuat dengannya."


"Tapi apa Daria baginya? maksudnya apa hubungan mereka?".


"Dengar, wanita itu sudah tua. Dia terlihat awet muda tapi aku yakin dia berusia akhir empat puluhan atau awal lima puluhan. Jadi mungkin Daria adalah putrinya.". Jelas Anna.


"Putrinya?????Dan dia sebagai ibunya, gagal mengenali putrinya sendiri?! Itu tidak mungkin!"


Anna mengangkat bahu. "Mungkin saja."


"Lalu di mana Daria?". tanyaku lagi.


"Aku tidak tahu. Jika wanita itu dengan mudahnya mengira kau adalah putrinya, berarti putri kandungnya sudah lama tidak bertemu dengannya. Dan dia memang mengatakan sesuatu seperti kau tidak banyak berubah bahkan dalam dua tahun."


"Apa dia sudah mati?!"


"Jika Daria sudah meninggal ,wanita itu tidak akan mengatakan bahwa kamu adalah putrinya.


"Sepertinya tidak, Daria masih terlalu muda , mungkin dia tak mengerti bagaimana cara pergi ke luar negeri". Jelasnya.


Aku kehabisan tebakan. Aku tidak menyadari bahwa Anna begitu cerdas. Tapi ini terjadi begitu cepat, bagaimana jika kami salah?


Sebuah ketukan lembut terdengar di pintu dan kami segera bergegas berdiri.


"Sekarang bagaimana?!" Aku bertanya dengan jengkel sambil mengguncang-guncangkan tanganku ke atas dan ke bawah, sesuatu yang membuatku sangat gugup dan bisa membuatku mengompol setiap saat.


"Jangan bilang apa-apa. Aku yang akan bicara dan jangan coba-coba melarikan diri lagi karena itu akan sia-sia , kau bodoh sekali," bisik Anna padaku.


"Hei! Itu patut dicoba! Kamu tidak pernah tahu, aku bisa saja lolos jika aku tidak sengaja melempar orang itu ke dalam kolam,,,,,,kolam renang," aku berbisik balik.


"Ssst," dia membuyarkan suaraku sambil meraih gagang pintu dan menariknya hingga terbuka. Itu dia lagi, wanita tua itu lagi.


"Anak-anak, sarapan sudah siap. Kalian berdua pasti lapar," katanya sambil tersenyum, melirik ke arah kami.

__ADS_1


Anna tersenyum manis padanya. "Tentu saja! Terima kasih banyak!"


Kemudian dia menoleh ke arahku. "Ayo, Daria, Aku tahu kau juga lapar."


Daria?. Aku benci nama itu. Daria juga nama teman sekolahku di tingkat SMA. Dia mengorbankan hidupnya yang berharga hanya untuk pacarnya yang bernama kelvin, berandalan yang selalu mengganti kekasihnya setiap di akhir bulan. Saat kelvin menginginkan untuk mengakhiri hubungannya dengan Daria , wanita itu mengancam untuk meminum racun. Itu adalah hal terbodoh yang pernah dia lakukan. Maksudku siapa yang melakukan itu?  Aku tahu daria sangat kaya, dia akan menuruti semua keinginan kelvin, kelvin akan mengatakan bahwa dia mencintainya saat Daria memberikannya hadiah .dia terlalu patuh saat sedang jatuh cinta bodoh sungguh bodoh!! Dan bagaimana jika kelvin tidak benar-benar mencintainya?? Maka pengorbanannya akan sia-sia, sebenarnya aku suka dengan sikap Daria yang selalu ramah padaku saat di sekolah tapi- ..


"Daria"??" Suara Anna menyadarkanku dari lamunan.


"Eh..apa?"


"Apa kau tidak lapar?" Anna bertanya, berpaling dari wanita itu untuk menatapku.


"Ya! Aku juga lapar."


"Baiklah kalau begitu. Ayo, kita sarapan bersama. Ikuti aku," kata wanita itu.


Anna mengangguk padanya. "Ayo," katanya dan menggandeng lenganku, menyeret ke belakang wanita itu .


Kami berjalan menyusuri lorong yang elegan dan berbelok ke kanan di bagian bawah tangga spiral. Saat kami mendekati meja makan, hidungku mencium aroma makanan yang lezat. Aku menebak itu adalah pancake yang sedang dimasak dan ternyata benar.


Tapi itu bukan satu-satunya yang ada di meja makan. Meja besar itu dihiasi dengan segala macam hidangan sarapan.


Yang pasti ada pancake, wafel, bacon, sandwich telur dan keju, burrito, bagel, steak ayam goreng, kolak, pop-tart, puding, donat, muffin, dan hidangan lainnya yang mungkin berasal dari Italia atau Jepang. Mulutku berair melihat pemandangan di depan. Benar-benar seperti surga bagi para pecinta kuliner.


Mataku masih terpaku pada makanan saat memasuki dapur yang lebih besar dari seluruh apartemen yang aku tinggali, aku mengamati dapur dengan seksama. Ada kulkas besar dengan suhu nol derajat Celcius, dua mesin pencuci piring Bosch, dan mesin pembuat es dari Skotlandia. Ada enam tungku Russell yang memiliki pemanggang yang berventilasi ke luar. Juga ada laci penghangat dan pembuat cappuccino built-in. Seluruh dapur tidak berwarna putih seperti biasanya, melainkan berwarna cokelat hangat dengan meja marmer Carrara.


Ada seorang pria paruh baya berkepala botak di dapur yang menatap kami dengan saksama. Dia memperhatikan ku dari ujung rambut hingga ujung kaki sambil menatapku dengan intens.


"Daria?" Aku mendengar pria tua itu bertanya padaku. Aku mengangkat mataku dari lantai untuk menatap matanya yang tajam.


Apakah dia sedang berbicara padaku?.


...


Salam cinta dari aku ❤️

__ADS_1


__ADS_2