
Pada saat ketakutan, manusia melakukan hal pertama yang diperintahkan oleh pikirannya. Nah, dikejadianku, aku melakukan hal kedua yang diperintahkan oleh pikiranku. Hal pertama yang dikatakannya oleh pikiranku adalah berteriak sekencang-kencangnya. Tapi hal kedua yang dikatakannya oleh pikiranku adalah menyerang si penyusup, bukankan ini terlalu gila?. Namun harus kulakukan!.
aku memutuskan untuk menyerang si penyusup.
aku tersentak dari tempat tidur, merasakan lengan penyusup itu jatuh bebas dari pinggangku. Sebelum dia bisa bereaksi, aku mengayunkan kakiku ke pinggangnya sehingga aku berada dalam posisi tepat diatasnya, aku meraih bantal yang menjadi sandaran kepalaku. membawanya ke atas kepalaku sebelum menghantamkan ke wajahnya.
aku mendengarnya menarik napas dengan tajam. aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang aku lakukan. aku menekan bantal ke wajahnya, yang merupakan salah satu upaya untuk membunuhnya, aku tidak peduli, aku hanya memikirkan keselamatan. Dia!!!!,siapa pun dia, telah masuk ke kamarku. Dan itu di tengah malam!!!!
Seketika, dua tangan besar melesat ke arahku, mencengkeram pergelangan tangan sebelum dia akhirnya mendorongku ke kanan yang menyebabkan aku kehilangan keseimbangan. sekarang dia berada diatasku!!! dalam posisi mengukung, posisi yang aku lakukan beberapa saat yang lalu. Pipi ku memerah.
Dia menahan tanganku di atas tempat tidur, menjepitnya di kedua sisi kepalaku. Dia menundukkan kepalanya ke arah wajahku untuk melihat lebih jelas.
"Siapa kamu?!" Kami berteriak pada saat yang bersamaan. aku meronta di bawahnya saat dia hanya menatapku. aku tidak bisa melihat wajahnya karena gelap dan aku yakin dia juga tidak bisa melihatku, tetapi suaranya terdengar agak familiar.
"Tolong! Tolong aku! Seseorang tolong, tolong aku-," kata-kataku terputus saat dia membanting tangannya ke mulutku, membungkamku dengan erat.
"Diam."ucapnya
aku tidak mendengarkannya. aku terlalu takut dan panik karena ada orang asing di kamarku saat tengah malam. aku hanya mencoba untuk bangun, aku meninju dadanya, yang telanjang, dan saat menyadari hal itu, aku semakin panik. Orang asing yang telanjang di kamarku pada tengah malam?!
"Lepaskan aku, bajingan," erangku sambil meronta-ronta dengan keras di bawahnya, mencoba membuatnya kehilangan keseimbangan. Dia terjatuh dari tempat tidur. Sayangnya, dia masih mencengkeram tanganku dengan kuat dan akhirnya dia menarikku ke bawah bersamanya.
aku terjatuh kebawah bersama orang asing itu. aku mendengar erangan keras saat merasakan diriku mendarat di sesuatu yang tidak sekeras dan sedingin lantai, Untungnya, aku mendarat dengan lembut, tapi kenapa rasanya tidak sakit??,
aku mendarat di atas orang asing itu?!!!!. aku langsung bangkit berdiri. Melihat sosok itu masih terbaring di lantai sambil mengerang kesakitan, aku menendang sebuah pusaka yang berada di antara kedua kakinya untuk membuatnya tidak berdaya sehingga dia tidak akan mencoba melarikan diri.
Dia berteriak kesakitan, sambil memegangi bagian yang sakit.
Tanpa menunggu apa pun, aku berlari menuju pintu, aku mendobraknya, aku melihat Ny. Daralyn yang terkejut kaget dan Anna yang mengantuk tapi bermata lebar,
"Ya Tuhan, Daria! Apa yang terdengar di kamarmu? Apa kamu baik-baik saja?" Dia bertanya, khawatir.
__ADS_1
"Iiii-bbuu Ada seorang pria di kamarku." kataku dengan segera, sambil melihat ke arah pintu kamar, aku masih terkejut.
"Apa?!" Mulut Anna ternganga. "Ada yang masuk ke rumah? Kita harus memanggil polisi."
"Tunggu." Nyonya Daralyn berlari ke dalam kamar tepat saat lampu menyala dan aku mengikutinya, mencoba menghentikannya agar pria itu tidak menyerang lagi.
Saat aku memasuki kamarku, aku tersentak saat melihat Devan bersandar di dinding.
"Devan?! Apa yang kau lakukan di sini?" Nyonya Daralyn bertanya sambil bergegas menghampirinya untuk membantunya berjalan.
"Kamu" Anna menunjuk Devan sambil berjalan ke arahnya, matanya penuh dengan amarah, "Apa yang kamu lakukan di sini?" Dia menjerit sebelum mengangkat tangannya yang mengepal untuk meninjunya.
Aku menahannya, aku terlalu bingung dan merasa sedikit kasihan pada Devan. aku merasa ini adalah sebuah kesalahan. Maksudku, dia sangat membenciku, jadi mengapa dia mencoba untuk mendekatiku.
"Seharusnya kau meninju dia." Devan mendengus, menunjuk ke arahku.
"Kau yang tidur di sampingku dan membuatku terjebak di bawahmu." Aku mencemooh.
"Kenapa kau ada di kamarku?" aku menuntut.
"Itulah yang seharusnya aku tanyakan. Apa yang sedang kau lakukan. di kamarku?!" Dia mendidih
"Ini kamarku!"
"Tidak! Ini kamarku!"
"Oh! Diam, kau bodoh! Lihatlah ke sekeliling,". aku menatapnya
Dia sepertinya benar-benar mendengarkanku untuk kali ini, karena dia melihat ke sekeliling ruangan berwarna merah muda itu.
"T-tapi bagaimana mungkin- maksudku, Nyonya Daralyn bilang kamarku yang baru ada di lantai lima rumah besar ini, dan kamar pertama di sebelah kiri," katanya, bingung.
__ADS_1
Kami semua menatap Ny. daralyn. Dia mengeluarkan tawa kecil yang gugup sambil menyelipkan sehelai rambut di belakang telinganya.
"Oh, aku mengatakan itu? Ya ya aku pasti setengah tertidur atau lalai. Maafkan aku atas kebingunganmu. Devan, kamarmu ada di sebelah kanan," katanya sambil berjalan keluar dari kamarku dan membuka pintu kamar lain yang ada di seberang kamarku.
"Ini kamarmu, Devan. Dulunya ini kamar Liam, tapi karena dia tinggal di Chicago bersama pacarnya, aku memberikannya padamu. Jangan khawatir, semuanya sudah dibersihkan dengan baik, aku yakin kamu akan senang tinggal di sini," katanya. "Sekarang, aku permisi dulu. aku harus pergi tidur. Selamat malam, semuanya! Dan lupakan saja apa yang terjadi hari ini. Itu hanya kesalahpahaman kecil," katanya, sebelum berjalan ke bawah menuju kamarnya. Kami menatap ke arahnya.
Anna adalah orang pertama yang angkat bicara. "Um... selamat malam," kata Anna malu-malu, yang membuat Devan hanya menatapnya dengan tatapan bosan, yang kemudian diabaikan oleh Anna. Ia pun berjalan pergi ke kamarnya.
"Baiklah, kau juga bisa pergi," kataku dengan nada sarkastik sambil menunjuk ke pintu kamarku.
Tapi apakah dia mendengarkanku ? Tidak, tentu saja tidak. Bagaimanapun juga, dia adalah Devan Addams pria dewasa yang kekanak-kanakan. Sebaliknya, dia mengambil langkah perlahan ke arahku.
"Aku yakin ini bukan jalan menuju pintu," kataku sambil melangkah mundur saat dia melangkah terlalu dekat.
punggungku membentur dinding ,aku menyadari bahwa dia sangat dekat denganku, hanya beberapa inci jauhnya. dia sudah bisa mendengar suara jantung yang bergemuruh di dadaku. Dia terlalu dekat.
Dia mengangkat kedua lengannya, meletakkannya di dinding belakangku, pria itu mengurungku.
Saat itulah aku memperhatikan wajah Devan sepenuhnya. Dia sangat tampan. aku harus mengakui hal itu. Dia memiliki mata cokelat tua yang pekat, hampir hitam. Bulu matanya sangat panjang sehingga aku tidak bisa melakukan apa pun selain menatap wajahnya. Dia memiliki hidung mancung yang panjang dan bibir yang montok berwarna merah muda, tampak lembut. Dia memiliki sedikit janggut yang perlu dicukur karena dia terlihat lebih rapi saat dicukur bersih. Beberapa helai rambutnya yang hitam jatuh di matanya. Mereka tampak lembut dan halus dan aku hampir menyentuhnya untuk merasakan apakah mereka selembut yang terlihat.
"Ini belum berakhir," desisnya dengan sengit yang membuat aku menelan ludah.
"aku sudah tahu," gumamku
"Bagus, karena kau akan membayar apa yang kau lakukan padaku hari ini," katanya dan mataku menelusuri celana jinsnya. aku berharap aku tidak menyakitinya separah itu.
"Kamu akan mati," katanya kemudian sebelum berbalik pergi. "Baiklah, ralat, aku harap kau tidak melukainya dengan sangat buruk".
Dia berbalik, mengambil kemeja abu-abunya di tengah jalan, aku mematung sambil memperhatikan punggungnya saat dia mundur dari kamarku.
....
__ADS_1
Makin seru nihhðŸ¤