
Mataku terbuka untuk melihat sekeliling kamar yang sudah tidak asing lagi. Tapi ada terlalu banyak cahaya di sini. dengan cepat aku menutup mata lagi, mengerjap-ngerjap, jumlah cahaya yang tak tertahankan. Aku mengedipkan mata beberapa kali dan mataku mulai menyesuaikan diri dengan cahaya.
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi di hari sebelumnya, saat kesadarandku perlahan ingat... Ahh hari ini hari Sabtu, ini hari libur
Aku berguling, ingin sekali merasakan kasur empuk di punggungku, tetapi tidak ada yang menyambut kecuali udara dingin. "Aaaaaaa!" Aku berteriak saat jatuh dari tempat tidur dengan posisi telentang. dengan cepat aku segera bangkit.
Punggungku terasa sakit. Mataku melayang ke arah jam di meja samping tempat tidurku, aku terbelalak kaget. "Itu sudah pukul sembilan pagi"!!!!
Apa yang terjadi dengan kebiasaan bangun pagi ku?
Aku harus berada di kafe sebelum jam sepuluh!.
Aku segera mengambil pakaian dan handuk lalu pergi ke kamar kecil, menyikat gigi dan menghilangkan bau mulutku. Aku mandi dengan cepat, lalu membuat roti panggang dan telur dadar.
Setelah sarapan, aku mengambil tas dan mengunci apartemen lalu bergegas berjalan menuju kafe.
....
Ketika aku membuka pintu kafe, Nyonya Angel tersenyum ramah kepadaku. Anna sedang menyeruput kopi dingin kesukaannya dia mendongak dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya.
"Mengapa kalian berdua masih bangun pagi-pagi di hari Sabtu pagi yang malas ini?" Nyonya Angel bertanya kepada kami. Dia memegang sebuah majalah di tangannya dan menatap kami dari balik kacamata bundarnya yang besar.
"Tidak ada apa-apa. Kami ingin membantu Anda mengerjakan pekerjaan di kafe," jawab Anna terlalu cepat dan Nyonya Angel menyipitkan mata padanya.
Anna tidak pernah datang tepat waktu, sedangkan aku yang datang lebih awal pada Sabtu pagi yang malas bukanlah hal yang mengejutkan. Namun, Anna yang datang lebih awal pada Sabtu pagi yang malas itu tidak normal.
"Katakan..," perintahnya
Anna tersenyum malu-malu dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Nyonya Angel. Kami hanya ingin membantumu. Maksudku, dengan usia Anda yang sudah tua, sungguh mengherankan bagaimana Anda bisa mengelola kafe ini sendiri dengan baik."
"Baiklah," Nyonya Angel menggosok kedua telapak tangannya. Sekarang kau," Nyonya Angel menunjukku,
"katakan padaku. Apa kau mau berkencan atau apa? Jangan malu-malu. Katakan siapa dia?." Dia mencubit pipiku. "Apa dia tampan ? Ayolah, jangan malu-malu."
"Bukan apa-apa nyonya Angel, Anna ingin menghadiri pesta ulang tahun temannya dan dia mengajakku," kataku.
__ADS_1
"dan kalian berdua ingin pergi lebih awal ?." Nyonya Angel mengatakan, melengkapi ceritanya untukku.
"Iya," aku mengiyakan.
Tolong, nyonya Angel jangan katakan ya. Katakan tidak . Batinku
"Baiklah. Kalian berdua bisa libur malam ini dan hari Minggu nanti," katanya
Ahh bukan ini yang aku harapkan
"Aku harus pergi dan mengunjungi cucuku, jadi kafe akan tetap tutup."
"Benarkah?!" Anna menjerit ia berlari menghampirinya dan memeluk .
Nyonya Angel yang malang.
"Terima kasih! Berapa umur cucumu ?" Tanyanya antusias.
"Dia berumur dua bulan. Aku akan pergi nanti siang. Dan kalian berdua berhak mendapatkan liburan. Kalian bekerja sangat keras di kafe. Pergi dan bersenang-senanglah. Nikmatilah hidup walaupun sedikit,"
Sisa hari itu berlalu dengan cepat. Sebagai awal dari akhir pekan, hari itu di kafe cukup sibuk. Bahkan akan lebih ramai lagi ketika di malam hari. Aku berharap Nyonya Angel bisa mengatasinya.
Aku menawarkannya bantuan, bukan untuk menghindari pesta, tetapi benar-benar peduli padanya. Dia sudah tua, jadi aku harap dia bisa melakukan semuanya. Meskipun Tama dan para pekerja lain akan menemani.
Akhirnya, jam kuno yang sedikit berkarat menunjukkan bahwa waktu sudah pukul enam lebih. Seolah-olah seperti sebuah isyarat, Anna muncul dari balik meja.
"Ayo. Kita bisa pergi sekarang. Kita harus bersiap-siap untuk pesta,"
Aku mengerang saat mendengar nama pesta, tetapi kami tetap keluar dari kafe. Aku akan bersiap-siap di rumah Anna karena dia sudah menyiapkan gaun dan Make-up.
Aku akan mengambil risiko besar dan mempercayakan penampilanku kepada Anna karena aku tak piawai di bidang itu.
.....
Kami memasuki apartemen Anna dan langsung menuju kamar tidurnya. Dia membuka lemari dan mulai mengobrak-abrik untuk menemukan gaun yang cocok untukku. Lemari pakaiannya sangat besar. Setidaknya lebih besar dari milikku. Punyaku tidak terlalu kecil, tidak juga terlalu besar tapi cukup layak.
__ADS_1
"Ah," serunya sambil menarik sebuah gaun hitam dari gantungannya. Dia menatap gaun itu. Seperti ada sesuatu, gaun itu terlihat sangat indah.
"Pakailah ini. Ini akan terlihat sangat bagus untukmu," katanya menyerahkan gaun itu padaku.
Aku mengangguk meraihnya kemudian berjalan ke kamar mandi. Aku mengenakan gaun itu ,saat sudah di rasa pas ,aku keluar.
Anna tercengang berhenti sejenak dari kegiatannya. Dia tersenyum dan menganggukkan kepala tanda setuju.
"Kamu terlihat sangat cantik. Lihat saja sendiri."
Aku berbalik untuk melihat ke cermin. terlihat bagus. "Terima kasih untuk gaunnya. Cantik sekali," kataku kepada Anna.
"Kita belum selesai di sini. Masih ada sisa riasan dan rambut."
"Oke," aku setuju saja. karena aku tahu bahwa tanganku yang tidak terampil ini mungkin akan mengubah diriku menjadi badut. Aku jarang berdandan atau memakai riasan apa pun. Bukannya tidak suka melakukannya, hanya saja aku tidak mengerti bagaimana caranya, tidak peduli seberapa banyak Anna mengajariku.
Anna menyuruhku duduk di kursi menghadap cermin ,dia mulai dengan rambutku ,mengeritingnya di bagian ujung. Dia membiarkan rambut ku yang panjang dan lurus tergerai di punggung dan menjepit sebagian rambut di bagian depan belakang telinga menjauhi wajahku.
Dia kemudian mulai merias wajah ku. Selain lipstik dan maskara, aku tidak tahu apa saja yang lain, tapi aku ingat dia menyebutkan sesuatu yang disebut blush-on, lipgloss dan eye liner.
Ia selesai dengan riasanku dalam waktu yang cukup lama dan kemudian dia mulai dengan merias riasannya sendiri.
Setelah setengah jam, dia keluar dari kamar mandi Anna terlihat sangat cantik. Dia mengenakan gaun merah ketat dengan belahan kecil yang memperlihatkan paha dan garis lehernya yang dalam.
"Ayo pergi. Kita sudah siap, kurasa."
"Ya."
Anna mengenakan sepatu hak tinggi merahnya dan aku mengenakan sepatu hak tinggi hitam tiga inci milik Anna yang mungkin baru pertama kali ia kenakan.
"Ini akan sangat menyenangkan. Aku sudah bisa membayangkannya."
Aku mengangguk padanya dengan tidak antusias, aku hanya ingin segera menyelesaikannya.
Sedikit yang kuketahui bahwa pesta yang akan aku hadiri akan mengubah hidupku selamanya. Baik atau buruk, aku hanya bisa menebak.
__ADS_1
Hi , seru gak ceritanya?? Salam cinta dari ku❤️❤️