
Sarapan pagiku terasa sedikit canggung . Tadi saat aku sedang dalam perjalanan menuju ruang makan, aku bertemu dengan Devan, Sungguh itu adalah sesuatu yang buruk untuk memulai hari!
Aku kira dia akan mengabaikanku ,karena ini masih pagi. Tapi ternyata tidak, dia tidak bisa pergi berlalu begitu saja, seolah-olah aku berdiri tepat di depannya dan dia harus melakukan sesuatu untuk menyingkirkanku!.
Dia mencoba menyandungku. bagaimana mungkin seorang miliarder berusia 23 tahun ini bisa bersikap tidak dewasa??? Semua ini hanya karena perseteruan kekanak-kanakan yang bodoh dengan musuh masa kecilnya. Dan bukan salahku juga kalau dia dan Daria adalah musuh bebuyutan!
Aku memelototinya dengan tatapan tajam sementara dengan wajah tanpa dosa dia berjalan mendahuluiku, ihh sombong sekali. Apa aku harus menendang kembali pusakanya yang kecil itu?? mungkin itu akan mengembalikan otaknya .
Dan yang membuatku jengkel, dia duduk tepat di sebelahku saat sarapan. Syukurlah dia tidak melakukan hal yang lebih jauh atau dia pasti akan membalikkan tutup panciku dan menghancurkan piring yang ada di depan?? Hanya tuhan yang tahu. Dan benar saja dia minum menggunakan gelasku, aku langsung mengambilnya kembali dan menatapnya dengan jijik.
Nyonya Daralyn, atau yang biasa dipanggil Ny. Dara tiba tiba saja pergi saat sarapan. kata Anna, Nyonya Daralyn adalah seorang wanita yang sibuk. Dia pergi untuk melihat-lihat sesuatu di toko pakaiannya, Ny.Dara memberitahu Anna bahwa ada hal yang mendesak dan dia harus pergi, sedangkan ayahku telah pergi ke kantornya. Menurut Anna, dia memiliki perusahaan bernilai miliaran dolar.
Berarti di rumah besar ini hanya ada kami berdua yaitu aku dan Anna! Itupun jika devan memutuskan untuk pergi juga.
saat aku sedang makan, aku merasakan sebuah wafel menyentuh pipiku, dan bukan salah lagi itu adalah ulah devan ,aku memelototi pria di sampingku yang hanya tertawa kecil dan kembali ke makanannya.
Aku memutuskan untuk mengabaikannya. Dia tidak layak mendapatkan perhatianku dan mudah-mudahan dia akan berhenti bersikap kekanak-kanakan saat tahu bahwa aku tidak akan peduli dengan semua perbuatannya.
Aku segera menyelesaikan sarapan dan meninggalkannya di meja, sebelum pergi aku menjejali mulutnya dengan makanan sambil pura-pura membaca koran.
Hahaha
Pria itu menatapku kesal.
....
Aku menemukan Anna di perpustakaan sedang melangkahkan kakinya ke surga buku, dia mendongak dari buku-buku itu dan tersenyum padaku.
"Darla, lihat buku-buku ini!" Dia menjerit seperti seorang gadis kecil.
"Aku tahu. Rasanya seperti kumpulan buku yang ada di dunia."
"Sebagian besar adalah buku-buku favoritku!" Dia berkata sambil mulai menata buku-buku yang telah diambilnya secara berurutan,
Anna menolak bantuan pelayan, dia lebih menatanya dengan mandiri, aku memilih duduk di sampingnya sambil membantu anna menumpuk buku-buku itu sesuai dengan ketinggiannya.
Kami menghabiskan waktu sekitar dua jam di perpustakaan. Rasanya sangat menyenangkan. Aku senang bisa menghabiskan waktu bersama Anna. Dia lucu dan baik, dia sahabat terbaikku!!.
saat kami selesai, hari sudah menunjukkan pukul dua siang dan meskipun kami tidak melakukan pekerjaan yang berat, aku merasa lapar.
Saat kami berjalan ke bawah, kami mendengar beberapa suara. Suara-suara itu pasti suara laki-laki. kami memasuki ruang tamu, kami melihat Devan Dia mengenakan celana jins gelap dan kemeja biru muda. Di sampingnya ada seorang pria lain. Dia juga mengenakan pakaian kasual. Mereka sedang membicarakan sesuatu.
Ketika kami memasuki ruangan, mata birunya yang indah mengedarkan pandangan ke arah kami sebelum akhirnya tertuju pada Anna, "Siapa gadis seksi di sebelah Daria itu? Itulah kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya, dia berbisik pada Devan, tentu saja kami mendengarnya . Aku langsung mengerutkan kening. Aku tak menyangka jika teman Devan itu sama saja, ku kira dia berbeda. Dia juga tampak seperti orang brengsek.
"Aku ada di sini tahu,!!" balas Anna menyilangkan tangan di bawah dadanya yang menyebabkan mata pria itu tertuju pada dadanya. "Heii apa mataku terletak di dada?"!!
Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Maafkan saya. Saya Gio."
Dia dengan enggan menjabat tangannya "Anna" Katanya singkat
Dia mengerutkan kening. "Aku benar-benar minta maaf jika menyinggung perasaanmu"
Anna tidak menjawab, dia memilih untuk mengabaikannya.
"Gio, mungkin kita harus pergi sekarang," Devan menyela, dia jelas menyadari bahwa Anna tidak terkesan dengan temannya.
__ADS_1
"Akhirnya." Aku bergumam.
"Kami akan kembali, jangan khawatir!" Kata Gio, dia tak menyadari bahwa mereka tidak benar-benar diterima di sini.
Mereka pun pergi. Aku tidak mengeluh. Aku justru merasa lega karena mereka sudah pergi. Sekarang kami benar-benar tinggal berdua didalam rumah dan kami menikmatinya. Kami makan siang dan menonton film Captain America di home theater dengan sekantong besar popcorn di pangkuan kami dan hanya ada kami berdua di dalam bioskop.
Sekitar pukul empat sore, cuaca menjadi sangat panas, Anna berkeringat berkali-kali lipat meskipun AC menyala penuh.
Aku rasa pendingin ruangan itu tidak berfungsi dengan baik. Musim panas benar-benar telah tiba. "Ayo kita pergi ke kolam renang," usul Anna tiba-tiba.
"Aku tidak mau pergi ke mana-mana," rengekku sambil meringkuk nyaman di salah satu sofa di ruang tamu.
"Di sini panas sekali. Ayo kita pergi berenang," katanya sambil mengipasi dirinya sendiri dan menyibakkan rambutnya di atas kepala.
"Tidak," kataku, membalikkan badan dan menempelkan wajahku ke sofa
"Kita bisa mencoba bikini baru yang kita beli di mal," dia mencoba membujukku. Dan itu berhasil.
"Baiklah," aku akhirnya menyerah. "Tapi hanya untuk satu jam."
"Itu sudah cukup"! Kami berjalan ke kamar untuk mengambil bikini.
Aku merasa tak nyaman saat memakai bikini. Biasanya, aku baik-baik saja, meskipun jarang memakainya. Tapi setiap bulan Anna dan aku menyempatkan pergi ke pantai. Tapi minggu-minggu ini kami selalu sibuk dengan kuliah atau pekerjaan, dan sekarang kami diculik oleh miliarder ,ini terasa seperti mimpi.
Setelah cukup lama akhirnya aku memilih menggunakan bikini biru muda yang sekarang menutupi sebagian besar kulitku. Aku tidak terlalu kurus dan tidak gemuk juga, aku bertubuh ramping dengan Dada yang padat dan berisi.
Kami berjalan menuju kolam renang. Anna mengenakan bikini hitam yang memperlihatkan lebih banyak kulit dibandingkan milikku. Anna selalu tampil percaya diri di antara kami berdua. Dia selalu blak-blakan dalam menyampaikan pendapatnya dan tidak pernah bergantung pada siapapun. Dia suka menjadi mandiri. Aku rasa itu adalah salah satu alasan mengapa kami berteman. Aku suka berteman dengan orang-orang yang seperti dia. Sikap Anna yang mandiri, adalah hal yang paling kusuka darinya , kami bersahabat saat berusia 17 tahun dan itu masih bertahan sampai sekarang.
...
"Diam," kata seseorang lagi , suaranya sangat familiar. "Jika kau menginginkan Lamborghini emasmu, diamlah. Atau kau tidak akan pernah mendapatkannya."
"Hei! Itu tidak adil. Kau menjanjikanku Lamborghini emas jika kau kalah dalam pacuan kuda dariku," rengek Gio
tak lama dari itu , tiba-tiba kami mendengar suara percikan air.
"Aaaaaaa!" Sebuah jeritan terdengar dan kami melihat air yang terciprat dari dalam kolam. "Devann! Selamatkan aku! Aku tenggelam!". Devan mendorong Gio hingga tercebur ke dalam kolam.
"Berhentilah bersikap berlebihan. Kau hanya tinggal berdiri di dalam air, kau tidak tenggelam." Devan terdiam.
Kami berbelok di tikungan dan melihat devan berbaring di kursi panjang di tepi kolam renang, ia mengenakan kacamata hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih, sementara Gio berada di dalam air. Gio mengenakan celana renang berwarna merah dan Devan mengenakan celana renang berwarna hitam. Keduanya setengah telanjang, memamerkan tubuh mereka yang atletis.
Ketika mereka mendengar kami mendekat, mereka menoleh ke arah kami.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Gio bertanya, menurunkan kacamatanya agar dia bisa melihat lebih jelas.
"Tentu saja berenang," jawab Anna
"Bersama kami?" Dia menyeringai. "Pasti akan menyenangkan. Ayo!"
Anna memelototinya. "Cepat keluar dari kolam renang," katanya.
"Um ... tidak?" Katanya, terdengar seperti sebuah pertanyaan.
"Gio, keluar dari kolam renang. Kami tidak akan berenang bersamamu."
__ADS_1
Saat itu, Devan bangkit dari kursi panjang, tanpa melirikku, aku juga tidak ingin dia melihatku. "Dengar, kita tidak akan pergi, oke? Kamu bisa berenang nanti, atau berenang bersama kami sekarang," katanya
"Mungkin kita bisa datang nanti saja?" usulku, yang disambut dengan tatapan Devan padaku.
"Tidak," Anna menghentakkan kakinya ke lantai yang basah. "Aku kepanasan sekarang. aku harus berenang!" Dia merengek kekanak-kanakan.
"Oh, aku bisa melihatnya." Gio berkomentar, mengedipkan mata padanya.
"Diam, dasar cabul," katanya, tapi terlihat sedikit rona merah muda di pipinya.
"Kenapa semua orang menyuruhku diam hari ini?" Gio berkata pada dirinya sendiri.
" kalian berdua harus pergi. Sekarang juga!"
"Tidak, kami tidak akan pergi," kata devan sambil menyelam ke dalam kolam.
"Dengar, kita bisa bersenang-senang." Gio berkata, "kita bisa bermain permainan air."
"Permainan air?" Aku mengulangi. Kedengarannya menyenangkan.
"Ya, itu adalah permainan yang dimainkan di kolam renang bersama sekelompok teman," jelasnya.
Aku tahu apa arti permainan air, Batinku
"Dan sebagai informasi, kami tidak berteman," tambahku
"Baiklah kalau begitu, permainan air adalah permainan yang kita mainkan dengan sekelompok manusia," katanya sambil memutar bola matanya
"Aku tidakdak yakin apakah aku bisa menyebutmu manusia," kata Anna. "Kamu adalah seekor anjing"
"Maksudmu?" Gio tidak terdengar marah sama sekali
"Kamu anjing," kata Anna sedikit lebih keras.
"Benarkan?"
"Ya,"
"kamu sangat menyebalkan bagiku sekarang," jawabnya.
"Kamu panggil aku apa?" Suara Anna terdengar sangat rendah.
"Ehm... teman-teman. Tenanglah," aku mencoba menengahi.
"Aku memanggilmu wanita menyebalkan. Tidak, sebenarnya kau adalah wanita yang sangat menyebalkan," kata Gio. "Jadi, apa kau dan temanmu mau bermain air, wanita yang sangat menyebalkan?"
"Denganmu??? Tidak akan pernah!!!,."
"Apa kau takutt, Anna?" Dia mengejek.
"Big noo," desis Anna
"Jadi, apakah kau siap untuk bermain?" Gio bertanya
"Baiklah, ayo mulai " kata Anna, membuatku tak punya pilihan lain selain bermain air dengan ketiga orang idiot itu.
__ADS_1
Anna nih jual mahal banget ya 😂