
"Melompat dari ketinggian?"
"Tidak
"Lomba menahan napas?"
"Tidak.
"Lomba renang?"
"Berapa umur kita? Delapan tahun?"
"Bola voli," kata Gio, mengabaikan komentar Anna
Sepertinya aku tidak terlalu buruk di permainan bola voli, jadi kupikir kita bisa menang.
"Oke," kata Anna akhirnya.
"Bersiaplah untuk kalah," katanya sambil menyeringai seolah-olah dia sudah memenangkan pertandingan.
"Tidak, kami tidak akan kalah. Kita akan menang dan aku akan menunjukkannya padamu!" Anna mendidih.
Sepuluh menit kemudian, kami semua sudah berada di kolam renang. Jaring voli serta pembatasnya telah dipasang dan Devan berdiri di ujung kanan kolam renang di sisi yang berlawanan dengan bola voli karet di tangannya, karena dia telah memenangkan lemparan koin, maka dia akan melakukan servis pertama.
"Siap?" Gio berteriak dari ujung lain kolam renang.
"Kau melihatnya? kami sudah sangat siap!!." Kata Anna, sambil memberikan anggukan kecil.
Sesuai aba-aba, Devan melakukan servis overhand dengan melemparkan bola di atas kepalanya dan menggunakan tangan kanannya yang dominan untuk memukul bola, mengirimkannya melewati net. Anna berhasil mengembalikan bola ke sisi lain, bola nyaris lolos dan tersangkut di net.
Gio melompat ke depan Ethan, dan melempar bola kembali ke arah kami dengan sangat cepat sehingga kami hampir tidak punya waktu untuk menepis. Bola jatuh ke dalam air di sisi kami, dan memberikan satu poin untuk tim Devan
Siall!! Anna mengumpat dalam hati sambil memelototi Gio yang menyeringai.
Kali ini, Gio yang melakukan servis. Dia melempar bola ke arah kami dengan sangat kuat sehingga Anna tidak bisa menguasai bola dan akhirnya bola jatuh tepat di samping anna, yang membuat mereka mendapatkan satu poin lagi.
__ADS_1
Argggg sialan ,, aku mendengar anna mengumpat lagi sambil memelototi Gio yang menyeringai.
Kami melanjutkan permainan dan meskipun Devan dan Gio sempat memimpin tiga poin dalam permainan, tiba-tiba permainan berubah menjadi menarik ketika kami memimpin dengan dua poin setelah hampir separuh permainan berakhir. Pada saat kami mencapai 25 poin dan kedua pemain tersebut mencapai 24 poin, kami memutuskan untuk melanjutkan permainan karena tim membutuhkan keunggulan dua poin untuk menang.
Setelah itu, permainan mulai tidak adil. Devan dan Gio sering melakukan kecurangan. Mereka akan mendapatkan lebih dari tiga poin sekaligus sebelum melempar bola ke tim kami, dan ketika kami memperdebatkannya, mereka menyangkalnya. Lalu ada kalanya Devan menyentuh bola dua kali berturut-turut, yang lagi-lagi dibantah dengan berbagai alasan, kami tentu melihat dengan jelas apa yang dia lakukan.
Meskipun mereka melakukan kecurangan berkali-kali, kami berhasil menang atas mereka dengan keunggulan tiga poin. Dan sangat menyenangkan melihat wajah kedua pecundang yang kecewa setelah kami menang.
Anna tentu tak melewatkan kesempatan untuk mengejek mereka tentang kekalahannya. Gio hanya mendengus, "tutup mulutmu sebelum meninggalkan kolam renang". Ucap Anna. Devan sama sekali tak terpengaruh oleh kekalahan mereka dan hanya mengangkat bahu. Bahkan ejekan kasar Anna tidak mempengaruhinya, dia juga pergi setelah mengejek kami.
"Apa kau lihat wajah Gio saat dia kalah?" Anna tertawa. "Berani-beraninya dia menantangku., Dia belum tahu kalau aku adalah kapten tim voli di sekolah," katanya sambil menyibakkan rambutnya ke belakang, "Seandainya saja dia tahu, pasti dia akan merasa malu karena kalah dariku." Anna menyeringai jahat
Aku melangkah ke kamar mandi, menanggalkan pakaianku dan menyalakan shower. Aku baru saja kembali dari kolam renang, setelah merayakan kemenangan kami melawan Devan dan Gio dalam pertandingan bola voli.
Hari masih agak panas karena masih sore. dan pertandingan tadi membuatku berkeringat, kulitku memerah. Aku mandi dengan menggunakan air dingin.
Aku menyalakan air, sedikit tersentak saat air dingin tiba-tiba menyentuh kulit punggungku yang telanjang. Aku mengambil sampo stroberi di antara banyak jenis sampo yang ada di sana. Meremasnya di tangan dan mengoleskannya ke rambut, memastikan setiap helai rambutku terlumuri sampo. Aku membilasnya setelah mengoleskan kondisioner. Aku berada di kamar mandi selama hampir setengah jam.
Setelah selesai aku mematikan air, mengambil handuk putih yang tergantung di gantungan dan mengeringkan diri. Ada jubah mandi putih yang tergantung di sampingnya. Aku memakainya, karena tidak ingin keluar hanya dengan mengenakan handuk, meskipun itu dikamar dan tidak ada yang bisa masuk tanpa seizinku.
Aku terjatuh di atas cairan yang licin. Cairan itu berwarna hijau kental dan saat dicium dari aromanya, itu pasti sampo. Jubah mandi putihku sekarang berwarna hijau tepat di bagian bokong.
Tapi bagaimana sampo itu bisa berceceran disana??
Aku mencoba bangkit, rasa sakit yang tajam menjalar di pergelangan kaki, aku hampir tersandung ke dalam bak mandi yang ada dibelakang. Tiba-tiba aku melihat sebuah liontin perak, letaknya tersembunyi di balik kusen pintu. Aku mengambilnya dan memeriksanya dengan seksama. Ada tulisan abjad D.
Devan??
Samar-samar aku ingat Devan memakai liontin perak yang sama di kolam renang. Lalu aku tersadar.
Beraninya dia?!
Aku berjalan keluar dari kamar mandi dengan tertatih-tatih ,lalu keluar dari kamarku , tidak peduli jika aku masih mengenakan jubah mandi.
Aku berjalan menuju kamarnya, menendang pintu dan marah ketika melihat kamarnya kosong.
__ADS_1
Di mana si brengsek itu !!!?
Dengan sekuat tenaga aku berjalan dengan susah payah menuruni tangga menuju dapur yang sama kosongnya dengan kamarnya, kecuali Anna yang sedang mengutak-atik lemari es.
Saat melihatku, dia mengerutkan alisnya dan bertanya. "Wow, apa mandinya sudah selesai ?" sambil menyuap makanan.
Aku tidak menjawabnya dan malah berjalan menuju ruang tamu. Aku mendengar dia memanggilku dan terdengar suara pintu kulkas ditutup.
"Hei Darla, kamu baik-baik saja, kan?" Dia bertanya dan berbalik untuk memberiku tatapan bingung, "Apa kamu kena diare?"
"Apa?"
"Pantatmu berwarna hijau kekuningan dan terlihat seperti kotoran...,"
Aku memotong perkataannya
"Diam. Aku tidak buang air di celana!" seruku kesal saat mendengar tawanya dari belakangku.
"Apa kau tahu di mana Devan?" tanyaku dengan kasar
"Apa yang terjadi?"
"Ann, katakan padaku di mana dia," pintaku lagi, kesabaranku hampir habis.
Dia mengangkat kedua tangannya untuk membela diri. "Hei, aku tidak tahu di mana si pecundang itu," katanya. "Apakah kamu sudah memeriksa kamarnya?"
"Sudah, dia tidak ada di sana."
"Aku tidak tahu di mana dia," katanya, kembali ke makanannya.
Aku tak menyerah, aku memeriksa ruang tamu dan tiga kamar tidur lainnya, yang entah siapa yang menggunakannya, tetapi Devan tetap tidak terlihat.
Akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan kembali ke kamarku. Namun bukan berarti aku akan melupakannya.
Saat aku berbelok di tikungan untuk menaiki tangga menuju kamarku, aku menabrak seseorang, aku hampir terjatuh dari tangga yang aku naiki. Saat itu, ajudanku terpelintir dan menjerit kesakitan. Sebuah lengan yang kuat melingkari pinggangku untuk menahanku dan tanganku terulur untuk memegang tangannya. Aku mendongak untuk melihat wajah Devan yang menyeringai. "Wah, apa Daria sudah jatuh cinta padaku?".
__ADS_1
Aaaa mas devan bisa ajaaaaa😽💗