Aku Bukan Daria

Aku Bukan Daria
Mabuk


__ADS_3

Aku pergi ke kamar mandi tetapi tidak ada siapa-siapa disana.


Aku baru saja akan pergi ketika mendengar suara-suara yang tidak normal dan aku tahu itu adalah Anna.


"Anna?". Aku mengetuk pintu


Aku mendengar erangan pelan dari dalam. Aku mengetuk pintu lagi.


"Anna ? Kau di sana?"


Tidak ada yang menjawab, malah terdengar suara toilet disiram dan tiba-tiba pintunya terbuka. Aku segera melangkah mundur. Anna terjatuh dari toilet. Aku menangkapnya sebelum ia sempat menjatuhkan diri ke lantai.


"Dariaaaaa" Dia berteriak di telingaku dan aku merasa ngeri mendengar suaranya yang keras.


"Jangan berteriak. Dan namaku Darla bukan Daria!."


Aku merangkul lehernya dan membantunya keluar dari toilet.


"Dari mana saja kau, Darla? Aku sangat merindukanmu!" Dia berkata dengan jelas dan lantang mengabaikan laranganku untuk tidak berteriak. Mulutnya berbau alkohol, aku berhenti bernapas untuk beberapa saat.


"Kau tahu aku bermain truth or dare dengan Sera. Dan mendapat tantangan nakal untuk mencium seorang pria. Dan aku menikmatinya! Seraaaa...


Sebelum dia bisa melanjutkan, aku menghantamkan tanganku ke mulutnya, suaranya teredam oleh tanganku.


"Apa yang kau katakan, mengapa kau berteriak?"


Seketika dia menjulurkan lidahnya yang kotor dan bernoda alkohol ke tanganku, aku langsung melepaskan tubuhnya saat itu juga. Dia terjatuh, wajahnya membentur lantai toilet.


"Aduh!" Dia mendesis kesakitan sambil duduk dan mengusap hidungnya yang merah. "Mengapa kamu melakukan itu, Darlaaa?!" Dia berteriak ke arahku.


Aku menghela napas. "Terkadang aku berharap tidak pernah bertemu denganmu."


Dia memegang kepalanya, tidak mengatakan apa-apa.


"Aduh! Kepalaku sakit aauuu," dia melolong.


"Kenapa kau minum? Sudah kubilang jangan. Sekarang bagaimana kita bisa pulang?!" Teriakku padanya.


Dia tidak mengatakan apa-apa, masih memegang kepalanya. Dia tertawa kecil mendengarnya. Aku menatapnya.


Aku mengangkatnya dan menyeretnya keluar. Pesta sedang berlangsung dengan meriah. Banyak orang berada di sekitar, menari dan minum-minum tapi Sera tidak terlihat.


"Tunggu!" Tiba-tiba dia berkata. "Ariga telah memberiku sebuah tantangan," katanya, sambil meletakkan jari di bawah dagunya dan terlihat sedang berpikir keras.


"Ariga?" Aku mengernyitkan alis dengan bingung.

__ADS_1


"Apakah ada nama yang seperti itu ? Aku rasa yang kamu maksud adalah Arga"


"Bagaimana,??" . dia tiba-tiba bersemangat. "Ya,aku ingat tantangannya. harus meminta susu ibu pada seorang wanita," katanya sambil melihat sekeliling. Dia mengambil sebuah botol bir kosong dan berjalan menjauh dariku. Aku berlari mengejarnya.


"ANNAAA! Tunggu."


Dia langsung menghampiri seorang wanita paruh baya dengan gaun pesta yang elegan, Anna menepuk pundaknya. Wanita itu berbalik kesal karena diganggu. Dia sedang berbicara dengan teman-temannya.


Sebelum aku sempat meminta maaf, wanita itu mulai berbicara. "Ada apa?" Dia membentak dengan kasar. Dia memandang kami dari atas ke bawah dan aku tahu bahwa dia tidak terlalu senang dengan penampilan kami.


Anna menyandarkan lengannya di pundakku. Aku Benci menjadi begitu kecil. Olivia begitu tinggi, seperti jerapah.


"Yo wanita dengan implan payudara," dia menarik napas dan menjulurkan botol kosong di depan wajahnya. "Bolehkah saya minta ASI darimu?"


Mataku terbelalak.


"Aku rasa kamu bisa melakukannya di payudaramu," Anna mendekat ke payudara wanita itu "Sayangnya kecil. Apa yang terjadi? Apa operasinya salah? Anda-" kata-katanya selanjutnya teredam oleh tanganku, aku menatap wanita itu. Wajahnya terlihat merah padam, karena marah atau malu, mungkin keduanya aku tidak tahu.


"Maafkan saya, nyonya Dia mabuk." Aku meminta maaf". Jangan pedulikan dia, payudaramu cukup besar." gumamku canggung, pipiku terasa panas karena malu.


Sebelum dia sempat meneriaki kami, aku menarik lengan Anna dan menyeretnya pergi dari sana.


"Bagaimana kita akan pulang?" tanyaku dengan suara keras.


"Apa maksudmu?" tanyaku. Anna tidak pernah bercerita tentang orang tuanya. Setiap kali aku bertanya, dia akan mengatakan bahwa dia tidak dekat dengan mereka dan tidak ingin membicarakannya.


"Maksudku," Anna menatapku. " aku benci rumah! Terutama karena ayahku."


"Kenapa?"


"Dia itu brengsek. Kau tahu dia memaksaku untuk belajar hukum." Dia cemberut. "Aku tidak mau."


"Kenapa dia memaksamu masuk ke sana?" tanyaku, berharap dia bercanda.


"Seluruh keluargaku adalah pengacara. Dan mereka ingin aku meneruskan tradisi itu," katanya dengan cepat dan sedikit lebih keras. "Seolah-olah ada yang akan memberi mereka hadiah jika aku mau menurutinya."


"Maafkan aku ,Tapi hal yang baik adalah kamu menolaknya," kataku, aku memegang pundaknya untuk membuatnya tetap tegak. Dia mendorongku mundur, mengernyitkan hidungnya dengan jijik.


"Kau bau, Darla,"


"Apa?" Aku bertanya dengan bingung dan mengendus-endus diriku sendiri. Aku mencium bau yang menyegarkan, seperti stroberi. Aku Kemudian mengendus anna dan segera mundur saat aku menghirup bau alkohol yang menyengat. Kakinya gemetar dan dia mencengkeram pundak ku untuk menenangkan diri.


"Kita harus pulang. Kau tahu arah pulang??" tanyaku, meskipun aku tahu dia tidak tahu.


"Aku bisa memberitahukan arahnya jika kamu bisa menyetir." Dia menawarkan.

__ADS_1


Aku menelan ludah. Aku tidak bisa menyetir dengan baik, tetapi aku adalah satu-satunya orang yang tidak mabuk di antara kami. "Apakah menurutmu Sera akan membantu kita?". Tanyaku


"Aku tidak tahu. Aku pikir dia akan--..


Aku memotong pembicaraan Anna "Oke. Tetaplah di sini, jangan pergi ke mana-mana. Aku akan mencari Sera."


Aku melihat ayah Sera sedang berbicara dengan seseorang dan aku menunggu mereka menyelesaikan percakapannya.


Ketika dia akhirnya berbalik dan menatapku, aku angkat bicara. "Um.."


aku tidak tahu siapa dia dan bahkan tidak tahu nama belakangnya.


"Halo, teman saya berteman dengan Sera, bisakah Anda memberi tahu saya di mana dia?"


"Dia mungkin sudah tidur. Ada yang bisa saya bantu?" Dia baik hati.


"Tidak... Tidak apa-apa." Meskipun dia terlihat baik, penampilan bisa menipu. Aku tidak ingin menumpang dengan orang asing, terutama jika ada wanita mabuk yang harus diurus. "Terima kasih."


Dia mengangguk, aku berjalan kembali menemui Anna. Untungnya, dia masih ada di sana dalam posisi yang sama. Dia menatapku saat aku mendekatinya.


"Dia mungkin sedang tidur," kataku pada anna.


"Sepertinya kamu yang akan menyetir."


"Aku tidak yakin apakah aku bisa."


"Darla aku pikir kamu bisa. Jangan khawatir itu mudah."


"Tidak bisakah kau mengemudi?". Tanyaku


"Kepalaku sakit sekali. Sial! Seharusnya aku tidak minum. Maafkan aku."


Aku menghela napas. "Kita harus pergi."


"Ya."


Aku membantunya berdiri. Dia bersandar dengan berat padaku. Aku merangkul pinggangnya dan dia menaruh tangannya di pundakku sambil menariknya berdiri. Dia tersandung dengan sepatu hak tingginya.


"Lepaskan sepatu itu. Akan mudah untuk berjalan tanpa sepatu itu."


"Tidak, aku suka sepatu hak tinggi itu dan aku tidak mungkin berjalan tanpa alas kaki." Dia berkata dengan keras kepala.


....


Hai readers apa pendapat kalian tentang bab ini? Salam cinta dari aku❤️

__ADS_1


__ADS_2