
Hari ini aku merasa lebih baik dari hari sebelumnya. Rasa sakit di pergelangan kakiku berangsur membaik dan aku bisa berjalan-jalan, meskipun masih agak pincang.
Aku sedang berada di ruang walk in closet. Di lemari pakaianku yang luas untuk mencari pakaian yang sederhana dan nyaman untuk dikenakan, sementara ini aku masih mengenakan handuk.
aku merasakan sesuatu yang dingin dan keras di bawah jemariku di salah satu laci. Aku meraihnya dan menariknya keluar. Itu adalah ponselku Kondisinya masih sama. Layarnya yang retak dengan penutup plastiknya yang tergores , semuanya masih utuh, aku lebih suka handphone ku yang seperti itu.
Aku hampir melupakan ponsel yang ada disana. Nyonya Daralyn telah memberitahuku di hari dia menunjukkan kamar baruku ini.
Waktu itu aku ingat bahwa ponsel itu diletakkan di salah satu laci, dan kemudian aku benar-benar melupakannya.
Mataku terbelalak. Sudah lebih dari seminggu sejak kami diculik. Dan aku tidak pernah memainkan ponselku, aku benar-benar lupa tentang Ny. Angel. Ya Tuhan, dia pasti akan membunuhku.
Aku segera menyalakan ponselku, baterainya menunjukkan sekitar tiga persen.
Aku mendorong tubuhku dari lantai dan menarik laci lain, aku yakin pasti ada alat pengisi daya, karena Daria hampir mempunyai semua gadget.
Aku mengeluarkan charger secara acak, yang sepertinya cocok dengan ponsel ku. Benar saja, ternyata cocok , aku meletakkan ponselku di atas nakas, menancapkannya ke stopkontak untuk mengisi dayanya.
Sudah dari tadi tapi aku masih dalam keadaan tidak siap, aku buru-buru mengeluarkan atasan off shoulder berwarna merah tua untuk dipadukan dengan celana jins hitam.
Kemudia menyisir rambutku, merapikan kekusutan dan ku biarkan rambutku tergerai di punggung.
Aku berjalan ke pintu, memastikan pintu terkunci. Kemudian bergegas kembali ke ponselku, melepaskannya dari charger. Ponselku sudah terisi empat belas persen.
Meskipun begitu, aku mencari lima atau beberapa kontak yang aku miliki dan mengklik nama Nyonya Angel. Syukurlah, masih ada pulsa di ponsel.
Telepon berdering sekitar tiga puluh detik sebelum seseorang mengangkatnya.
"Halo?" Suara lemah dan pelan Nyonya Angel yang sudah tidak asing lagi menyapaku dan aku merasa ingin menangis. Aku merindukannya.
"Nyonya Angel" aku tercekat.
"Darla?" Aku mendengar Nyonya Angel tersentak dari ujung sana, "Darla apakah itu benar kamu?" Dia bertanya, suaranya bergetar aku mengira dia mungkin sedang menangis.
"Ya, Nyonya Angel. Ya, ini aku Darla," jawabku
"Kemana saja kamu selama ini?" Dia bertanya dengan panik. "Kamu dan Anna tidak pernah muncul setelah kalian pergi ke pesta itu, Kamu tidak datang pada hari Minggu, dan absen selama seminggu penuh. Aku sangat mengkhawatirkan kalian berdua. Aku menelepon kalian berkali-kali, takut sesuatu terjadi pada kalian" dia berhenti sejenak untuk menghela napas.
"Di mana kalian anak-anakku? Aku juga mengunjungi apartemenmu dan Anna. Tapi apartemen mereka terkunci. Aku bertanya pada pemilik apartemen, dia mengatakan dia tidak tahu di mana kalian berada." Dia berhenti sejenak dan aku merasakan mataku berkaca-kaca membayangkan Nyonya Angel yang telah bersusah payah hanya untuk memastikan kami berdua aman.
"Maafkan aku."aku berkata, tiba-tiba menangis. "Aku sangat menyesal. Ny. Angel. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Anna dan aku, kami baik-baik saja. Jangan khawatir. aku sangat menyesal kami tidak masuk kerja, aku tahu pasti sulit mengelola kafe sendirian dan-"
__ADS_1
"Diam, Darla, aku tidak marah karena kau tidak masuk kerja. Aku marah karena kamu tidak menjawabku saat meneleponmu untuk menanyakan apakah kalian berdua selamat atau tidak," katanya.
Dan itu membuatku menangis lebih keras.
"Kami baik-baik saja. Ya, kami baik-baik saja. Jangan khawatir. Nyonya Angel, tolong dengarkan aku. Kami tidak tahu persis di mana kami berada tapi kami aman. aku tidak yakin apakah aku harus memberitahumu meskipun aku percaya padamu. Tapi aku tidak bisa memberitahumu. kami terjebak dalam situasi yang rumit dan kami tidak yakin kapan kami bisa keluar dari sini. Tapi kami baik-baik saja dan kami akan kembali, aku janji. Dan tolong jangan pecat kami." pintaku
"Darla, apa maksudku?aku tidak mengerti-
TOK TOK TOK
Aku terlonjak saat ucapan Nyonya Angel terputus karena ketukan keras di pintu kamarku. Jantungku berdegup ribuan kilometer per jam dan tanpa sadar aku menggenggam telepon di tanganku lebih erat.
Ya Tuhan, ada orang di depan pintu. Bagaimana jika orang itu mendengar semuanya? Kuharap itu hanya Anna.
Nyonya Angel mengatakan sesuatu dari telepon. dengan cepat aku meletakkan telepon di telingaku, memotong perkataannya.
"Nyonya Angel, aku harus pergi. Tolong jaga dirimu dan jangan khawatirkan kami. Kami mencintaimu," kataku buru-buru sebelum memutuskan telepon dengan kasar, aku tidak punya pilihan lain.
Ketukan itu terus terdengar, aku memasukkan ponsel ku ke dalam laci, dengan cepat aku menghapus air mataku . mencuri pandang sekilas ke cermin. Setidaknya aku tidak terlihat seburuk itu. Kemudian merapikan rambut dan menyeka pipiku, aku berjalan menuju pintu dan membukanya dengan hati yang masih berdebar-debar.
"Kenapa kau lama sekali?" Devan bertanya dengan cemberut di wajahnya.
Oke, semuanya baik-baik saja. Dia tidak tahu apa-apa.
Dia mengangkat alisnya mendengar nada bicaraku. "Aku tahu kau masih marah padaku," katanya sambil menggelengkan kepala, "aku hanya ingin memeriksamu. Kau tahu um... apakah kau baik-baik saja atau tidak. Tapi aku mendengar bisikan dan isakan dari kamarmu," katanya sambil memasang wajah bingung "Dan aku mengira ada seseorang yang memukulmu."
Mataku melebar , aku memukul lengannya. "Kau jahat. Pergilah."
"Itu bukan cara yang baik untuk mengucapkan selamat tinggal," katanya sambil melangkah mendekat.
"Tentu saja, aku tidak pernah bersikap baik pada keledai sepertimu," balasku
"Apa yang kau lakukan?" Dia bertanya, mengabaikan ucapanku dan melihat ke dalam kamar. "Kau sedang berbicara dengan siapa?" Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat. "Dan apakah kamu menangis?" Dia mengerutkan keningnya sambil mengamati wajahku.
Hampir saja lengannya menyentuh ke arah wajahku tetapi dia dengan cepat menurunkannya. "Tapi aku tidak peduli," katanya dengan wajah lurus.
Aku mencoba untuk tenang. "Tidak ada, aku baru saja berpakaian. Dan menyetel musik, jadi mungkin itu yang kamu dengar." kataku dengan percaya diri, berusaha terdengar meyakinkan.
"Kau tidak bisa dipercaya. Tapi aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan, jadi terserahlah," katanya sambil melangkah pergi dan aku melepaskan napas yang tertahan, "Semoga harimu menyenangkan," katanya sebelum berbalik untuk pergi.
Huftttt hampir saja
__ADS_1
Aku harus memberi tahu Anna kalau aku telah berbicara dengan Nyonya Angel. Dia perlu tahu kalau aku telah melakukan hal yang benar. Dengan susah payah aku menuruni tangga.
Aku menemukan Yoga di dapur. Aku ingat dia mengatakan padaku kemarin bagaimana dia menikmati harinya bermain tenis dengan Yoga.
"Hai, Yoga. Apakah kamu tahu di mana Anna?" tanyaku. Dia mendongak dari pekerjaannya dan tersenyum padaku.
"Di lapangan tenis," jawabnya.
"Kamu tidak bermain dengannya?"
"Tidak, dia mengajak orang lain untuk bermain dengannya," katanya, terlihat sedih. "Ngomong-ngomong, bagaimana pergelangan kakimu?"
"Baik-baik saja. Sudah membaik,". Kataku sambil menatap pergelangan kakiku . "Aku akan pergi menemui Anna," kataku dan dia mengangguk.
"Oke."
Aku berjalan keluar dari rumah besar dan menuju lapangan tenis yang dekat dengan pantai dan kolam renang. Dan benar saja, aku melihat Anna, berkeringat seperti babi sambil membungkuk, mencoba mengatur napas.
"Anna" aku memanggilnya tapi sepertinya dia tidak mendengarku.
Aku mendekati lapangan dan kemudian baru melihat dengan siapa dia bermain. Gio.
"Hei, apa yang kalian lakukan?" Aku bertanya sambil melangkah masuk ke lapangan.
"Bukankah sudah jelas?" Anna bertanya, dia terlihat frustasi sambil memelototi Gio.
"Dia kalah." Gio berkata sambil tertawa kecil, "Apa yang terjadi dengan kalimat "Aku akan mengalahkanmu, lihat saja nanti?" Dia mengejek
"Permainan belum berakhir!" Anna menggeram.
"Aku sudah tahu hasilnya," goda Gio "Sebaiknya kau menyerah jika kau tidak ingin menyelesaikan tantangan itu!"
"Tantangan apa?" tanyaku, tapi tak digubris. "Aku tidak pernah menyerah! Kau seharusnya sudah tahu itu" bentaknya
"Anna!! aku harus memberitahumu sesuatu yang penting. Ayo, kamu bisa bermain nanti," rengekku
"Tidak, Daria! aku harus memenangkan ini. Aku harus menunjukkan pada orang gila ini siapa yang aku sebenarnya, dia mempermainkanku!" Dia berkata di sela-sela tarikan napas. "TIDAK, TIDAK, INI TIDAK BOLEH TERJADI" jerit anna
"OH YA? BISA SAJA " Gio berteriak dari ujung sana
Hah? Apa yang terjadi?.
__ADS_1
....
aku ngetiknya sambil nangis pas bagian Ny. Angel ðŸ˜