Aku Bukan Daria

Aku Bukan Daria
Tiga jari


__ADS_3

"Jadi apa rencananya?" Anna bertanya setelah sarapan ketika aku mengatakan bahwa aku akan melakukan balas dendam pada Devan.


"Yang biasa . Aku akan menaruh banyak jam weker di kamarnya, tepatnya tiga buah. Satu dari kamarmu, satu dari kamarku, dan satu lagi dari kamar Devan." Aku menjawab sambil menyesap kopiku.


"Seharusnya kamu bisa lebih kreatif dengan rencanamu. Aku sangat kecewa," kata Anna sambil menggelengkan kepalanya padaku.


"Hei! Hanya itu yang bisa ku pikirkan. Padahal aku sudah mempertimbangkan ide lain," balasku.


"Ya? Seperti apa contohnya?"


"Pertama menaruh obat tetes mata di minumannya agar dia terkena diare parah tapi aku tidak bisa menemukan obat tetes mata. Kedua ,aku berencana menempelkan bola kapas basah di seluruh mobil-mobil mahalnya tapi itu hanya akan merusak keindahannya, jadi tidak, aku tidak akan melakukannya. Dan yang terakhir pernah menancapkan jarum pentul di toilet duduknya, tapi itu sangat menjijikkan, jadi aku biarkan saja," kataku sambil mengernyitkan dahi karena jijik.


Anna menghembuskan napas melalui mulutnya. "Mengesankan," gumamnya. "Jadi kamu akan melakukan ini di malam hari?"


Aku mengangguk. "Dia tidur sekitar tengah malam jadi aku akan menyelinap ke kamarnya dan mengatur rencana ini."


"Dan dia akan membiarkan pintunya terbuka agar kamu bisa melakukan ini, kan?" Anna bertanya dengan sinis.


"Aku sudah merencanakan ini, anna. Ada kunci untuk setiap ruangan di rumah ini. Nyonya Daralyn bilang padaku bahwa dia menyimpannya di dapur, di dekat kulkas. Aku akan mencarinya". Aku meyakinkannya.


Aku menghabiskan kopiku yang sudah agak dingin dan meletakkannya di atas meja makan yang kosong dan tak lama kemudian salah satu pelayan keluar dari dapur dengan nampan di tangannya yang berisi dua cangkir kopi kosong. Dia mengambil milikku dan berlari kembali ke dapur.


"Sepertinya kau sudah merencanakan semuanya." Anna berkata setelah pelayan itu tidak terlihat lagi.


"Sudah kubilang," jawabku sambil memutar bola mata. "Bagaimanapun, aku akan pergi dan mandi sekarang." kataku, melompat dari kursi dan melambaikan tangan padanya.


Dalam perjalanan naik ke lantai atas menuju kamarku, aku bertemu dengan Amara yang hampir tenggelam dalam lautan pakaian dan koper yang terlihat berat


"Hei Amara, ada apa ini?" tanyaku sambil menatapnya yang sedang berjuang untuk memegang koper dan pakaiannya.


"Tuan dan Nyonya Daralyn akan berangkat ke Paris besok malam untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke dua puluh tujuh di tempat yang sama di mana Tuan David melamar Nyonya Daralyn," Samara terkikik, sedikit terengah-engah.


"Oh, jadi mereka akan berangkat besok?" tanyaku memastikan. "Ibuku tidak memberitahuku tentang hal ini."


"Ya Nona, mereka sudah bilang," katanya, akhirnya menyerah dan meletakkan kopernya untuk mengatur napas meskipun ia masih membawa setumpuk pakaian.


"Berapa lama mereka akan pergi?"


"Saya tidak tahu, saya kira dua minggu," katanya. "Tapi jangan khawatir mereka akan kembali sebelum ulang tahunmu," dia tersenyum cerah. "Sekarang aku harus benar-benar mulai bekerja. Jika ada sesuatu yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk menghubungi saya," katanya dan dengan gusar ia membawa koper yang berat itu lagi ke tangannya dan berjalan ke bawah.


Tuan dan Nyonya Daralyn akan pergi ke luar kota-bahkan ke luar negeri selama dua minggu penuh?? Tentu aku sangat senang karena tidak perlu bertingkah seperti putri mereka selama dua minggu. Sungguh melegakan. Setidaknya hal itu akan meringankan rasa bersalah yang menghantuiku dan membantuku untuk menghilangkan beban.


Dalam perjalanan menuju kamarku, sekali lagi aku menabrak seseorang. Dan aku tidak terlalu senang bertemu dengan orang ini.


"Aku lihat pergelangan kakimu sudah membaik," komentar Devan, keluar dari kamarnya saat aku meletakkan tanganku di gagang pintu untuk masuk ke kamar.


"Aku mengerang, ini semakin terasa sakit saat aku melihat wajahmu," balasku, sebelum menambahkan, "dan ternyata hariku juga semakin memburuk, terima kasih banyak."


"Dramatis seperti biasa," Devan memutar matanya. "Seharusnya kau merasa beruntung karena aku datang untuk memeriksa apakah pergelangan kakimu sudah lebih baik, karena ada hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada ini."


"Ya? Seperti apa? Merencanakan balas dendam kekanak-kanakan padaku?" ejekku "Ya, itu hal yang lebih baik yang harus kau lakukan."


Devan menggelengkan kepalanya.


"Setidaknya aku tak sepertimu , seorang pecundang yang bahkan tidak mau melawan." Dia membalas.


Dia berjalan menjauh sambil menatap punggungku, aku baru saja menyadari bahwa dia mengenakan setelan jas untuk bekerja


Tunggu dan lihat saja nanti, Devan Addams!!. Jika aku jadi kau, aku akan tidur dengan satu mata terbuka. Harusnya aku berteriak dengan keras agar dia bisa mendengarnya. gumamku dalam hati.


Tawanya bergema di seluruh lorong yang kosong. "Aku ingin melihat apa yang akan kau lakukan"


"Kau akan tahu apa yang aku lakukan, Devan Sebentar lagi." bisikku sambil menyeringai, tidak bermaksud agar dia mendengarnya, dan memang tidak.


....


"Eh.. jadi ibu dan ayah akan berangkat ke Paris besok malam?" tanyaku sesantai mungkin. Nyonya Daralyn berada dikamarku, dengan aku yang mengobrak-abrik lautan pakaian yang tertumpuk rapi di lemari pakaianku yang sangat besar untuk menemukan sesuatu yang sederhana dan nyaman untuk dikenakan, dan mustahil jika aku menemukan pakaian yang sederhana.

__ADS_1


"Ya, ibu tidak menyangka bahwa David ingin merahasiakannya untukku, tapi dia adalah seorang penyimpan rahasia yang buruk, jadi orang pasti akan mengetahuinya dengan cepat", jawab Ny. Daralyn. Aku bisa mendengar dan merasakan cinta yang dia rasakan untuk suaminya, David.


"Itu benar-benar manis sekali ibu. Jadi, berapa lama kalian berdua akan pergi?"


"Aku tidak begitu tahu, sayang. Mungkin selama dua minggu, atau mungkin bisa sampai tiga minggu. Tapi jangan khawatir, kami tidak akan membiarkan kami melewatkan ulang tahunmu yang kedua puluh. Aku akan memastikan itu akan menjadi istimewa untukmu," Dia meyakinkanku dengan mencium keningku.


"T-Terima kasih, Bu," aku tergagap, menarik napas panjang sebelum menambahkan, "Aku mencintaimu.


"Ah, aku juga mencintaimu, sayang," dia berdecak, "ibu turun ke bawah dulu untuk mengurus beberapa hal. Aku akan segera kembali dan kemudian kita bisa makan malam bersama dengan ayahmu"


Aku mengangguk padanya sambil melihat dia tersenyum lebar, matanya menunjukkan betapa bahagianya dia. Dengan satu tatapan terakhir, dia meninggalkan kamarku.


"Ah, itu adalah momen ibu dan anak yang sangat manis yang kalian berdua miliki." Aku mendengar Anna berkata dan aku memutar mataku, melihat tubuhnya yang tinggi dan ramping melenggang masuk ke dalam kamar.


"Sedang apa kamu di sini?" tanyaku melihat dia menjatuhkan diri di tempat tidurku, berbaring telentang sambil menghadap ke langit-langit


"Seseorang meminta jam bekerku dan aku pikir aku akan memberikannya," jawabnya, sambil menopang sikunya untuk menatapku


"Baiklah, terima kasih. Kau bisa pergi sekarang." katanya dengan ketus


"Suasana hatimu sepertinya sedang tidak baik. Tapi kau baik-baik saat sarapan dua jam yang lalu. Siapa yang membuatmu marah?" Dia bertanya sambil meletakkan jam wekernya di atas nakas.


"Aku bertemu seseorang yang tidak inginku temui sampai malam hari," jawabku, secara acak memilih atasan merah anggur untuk dipadukan dengan celana pendek


"Devan?" Anna menebak, dia tertawa kecil ketika aku mengerang padanya.


"Ya, dia juga membuat hariku semakin buruk dengan menunjukkan wajah jeleknya," gerutuku kesal.


"Dia tidak jelek. Itu karena kau bermusuhan denganya, dan membuatku menjadi musuhnya juga. Ngomong-ngomong dia terlihat sangat tampan dan seksi."


"Apa? Tidak!!. Dia punya wajah yang jelek," protesku. "Dan kamu tidak seharusnya memuji musuhmu"!


"Oke, dia seorang pria menyebalkan yang mempunyai wajah tampan," Anna mengoreksi dirinya sendiri sambil menyeringai.


"Itu tidak masuk akal." Jawabku dengan kesal. "Dan bagaimana kalau kita tidak membicarakannya. Kau hanya membuat hariku menjadi lebih buruk dari sebelumnya."


"Berapa banyak yang kau dengar?" Aku bertanya, terlalu malas untuk memberikannya penjelasan lengkap.


"Dari saat dia mengatakan bahwa mereka tidak akan melewatkan ulang tahunmu yang kedua puluh."


"David dan Daralyn akan berangkat ke Paris besok malam". kataku dengan nada datar, sambil mengenakan atasan dan celana pendek


"Apa? Benarkah?" Anna bertanya dengan penuh semangat.


"Ya, benar," jawabku


"Untuk berapa lama?"


Aku mengangkat bahu. "Dia bilang dua minggu, tapi bisa jadi lebih dari tiga minggu. Tapi mereka tidak akan melewatkan ulang tahunku-maksudku, ulang tahun Daria yang kedua puluh," kataku, mengambil sisir dari meja rias dan mencoba menjinakkan rambutku yang ikal dengan lembut.


"Oh, kurasa itu bagus?" Anna bertanya dengan penuh tanya.


"Ya, kurasa begitu," aku mengangkat bahu. "Aku kaget saat mengetahui kalau Daria akan merayakan ulang tahunnya pada waktu yang sama denganku. Bahkan aku akan berusia dua puluh tahun dalam beberapa minggu lagi."


....


Saat aku hendak pergi ke ruang makan, aku melihat seseorang yang tidak asing.


Anna menggerutu. "Aku benci ini. Apa yang dia lakukan di sini?"


"Aku tidak tahu," jawab ku sambil merebahkan diri di kursi.


"Halo, nona-nona." Gio berkata, menyeringai lebar saat Anna dipaksa duduk di hadapannya. Kami tidak membalas.


"Aku merasa terhormat bisa makan malam dengan dua wanita terbaik yang pernah aku kenal seperti kalian." Kata Gio.


"Hentikan akting itu, itu tidak cocok untukmu," potong Anna

__ADS_1


Gio menyipitkan mata ke arahnya ,sebelum melihat ke sekeliling meja makan yang masih kosong dan belum terisi orang.


"Katakan padaku, oh Anna si paling suci, apa yang saat ditusuk mengeluarkan darah tapi tidak sakit?" Gio bertanya sambil menyeringai dan meringis.


"Gio, diamlah," kata Anna.


"Wahh, kamu manusia yang menjijikkan, Anna," jawab Gio, mengabaikan permintaan Anna untuk berhenti, seperti yang biasa dia lakukan.


Anna gusar dan membuang muka.


"Panjang dan keras tapi berguna, apakah itu?". Gio melanjutkan teka-teki konyolnya.


Aku menghela napas. Jika ini terus berlanjut, aku akan Gilaaaa.


"Pendidikan tinggi." Anna menjawab sambil menyeringai. "Aku pernah membaca tentang itu."


"Hm ... apa yang diawali dengan "P" dan diakhiri dengan 'ORN dan merupakan bagian terpanas dari industri film?"


Anna membuka mulutnya sebelum menggelengkan kepala dan menutupnya lagi.


"Popcorn, jelas 140 karakter tidak cukup untuk mengekspresikan betapa joroknya imajinasimu." Gio tertawa kecil sebelum melanjutkan, "Beberapa orang lebih suka berada di atas, yang lain lebih suka di bawah. Dan itu selalu berususan dengan tempat tidur. Apa itu?


"Di mana tombol off-mu?" Anna bertanya.


"Jawabannya ranjang susun, bodoh." Gio menjawab, mengabaikannya seperti biasa


"Gio, dengan sopan aku memintamu untuk diam jika kamu tidak ingin sarapan dan makan siangku tumpah di atasmu"


"Oh, dan ini yang paling kusukai. Jika kau mengacungkan tiga jari"


"Halo, Ny. Daralyn. Senang bertemu denganmu. Anda terlihat cantik. Bagaimana harimu?" Anna bertanya dengan keras, membungkam Gio dan aku berbalik dari tempat dudukku untuk melihat Ny. Daralyn berjalan ke arah kami.


"Oh Anna, terima kasih. Dan hariku menyenangkan, terima kasih." Katanya, tersenyum ramah pada Anna sebelum beralih ke Gio. "Aku tadi mendegar kau berkata tentang tiga jari. Maksudmu apa?"


"Uh..... "Gio tampak kehilangan kata-kata. "Um itu tadi, um... tiga jari eh, aku-.."


Gio tergagap, gagal menemukan sesuatu.


"Dia bilang kemarin mengunjungi seorang peramal yang menyarankannya untuk memakai tiga cincin batu permata yang berbeda di tiga jarinya agar tetap aman," jawab Anna berbohong dengan lancar.


Gio menghela napas lega. "Ya."


"Peramal itu mengatakan kepadanya bahwa ini akan menjadi masa tergelap dalam hidupnya. kemungkinan besar burung miliknya akan dipotong karena mulutnya yang selalu berkata jorok, kotor, dan tidak sopan." tambah Anna yang membuat Gio memelototinya


"Apa?" Nyonya Daralyn bertanya dengan bingung.


"Tidak ada." Kata Anna sambil tersenyum manis padanya.


Saat itu juga, Tuan David dan Devan duduk di tempat duduk mereka dan makanan pun dihidangkan.


"Devan, kamu terlihat lelah. Apakah mengurus kasino membuatmu lelah?" Tuan David bertanya dengan khawatir dan aku hanya melihat lingkaran hitam samar di bawah matanya karena kurang tidur


"Terima kasih atas perhatian Anda, Tuan David, tapi aku baik-baik saja," jawab Devan dengan sopan.


Aku mendengus dalam hati. Cihh kesopanan bukanlah sesuatu yang cocok untukmu.


"Jangan terlalu memaksakan diri, oke?" Katanya yang disambut anggukan Devan


"Tidak akan"


Tuan david mengambil momen ini untuk menyampaikan kepada kami tentang rencananya di Paris, yang tentu saja sudah kami ketahui. Dia meminta kami untuk menjaga diri kami sendiri dan tidak ragu-ragu untuk menghubungi mereka jika ada sesuatu yang tidak beres.


Dia berbicara kepada kami seolah-olah kami adalah anak-anak yang akan ditinggalkan di rumah sendirian. Dan itu benar ketika aku melihat Devan dan Gio yang bertingkah kekanak-kanakan.


Devan, Gio, Anna dan aku mengucapkan selamat kepada mereka karena telah menjadi pasangan yang saling melengkapi selama dua puluh tujuh tahun. mereka pasangan yang sangat serasi.


....

__ADS_1


__ADS_2