Aku Harus Mencari Papa!

Aku Harus Mencari Papa!
Episode 10, Kereta api


__ADS_3

"Hatchi..!" hidungku pilek, aku merasakan tidak enak, Mama?


Suatu tempat seorang pria juga merasakan hal itu juga, "apa ini?" ucap pria dalam hati. Suasananya gelap wajahnya hanya sinar dari bulan purnama.


...©©©©©©...


Suasana hening, di Rumah Risa


"jadi Arief pergi sendirian?" tanya Farhan.


Risa menganggukkan kepalanya, Farhan menghela napas sambil memikirkan bagaimana bisa Arief sendirian? Padahal dia masih tujuh tahun.


"Maaf, aku memotong pembicaraan aku mau tanya seperti apa Arief ya? Aku sudah dengar dari suamiku, Arief itu lucu waktu masih balita tapi aku penasaran sekarang dia sudah tujuh tahun kan, boleh aku lihat foto Arief?" tanya Tuti istrinya Farhan tiba-tiba


semua menolehkan pandangannya pada Tuti.


"Ada nanti aku ambil foto Arief ada di kamarnya, Risa sabar ya! Tenang saja Arief pasti bertemu papa kandungnya!" ucap Nia lalu berjalan menuju ke kamar Arief untuk mengambil foto Arief baru foto saat itu jalan-jalan bareng keluarga Nia dan Risa. Arief tersenyum perlihatkan gigi ompong lucu.


Tuti penasaran seperti apa Arief, Farhan menggeleng istrinya penasaran sekali semoga dapat momongan sepertinya istrinya ingin punya anak dalam hati Farhan.


"Ini dia! foto Arief!" ucap Nia memperlihatkan foto Arief otomatis pada Tuti.


"Wah, ini Arief ya? Kelihatan ganteng, gemes sekali! Tapi aku merasa Arief ini campuran ya? apakah dia blasteran?" tanya Tuti mengamati foto Arief, Farhan ikut menimpali sambil mengamatinya memang di lihat-lihat Arief tampan memang campuran.


Nia kaget, ah ia baru menyadari Arief itu, tetapi kecuali Risa sudah tahu Arief memang campuran. Tapi Risa tidak ingat wajah Lelaki itu, hanya matanya ia ingat samar-samar.


"Aku merasa juga begitu tapi baru nyadar saat kamu bilang tadi, pantas saja Arief populer di kalangan gadis seusianya, tapi Arief hanya fokus belajar di sekolahnya Hm.." ucap Nia sambil memikirkan Arief itu.


"Risa, kamu tahu? Tapi kamu tidak ingat laki-laki itu?" Nia balik tanya


"Entahlah, Nia aku memang tidak ingat tapi.." kata Risa terbata bata.


"tapi apa?" tanya Nia, sekaligus Farhan dan Tuti ikut menimpali Nia dengan penasaran.


Risa menghela napas, merasa tidak enak melihat Farhan.


Farhan melihat itu, dan


"Risa, aku tahu itu sudah masa lalu tidak penting aku mengerti kenapa Arief seperti itu, namun aku sudah memiliki Tuti istriku, yakan sayang?" ucap Farhan sambil mengedipkan mata dengan sayang pada istrinya, Tuti.


Tuti malu, melihat suaminya menggodanya.


"Hussh! Ngawur!" ucap Tuti sambil mencubit pinggang Farhan, Farhan terkekeh


Risa tersenyum menyaksikan Farhan dan Tuti, sedangkan Nia tertawa terkekeh-kekeh kecil.


"ya, makasih Farhan namun aku tidak begitu ingat wajah Lelaki itu tapi hanya kuingat samar-samar matanya lelaki itu.."


"Oh ya ? Begitu ya" ucap barengan Nia,Tuti dan Farhan.


"kalau begitu harus gimana? Arief sendiri tidak tahu siapa papanya?'' tanya Nia tidak habis pikir, Risa ikut setuju memang putranya malah nekat mencari papanya.


"tenang saja, semoga Arief dapat bertemu papanya" ucap Farhan.


Risa dan Nia mengangguk.


...©©©©©...


Di Sebrang kota,


Aku bangun dari tidur, mataku bengkak kemarin habis menangis sambil mengucek mataku melihat paginya membuatku sulit bangun, namun tiba-tiba mengetuk pintu di kamarku


"Arief, sudah bangun sayang?" tanya bibi tani terdengar dari luar pintu kamarku.


"Sudah, bi! Maaf merepotkan bibi!" ucapku seru


"tidak apa-apa sayang, ya sudah ayo sarapan!" seru Bibi tani sambil mengetuk pintu di kamarku.


"Ya, Bi aku pasti keluar!" ucapku, kemudian terdengar suara langkah kaki bibi tani keluar hilang dari pintu kamarku, aku beranjak bangun dari kasurku, dan mengambil membersihkan wajahku di wastafel.


''huffth, aku tidak boleh menangis lagi, tapi saat ini aku fokus mencari Papa! Semoga papa mau bertemu denganku, Yup semangat!" ucapku sambil menggebu


Lalu aku keluar dari kamarku, menuju di dapur kulihat keluarga kumpul sedang sarapan, aku ikut sarapan.


...©©©©©...

__ADS_1


Siang hari,


"Arief!" teriak Kakak Yuyun bergegas sambil ngos-ngosan, aku menolehkan pandanganku saat itu aku main di taman dekat rumah bibi tani.


"Ada apa kak?" tanyaku


"Arief, yuk ikut kakak! Sebenarnya kakak sudah mengancam kakak beradik itu! Sekarang mereka berdua minta maaf kita bertemu di sana! Arief mau memaafkan mereka berdua?"


Aku terdiam mendengar "kakak beradik" kemarin mengejek aku, namun aku melihat mimik kakak Yuyun serius sudah mengancam kakak beradik, baiklah aku menemui kakak beradik tidak gunanya sedih,


Aku mengangguk, Kakak Yuyun tersenyum sambil menyeret aku pergi bersama ke tempat janji bertemu di sana. namun kakak Yuyun harus minta ijin pada bibi tani yang sedang menyiram kebun, untungnya bibi tani mengijinkan dan menyarankan jangan lupa harus pulang sebelum gelap, Kakak Yuyun menurutinya.


Beberapa jam kemudian, Aku dan Kakak Yuyun sampai di tempat di mana kita bertemu waktu aku main lumpur di sawah, lalu di sana kakak beradik sedang menunggu.


"Hey! Apa kabar?" seru Kakak Yuyun menyapa kakak beradik itu, kakak beradik menolehkan pandangannya melihat kakak Yuyun datang bersama aku.


Salah satunya, sang adik usianya sama denganku, dia menunduk menyesali perbuatannya padaku, dia menghampiri aku


"Maafkan aku, Arief, aku menyesali perbuatanku kemarin, memang benar kami beruntung miliki kenangan bersama ayah sedangkan.. Maaf ya Arief!" ucap anak usia 7 tahun usia sama denganku sambil menundukkan.


Aku terdiam, beberapa menitan, aku menggeleng kepalaku "Tidak apa-apa sudah ku maafkan pada kalian!"


Anak usia tujuh tahun senang akhirnya aku memaafkannya, kakak Yuyun dan Kakaknya anak tujuh tahun melihat itu sambil tersenyum.


"Arief, nama aku Udit! Ini kakakku namanya Yusa! Salam kenal!"


"Oh Namaku Arief, salam kenal juga!" ucapku sambil menjabat tanganku dengan tangannya udit.


"Oya ayo kita main tapi paling seru kejar kereta api lho!"


"Kereta api?" ucapku pertama kalinya mendengar main kejar kereta api,


"lho Arief tidak tahu? Seru lho kejar main kereta api! sambil menyapa para penumpang! tapi harus bangun pagi-pagi sekali,"


(*sebenarnya ini nyata milik author waktu kecil dulu anak-anak termasuk author suka kejar sambil menyapa para penumpang seperti author begitu suka sekali wajar era 90an begitulah*)


"Hm .. Baiklah besok kita main kejar itu!" ucapku senang kayaknya seru!


"Baiklah sip! Arief ayo kita main lumpur!" ucap udit menyeretku, aku mengangguk


Sore hari


"kak, aku lelah" ucapku sambil menggandeng tangan kakak Yuyun


"Tapi seru kan?''


"Ya! Kak!" kataku. Kakak Yuyun mengelus rambutku, begitu pulang di rumah bibi tani


...©©©©©©©...


Esok harinya pagi hari


Aku terbangun, lalu menurunkan dari kasurku


Ya! Aku harus bangun pagi-pagi, mau main kejar kereta api! Untung kemarin udah berjanji sama kakak beradik main lagi tapi kali ini kejar main kereta api!


Aku senang main lagi, dan keluar dari kamarku berjalan menyusuri menuju dapur, melihat bibi tani bersama anaknya menyiapkan sarapan


"Selamat pagi! tumben kamu bangun pagi-pagi sayang?" ucap bibi tani menghampiri aku, sambil mengelus rambutku


"Karena aku mau kejar kereta api!" kataku sambil memperlihatkan gigiku


"kejar kereta api? ah ya aku tahu itu tapi hati-hati ya!" ucap bibi tani, Aku mengangguk-anggukkan kemudian aku ikut sarapan pagi bersama keluarga bibi tani.


"Kak Yuyun ayo cepat!" ucapku teriak, Kakak Yuyun ikut berlari sambil ngos-ngosan


"tunggu sebentar Arief aku lelah"


"Maaf, kak!" ucapku manyun, Kakak Yuyun menggeleng kepalanya.


"tidak apa-apa sayang, ayo semangat! Kejar kereta api!"


Aku girangnya sambil berlari bersama kakak Yuyun kejar kereta api, di sana kakak beradik di depan sana lalu ikut berlari kereta api saat kereta api muncul, aku kejar dari belakang sambil menyapa sambil melambaikan tanganku pada para penumpang bersama kakak Yuyun serta kakak beradik.


Para penumpang tersenyum merasa lucu melihat ada anak kecil berteriak ''hallo!" lewat jendela

__ADS_1


Para penumpang ikut melambaikan tangannya, "Hai juga!!"


Aku senang sekali, namun tanpa tidak tahu ada salah satu penumpang melihat itu kaget


"Profesor? tapi kenapa anak kecil itu begitu mirip profesor?" tanya penumpang itu, ya salah satu mahasiswa jurusan IPA campuran komputer. Ia kaget ada anak kecil mirip profesor.


Mahasiswa bengong, kemudian kereta api ia naikin pandangan jendela tadi anak kecil menghilang.


"astaga, apa aku harus lapor itu? tapi profesor itu tidak menikah apalagi belum punya anak, ah profesor sempat bertunangan, namun ada skandal tunangannya suka selingkuh tapi bukan anak tunangannya? Tidak mungkin deh melihat anak itu kelihatannya sudah gede pasti kira-kira enam tahun atau tujuh tahun? kata mahasiswa jurusan komputer sendiri diri sambil memikirkan.


"ah sudah deh tidak usah pikirkan" mahasiswa jurusan itu, sambil menggeleng kepalanya, namun ketika sampai tujuannya, Mahasiswa masih pikiran tentang anak kecil


"Aduh, kenapa aku masih memikirkan itu? tidak bisa menghilangkan pikiranku!" mahasiswa menggerutu dalam hati.


...©©©©©©...


Sekolah tinggi, komputer (*ini hanya fiksi)


Mahasiswa masih pikiran, namun ada yang menepuk pundak mahasiswa.


"Hoy kenapa bro? Kamu dari tadi tidak konsisten saat ada pelajaran? apa masih memikirkan cewek itu? Sudah deh jangan mikirin cewek itu sombong sekali menolak kamu! Kesal aku dah, tapi segi wajah aku merasa kamu lebih ganteng tapi sayang kamu malah kacamata, jadi masih pikiran itu?" tanya temannya itu.


Mahasiswa menolehkan pandangannya sambil ketus, "Enak saja mikirin cewek itu! Aku sudah move on!"


"ah serius? Lalu kenapa kamu tidak konsisten? Apa yang kamu pikirkan? Dasar Ryan!" kata temannya sambil menggelengkan


ya Mahasiswa itu bernama Ryan, Ryan menghela napas panjang, "itu ada anak kecil begitu mirip profesor!"


"hah? anak profesor? Yang mana profesor?" tanya temannya kaget mendengar itu.


"Tentu saja profesor yang galak itu suka sekali marah-marah bila mahasiswa/mahasiswi tidak konsisten juga nila tidak bagus harus ketat itu!" kata Ryan kesal mengingat profesor itu.


"Oh profesor itu! kalau tidak salah namanya Zack Warren, memang dia orang bule tapi sudah lama tinggal di sini, lalu memangnya ada apa anak itu?" tanya temannya bingung


"anak itu ah! kenapa aku masih memikirkan itu, tadi pagi saat berangkat kereta api saat ada pertengahan kota, ada anak kecil muncul bersama teman-temannya, anak kecil sangat mirip profesor galak itu! Aduh aku tidak bisa menghilangkan masih pikiran!" ucap Rayan stress sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan frustasi.


"ah serius bro? Setahu aku profesor itu tidak menikah bahkan punya tapi sempat pernah bertunangan itu"


"Nah itu makanya aku bingung! Duh kenapa aku masih pikiran!"


"kalau begitu Ryan, gimana sore ini setelah selesai pelajaran, kita laporkan pada profesor Zack itu? supaya kamu tidak pikiran lagi biar bisa hilang gimana bro?" kata Temannya memberikan ide pada Ryan.


Ryan merasa ide temannya bagus,


"baiklah aku setuju ide mu saja!"


Temannya mengajukan jempol pada Ryan, mengartikan sip, Ryan mengangguk


Sore hari, Pelajaran kelas Itu sudah usai sambil begitu bel berbunyi mahasiswa/mahasiswi sudah siap-siap pulang


tapi Ryan dan temannya tidak pulang begitu keluar dari kelas, menuju di mana tempat profesor Zack, lalu mengetuk pintu ruangan profesor Zack.


Tok.. Tok..


"Masuk saja!" seru profesor Zack terdengar suara dalam ruangan, Ryan dan temannya saling pandang, namun Ryan gugup


"permisi, maaf mengganggu profesor!" ucap Ryan gugup sambil menundukkan.


"ada apa? Kalian semester dua bukan?" tanya profesor Zack.


"Ya profesor!" kata Ryan dan temannya barengan.


"ada apa mau menemui aku? Soal ujian? Atau nilainya?" tanya profesor Zack ketus.


Ryan merinding melihat dosennya galak,


"bukan profesor! Itu aku mau melaporkan tapi bukan pelajaran, tapi pribadi tadi pagi aku melihat anak kecil itu, anak kecil itu mirip profesor!"


Profesor Zack kaget, "apa maksudmu?"


Ryan ngeri, "itu aku melihat waktu berangkat ke kampus aku pakai naik kereta api, tapi ketika ada anak-anak kecil kejar kereta api membuat penumpang tersenyum kebiasaan anak-anak itu sudah tradisi tapi aku melihat ada salah satu anak kecil itu mirip sekali profesor! aku merasa kok kayak apa itu anakmu? Maaf kalau menyinggungmu setahuku profesor tidak menikah tapi aku masih pikiran anak itu"


Profesor Zack shock mendengar penjelasan dari mahasiswa membuatnya dokumen terjatuh genggam dari tangannya.


"Profesor? Profesor?"

__ADS_1


Pikiran Profesor Zack tidak jernih, anak? anak? tidak mungkin! anak ku? Tunggu Apa gadis itu?


Bersambung...


__ADS_2