
Aku harus mencari Papa!
Author pov's
Nia terhenti tertawa, Risa ikut tertawa lalu terhenti suasana hening, sedari tadi mereka benar-benar berdua nostalgia teringat masa lalu saat pertama kali bertemu, kemudian Nia mencairkan suasana hening dan mulai angkat bicara,
"Risa, satu hal itu, aku tidak sama sekali mengerti, kenapa kamu tidak menikah para pria desa di sini selain pak yayang waktu Arief masih balita?" tanya Nina penasaran kenapa Risa tidak menikah para pria desa ini? selain pak yayang waktu Arief masih balita.
"Mengenai hal itu, awalnya aku mau fokus Arief masih bayi, sampai Arief balita, saat umur 3 tahun Arief itu bertanya "di mana papa?" aku tidak bisa menjawab hal itu, eh Arief malah menangis, aku tidak berbuat apa-apa langsung coba hibur Arief lalu aku mulai berpikir kalau mau menikah dengan pria desa di sini, Arief pasti senang punya papa, kemudian aku kencan dengan salah satu pria desa ini namanya Farhan, selama empat bulan akhirnya Farhan mau melamar ku dan Farhan menerima apa adanya suka Arief jadikan anaknya Farhan, tapi Arief bilang "Ini papa kandungku?'' aku kaget, Arief tiba-tiba bertanya, Farhan jawab "sayang, aku di anggap papa kandungmu, kamu pasti senang kan?" Eh Arief terlihat bingung bertanya "ma, ini papa kandungku?'' Aku terlihat shock tidak percaya Arief tahu itu apa ini Arief pintar? dan sepertinya Arief ingin papa kandungnya tidak mau papa tirinya, begitulah, kemudian aku menolak lamaran Farhan dengan halus, Farhan awalnya berat kemudian menerima dengan tulus, Aku menangis, Farhan memelukku, aku bersalah tapi Farhan bilang "tidak perlu bersalah asal ada anak harus ijin begitu", sejak hari itu aku menolak semua para pria setelah Farhan demi anakku, Arief" ujar Risa air matanya keluar, teringat masa itu.
"Maaf, Risa.." ucap Nia sambil memeluk Risa sedang menangis, Nia ikut menangis.
"Lalu sekarang rencanamu gimana? Pak Yayang itu sudah menyebarkan undangan semua desa di sini, apa kau yang harus lakukan?" tanya Nia lagi, Nia menghapuskan air matanya dengan jari tangannya.
"Aku tidak tahu Nia, Hm.. Tunggu sebentar ini sudah jam berapa?" tanya Risa lupa waktu.
Nia berkerut kening, Nia baru sadar ia juga lupa waktu,
"Waduh, aku lupa! Kita ngobrol lama sekali! Sebentar itu bukannya jam 6 malam?" ucap Nia melihat jam dinding di ruang tamu.
"Ah! Arief! Apa dia sudah pulang ya?" ucap Risa tergesa-gesa keluar dari ruang tamu, lalu mencoba melihat di depan pintu apa ada sandal milik Arief? Itu bukti tandanya kalau sudah pulang, namun Risa melihat sandal milik Arief masih ada,
"Huffth, syukurlah Arief sudah pulang" ucap Risa, Nia melihat di balik pintu di ruang tamu, tersenyum.
"Baguslah Risa, cek periksa kamar Arief, aku mau keluar dulu, Dessy apa dia pulang belum? Sepertinya Dessy lupa waktu juga!" ucap Nia langsung keluar dari rumah Risa,
Kebetulan Rumah Risa di samping rumah Nia, sayang suami Nia belum pulang, karena pergi kerja kota sebrang jauh beberapa bulan kadang-kadang Suami Nia sering menelpon Nia dan Dessy awalnya ingin pakai video call sayang sinyal di desa ini tidak bagus maka jadi telepon dan sekarang Nia menginap di rumah Risa, kebetulan kosong yang buat kamar tamu awalnya tadinya jadikan gudang tapi Nia sering mampir di rumah Risa karena Nia kesepian.
__ADS_1
Risa menuju ke kamar Arief, namun ketika masuk pintu kamarnya tidak terkunci. Risa terkejut melihat di kamar Arief kosong..
"Arief!" ucap Risa shock, namun ketika Risa ingin keluar dari kamar Arief terlihat ada ketinggalan Note (catatan) buat Risa di meja
"Maaf Ma, aku harus mencari Papa kandungku, Demi Mama agar pak Yayang tidak menikah mama! Aku harus ketemu Papa!"
"Arief!! Oh tidak! Kenapa kamu mencari Papa kandungmu? Mama tidak tahu seperti apa wajah papamu! Arief!" ucap Risa terbata-bata terlihat shock, tiba-tiba Arief pergi ke suatu tempat mencari Papanya, kenapa hari ini harus pergi? ini sudah malam sayang! oh tidak! Dalam hati Risa.
Beberapa menit, Nia pulang bersama Dessy pulang, Nia melihat Risa duduk lemas, di ruang tamu.
"Risa! Kenapa wajahmu terlihat pucat? Apa yang terjadi?" tanya Nia khawatir sahabatnya Risa pucat, lemas.
Dessy terlihat bingung kenapa Tante Rida pucat? dalam hati Dessy.
''Itu... Nia, Arief pergi.."
"Pergi maksudmu? Risa?" tanya Nia juga bingung.
"Apa?!!" Seru Nina kaget, Dessy sedari tadi coba menyimak mendengar "Arief pergi'' Dessy ikut kaget tidak percaya Arief pergi mencari Papanya? Ini sudah malam! Lagipula Arief masih 7 tahun! Yang benar saja!
...©©©©©©©...
Pov's Arief
"Akhirnya aku tidak sabar ketemu Papaku! Seperti apa papaku?" ucapku tersenyum lalu ketemu Pelaut (Sailor)
"Hai! Aku mau naik kapal ini!" ucapku sambil melambaikan tangan, menggebu-gebu
__ADS_1
"Eh? Anu.. Nak, kamu sendirian mana orang tuamu? kalau bersama orang tuamu kamu pasti aman!" ujar pelaut tidak habis pikir anak kecil ini malah sendirian harusnya di temani orang tuanya.
"Tapi.. Aku mau naik kapal ini!" ucapku teriak.
"Nak.. Tapi.. Kamu harus.. Bla.. Bla" ucap Pelaut mulai marah dan akhirnya aku dan pelaut mulai saling ribut, Tiba-tiba Ada Cruise Staff datang,
"Ada apa nih?" tanya Cruise Staff saat tadi ia sudah menyelesaikan membantu tamu,
Tamu -tamu itu merupakan negara berbeda ada yang pergi ke kota untuk pekerjaan ada yang pulang desa ini atau kota itu, juga kuliah, cari pendidikan sebagainya.
"Itu Pak, Anak kecil mengotot mau naik kapal harusnya anak kecil di temani orang tuanya!'' seru Pelaut marah, Aku kesal benci hal ini!
"Hah, sabar ya, Hm.. Hello Nak namamu siapa?" tanya Cruise Staff menundukkan jongkok padaku
"Namaku Arief Iskandar" ucapku memberikan perkenalan diri dengan sopan.
"Baiklah salam kenal, nama saya Gio, jadi nak Arief, harusnya kamu di temani orang tuamu benar kata orang ini, Kamu sudah bilang orang tuamu?" ucap Cruise Staff, Gio.
"Sudah.., sudah..pamit mama lewat note, tapi aku mau naik kapal ini! Aku harus ketemu Papa! Aku tidak mau Pak Yayang anak dari kepala desa ini menikah dengan mana! Jangan sampai! Dia playboy! Kumohon aku ingin naik kapal ini aku harus ketemu papa!" ucapku terisak menangis.
Cruise Staff , Gio dan Pelaut kaget, Anak kecil ini , Gio mendengar nama Pak Yayang itu suka main-main bebas dengan gadis desa, jadi kudengar dari Kapten, Kapten kenal orang-orang desa di sini, bahkan Kepala desa menyediakan jasa, sebagainya bolehkan orang-orang desa ini masuk kapal ini untuk mencari berbagai pekerjaan macam-macam, Sudah bekerja sama dengan pemerintah pusat kota. Mulai menyebar ke mana-mana. Tapi pak Yayang berbeda tidak serius pekerjaan tapi cukup punya ketahanan, pangan dan lainnya. Pikir Gio namun Gio kasihan Arief anak ini kenapa bisa Pak Yayang itu ngotot nikah Mamanya Arief?
Tidak habis pikir Pak Yayang itu!
"Maaf ya, nak arief.. Baiklah kamu boleh naik kapal ini!" ucap Gio tersenyum.
"Horee!" ucapku,sambil memerangi pegang tangannya Gio, Masuk kapal, bersama Pelaut, sedari tadi Pelaut diam.
__ADS_1
Aku senang! Akhirnya! Aku berpetualang!!
Bersambung...