Aku Harus Mencari Papa!

Aku Harus Mencari Papa!
Episode 7, Bibi Tani


__ADS_3

Aku ikut melambaikan tanganku, Bibi Tani menghampiri kami, dengan tersenyum ramah.


"Gio, apa kabar? Sudah lama kamu kemari ke sini dan kamu tidak mengunjungi kami ah?!" teriak Bibi Tani sambil menatap tajam pada Paman Gio


"Maaf kak, aku sibuk sih hehehe" ucap Paman Gio sambil nyengirnya.


"Huh! Alasan!" Bibi cemberut lalu beralih menolehkan kepalanya ke aku. Bibi tani tersenyum padaku sambil mengelus rambutku.


"Hallo Arief, salam kenal sayang, nama aku bibi tani sepupunya paman gio ini! Meskipun bibi lebih tua 7 tahun dari paman gio, salam kenal ya!'' ucap Bibi tani sembari tangannya padaku, Aku membalas tangannya.


"Salam kenal bibi!" ucapku meraih gigi.


Bibi tani melihatku dengan gemesnya.


"Kalau begitu, Kak tani aku titipkan arief padamu, aku masih bekerja kak.. Maaf merepotkan kak!"


"Ya ya, kamu benar-benar merepotkan gio ckck! " Bibi tani kesal tingkah Gio seperti itu tidak pernah berubah sudah dari dulu. Bibi tani menggeleng kepalanya.


"Hehehe Maaf ya kak, Sampai jumpa Arief nanti kita bertemu lagi ya!" seru Paman Gio sambil melambaikan tangannya padaku ingin pamitan kini gio bergegas dari hadapan kami lalu kejauhan, Aku ikut melambaikan tanganku


"Ya! Sampai jumpa paman!!" Seruku. Paman gio tersenyum dari kejauhan. Kemudian ia naik kapal lagi karena masih pekerjaannya ada sisa penumpang itu.


"Nak, sekarang ayo Arief kita pulang ke rumah bibi!" seru Bibi tani mengajakku setelah bibi tani memanggil taksi, aku bawa ranselku meskipun berat tapi aku kuat, awalnya bibi tani ingin membantu membawa ranselku namun aku menolaknya, bibi tani maklumi


Ketika naik taksi, aku memandang melihat lewat jendela, aku penasaran apa orang sedang bekerja itu sambil mengambil jaring apa yang orang itu kerjakan? Dalam hatiku


"Bi, paman itu sedang apa?" tanyaku


"oh itu paman itu sedang mengambil jaring untuk persiapan menangkap ikan-ikan, lagian musim sebentar lagi cocok memancing dan cuacanya bagus gampang menangkap ikan untuk memasarkan jual harga terjangkau hasil jerih payah para nelayan, demi biaya keluarga" jawab bibi tani menjelaskan.


"Oh, begitu ya bibi.." aku menganggukkan kepalaku.


tiga jam kemudian butuh lama sampai ke rumah bibi tani, aku mulai ngantuk


Aku bermimpi, aku bertemu seseorang pria itu dia tersenyum padaku apakah itu Papa ?



"Papa?" tanyaku


namun sayang orang itu itu tubuhnya sebentar sekejap di depan mataku menghilang,


"Papa!! Tunggu! Aku ingin bertemu papa!!" teriakku berlari menuju tempat orang itu sambil menangis.


"Papa tunggu!!!" teriakku


"Sayang, kamu kenapa? Bangun sayang!" ucap bibi tani membangunkan aku, air mataku meneteskan. Bibi tani mengkhawatirkan aku, bola mataku terbangun melihat bibi tani mengkhawatirkan namun cahaya itu membuatku tidak nyaman, tapi air mataku masih mengalir.


"sayang, kamu tidak apa-apa kan?" tanya bibi tani sambil mengusapkan air mataku di pipiku, aku bermimpi?

__ADS_1


"kamu mimpi buruk?" tanya bibi tani lagi.


Aku menggeleng cepat


"tidak bi.. Aku tidak apa-apa" ucapku sambil menghapus air mataku tinggal sisanya setelah bibi tani mengusapkan air mataku.


"Baguslah, kalau begitu Arief sekarang ini sudah sampai!" teriak Bibi Tani


"cepat sekali bi!" seruku heran,


"Hahaha, kamu ini lucu masih teledor ya? lihatlah depan di sana rumah bibi!"


Bibi tani sembari menunjukkan telunjuk di depan, aku menolehkan pandangannya ke depan di sana Rumah bibi tani,


Rumah bibi tingkat satu namun sangat asri, di sana ada kebun memiliki banyak buahan, sayuran-sayuran banyak lagi, serta ada bunga lili di sukai bibi tani.


Aku kagum di rumah bibi tani, "Mama! Aku sudah sampai di rumah bibi tani! Bibi tani sepupunya paman gio orang baik ma! Jangan Khawatir! Aku pastikan harus ketemu papa!" dalam hatiku


"Ayo Arief, Turun" teriak Bibi tani,


"okeh bibi!" seruku, lalu aku menurunkan dari taksi, sambil mengambil ranselku.


aku berjalan menuju ke rumah bibi tani, bibi tani sedari tadi mengambil belanja di belinya dari bagasi taksi belakang sebelum menjemput aku.


"Ayo Arief!"


"Selamat datang! Rumah A Tani's !" seru sekeluarga sembari sambil meledakkan meletus tongkat. Aku kaget sekaligus senang


Sekeluarga mendekatkan dengan aku, sambil mengelus rambutku.


"Selamat datang Arief! semoga betah ya!"


Aku mengangguk kepalaku, Bibi tani tersenyum.


"Ini bibi perkenalkan ini anak pertama bibi, Namanya Farah, usia baru 24 tahun, sudah menikah dengan suaminya dan ini bayi Farah namanya Baby Q!"


"Dan, ini anak keduaku, namanya Fano umurnya 18 tahun baru lulus SMA, dia kerja di pabrik pas-pasan saja!"


"Mama!" teriak Fano tidak terima, bibi tani tidak gubris ocehan dari Fano. Bibi tani melanjutkan


"Ini anak terakhir, anak tigaku namanya Yuyun baru 12 tahun, masih sekolah, mengganggap ini sebagai kakak mu ya!"


Aku menganggukkan kepalaku, "Salam kenal kakak Yuyun!"


"Salam kenal Arief!" seru Yuyun tersenyum.


Kemudian, Aku ikut bergabung dengan sekeluarga merayakan aku datang, aku senang, makanan di sana di sediakan kebetulan ada sarapan siang sebentar lagi


Aku makan bersama sekeluarga bibi tani, sambil ngobrol bagaikan menyenangkan

__ADS_1


...©©©©©©...


Di kamar, Aku membaringkan tubuhku kaku di kasurku, Aku kenyang hukh gumamku, beberapa menit aku mengambil ranselku membuka ranselku, di sana laptop aku ambil itu, kemudian aku menyalakan laptop, aku mengotak atik laptop, namun tidak berhasil mengenai tentang papaku,


"Ah susah juga! Ternyata belum ketemu kalau ini seberang kota, Hm kalau di kota itu apa ketemu ya?" dalam hatiku,


"namun bukannya kota itu banyak tahu tentang papaku? Tunggu sebentar wajahku mirip papaku apa mereka tahu? Hm .." lanjut ku dalam hatiku, sambil berpikir


Tok! Tok!


"Arief kamu tidur?" tanya Farah sambil mengetuk pintu di kamarku.


"Ya, aku tidak tidur ngomong-ngomong siapa di sana?" tanyaku,


"Ini kakak Farah! Oya kamu mau di sana ada sawah mau lihat?"


Aku terperanjat, lalu menurunkan dari kasurku, lalu membuka pintunya, di sana kakak Farah di depan mataku


"Mauu kak!" seruku, aku belum pernah ke sawah, cuma tahu kelautan tempat ia lahir bersama Risa, mamaku.


"Okeh ayo bersiap-siap! berganti baju Oya kamu tidak capek?" tanya Farah.


"Tidak kak, ayo tunggu sebentar ya!" seruku lalu masuk kamar lagi aku bergegas berganti baju dan lalu keluar dari kamar, berlari tempat kakak Farah menunggu sambil menggendong bayi sambil membawa kereta gendong. Di sana ada Kakak Yuyun Oya di mana Fano? Saat ini Fano di panggil oleh temannya untuk memperbaiki mobil milik temannya ada di seberang.


Aku bergandengan tangan dengan tangan kakak Yuyun, jalan-jalan bersama kakak Farah juga, biar bayi tidak rewel usia cukup 1 bulan boleh jalan-jalan, cuma seperempat menelusuri jalan, untungnya kakak Farah pake topi karena cuacanya panas, bayi 1 bulan dengan kereta dorong,


Ketika sampai di sana, Aku gembira di sana ada sawah-sawah, ada pekerja petani sedang memanen padi, aku senang, ingin mencoba lumpur bareng kakak Yuyun. Aku sedang asyik-asyiknya namun tiba-tiba


Ada seorang anak kecil seusiaku jatuh, saat ia berlari tadi.


'Huaah! Aku ingin ketemu ayah!" seru anak kecil. Di sampingnya ada kakaknya baru 11 tahun. "Sudah cukup dik! Ayah pasti pulang tenang saja! pasti pulang!" seru Kakaknya mencoba menghiburnya,


"Tapi kakak bilang ayah pulang ? sampai kapan! Sudah tiga tahun kak!"


"Tenang, dik ayah pasti pulang!" seru Kakak berusaha menghibur adiknya.


sang adik tidak menggubris, "Sampai kapan! Ibu malah bawa lelaki itu! Ibu benar-benar jahat! Malah bawa orang itu seakan jadikan ayah kita memangnya ayah meninggal, tidak kan!" teriak sang adik.


"Itu.." ucap sang kakak terpotong,


karena Aku menghampiri mereka berdua setelah main lumpur, "Hallo, maaf ganggu aku mendengar semuanya, tenang saja ayahmu pasti pulang benar kata kakakmu"


"Kamu siapa? Seenaknya gitu! Kamu pasti beruntung punya ayah! Aku yakin bajumu baik-baik beda kami miskin! Seenaknya gitu! Kamu bisa bertemu ayahmu kapan saja kan!" teriak sang Adik.


Deg! Itu.. Dalam hatiku Aku meneteskan air mataku.


"Papa!" suara hatiku.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2