Aku Harus Mencari Papa!

Aku Harus Mencari Papa!
Episode 8, Pantaskah aku bertemu papa?


__ADS_3

"Kamu siapa? Seenaknya gitu! Kamu pasti beruntung punya ayah! Aku yakin bajumu baik-baik beda kami miskin! Seenaknya gitu! Kamu bisa bertemu ayahmu kapan saja kan!" teriak sang Adik.


Deg! Itu.. Dalam hatiku Aku meneteskan air mataku.


"Papa!" suara hatiku


"Hey bocah! Seenaknya kamu ngatain Arief hah?! kamu paling beruntung di bandingkan Arief ini! Tahu gak bocah Arief ini——" ucap Kakak Yuyun marah, aku mencegah kakak Yuyun sambil menggelengkan.


"Sudah kak! Tidak apa-apa!" ucapku sesenggukan sambil menangis tidak bisa berhenti, Kakak Yuyun melihatku tidak tega,


"baiklah, ayo kita pulang saja ya!" ucap kakak Yuyun bergandengan tanganku air mataku keluar, kakak Yuyun menghiburku sambil menyamperin kakak Farah di sana yang sedang duduk dekat pohon, Kakak Farah sedang menyibukkan mau meniduri bayi Q sambil menyanyikan lagu.


"Kak Farah!"


Kakak Farah menolehkan kepalanya ke kiri melihat adiknya dan Arief sudah selesai main.


"Sudah selesai Yuyun?" tanya kak Farah dengan lembut, Yuyun menganggukkan dan aku ikut membalas hal sama dengan kak Yuyun. Aku sudah hapus air mataku agar kak Farah tidak curiga setelah tadi kakak Yuyun sudah menghiburku.


"Ya, Oya sedari tadi kaki kalian sampai kotor tuh! Kalian tidak sadar?"


Aku dan Kak Yuyun kaget lupa kaki kami kotor karena tadi kami saja main Lumpur.


Aku berlari menuju tempat air bisa membersihkan kaki buat pertani. Kakak Yuyun menyusulku.


Setelah selesai membersihkan kakiku, kakak Yuyun juga, kemudian aku dan kakak Farah menggeser kereta bayi agar bisa jalan tidak batunya bisa lurus, bareng kakak Yuyun. Namun tiba-tiba kakak Yuyun bilang kami


"Maaf, aku lupa ada barang ketinggalan nanti aku menyusul ya!" ucap Kak Yuyun.


Aku dan kakak Farah saling memandang, sambil menganggukkan.


...©©©©©...


Yuyun sedang mencari kakak beradik itu, sambil marah. rasanya Aku ingin menjewer telinga kakak beradik itu! Dalam hati Yuyun. Meskipun kakak itu setahun muda dari Yuyun. Tapi Yuyun masih kesal sekaligus marah.


Ketika Yuyun menemukan kakak beradik di sana sedang makan jajan di warung.


"hey kalian di sana, aku bicara dengan kalian!" teriak Yuyun. Kakak beradik kaget ternyata Yuyun kembali. sang adik ketus berkata


"Buat apa ah! Anak itu pasti beruntung bisa bertemu ayah kn!"


"Sudah dek! Jangan gitu!" ucap sang kakak tidak enak seperti itu adiknya masih saja ketus pada orang lebih tua bagaimanapun walaupun sang kakak setahun muda dari Yuyun.


"Hey! Kalian benar-benar! Ayo kita bicara di sana sepi!" ucap Yuyun sambil mencengkram erat kuat tangan kakak beradik. Tentu saja kak beradik kaget tangannya yuyun kuat membuat tangan mereka berdua kesakitan.

__ADS_1


"Duh sakit! kamu kenapa sih!" teriak sang adik. sang kakak juga hal sama merasakan sakit. Pemilik warung melihat bengong ingin mencegah namun Yuyun melihat pemilik warung.


"Maaf bi!, kedua anak ini nakal! Seenaknya tidak sopan aku memberi pelajaran mereka berdua! Jadi bibi jangan tolong bantu mereka berdua! Maaf keributan! Permisi!" ucap Yuyun sambil mencengkram erat tangan kedua kakak beradik itu sambil berlari menuju ke tempat sepi. Pemilik warung melongo


ketika sampai tempat sepi barulah Yuyun melepaskan tangannya dengan tangan kedua kakak beradik itu.


"sakit kamu kenapa sih! Kamu benar-benar membuat tanganku sakit! Yakan kak!" kata Sang adik dengan ketus.


sang kak terdiam saja, memang tangannya sakit jarang sekali perempuan kuat heran aku pikir sang kakak.


"dari tadi kamu marah-marah gitu! Ckck ayahmu ngajar kamu seperti itu?" ujar Yuyun heran sang adik begituan.


Sang adik kesal, "Enak saja ! Kamu ngomong apa? Apa anak itu? pasti beruntung sekali dia!"


"Kamu benar-benar ya! Aku ingin menjewer telinga kamu! Kamu Seharusnya di ajari sopan santun! Dengar ya! Kalian sendiri malah beruntung bisa penuh kasih sayang dari ayah kalian! Sampai ayahmu pergi kerja kan? Aku yakin ibumu tidak setia tidak tahan jadi ingin menikah dengan ayah tirimu kan? Pasti ayah tirimu tidak menyenangkan bagi kalian kan?" ucap Yuyun marah.


Deg! Tentu saja, kakak beradik terciut


memang benar semenjak ibunya menikah ayah tirinya, setelah itu ayah tirinya suka marah-marah sambil teriakan pada kakak beradik belikan rokok dan alkohol itu, sesuatu insiden ayah tiri mabuk sang kakak melindungi sang adik saat itu ayah tiri melempar botolnya arah ke kakak beradik hingga sang kakak terluka, ibunya kemana? Ibunya kerja tapi saat sang kakak cerita mengenai ayah tirinya pada ibunya tapi ibunya tidak percaya memilih percaya pada ayah tirinya, semakin hari-hari tidak menyenangkan ibunya sudah berubah beda cuek sama anak-anaknya hingga emosi sang Adik habis pingin keluar dari rumah, sang kakak menyusul, dan menghibur sang adik, sang adik bersikeras ingin ayah kandungnya kembali tidak mau ayah tirinya itu.


"Gimana? Tebak aku benar kan?" tanya Yuyun.


Kakak beradik diam saja,


"Dengar ya! Kalian malah beruntung di bandingkan Arief! anak itu tidak pernah kasih sayang dari ayah kandungnya sejak bayi!" ucap Yuyun sedih


"mana mungkin!" ucap sang adik.


Yuyun kesal sambil menggeleng kepalanya benar-benar deh kakak beradik ini! Dalam hati Yuyun.


"Tentu benar! Arief ini masih sekarang mencari ayah kandungnya! Ingin bertemu ayahnya! Dia belum pernah merasakan bersama ayah kandungnya! Tapi sayangnya Arief tidak tahu siapa ayah kandungnya bahkan ibunya sendiri juga! Ya begitulah jadi kalian beruntung jangan samain dengan Arief! Memang baju Arief bagus, itu di kasih ibunya. Sudah sejak bayi Arief tidak pernah merasakan sayang dari ayah kandungnya! Mengerti kan?!" ucap Yuyun sambil air matanya keluar kasihan penderitaan Arief itu keinginannya harus bertemu papanya.


Sang kakak diam, sambil menolehkan kepalanya di samping adiknya, adiknya diam setelah mendengar Arief itu.


"dek, suatu kita bertemu lagi dengan ayah kita, benar kata Yuyun itu, kita beruntung tapi tadi siang, aku malah diam tidak mencegah kamu harusnya aku memberi pelajaran padamu! Aku memang pengecut ya dek'' ucap sang kakak berbisik telinga sang adik. Sang adik diam benar kata Kakaknya.


"Sekarang mengerti kan!" ucap Yuyun.


kakak beradik mengangguk,


"Maaf ya, aku tidak tahu itu aku harus minta maaf pada Arief itu!" ucap sang adik usianya sama Arief itu bersalah.


"Minta maaf pada Arief bukan aku! Oya sudah sore nih! Sebentar lagi sudah malam cukup saja aku beritahu kalian besok kalian minta maaf pada Arief besok okeh?" ucap Yuyun sambil melihat langit mulai sebentar lagi malam.

__ADS_1


"Ya okeh pasti kak! tapi bertemu di mana?'' tanya sang adik.


"Seperti biasa saja, di tempat sawah saja!" ucap Yuyun, sang adik mengangguk dan kemudian Yuyun pamit pulang pada kakak beradik itu.


Ketika sampai di rumah keluarga A Tani's


...©©©©©©...


Setelah sarapan malam, sedari tadi Aku diam sedang duduk dekat jendela, bibi tani melihatku sambil membereskan piring-piring menyerahkan pada anaknya. Bibi tani menghampiri aku.


"Sayang, kamu tidak apa-apa nak?" tanya bibi tani. Aku diam saja tidak bisa menceritakan masalahku pada bibi tani, mengenai tadi siang kakak beradik menyinggung soal papaku namun entah kenapa aku menangis, hiks hiks


"Arief kenapa kamu menangis? Kamu pasti punya masalah kan? Bisa menceritakan pada bibi kan?" tanya bibi tani mencoba menghiburku.


Aku menggeleng kepalaku, namun..


"bibi, pantaskah aku bertemu papa?" tanyaku pada bibi tani, air mataku meneteskan air masih mengalir.


"Arief!" bibi tani menenangkan hati aku sambil pelukan aku sambil mengelus rambutku,


Aku masih menangis, pantaskah aku bertemu papa?


Beberapa jam, aku masih sesenggukan


"sayang, bibi mau bikin minuman jus, mau jus apa? Biar kamu lega gimana?" tanya bibi tani.


"Jus apel" jawabku singkat, bibi tani tersenyum sambil mengelus rambutku dan bibi pergi ke dapur.


Aku menolehkan wajahku di hadapan di jendela sambil melihat langit.



Di sisi lain suatu tempat...


"Sial aku tidak beruntung, man kamu benar-benar menang! Aku tidak bisa bermain denganmu!" ucap pria berjas ketus merupakan sahabat pria kacamata baru saja selesai kerja, saat ini ia main catur dengan pria kacamata. Tapi pria berjas tidak menang,


"Hah! Ngomong-ngomong kamu sedang apa melihat pemandangan di sana? Ah! Pemandangan tidak apa-apa tuh!" ucap pria berjas berceloteh, Pria kacamata tersenyum simpul membuat pria berjas jengkel.


"Pemandangan di sana indah kamu tidak mengerti apa pun''


pria berjas memutarkan bola matanya malas, ia malas tanggapi komentar sahabatnya dari mulut pria kacamata.


__ADS_1


Siapakah pria itu?


Bersambung...


__ADS_2