Alicia, Agen Cinta

Alicia, Agen Cinta
23. Di Buntuti


__ADS_3

Alicia sampai di kantor, dia segera masuk ke dalam dan langsung menuju ruangannya. Di sana sudah ada Nindy dengan Reina, ternyata bukan sekedar bicara di telepon. Tapi juga memang Reina dan Nindy menunggunya di ruangannya.


"Kamu kok ngos-ngosan begitu? Ada apa?" tanya Reina, bos Alicia.


"Huh, kupikir mbak Reina itu bohong mau rapat juga sama aku." kata Alicia.


"Ya, ini mengenai klien yang bertindak kurang ajar pada agen kita. Kita harus membahasnya. Karena ada dua junior mendapatkan pelecehan dari kliennya itu, sangat prihtin sih. Makanya saya mau membicarakannya dengan kalian berdua sebagai senior di sini." kata Reina.


"Iya mbak." kata Alicia.


"Jadi, aku ingin mencari agen laki-laki yang nantinya menangani klien laki-laki lagi. Kalau agen perempuan klien laki-laki, resikonya yaitu. Kalau tidak di lecehkan ya dia suka sama agen kita. Seperti kamu, Alicia." kata Reina lagi.


Alicia tersenyum malu, ternyata dia di bahas juga. Nindy ikut tersenyum meledek.


"Asal jangan Nindy yang di sukai oleh suami orang saja." kata Alicia, dia membalas ledekan Nindy itu.


"Ya ya benar itu. Aku sih tidak masalah jika ada klien akhirnya suka sama agen kita, tapi setidaknya kan punya trek record yang baik kliennya. Dan kupikir pacar Alicia itu memang baik." kata Reina lagi.


"Tentu saja mbak, dia bucin sama Alicia." kata Nindy masih terus meledek Alicia.


"Itu bagus, tapi jangan sampai mengganggu pekerjaan saja." kata Reina lagi.


"Tidak kok mbak. Dia mengerti pekerjaanku ini, banyak menemui klien laki-laki. Tapi dia juga suka curiga dengan klien yang kebetulan pernah ketemu. Dan memang benar sekali kecurigaan dia, ternyata aku dapat klien yang aneh." kata Alicia.


"Maksudmu Aditya?" tanya Nindy.


"Ya, dan sekarang aku baru saja bertemu dengannya. Sedang bekerja sesuai permintaannya, tapi dia justru datang ke tempat kafe itu. Menemuiku dan mengajak makan siang bareng. Jika bukan karena Nindy meneleponku tadi, dia memaksa mau mengajak makan siang bareng." kata Alicia.


"Nah, ini yang mau aku bahas. Dan kurasa aku sudah bulat untuk mencari agen laki-laki. Menurut kalian, bagaimana?" tanya Reina.


"Aku setuju mbak." jawab Alicia cepat.


"Ya, aku juga setuju mbak. Biar nanti klien perempuan di tangani oleh klien perempuan lagi, dan laki-laki sama laki-laki lagi." kata Nindy.


"Oke, kalian siapkan berkas pengumuman dan sebarkan ke situs kita. Butuh lima orang kurasa cukup kan. Dan kita bisa seleksi mereka, tentukan jadwal seleksinya juga." kata Reina.


"Baik mbak." ucap Alicia dan Nindy berbarengan.


Setelah memberi perintah seperti itu, Reina pun keluar dari ruangan Alicia itu. Nindy bersiap membuat brosur yang akan dia sebarkan di situs agennya.


"Aku setuju dengan mbak Reina itu, jadi merasa takut setelah mengalami sendiri ketika berhadapan dengan klien seperti Aditya itu." kata Alicia.

__ADS_1


"Kamu sudah beritahu pak Bara mengenai ini?" tanya Nindy.


"Sebelum aku menghubungimu, aku sudah memberitahu dia. Tapi ponselnya tidak aktif, kenapa dia tidak aktif?" ucap Alicia kini penasaran pada kekasihnya.


"Mungkin dia sedang rapat."


"Benar juga."


Alicia dan Nindy berdiskusi masalah calon agen baru laki-laki. Mereka asyik mengobrol dan diskusi sampai waktu pulang tiba. Alicia melihat ponselnya belum ada panggilan masuk dari Bara, dia gelisah kenapa laki-laki itu tidak juga menghubunginya.


"Al, aku pulang duluan ya." kata Nindy.


"Oke, aku mau tunggu barangkali Bara datang kemari." kata Alicia.


Alicia masih di kantornya, sambil menunggu dia mengutak-atik laptop untuk membuat pengumuman penerimaan agen baru di agensi cinta milik Reina.


Satu dering ponsel masuk dengan suara keras. Alicia belum mengangkatnya, dia masih serius meneliti semua bahan yang sudah siap di luncurkan di situs agensinya.


Hingga suara dering ponselnya berhenti sendiri. Alicia terus sibuk memeriksa dan mengedit baner perekrutan agen.


"Sudah beres nih, Nindy buru-buru membuatnya jadi ada yang kurang." kata Alicia bicara sendiri.


"Siapa ini dengan privat number?" ucap Alicia.


Dia membuka pesan yang baru masuk, di bacanya hanya ada satu kata saja. Alicia heran, siapa yang iseng mengiriminya pesan tidak jelas itu.


"Sudahlah, mungkin orang tidak di kenal salah mengirim ke nomorku." gumam Alicia lagi.


Dia lalu mengambil tasnya, mematikan laptonya dan menyimpan laptop itu di laci bawah mejanya. Setelah semua sudah beres, Alicia pun keluar dari ruangannya dan segera keluar dari gedung kantornya.


Dia merasa ada seseorang yang mengintainya sejak keluar dari kantornya. Meski ada satpam di sana, sepertinya satpam tidak tahu ada orang yang menintai Alicia. Dia masuk ke dalam mobilnya lalu menjalankan mobil, langsung melajukannya untuk pulang ke rumah.


Tapi kembali Alicia curiga ada yang mengikutinya dari belakang. Sebuah motor hitam dengan pengendara juga berpakaian hitam. Alicia melihat kaca spion di depan dan benar adanya ada motor hitam mengikuti mobil Alicia.


"Siapa sih dia. Kenapa mengikutiku terus." kata Alicia.


Jalanan masih ramai orang-orang berkendara untuk pulang ke rumah seperti dirinya. Dia mencoba menghubungi Bara, dan ternyata terhubung. Alicia merasa lega, dia menelepon Bara.


"Halo, Bara?"


"Halo, kamu sudah pulang?"

__ADS_1


"Lagi di jalan, kenapa tadi di telepon tidak di angkat?" tanya Alicia.


"Maaf, tadi memang sedang rapat. Ada apa sayang?"


"Aku sepertinya di ikuti dari belakang." kata Alicia.


"Siapa yang mengikutimu? Kamu di mana?" tanya Bara cemas.


"Masih di jalan, tapi sebentar lagi melewati jalan sepi setelah perbatasan." jawab Alicia.


"Kamu putar-putar dulu sekitar jalan ramai, atau kamu ke apartemenku saja. Kamu menginap di sana."


"Di mana?"


"Di jalan jenderal Sudirman. Kamu kesitu saja, aku akan datang kesana. Tapi kamu baik-baik saja kan?" tanya Bara.


"Iya, aku baik-baik saja."


"Ya sudah, kamu kesana saja. Aku sudah jalan menuju apartemenku."


"Oke."


Klik!


Alicia pun melajukan mobilnya menuju apartemen Bara yang sudah di beritahu itu. Dia masih melihat motor hitam itu mengikutinya, bahkan motor tersebut melajukan dengan cepat agar bisa mencegat Alicia.


Tanpa pikir panjang, Alicia langsung tancap gas untuk menghindari motor hitam itu. Dia benar-benar takut dengan pengemudi motor hitam yang akan menghalanginya di jalan. Mungkinkah dia perampok atau pejambret, atau memang dia penjahat yang memang ingin mencelakainya.


"Kenapa ada orang yang mengikutiku? Biasanya aku aman dan tidak ada yang menerorku seperti ini." kata Alicia.


Dia berpikir, kira-kira siapa yang membuatnya jadi tidak nyaman dalam berkendara itu. Dan tebakannya Alicia, itu mungkin Adidya.


Tiba-tiba mobil Alicia oleng ke samping, dia membanting stir ke kiri untuk menghindari mobil yang di depannya yang hendak menabrak mobilnya. Mobil Alicia membentur pinggir trototar jalanan. Kepala Alicia membentur kemudi mobil, dia sempat melihat orang yang mendekati kaca mobilnya.


"Alicia!"


_


_


********************

__ADS_1


__ADS_2