
Perlahan tapi pasti, kaki Alicia sembuh meski belum total. Tapi dia sudah bisa jalan tanpa tongkat atau kursi roda. Hanya saja dia tidak bisa menggunakan high heels, jadi dia harus memakai sandal atau pun sepatu flat.
Bara bahkan mewanti-wanti agar tidak dulu memakai sepatu high heels. Dia juga memastikan jika Alicia bekerja harus ada seseorang yang dia sewa untuk menjaga Alicia di depan kantornya. Tapi belum di bolehkan pulang ke rumahnya, meski Alicia memaksa.
"Aku ngga enak di sini terus Bara, kurang bebas." kata Alicia.
"Jika kita menikah kan apartemen ini milikmu juga." kata Bara.
"Tapi aku hanya ingin tinggal di rumah, jika pun menikah tetap aku ingin tinggal di rumah. Bukan di apartemen." kata Alicia.
"Jadi kamu ingin tinggal di rumah?" tanya Bara.
"Ya."
"Bagaimana jika tinggal di rumah papa?"
"Tidak. Aku tidak mau!" kata Alicia.
"Kenapa?" tanya Bara.
"Memangnya kamu miskin, sampai menikahiku harus tinggal di rumah papamu?" tanya Alicia.
"Ya ampun, Alicia. Kamu menyindirku?"
"Tidak. Hanya saja, aneh. Orang kaya, masa istrinya harus tinggal serumah dengan mertuanya. Pikirkan baik-baik tentang perasaan istrimu nanti. Dan lagi ya, harga dirimu di mana jika itu kamu lakukan." kata Alicia lagi.
"Cukup Alicia! Jangan membuatku kesal. Aku hanya mengetesmu saja, kalau nanti menikah tentu saja aku siapkan rumah untukmu." kata Bara kesal pada Alicia.
"Bagus kan, sebaiknya seperti itu. Kamu tahu, dulu mamaku pernah tinggal di rumah mertuanya baru menikah. Satu tahun tinggal di rumah mertua mama, yaitu nenek dari papaku. Tapi perlakuan mertua mama itu tidak baik sama mamaku, akhirnya mama punya anak yaitu aku. Beliau berpesan, jangan mau jika harus tinggal di rumah mertua. Calon suamimu harus menyiapkan rumah sebelum menikah, jadi jika sudah menikah bisa langsung menempati rumahnya. Tanpa harus tinggal dulu di rumah mertua, ya meski tidak semua mertua itu buruk kelakuannya. Tapi setidaknya seorang suami itu harus tahu, jika menantu dan mertua terkadang ada tidak cocoknya." kata Alicia menceritakan kisah mamanya almarhum.
Bara menarik nafas panjang, dia menatap Alicia. Sebenarnya apa yang di katakan Alicia itu benar adanya. Seorang suami jika dia mampu membeli rumah untuk istrinya, lakukan saja. Jangan menunggu punya rumah tapi istrinya harus tinggal di rumah mertuanya, meski itu tidak buruk juga.
"Maafkan aku, aku akan menyiapkan rumah untukmu. Tidak akan aku tempatkan istriku nanti di rumah papaku. Sejak dulu memang aku akan menyiapkan rumah untuk istriku kelak." kata Bara.
"Aku juga minta maaf, Bara. Bukan aku menuntutmu, hanya saja aku ingat dengan pesan mamaku. Ya kebetulan aku dapat pacar kaya raya, jadi tidak mungkin nanti menikah kelak akan tinggal di rumah mertuanya. Heheh." kata Alicia tertawa kecil.
Bara tersenyum, dia mengecup pipi Alicia dan mendekapnya. Sungguh dia akan menikahi Alicia dalam waktu dekat. Setelah semuanya beres tentunya masalah dengan Aditya.
"Kakimu sudah lebih baik kan?" tanya Bara.
"Ya, aku sudah bisa jalan." jawab Alicia.
"Besok aku bawa kamu ke rumahku, bertemu dengan papa dan mamaku. Mau kan?" tanya Alicia.
"Ya, tidak masalah. Aku juga ingin kenal dengan keluargamu." ucap Alicia.
__ADS_1
Bara senang dengan jawaban Alicia, dia ingin Alicia lebih dekat dengan keluarganya. Terutama dengan mamanya dan adiknya, karena sama-sama perempuan. Begitu pikir Bara.
_
Setelah melakukan kontrol di rumah sakit, Bara menepati janjinya untuk membawa Alicia ke rumahnya. Dia juga sudah memberitahu kedua orang tuanya agar berada di rumah saat mengenalkan Alicia pada mereka.
"Bara, tolong nanti jangan ceritakan tentang pekerjaanku ya." kata Alicia.
"Lho, kenapa sayang?" tanya Bara.
"Ya, ngga apa-apa sih. Aku malu saja, kok pekerjaanku begitu." kata Alicia.
"Ngga apa-apa. Yang penting pekerjaanmu halal kok, ngga mencuri kan." kata Bara membelokkan mobilnya.
"Ya iya sih, tapi aku malu saja." kata Alicia ragu.
"Sudah, jangan di pikirkan. Jika mereka tidak menanyakan tentang pekerjaanmu, ya aku tidak akan membahasnya. Tapi kalau mereka tanya, aku jelaskan secara garis besarnya saja. Oke?"
"Ya, baiklah." kata Alicia.
Cup.
Bara tersenyum dan mengecup pipi Alicia. Mobil pun memasuki rumah besar milik papanya Bara, satpam membukakan pintu gerbang. Mobil terparkir di halaman besar.
Tampak Alicia takjub dengan rumah besar itu, jika seorang bos tidak punya rumah sebesar itu. Tentu tidak aneh lagi, dan Bara juga sepertinya nyaman di rumahnya di banding tinggal di apartemennya sendiri.
"Iya." jawab Alicia dengan senyum kaku.
Mereka pun keluar, Bara menggandeng tangan Alicia. Berjalan pelan untuk mengimbangi kaki Alicia yang baru saja sembuh. Mereka masuk ke dalam rumah, di sambut oleh pembantu rumah Bara.
"Papa sama mama ada kan bi?" tanya Bara.
"Ada den." jawab pembantunya.
Bara mengajak Alicia untuk duduk di ruang tamu, pembantu kembali lagi ke dapur. Dia akan menyiapkan cemilan untuk tamu majikannya itu. Tapi bukan tamu biasa, mungkin itu pacar barunya Bara. Begitu pikir pembantu Bara.
"Sayang, kamu duduk di sini dulu ya. Aku panggil mama dan papaku." kata Bara.
"Iya."
"Jangan takut."
"Heheh, kamu itu. Sudah sana pergi." kata Alicia dengan sikap Bara itu merasa malu.
Bara tersenyum, lalu dia pun pergi meninggalkan Alicia. Dia menuju kamar papanya, mengetuk pintunya.
__ADS_1
Sedangkan Alicia, dia sangat grogi. Ini adalah pertama kali di ajak ke rumah pacarnya. Karena sebelumnya dia belum ketika punya pacar dulu, hanya seumur jagung lalu putus karena mantan pacarnya tidak suka dengan pekerjaannya.
Alicia menatap sekeliling ruang tamu itu, dia benar-benar kagum dengan ornamen bangunan rumah papanya Bara. Sangat estetik, dia jadi merasa minder. Rumahnya saja tidak ada seperempat rumah Bara, jadi Alicia merasa malu.
Apa lagi nanti tanggapan kedua orang tua Bara tentangnya?
Pikiran-pikiran buruk muncul di benaknya, tapi kemudian dia membuangnya dengan menarik nafas panjang. Dia bukannya takut akan hinaan, tapi karena penerimaan kedua orang tua Bara.
"Oh, jadi dia pacar baru kamu sayang?" tanya seorang perempuan berdiri menatap Alicia yang menunduk.
"Iya ma. Cantikkan?" tanya Bara dengan senyum bangganya.
Alicia berdiri, dia melangkah mendekat perempuan yang di anggap mama sambung Bara. Tersenyum pada perempuan berusia empat puluh lima lebih itu dan menyalaminya.
"Siang tante, saya Alicia." kata Alicia.
"Namanya Alicia? Waah, bagus ya." kata mamanya Bara.
"Papq kok belum kesini ma?" tanya Bara.
"Kamu susul saja, mama mau mengajak mengobrol Alicia dulu." kata mamanya Bara.
"Oke ma."
Bara pun pergi dari ruang tamu itu untuk memanggil papanya yang masih di dalam kamarnya. Sedangkan Alicia merasa gugup karena mamanya Bara memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah, lalu tersenyum.
"Emm, cantik juga. Kamu Alicia pacar barunya Bara ya?" tanya mamanya Bara.
"Iya tante." jawab Alicia tersenyum kaku.
"Sejak kapan?" tanyanya lagi.
"Emm, sejak empat bulan lalu tante." jawab Alicia lagi.
"Waah, sejak Bara batal tunangan ya. Kapan kamu kenal Bara?" tanya mamanya Bara lagi.
"Enam bulan lalu."
"Oh ya? Kok bisa cepat ya dia suka sama perempuan. Setelah putus tunangan, dia sudah punya pacar bari. Apa karena baru kenal kamu, dia memutuskan pertunangan? Atau jangan-jangan dia batal tunangan karena kenal sama kamu?"
"Ma, Alicia tidak ada kaitannya dengan batalnya pertunangan. Jangan bahas masalah itu, mama tahu sendiri tentang video itu kan?" kata Bara mencegah mamanya menuduh Alicia sebagai penggoda dirinya.
Alicia diam, dia menunduk. Ternyata benar juga, seorang perempuan apa lagi seorang ibu akan lebih mecurigai dan terlalu rumit untuk menentukan seorang menantu dari anak laki-lakinya. Alicia tahu itu.
_
__ADS_1
_
*******************