Alicia, Agen Cinta

Alicia, Agen Cinta
42. Kekecewaan Bara


__ADS_3

"Halo ma?"


"Bara, kamu di mana?" tanya mama sambungnya di seberang sana.


"Aku ada di restoran. Kenapa ma?" tanya Bara.


"Oh, kamu di restoran. Sedang bertemu klien?"


"Ya ma. Memang kenapa?"


"Tidak apa, mama hanya mau mengingatkan dengan janjimu itu."


"Ya ma, aku tidak lupa." kata Bara.


"Ya udah, mama tutup teleponnya."


"Ya."


Klik!


Bara meletakkan ponselnya di dasbor. Dia akan pergi ke kantornya, melihat isi tas Alicia dan beberapa rekaman di dalam ponsel. Penasaran apa yanb Alicia dapatkan dari pembicaraan mamanya dengan teman-temannya di restoran itu.


Tapi, ada flashdish satu lagi. Bara heran kenapa ada flashdish juga, apakah ada rekaman lain selain di restoran itu?


Bara melajukan mobilnya dengan cepat, dia tidak sabar ingin segera sampai di kantor dan membuka rekamannya. Sedang fokus mengendarai mobilnya, ponsel Alicia berbunyi. Tampak di sana nama Nindy yang menelepon.


"Halo, maaf Nindy. Ponsel Alicia ada padaku." kata Bara.


"Oh, ponsel Alicia ada pada pak Bara?"


"Ya, karena sesuatu hal aku ambil ponselnya." kata Bara.


"Baiklah, nanti aku tunggu Alicia di kantor saja." kata Nindy.


Klik!


Sambungan terputus, Bara terus melajukannya hingga dalam waktu setengah jam dia sampai di kantornya. Langsung keluar dengan tergesa, masuk ke dalam lift dengan menenteng tas Alicia.


Orang-orang melihat Bara menenteng tas perempuan mereka heran, kenapa Bara membawa tas perempuan?


Tapi Bara tidak peduli, dia ingin cepat melihat isi rekaman dengan jelas dan tenang. Apa sebenarnya maksud papanya menyelidiki mamanya itu, kenapa dia menyewa Alicia. Itu yang ada di benak Bara.

__ADS_1


Sampai di gedung di mana ruang kantornya berada, dia langsung masuk. Tanpa peduli Neti, sekretaris ingin memberitahu tentang jadwal siang ini.


"Nanti saja bicaranya, Neti. Saya sibuk." kata Bara.


"Baik pak."


Neti pun diam, dia menurut apa kata bosnya. Sedangkan Bara masuk dan duduk di kursinya, mengambil laptopnya lalu menghubungkan ponsel ke laptop dengan kabel data. Mencari beberapa file lalu membukanya, banyak sekali rekaman atau foto-foto yang belum sempat Alicia hapus.


Ada juga foto Jessi di sana, tapi langsung Bara hapus. Karena dia sendiri merasa jijik melihat foto Jessi saat ini. Mencari lagi rekaman baru, dengan menandai tanggal pengambilan rekaman atau foto.


Saat melihat ada beberapa foto di sana, Bara mengklik foto-foto itu. Betapa terjejutnya dia melihat ibu sambungnya sedang di peluk oleh laki-laki lain, dan itu seusia dirinya. Beberapa kali dia slide foto-foto tersebut, darahnya mendidih tiba-tiba.


Tangannya mengepal erat karena hatinya begitu marah. Kini dia buka rekaman video, ada beberapa video termasuk yang tadi itu. Pertama dia putar video yang sama tanggal pengambilannya dengan foto-foto itu.


Saat di putar, Bara masih biasa. Tapi ketika melihat dalam sebuah ruangan, dia mendengar dan melihat dua pasang kaki menggantung di sofa. Keduanya seperti melakukan hubungan intim di atas sofa, dengan beberapa suara menjijikan bagi Bara.


"Aaargh! Kenapa jadi seperti ini?!" teriak Bara.


Dia mengusap wajahnya karena marah. Matanya kembali melirik ke laptopnya, melihat kedua sejoli antara tante-tante dan berondong itu sedang melakukan hal asusila dalam sebuah cotage. Lama mereka melakukannya, hingga keduanya pun tertawa senang lalu menuju lebih dalam.


"Kenapa mama melakukan itu? Hik hik, apa dia tidak puas dengan papa?" ucap Bara lirih.


Dia berpikir ke belakang, saat dirinya masih kecil. Jadi anak laki-laki yang tampan dan sangat di sukai oleh orang-orang, terutama keluarga mama sambungnya. Mamanya, nyonya Irma sangat menyayanginya. Hingga dewasa pun masih menyayanginya.


Pernah suatu kali dia melihat mamanya masuk ke dalam kamarnya, saat dia sedang memakai baju di kamar ganti. Dia kaget, tapi mamanya hanya diam saja. Menatapnya lain, Bara pikir itu hal biasa.


Tapi kemudian mama sambungnya itu keluar dan menyuruhnya segera turun untuk sarapan pagi.


Kini Bara membuka video kedua, dia tidak melanjutkan melihat video yang ada di cotage itu. Beralih pada video berikutnya, dia melihat dalam video mamanya kembali di peluk oleh berondong lagi, lalu mereka berciuman.


Bara memejamkan matanya, dia benar-benar marah apa yanh di lakukan oleh mama sambungnya itu. Dia alihkan lagi, sebuah rekaman lagi. Rekaman percakapan, Bara putar dan mendengarkan dengan serius percakapan nyonya Irma dengan berondongnya yang menyebutkan kalau dia di manfaatkan oleh Irma, mama sambungnya.


Bara menggebrak meja, dia benar-benar marah. Ingin dia mengamuk di dalam kantor itu, tapi kemudian dia tahan. Ada satu rekaman yang belum dia lihat, dia klik lagi satu rekaman sewaktu di restoran.


Dan kini Bara benar-benar terkejut dengan apa yang ada dalam rekaman itu. Sebuah percakapan membuatnya ngilu dan darahnya benar-benar mendidih. Dia mengusap meja kerjanya, lalu berdiri.


Berjalan bolak balik kesana kemari. Pikirannya kacau, ini kedua kalinya dia merasakan kekecewaan yang dalam pada orang yang dia sayangi selama ini.


"Jadi mama memanfaatkanku? Selama bertahun-tahun mengasuhku itu, dia memanfaatkanku? Kenapa dia lakukan itu? Kenapa dia sampai tega padaku?" ucap Bara dalam kebingungannya.


"Mama menyukaiku? Apa dia waras menyukai anak sambungnya sendiri?" ucao Bara tidak mengerti dengan jalan pikiran mamanya.

__ADS_1


"Dia tidak pantas untuk papa! Dia harus di usir dari rumah papa!" ucap Bara dengan penuh emosi.


Bara tertunduk, dia duduk lemas karena sejak tadi marah dan banyak meluapkan emosinya. Kini dalam diamnya dia menangis, memukul-mukul lantai di mana dia duduk. Ingin dia meraung kencang, tapi pikirannya masih waras.


Tiba-tiba pintu terbuka. Terlihat pak Hengky masuk ke dalam ruangan Bara. Dia melihat anaknya sedang bersimpuh dan menangis sedih dan kecewa.


Pak Hengky merasa kasihan pada anaknya itu, dia pun mendekati Bara. Berdiri di depannya lama, Bara mendongak. Dengan derai air matanya itu dia terus menangis dan memanggil papanya.


"Papa, apa sesakit ini di khianati oleh orang yang aku cintai dan sayangi pa? Apa seperti ini sakitnya pa? Hik hik hik." ucap Bara dengan tangisannya.


Pak Hengky berjongkok, dia memeluk anaknya itu. Rasa bersalah karena membiarkan istrinya itu berbuat di luar kendali, dia bergaul dengan orang-orang yang salah. Bahkan kini memanfaatkan anaknya, memanfaatkan kasih sayang Bara untuknya. Dengan meminta berbagai macam barang.


"Sudahlah Bara, papa minta maaf membiarkan mamamu seperti itu. Papa sudah menegur dia, selama lima tahun terakhir papa sudah menegur dia. Tapi papa hanya bisa diam, ketika kamu begitu sangat menyayangi mamamu. Papa tidak mau kamu kecewa begitu besar, setelah mama Rita telah tiada. Kamu besar dari kasih sayang Irma, papa tidak menyangkal itu. Makanya papa diam saja, dan ada kesempatan bertemu dengan Alicia. Papa beranikan diri untuk meminta bantuan padanya, itu semata agar kamu melihatnya dan tahu masalah yang papa hadapi." kata pak Hengky.


Bara diam, dia masih menangis sesunggukkan. Dia mengusap matanya, lalu memeluk papanya.


"Kenapa mama seperti itu pa?" tanya Bara.


"Papa tidak tahu, mungkin mama kamu. Tapi papa baru menyadari setelah kamu beranjak remaja Bara, kamu ingat waktu dulu SMP? Irma sangat lengket sama kamu, dia begitu perhatian sama kamu. Hingga lahir Chika, dia tetap masih sayang kan sama kamu?" ucap pak Hengky.


Bara mengingat itu, lalu mengangguk pelan. Tidak di sangka, selama itu mamanya memendam rasa suka padanya. Rasa sayang yang berbeda, terkadang dia juga merasa aneh pada waktu itu. Ketika mamanya selalu menciuminya meski sudah SMP, dan ternyata itu perasaan lain?


"Tapi mama sekarang lebih banyak meminta di belikan barang dariku pa." kata Bara.


"Karena dia tahu, kamu tidak bisa di miliki. Akhirnya dia meminta banyak barang sama kamu, dia tahu kamu akan memberikan apa pun yang dia minta sama kamu." kata pak Hengky lagi.


Bara diam, dia lalu bangkit dari duduknya dan menuju kursinya. Memperlihatkan beberapa video yang di dapat Alicia.


"Kamu harus meminta maaf pada Alicia, Bara." kata pak Hengky.


"Iya pa. Tapi, aku mau menyelesaikan masalah mama ini dulu." kata Bara.


"Ya, kita selesaikan sama-sama. Papa sudah ikhlas jika harus bercerai dengan Irma." kata pak Hengky.


"Iya pa, aku akan pikirkan caranya. Agar mama tidak banyak bicara dan alasan nantinya."


"Terserah kamu, papa akan tunggu tindakan keberanianmu itu." kata pak Hengky menyindir anaknya.


"Pa?"


_

__ADS_1


_


*******************


__ADS_2