
"Jadi kamu mau melakukan apa Al?" tanya Nindy ketika dia datang untuk menjenguk Alicia di apartemen Bara.
"Aku tidak tahu, tapi kupikir jika sembunyi terus di apartemen. Tidak akan selesai masalah Aditya itu, polisi juga belum bisa mengumpulkan bukti untu menangkap dia. Jadi aku lagi berpikir, bagaimana caranya untuk mendapatkan bukti itu agar dia bisa masuk penjara." kata Alicia.
"Tapi kakimu belum sembuh betul Al, apa sudah bisa jalan dengan baik?" tanya Nindy.
"Itu dia, keadaanku seperti ini. Akan lama lagi untuk menangkap laki-laki psikopat itu." kata Alicia lagi.
"Seperti melakukan penjebakan?" tanya Nindy.
"Ya, karena itu akan dengan mudah mendapatkan bukti." kata Alicia.
"Berarti kamu harus bermain kan? Ini menyangkut dirimu, Al. Kamu akan menghadapi resiko jika melakukan itu."
"Tapi tidak ada cara lain. Asal perencanaannya matang, pasti bisa dapat kok. Dan harus bekerja sama dengan polisi juga." kata Alicia.
"Tapi bagaimana dengan Bara? Apa dia setuju dengan idemu itu?" tanya Nindy.
"Ya, aku belum ngomong sama dia." kata Alicia.
"Terserah kamu saja Al, yang penting kamu nyaman bekerja di agen. Dan tidak ada sang psikopat menghantuimu lagi." kata Nindy.
Pembicaraan mereka terpotong ketika Bara masuk apartemen. Dia membawa bangak makanan untuk makan malam dengan Alicia dan Nindy.
"Belum pulang ya? Aku sengaja bawakan makanan untuk kalian, ayo makan dulu." kata Bara.
Alicia hanya tersenyum, begitu juga Nindy. Mereka membantu Bara membuka kotak makanan itu. Bara menyuruh Alicia dan Nindy makan lebih dulu. Dia ingin mandi karena tubuhnya terasa lengket.
"Al, dia sering menginap di sini?" tanya Nindy.
"Ngga juga, tapi ya pernah menginap." kata Alicia.
"Tidur sama kamu?" tanya Nindy lagi.
"Ya nggalah, kita belum menikah. Dan aku tidak mau itu." kata Alicia mengunyah makanannya.
"Kelihatannya pak Bara cinta banget sama kamu." ucap Nindy mengambil pizzanya.
"Ya, bahkan dia mengajakku untuk menikah." jawab Alicia.
"Serius?"
"Iya, aku bilang pikirkan dulu. Aku ini tidak punya siapa-siapa, jadi takutnya keluarganya tidak menerimaku karena aku anak yatim piatu tak punya orang tua." kata Alicia.
"Tapi Bara pasti akan membelamu."
"Mungkin, dia sayang sama adiknya dan ibu sambungnya. Kurasa mungkin akan mendapat pertentangan dari ibu sambungnya itu." kata Alicia.
"Ooh, jadi bukan ibu kandungnya."
"Ya. Sudahlah, ngga enak bicara tentang dia tapi dia ada di sini." kata Alicia.
"Benar juga sih. Tapi kamu cinta ngga sama Bara?" tanya Nindy.
__ADS_1
"Tentu saja, kalau ngga cinta. Mana mungkin aku terima dia, dia dulu klienku, aku pikir panjang jika tidak cinta." kata Alicia.
Obrolan mereka pun kembali mengenai rencana Alicia itu. Hingga Bara pun keluar dari kamarnya dan ikut bergabung dengan keduanya.
"Kalina membicarakan apa?" tanya Bara.
"Sebuah rencana." kata Nindy.
"Rencana apa?" tanya Bara.
"Tanyakan pada Alicia." ucap Nindy.
"Rencana apa sayang?" tanya Bara.
Alicia diam, dia menatap Nindy lalu Bara. Dia ragu sebenarnya, tapi kemudian dia ceritakan juga rencananya itu. Membuat Bara tidak terima.
"Tidak. Kamu lagi sakit begitu, belum sembuh mau mengumpankan untuk menjebak Aditya?" tanya Bara.
"Kalau tidak begitu, mana ada bukti nantinya. Aku pengen dia masuk penjara Bara. Aku tidak tenang jika dia masih berkeliaran mengawasiku. Aku harus di dalam rumah terus, harus hati-hati juga meski di rumah. Apa aku harus di hantui kecemasan seperti itu karena suatu waktu Aditya akan datang padaku. Dan siapa nanti yang bisa aku minta tolong jika keadaanku tidak berdaya?" tanya Alicia.
Alicia sudah biasa menghadapi sendiri masalahnya, tapi untuk seorang Aditya dia tidak berani menghadapi sendiri. Di samping laki-laki itu terobsesi dengannya, sudah pasti akan terus mengejarnya.
Bara diam, dia memikirkan ucapan Alicia itu. Memang ada benarnya rencana Alicia itu, tapi dia juga sudah pasti memperhitungkannya.
"Tapi nanti kamu terluka sayang, aku tidak mau kamu terluka lagi karena dia." kata Bara.
"Itu jalan satu-satunya menurutku, aku mengumpankan diri. Tapi memang butuh kerja sama yang baik antara tiga faktor itu." kata Alicia.
"Dengan kepolisian?"
"Ya, baiklah. Nanti aku pikirkan dan rundingkan dengan kepolisian." kata Bara.
"Apa pak Bara kenal semua anggota polisi?" tanya Nindy.
"Ngga juga, ada beberapa yang kenal. Tapi mereka mau membantuku, jika aku butuh bantuan." kata Bara.
"Ooh, enak ya. Mungkin karena pak Bara itu siapa, jadi banyak yang kenal juga." kata Nindy.
"Hei, kamu kenapa apatis begitu sama kepolisian?" tanya Alicia.
"Aku punya saudara, dia berurusan dengan orang. Karena dia orang yang kurang mampu, dan orang yang berurusan dengannya punya banyak harta. Jadi tentu kamu tahu Al, siapa yang di bela." kata Nindy.
"Tidak semuanya begitu, banyak kok anggota kepolisian yang baik." kata Bara.
"Ya, mungkin karena saudaraku lagi sial saja. Bertemu dengan anggota yang kurang menegakkan keadilan." kata Nindy lagi.
"Di mana itu?"
"Di kampungku, sampai sekarang belum tuntas masalahnya. Dan kabarnya orang itu akan mengusut terus, tapi memang ada anggota yang menyarankan lebih baik di bicarakan. Jadi, entahlah." ucap Nindy.
"Semua instansi itu tidak semua buruk dan bagus. Memang ada beberapa yang seperti itu, tapi aku rasa hati orang itu terbuat berbeda-beda juga. Mungkin kebetulan Bara menemukan polisi yang baik dan sigap.membantu." kata Alicia.
"Ya, kamu beruntung saja."
__ADS_1
"Baiklah, jadi rencanamu seperti itu sayang?" tanya Bara.
"Iya Bara, kamu jangaj khawatir. Asal semuanya siap, mungkin bisa kan di lakukan sesuai rencana?" tanya Alicia.
"Tentu sayang. Baiklah, besok aku akan membicarakannya dengan letnan Barda." ucap Bara.
"Al, sudah malam banget. Aku pulang ya." kata Nindy.
"Lo, menginap saja sama aku." kata Alicia.
"Lain kali saja, mungkin pak Bara ingij bicara banyak sama kamu." kata Nindy melirik Bara.
"Ya baiklah."
Nindy memeluk Alicia dan menyalami Bara, setelah mengambil tasnya. Dia pun segera pergi dari apartemen Bara itu.
"Hati-hari Nin di jalan." pesan Alicia.
"Ya Al, terima kasih."
Nindy sudah keluar, Bara menutup pintunya dan dia mendekati Alicia yang berjalan pelan. Dia memeluk Alicia dari belakang.
"Sayang, aku kangen sama kamu." kata Bara.
"Baru sehari ngga ketemu kok. Sudah kangen saja." ucap Alicia.
Bara beralih menghadap Alicia, memegangi pinggangya dan menatap gadis itu. Dia tidak sabar ingin menikahi Alicia.
"Kamu besok kontrol ke dokter sayang." kata Bara.
"Ya, apa aku harus ke rumah sakit?"
"Iya, kan biar kakimu di beri suntikan obat. Biar kamu cepat sembuh dan bisa menjalankan rencanamu lalu aku akan membawamu ke rumah bertemu dengan keluargaku." kata Bara.
Alicia tertegun, dia tidak percaya Bara begitu serius untuk cepat menikah dengannya. Dia tersenyum lalu mengangguk, merasa bahagia karena di cintai Bara begitu besar. Dia menyandarkan kepalanya di dada Bara.
"Kamu yakin dengan memilihku Bara?" tanya Alicia dalam pelukan kekasihnya itu.
"Tentu saja aku yakin. Kenapa memangnya?" tanya Bara.
"Aku hanya tidak mau ada masalah saja." jawab Alicia.
"Masalah di keluargaku?" tanya Bara.
"Ya, tentang statusku itu." kata Alicia.
"Aku akan membelamu, jangan khawatir. Jika papa dan mamaku menentangmu, aku di depanmu membelamu. Tapi kamua harus percaya kalau keluargaku pasti menerimamu." kata Bara lagi.
Mereka berpelukan, kini Alicia lebih tenang. Setidaknya dia tidak terlalu khawatir dengan keluarga Bara yang akan menentangnya nanti. Paling tidak dia akan berjuang lebih dulu dengan Bara.
_
_
__ADS_1
********************