
Dua hari Bara memberi waktu nyonya Irma untuk membereskan barang-barangnya. Dia sudah menyiapkan berlian yang di inginkan mama sambungnya itu, tapi tidak seperti permintaannya. Hanya berlian kecil yang dia berikan, lagi pula belum lama mobil seharga miliaran itu di dapat dari Bara dan juga uang suaminya.
Pak Hengky duduk di sofa dengan anaknya, menunggu keluarnya nyonya Irma dari kamarnya. Mereka berdua kompak untuk melihat keluarnya istri dan mama sambung Bara.
Tak lama, nyonya Irma keluar. Dia mendengus kesal melihat kedua laki-laki itu duduk dan menatapnya dingin. Di depan meja aja kantung karton berisi berlian yang di minta Irma.
Bara berdiri, dia mengambil kantung tersebut dan menyerahkannya pada nyonya Irma.
"Ini yang mama minta, gunakan sebaik mungkin. Terserah mama mau di gunakan untuk berondong mama atau untuk hidup mama. Yang jelas mulai sekarang mama bukan mamaku lagi, aku masih berbuat baik sama mama. Tidak marah-marah layaknya orang kecewa pada orang yang dulu sangat menyayanginya." kata Bara dengan tenang.
"Sepertinya kamu belajar banyak dalam bersikap tenang dari papamu. Itu bagus, mama keluar jadi lebih tenang. Karena sikapmu sama dengan papamu." kata nyonya Irma.
"Ya, aku anak kandung papa. Dan Chika, akan ku pastikan tidak akan kubiarkan seperti mama. Meskipun dia bukan adik kandungku." kata Bara.
Nyonya Irma mengepalkan tangannya, ternyata suaminya pak Hengky bercerita semuanya. Matanya tajam menatap Bara dan beralih pada pak Hengky. Pak Hengky pun berdiri, dia memberikan sebuah amplop lalu memberikannya pada nyonya Irma.
"Ini, terimalah. Meskipun aku sakit hatu dengan perbuatanmu selama ini. Tapi aku dan anakku masih berbuat baik padamu, terimalah uang darimu. Anggap saja pesangon untukmu, kamu bebas menggunakannya. Dan tunggu surat cerai datang ke rumah orang tuamu. Katakan, aku minta maaf karena telah menceraikanmu." kata pak Hengky.
"Brengsek kalian semua! Kalian menghinaku!" kata nyonya Irma dengan mata yang melebar.
"Bukan menghina ma, hanya sebagai tanda terima kasihku sama mama karena telah mengasuhku sejak kecil. Jika mama tidak seperti ini, kupastikan mama hidup bahagia dengan papa dan aku akan memberikan cucu sama mama. Tapi mama memilih jalan yang tidak kusukai, bahkan sangat aku benci. MMa sama halnya dengan Jessi, murahan!" ucap Bara dengan sinis.
"Bara! Kamu menghina mamamu?!"
"Mama sendiri yang meminta untuk kuhina!" ucap Bara tajam.
Nyonya Irna diam, matanya masih melebar dadanya bergemuruh. Tapi apa yang di katakan oleh Bara itu sepertinya ada benarnya juga.
"Kamu tahu, aku dan anakku tidak akan mempermasalahkan apa pun tentang barang dan benda mahal yang kamu gunakan. Tapi sepertinya, menghianatiku dan anakku adalah benar-benar kesalahan fatal bagimu." kata pak Hengky.
"Brengsek kalian semua! Awas saja, kalian akan aku balas!" ucap nyonya Irma mengancam.
Bara dan pak Hengky hanya diam saja. Nyonya Irma pun pergi membawa kopernya, menenteng kantung karton berisi kotak berlian dan juga amplop. Dia keluar dari rumah besar itu dan segera menaiki mobil rolls roicenya.
Dia tidak tahu jika mobil itu adalah hasil kredit Bara pada pemilik mobil pertama yang dia beli. Jadi, bulan depan dia tidak akan membayar cicilannya. Membiarkan nyonya Irma kalang kabut dengan mobil mahalnya itu nantinya.
"Kamu lega sekarang, Bara?" tanya pak Hengky.
"Aku lega pa, tapi aku merasa tidak lebih baik dalam mengontrol emosiku. Papa selama lima tahun menahan kekecewaan pada mama Irma, tapi syukurlah. Aku minta maaf sama papa." kata Bara.
"Sekarang, kamu cari Alicia dan minta maaf padanya. Bawa pada papa untuk kau lamar Alicia, Bara." kata pak Hengky.
"Tentu pa, aku akan mencari Alicia dan membawa ke hadapan papa. Lalu aku akan melamarnya secepatnya." kata Bara dengan senangnya.
"Pergilah, cari dia. Jangan sampai dia pergi dari kota ini dan kamu akan menyesal nantinya." kata pak Hengky.
"Iya pa. Terima kasih." kata Bara.
Pak Hengky memeluk anaknya, sudah lama dia tidak memeluk anaknya itu. Entah sejak kapan, tapi yang jelas sudah lama sekali. Kini dia bisa memeluk anaknya lagi.
"Masalah Chika, biar papa yang tanggung jawab Bara." kata pak Hengky.
"Iya pa. Kalau begitu, aku akan cari Alicia."
"Pergilah."
Bara tersenyum, dia lalu mengambil kunci mobilnya. Dia akan ke kantor Alicia atau pergi ke rumahnya. Benar-benar dia sangat rindu sekali pada pacarnya itu.
Tapi, dia kan sudah memutuskan hubungan dengan Alicia?
Tasnya juga masih ada dalam mobilnya. Ponselnya juga masih ada, bagaimana dia akan menghubungi Alicia?
"Aah, aku akan tanya pada Nindy." ucap Bara.
__ADS_1
Mobil melaju dengan cepat, Bara tidak sabar ingin menemui Alicia. Dia benar-benar rindu pada gadis itu.
"Alicia, aku rindu sama kamu." lirih Bara berucap.
_
Bara pergi ke kantor Alicia, dia melirik jam di tangannya menunjukkan pukul dua tiga puluh. Jika tidak ada di kantornya, maka Bara akan pergi ke rumahnya. Sengaja Bara tidak masuk kantor karena ingin melihat nyonya Irma
Sampai di kantor Alicia, Bara pun langsung turun, dia berjalan cepat menuju gedung tersebut. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Alicia, sudah satu minggu dia tidak menemui Alicia karena masalahnya dengan mama sambungnya. D
Bara menuju penjaga resepsionis, bertanya apalah Alicia ada di dalam kantornya.
"Mba, apa Alicia masuk kantor?" tanya Bara.
"Kurang tahu pak, saya belum melihat mbak Alicia masuk hari ini." kata resepsionisnya.
"Lho, apa dia tidak masuk?"
"Beberapa hari saya tidak melihat mbaka Alicia di kantor. Mungkin mbak Nindy tahu pak." kata resepsionis.
Bara diam, dia menarik napas panjang. Lalu dia pun meminta untuk menemui Nindy saja. Akhirnya, petugas resepsionis itu pun menghubungi Nindy.
"Ini mbak, ada yang mau ketemu mbak Nindy di depan." kata resepsionis.
"Siapa?"
"Itu, pacarnya mbak Alicia." jawab resepsionis melirik pada Bara.
"Oh, ya udah. Nanti saya ke depan." kata Nindy.
"Iya mbak."
Klik!
"Ya, saya tunggu di sini."
Resepsionis mengangguk dan tersenyum. Bara pun berjalan mondar mandir tidak sabar ingin bertemu dengan Nindy. Dia ingin bertanya pada Nindy tentang Alicia sebelum dia ke rumah Alicia.
Tak berapa lama, Nindy pun datang. Dia melihat Bara sedang berjalan mondar mandir tidak tenang. Nindy pun menghampiri Bara.
"Pak Bara?"
"Oh ya, Nindy."
"Cari Alicia?" tanya Nindy.
"Ya, apa dia masuk kantor? Kata resepaionis beberapa hari dia tidak melihat Alicia. Apa dia tidak masuk kantor?" tanya Bara tidak sabar.
"Emm, dia sudah mengundurkan diri tiga hari lalu." jawab Nindy.
"Dia keluar?"
"Ya."
"Apa dia cerita sama kamu?"
"Iya."
"Lalu, dia pasti ada di rumahnya kan?" tanya Bara.
"Seingatku sih dia ada di rumahnya. Tapi dia pernah bilang kalau akan pergi ke kampung ayahnya. Di sana dia masih punya kerabat, jadi mungkin dia kesana jika di rumahnya tidak ada.
"Pergi ke rumah kerabat ayahnya? Di mana?" tanya Bara tidak sabar.
__ADS_1
"Di luar kota, saya tidak tahu di mana." kata Nindy.
"Kamu bisa hubungi Alicia?"
"Kan ponselnya sama pak Bara." ucap Nindy.
"Aah ya. Aku lupa, bahkan ada di mobilku." ucap Bara kecewa.
"Coba saja pak Bara ke rumahnya dulu, barangkali dia belum berangkat. Atau hari ini."
"Oh begitu. Terima kasih informasinya, Nindy. Maaf kalau aku merepotkanmu." kata Bara.
"Tidak masalah pak." ucap Nindy tersenyum.
Bara pun pergi meninggalkan Nindy yang masih berdiri di sana. Dia merasa bersalah juga karena membuat Alicia jadi keluar dari kantor dan harus putus dengan Bara.
Tapi sekarang Bara mencarinya, mungkin masalah papanya dan mamanya sudah selesai. Jadi dia mencari Alicia, begitu pikir Nindy.
Sedangkan Bara langsung melajukan mobilnya menuju rumah Alicia. Dia merasa bersalah dan tidak ingin berpisah dengan gadis itu. Semua perkataannya pada Alicia melintas di benaknya.
Bara benar- benar menyesal, dia terus melajukan mobilnya dengan cepat. Agar bisa cepat sampai, dan kini mobil berhenti di depan rumah kecil itu. Dia melihat rumah Alicia tampak sepi, dia langsung turun dan melangkah menuju rumah kecil itu.
Tok tok tok.
Bara mengetuk pintu rumah yang tampak sepi itu. Beberapa kali tak ada jawaban, Bara gelisah. Dia takut Alicia sudah pergi dari rumahnya.
Tok tok tok
Masih mencoba lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Bara berbalik, dia lalu melihat ke kaca jendela rumah. Masih tampak sepi.
"Kemana dia ya?"
Ada seorang lewat di depan rumah Alicia, dia seperti tetangga Alicia. Bara pun mendekat orang tersebut.
"Bu, mau tanya." kata Bara.
"Ya pak, ada apa?"
"Ibu tahu kemana pemilik rumah ini?" tanya Bara.
"Nggak tahu pak, tapi tadi pagi sih ibu lihat dia membawa kantong plastik berisi bunga. Mungkin dia pergi ke makam." jawab ibu berperawakan besar itu.
"Ooh, dia pergi ke makam? Di mana?" tanya Bara lagi.
"Saya tidak tahu pak, tunggu saja. Barangkali dia pulang." kata ibu itu lagi.
"Terima kasih bu."
"Ya."
Bara pun duduk di teras depan rumah, dia gelisah. Dia takut kalau Alicia bukan pergi ke makam, tapi seperti apa yang di katakan Nindy tadi.
Lama Bara menunggu, dia benar-benar tidak sabar dan gelisah. Hingga pukul tiga lebih, hatinya sangat sedih.
Tiba-tiba, sebuah mobil taksi berhenti di depan rumah Alicia. Bara mendongak, wajahnya berubah cerah lalu berdiri.
"Alicia."
_
_
**********************
__ADS_1