Alicia, Agen Cinta

Alicia, Agen Cinta
45. Usaha Bara


__ADS_3

"Alicia."


Gumam Bara ketika dia melihat mobil taksi berhenti di depan halaman rumah Alicia. Keluar gadis yang sejak seminggu lalu tidak bertemu. Wajah sumringah Bara sangat jelas terlihat. Dia pun mendekati Alicia yang sedang membayar ongkos taksi.


Dia belum tahu di belakangnya ada Bara yang sedang berdiri dengan hati berdebar. Ingin sekali Bara memeluk Alicia, tapi dia tahan. Dadanya bergemuruh menahan rasa gejolak yang ada dalam hatinya.


"Alicia." ucap Bara Lirih.


Alicia pun menoleh ke belakang, dia terkejut Bara sudah ada di depannya. Wajahnya datar saja, menunduk lalu melangkah pergi meninggalkan begitu saja Bara yang berdiri di hadapannya.


"Alicia!" panggil Bara.


Alicia menarik napas panjang, dia berhenti dan menoleh ke belakang. Menatap Bara dengan dingin.


"Mana tasku?" tanya Alicia.


"Alicia, maafkan aku." ucap Bara dengan cepat.


"Mana tasku?" tanya Alicia lagi.


"Ada di mobilku." jawab Bara akhirnya.


"Ambil dan kembalikan padaku pak Bara." ucap Alicia.


Bara terkejut, bibirnya terkatup. Dia menunduk lalu melangkah pergi menuju mobilnya. Dia mengambil tas Alicia lalu melangkah menuju gadis yang kini berbeda dari biasanya. Dia menyerahkan tas Alicia.


"Alicia, maafkan aku." kata Bara.


"Ya, aku maafkan. Sekarang kamu boleh pergi." kata Alicia dengan dinginnya.


Alicia berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Bara yang masih diam di tempatnya. Merasa heran, tapi dia pun ingat kalau dirinya sudah memutuskan Alicia secara sepihak karena marah padanya waktu itu.


Bara pun mengejar Alicia, dia menghentikan langkah Alicia. Menghadangnya di depannya dengan merentangkan tangan, menatap gadis itu dengan lembut. Tapi sayangnya Alicia tidak tertarik, dia melangkah terus dan mendorong tubuh Bara agar menyingkir dari hadapannya.


"Alicia, tunggu. Aku ingin jelaskan semuanya." kata Bara.


"Buat apa? Kamu sudah memutuskannya tanpa bertanya apa pun dan meminta penjelasan dariku." kata Alicia.


"Aku memang emosi waktu itu, beberapa kali kamu membatalkan makan siang bersama. Dan kamu berada di restoran sedang menyelidiki mamaku, aku marah Alicia. Apa lagi kamu di suruh oleh papa, benar-benar aku marah sama kamu waktu itu. Tapi sekarang, aku menyesal. Semua yang kamu lalukan adalah untuk mengungkap kebusukan mama sambungku itu." kata Bara melemah suaranya.


Alicia diam, dia tersenyum sinis. Kemudian dia pun pergi dari hadapan Bara, masuk ke dalam rumahnya lalu mengunci pintunya. Bara mengejar dan menggedor pintu rumah Alicia beberapa kali, tapi Alicia tidak peduli.


Bara pun putus asa, dia menarik napas panjang dan menatap pintu rumah Alicia.


"Baiklah, hari ini aku tidak akan memaksamu. Tapi besok, aku akan datang lagi. Aku akan menunggumu di luar rumah sampai kamu mau bicara padaku Alicia." kata Bara.


Tak ada jawaban, Bara masih menatap pintu rumah yang tertutup rapat. Lalu dia pun berbalik dan melangkah meninggalkan rumah Alicia.


Sedangkan Alicia yang berdiri di balik pintu pun menarik napas panjang. Dia lalu mengintip dari balik jendela apakah Bara benar-benar sudah pergi dari rumahnya.


Ternyata Bara sudah pergi mengendarai mobilnya. Alicia pun merasa lega, sekaligus kecewa sendiri. Dia merasa kecewa karena Bara hanya sebatas itu usahanya.

__ADS_1


"Biarlah, aku ingin tahu apakah benar dia akan datang lagi besok." ucap Alicia.


_


Pagi hari, Bara datang lagi. Alicia terkejut Bara datang pagi-pagi sekali sambil membawa makanan dalam kotak untuknya. Dia sedang mengelap kaca jendela, dan Bara berlari kecil menuju rumahnya sambil menenteng dua bungkus bubur ayam.


"Sayang, aku bawakan bubur ayam untuk kamu. Kamu pasti belum sarapan." kata Bara.


Alicia tersenyum sinis, sambil menggeleng kepalanya. Dia lalu masuk ke dalam rumah, menutup pintunya lalu menguncinya.


"Hei, Alicia! Setidaknya kamu sarapan dulu sebelum marah padaku! Aku akan pergi dan tinggalkan bubur di sini." ucap Bara.


Tak ada jawaban dari Alicia, Bara hanya menatap pintu rumah Alicia. Dia letakkan bubur ayamnya di atas meja di teras, lalu dia pun pergi lagi.


Setiap hari Bara datang ke rumah Alicia. Tapi Alicia masih menolaknya bicara, dia ingin tahu seberapa gigih dia berusaha untuk membujuknya kembali padanya. Hingga satu minggu lebih Bara melakukan itu, dan Alicia masih tidak mau menemuinya. Dan hari kesepuluh, Bara tidak datang lagi.


Alicia heran, dia melihat keluar rumah tidak ada mobil Bara. Beberapa kali dia lihat, tetap saja tidak ada mobil yang berhenti di depan rumahnya.


"Jadi, dia menyerah?" ucap Alicia lirih.


Alicia duduk di teras rumahnya, melihat sekeliling rumah dan jalan di depan. Apakah Bara ada dan sedang mengumpat, rasa kecewanya kini menguasai hatinya.


"Aku tahu akan seperti ini, aku juga menerima resikonya jika kamu marah karena aku menerima pekerjaan dari papamu. Tapi aku juga marah dengan mama sambungmu Bara, dia menyukaimu. Dia bahkan memanfaatkanmu, aku juga marah Bara." ucap Alicia.


Hatinya benar-benar campur aduk, rasa kesal, marah, rindu dan semua menjadi satu. Tiba-tiba dia menangis terisak, Alicia pun masuk ke dalam rumahnya. Niatnya ingin pulang ke kampung ayahnya pun urung karena setiap hari Bara datang. Tapi kini dia tidak datang lagi, Alicia sedih dan kecewa.


Dia pun memutuskan untuk pergi ke kampung ayahnya minggu besok. Dia juga berencana akan tinggal di sana, tinggal menunggu penjualan mobilnya saja untuk modalnya di kampung nanti.


"Kenapa kamu tidak datang lagi Bara." ucap Alicia.


Matanya mulai mengantuk, dia pun memejamkan matanya dan tertidur lelap. Hingga esok hari juga Alicia masih menunggunya, tapi tidak juga datang.


"Sudahlah, mungkin dia sudah menyerah. Aku akan pergi dari kota ini." ucap Alicia.


Dia merapikan barang-barangnya, bajunya dia bereskan dan di masukkan ke dalam koper. Dia akan pulang setelah uang penjualan mobilnya sampai di ATMnya.


Saat Alicia sedang beres-beres baju dan barang-barangnya, dia tidak tahu kalau ada seseorang di belakangnya. Alicia lupa menutup pintu rumahnya setelah tadi pagi dia membersihkan teras rumah.


Berdiri di belakang Alicia, senyum laki-laki itu mengembang. Dia pun maju perlahan dan berdiri di belakang Alicia. Bunga yang ada di tangannya dia letakkan di atas meja. Lalu dengan pelan, laki-laki yang ternyata memang Bara memeluk Alicia dari belakang.


Alicia kaget, dia melihat tangan kekar melingkar di pinggangnya. Dia pun menoleh, tapi di tahan oleh Bara.


"Aku kangen sama kamu Alicia, maafkan aku. Maafkan aku sayang." kata Bara memeluk Alicia dan bicara di telinga gadis itu.


Alicia menahan napasnya, rasanya dia juga merasa kangen pada Bara. Dia mencoba berbalik dan melepas tangan Bara di pinggangnya.


Menatap laki-laki itu, mencoba untuk menolak lagi.


"Kenapa kamu masuk?" tanya Alicia.


"Pintunya terbuka, jadi aku masuk." kata Bara dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Heh, keluar kamu. Aku bukan pacarmu lagi, jadi untuk apa datang kemari?!" ucap Alicia menghindar tatapan Bara.


Bara maju perlahan, Alicia mundur ke belakang. Dia tidak menyangka kalau Bara senekat itu masuk ke kamarnya dan dengan senyum kemenangannya.


"Keluar dari kamarku Bara!" ucap Alicia.


Bara tidak menggubris ucapan Alicia, dia mendorong terus Alicia hingga dia membentur meja di belakangnya. Bara terus maju, dadanya di tahan oleh Alicia dengan kuat. Tapi laki-laki itu terus memajukan wajahnya hingga berhenti dengan jarak lima senti meter.


Matanya menatap Alicia lembut, membuat gadis itu salah tingkah lalu menoleh ke samping. Mengihndari tatapan mata Bara.


"Aku mencintaimu, Alicia." kata Bara dengan lembut.


Matanya menelusuri setiap jengkal wajah gadis manis itu, lalu berhenti di bibir mungilnya. Maju lagi dan hendak menciumnya, tapi tangan Alicia menahannya. Bara menyungkirkan tangan Alicia dan bibirnya terus maju lalu menempel di bibir Alicia.


Diam di sana, tidak ada reaksi dari Alicia. Dia pun menjilatnya. Tetap tak ada reaksi dari Alicia. Wajah Alicia di luruskan agar dia bisa menatap langsung mata Alicia, napas Alicia memburu. Lalu Bara pun kembali mecium bibir milik gadis yang selama ini sangat dia rindukan.


Bara terus menciumnya dalam, dan akhirnya Alicia membalasnya meski ragu. Bara senang, dia sudah mengira kalau Alicia akan membalasnya. Mereka pun semakin dalam berciuman, hingga Alicia sendiri merasa malu dan mendorong tubuh Bara di atasnya.


Tatapannya sayu, tangan Alicia mendorong dada Bara. Dia ingin menetralkan hatinya yang benar-benar tidak karuan. Bara tersenyum, dia tahu Alicia masih mencintainya. Karena beberapa hari selama dia menghilang, dia tetap datang dan mengintai rumah Alicia.


Ternyata, gadis itu menunggunya. Dia sengaja bersembunyi dan tidak datang selama satu minggu untuk mempersiapkan kejutan untuk Alicia.


"Aku mencintaimu Alicia, maafkan aku. Dan ..."


"Aku sudah bukan pacarmu lagi, kenapa kamu begitu memaksa menciumku?" kata Alicia menunduk malu. Dia merutuki kesalahannya itu.


"Ayo menikah denganku Alicia, dengan begitu kamu bukan pacarku lagi. Tapi jadilah istriku saja." kata Bara.


Alicia terkejut, dia menatap laki-laki yang sedang mendadak melamarnya itu.


"Bara, aku ..."


"Jadilah istriku Alicia, kamu mau kan?"


"Tapi ...."


Bara kembali mencium Alicia dengan cepat, dia tidak peduli jawaban Alicia. Cukup dengan membalas ciumannya saja, Bara tahu kalau Alicia menerima ajakan menikahnya itu. Lama mereka berciuaman, dan Bara melepasnya. Dia tersenyum puas dan senang.


"Minggu depan kita menikah." kata Bara.


"Hei, kenapa kamu mendadak begitu? Aku bahkan belum menjawab lamaranmu." kata Alicia dengan kesal.


"Aku tidak butuh jawaban dari mulutmu, tapi dari sikapmu aku sudah dapat jawabannya." kata Bara menarik tubuh Alicia dan memeluknya.


Alicia terdiam, dia lalu tersenyum. Tangannya juga memeluk Bara dengan erat. Sudah cukup rasa beban di hatinya, dia ingin bahagia dengan Bara.


"Aku mencintaimu Bara."


_


_

__ADS_1


**********************


__ADS_2