
Rian tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Hari ini secara mengejutkan dirinya menemukan tiga Nagita dalam waktu yang bersamaan dengan penampilan berbeda. Anehnya orang-orang juga tidak bisa melihat kedua Nagita yang berdiri tepat di depan Rian.
Layaknya penggambaran hantu dalam film. Kedua Nagita itu dilewati oleh banyak orang dengan tembus pandang. Awalnya Rian berpikir kalau dirinya sudah merasa lelah dengan perputaran waktu ini hingga membuatnya melihat dua Nagita.
Tapi, karena kedua Nagita yang muncul di depan Rian mempunyai pemikiran yang berbeda. Jelas membuat Rian yakin, kalau keduanya memang sama-sama Nagita.
Nagita dengan mengenakan jaket dan rambut yang dikuncir kuda mempunyai tampilan ceria. Sedangkan Nagita dengan jaket dipinggang dan rambut terurai mempunyai tampilan yang tenang.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rian dengan lemas dan bersandar pada tiang, "Kalian sendiri pasti mengetahuinya, 'kan?"
Nagita yang ceria hanya mengangkat kedua bahunya. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Disisi lain, Nagita yang tenang mempunyai hipotesis atas kejadian ini.
"Apa kau pernah tau tentang time loop?" tanya Nagita sambil menghembuskan napas kesal, "Dalam film fiksi ilmiah dengan cerita time loop. Sutradara dan penulis biasanya mempunyai aturan dalam penciptaan teori time loop tersebut. Dikatakan kalau tokoh yang terjebak dilarang untuk melihat dirinya sendiri."
"Jadi .... Bisakah kau menjelaskannya secara singkat dan padat?" tanya Rian, "Dengan kata lain, aku pasti akan bertemu dengan diriku sendiri?"
Nagita yang tenang mengangguk cepat. Dia menambahkan kalau orang-orang disekitarnya juga tidak akan mampu melihat versi lain dari diri Rian.
"Jadi, apa nama dari fenomena ini?" ucap Rian.
"Mungkin lengkungan waktu? Atau apapun itu? Aku juga tidak mengerti. Yang jelas, kita terjebak dalam perputaran waktu ini," balas Nagita yang tenang, "Ngomong-ngomong apa yang tadi sebelumnya kau lakukan, Rian?"
Rian menjelaskan tentang situasinya kepada kedua Nagita yang baru saja dia temui dalam fenomena aneh dan sulit untuk dijelaskan. Dia ingin menemui pak Gandhi untuk mendapatkan saran dari masalah perputaran waktu ini.
Nagita yang tenang termenung untuk sesaat. Dia menjelaskan kalau dirinya juga ingin bertemu dengan pak Gandhi karena dirinya sulit untuk mendapati saat-saat yang tepat.
Rian memotong pembicaraan. "Apa kau sudah tau tentang dirimu yang lain? Karena hal itulah, kamu baru menemuinya sekarang?"
__ADS_1
Nagita mengangkat kedua tangannya lalu memeluk bagian atas perutnya. Dia mengiyakan perkataan Rian yang sudah pasti dikatakan oleh Nagita dari dunia Rian.
Rian mengangguk. Dia menambahkan dan menanyakan apa Nagita yang tenang dan ceria bertengkar dengan Nagita lainnya hingga membuat dirinya malas untuk bertemu mereka berdua.
Nagita yang cerita mengangkat kedua bahunya. Dia dengan terang-terangan berkata kalau dirinya tidak terlihat apa-apa. Lalu menjelaskan pernah melihat Nagita yang tenang adu mulut dengan Nagita lainnya.
Ada suara tertawa kecil yang keluar dari mulut Nagita yang tenang. Dia menjelaskan kalau itu hanya pertengkaran kecil.dsn meminta Rian untuk tidak memikirkannya.
"Ah, begitu," potong Rian lalu kedua matanya bergerak ke arah Nagita cerita, "Lalu Nagita yang ceria ini ada keperluan apa dengan pak Gandhi?
"Aku hanya sekedar ingin melewati barisan depan kursi guru," jawab cepat Nagita ceria, "Tidak ada alasan khusus. Tapi, ngomong-ngomong, pak Gandhi yang ada di dunia kalian jelas........"
"Sudah pasti berbeda. Anggap saja ini multi alam semesta. Yah, ini hanya pemikiran konyol dariku. Walau aku saja tidak mengetahui apa yang sedang terjadi," jawab Nagita yang tenang.
Rian menengahi pembicaraan kedua Nagita yang mempunyai sifat berbeda. Dia berkata kalau dirinya tidak punya waktu untuk meladeni ucapan kedua Nagita.
Nagita yang ceria juga setuju dengan ucapan Rian dan ingin kembali ke topik awal. Jadi, dia menyuruh Rian untuk segera menemui pak Gandhi. Rian yang setuju langsung mengucapkan salam perpisahan kepada kedua Nagita.
Air matanya perlahan mengalir dari wajahnya. Ada satu hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Rian yang seharusnya sudah meninggal karena pernah menolongnya, tiba-tiba muncul di depannya.
...***...
Rian berjalan perlahan ke arah pak Gandhi. Pak Gandhi menyadari ada yang memperhatikannya segera berdiri dan meminta izin ke beberapa guru lainnya karena ada urusan.
Pak Gandhi langsung berjalan ke arah Rian yang berdiri tidak jauh dari barisan kedua kursi guru. Dia berbisik ke arah Rian jika dirinya mendapat surat dari orang berpakaian hitam. Dia meminta Rian untuk segera memberikannya.
Kepala Rian menggelengkan hal perkataan itu dengan cepat. Dia menambahkan kalau ingin menanyakan beberapa hal penting tentang sains.
__ADS_1
Pak Gandhi yang mengerti situasinya hanya mengangguk pelan. "Ah, begitu. Apakah saya mengajar kelasmu?"
"Tidak, pak. Tapi, ini bukan untuk saya. Ada beberapa murid yang ingin membuat pertemuan singkat dengan bapak," jelas Rian.
Pak Gandhi menggaruk-garuk rambutnya. "Ternyata begitu. Saya bisa saja sih membantu mereka untuk mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian. Namun, kalau sekarang ini saya gak bisa. Yah, anggap saja, saya ingin bersantai dengan orang lain."
Rian terdiam mendengar ucapan pak Gandhi. Dia harus memikirkan cara untuk membawa pak Gandhi ke perpustakaan dengan segera.
"Tolong banget, pak. Saya udah janji soalnya," ujar Rian sambil memohon, "Nanti saya beliin makanan di kantin, deh."
"Kamu ngotot banget, ya?" keluh pak Gandhi, "Baiklah. Kalau begitu. Nanti jangan kecewa ketika saya meminta banyak, ya?"
Rian menelan ludah dan mengembuskan napas berat. Dia menerima ucapan pak Gandhi dengan dada yang berat.
...***...
Acara yang dimeriahkan oleh para murid di kelas membuat semua orang nampak menjadi sangat sibuk. Pak Gandhi sesekali tersenyum kecil melihat kebersamaan orang lain.
Sambil menaiki tangga. Pak Gandhi yang sudah sangat penasaran dengan niat dari Rian, langsung dilontarkan tanpa rem dari mulutnya.
"Seberapa penting topik pembicaraannya?" kata pak Gandhi, "Rasanya jika topik pembicaraannya terlihat receh dan tidak berarti. Sangat mustahil kalian memanggil saya."
Rian menjawab perkataan pak Gandhi dengan cepat. "Sangat penting. Sebab itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh semua orang di sekolah ini. Kecuali hanya, anda, pak Gandhi."
"Bisa kau bocorkan sekarang?" lanjut pak Gandhi.
Rian berhenti berjalan. Dia mematung tepat di tengah-tengah koridor yang ramai. Perlahan Rian niat menjelaskan maksud dari tindakannya hari ini.
__ADS_1
"Apa pak Gandhi tahu tentang time loop?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Rian membuat kedua mata pak Gandhi bergetar. Dia sangat tidak menyangka, kalau topik itu akan diucapkan oleh Rian.