
3 Desember 20××
05:33 WIB
Rian terbangun di ruang OSIS. Dia menghembuskan napas berat setelah menyadari bahwa memang tidak ada jalan keluar dari perputaran waktu ini. Kedua tangan yang masih terasa lemas, dia paksa untuk mengangkat tubuhnya dengan cepat.
Naura yang berdiri sambil bersandar pada pagar ruang OSIS. Menanyakan kabarnya pada perputaran waktu yang sebelumnya. Terlihat jelas ada rasa lelah di wajahnya Naura.
Sambil menggaruk-garuk kepala. Rian menjelaskan beberapa penemuannya terkait perputaran waktu. Disisi lain, Naura juga mengaku kalau dirinya menemukan hal baru.
"Sebelum ke topik utama," ucap Naura dengan lemas, "Apa kau ingin minum teh hangat?"
Rian mengangguk dengan cepat. Dia menginginkan hal itu untuk saat ini. Rian dulu pernah mendengar informasi yang berasal dari mulut ke mulut. Katanya mencicipi rasa manis mampu membuat orang mudah untuk berpikir.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat tidak begitu baik, Naura," sapa Rian.
Naura terkejut mendengar perkataan Rian. Jadi, dia menanyakan tentang wajahnya.
"Itu benar. Itu semua terlihat dari wajahmu. Yah, perputaran waktu ini memang menyebalkan. Aku tahu, kau juga ingin keluar dari perputaran abadi ini, 'kan?"
Naura mengiyakan ucapan Rian. Dia mengaku ada rasa takut jika perputaran waktu ini benar-benar abadi.
Rian terdiam mendengar perkataan Naura. Sambil Naura membuat teh hangat. Rian perlahan menjelaskan penemuannya.
"Aku bertemu dengan beberapa orang yang situasinya sama seperti kita. Terjebak dalam perputaran waktu. Apa kau tahu tentang Nagita?" tanya Rian dengan penasaran.
"Aku tahu tentangnya," jawab Naura, "Tapi, tidak begitu dekat dengannya. Lagipula bukankah dia memang orang yang sulit ditebak?"
Rian mengangguk pelan dan mengiyakan ucapan Naura. "Dia juga terjebak dalam perputaran waktu ini."
Dahi Naura mengerut dan alisnya naik dengan mendadak. Dia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rian. Jadi, dia meminta informasi baru yang Rian dapatkan.
"Aku juga masih belum mengerti cara kerja perputaran waktu ini," ungkap Rian sambil mengangkat kedua bahunya, "Tapi, menurut penuturan Nagita. Perputaran waktu yang dialami oleh tiap orang itu berbeda-beda."
__ADS_1
Setelah membuat dua cangkir teh hangat. Naura memintanya untuk duduk di kursi panjang dekat koridor. Naura langsung menaruh dua cangkir teh hangat dan meminta Rian melanjutkan penemuannya.
"Bagian itulah yang tidak kumengerti. Nagita mengaku dia sudah lebih dari sepuluh kali mengalami perputaran waktu ini. Disisi lain, ada anak kelas sepuluh yang bernama Amanda. Dia mengaku baru mengalami perputaran waktu yang kesembilan."
"Mengapa bisa berbeda-beda begitu ya?" tanya Naura sambil memejamkan matanya, "Tunggu, ada berapa orang yang terjebak dalam perputaran waktu ini?"
Rian langsung mengangkat keempat jarinya. "Aku, kau, Nagita dan Amanda. Yah, sejauh ini baru itu yang diketahui. Entah, apakah diluar sana masih banyak orang yang terjebak dalam perputaran waktu ini atau tidak."
Naura meminum teh hangatnya. Dia menjelaskan kalau situasi seperti itu jauh lebih baik. Sebab dia dan Rian tidak akan menggila dalam posisi terjebak dalam perputaran waktu ini.
Mendengar perkataan Naura yang seperti itu membuat Rian menarik napas panjang lalu mencoba untuk meniup teh hangat miliknya. Rasa teh hangat yang dibuat oleh Naura tidak begitu manis atau pahit.
Rian mengangkat topik pembicaraan mengenai apa yang Naura temui selama perputaran waktu sebelumnya.
Naura tertawa kecil dan sombong. "Aku bertemu dengan pak Gandhi."
"Guru fisika itu!" seru Rian.
Naura membentuk wajah sombong diwajahnya karena mampu mendapatkan ide menarik seperti itu.
"Cie ... Tumben dekat begini," ledek Danang.
"Ah, berisik lu. Dah sana ke kamar mandi. Cuci tuh muka biar bersih," balas Rian.
Danang termenung mendengar perkataan Rian. Layaknya bertemu dengan seorang hantu. Dia tidak menyangka kalau Rian mampu membaca pikirannya.
"Kok bisa tahu?" tanya Danang.
"Biasa aja kali mukanya. Kayak belum pernah lihat penerawang aja. Tadi, cuma tebakan doang, kocak."
Danang menggelengkan kepala. Lalu dia tertawa kecil. Dia menanyakan apakah Rian akan ikut dengannya atau tidak.
"Nanti aja gue nyusul," balas Rian.
__ADS_1
Danang segera meninggalkan Rian dan Naura sambil melambaikan tangannya tanpa memperhatikan mereka berdua.
Setelah kepergian Danang. Naura menceritakan kalau pertemuan dengan pak Gandhi membahas perihal perputaran waktu. Naura juga mengaku kalau dia tidak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pak Gandhi.
"Singkatnya perputaran waktu mungkin memang bisa terjadi. Karena sejak awal, para penyintas perputaran waktu itu tidak bisa keluar dari aliran waktu," jawab Naura.
Rian bertepuk tangan untuk sesaat. Dia tidak menyangka akan mendengar perkataan itu dari pak Gandhi. Sebab pak Gandhi memang guru yang terkenal pelit memberikan nilai.
Naura melanjutkan kalau dirinya masih belum menemukan jalan keluar dari perputaran waktu. Pembicaraannya dengan pak Gandhi berakhir cepat.
"Apalagi insiden Nagita langsung membuat seluruh aktivitas sekolah terhenti. Jadi, aku tidak begitu banyak berbicara dengan pak Gandhi."
Naura memiringkan kepalanya. Di wajahnya masih terlihat, kalau Naura dipenuhi ketidakpuasan akan pertukaran informasi ini.
Tanpa mereka berdua sadari. Cangkir teh yang diminum oleh Naura telah habis. Kedua kaki langkah Naura segera berjalan ke dispenser. Dia menaruh cangkirnya tepat disamping dispenser.
"Tapi, mengapa di pentas seni, ya?" gumam Naura.
Rian menggelengkan kepala untuk merespon pertanyaan Naura. Sebab dia sebelumnya juga pernah menanyakan hal itu dalam dirinya.
Naura meregangkan ototnya untuk sesaat sebelum duduk di kursi. Dia menerangkan kalau pentas seni sering disebut sebagai kegiatan masa muda dikalangan para murid.
Sejujurnya Rian lebih tidak mengerti. Apa yang ingin diucapkan oleh Naura. Jadi, dia hanya mengangguk pelan berkali-kali dan beranggapan kalau dia mengerti.
"Masa muda, ya?" timpal Rian sambil melihat ke langit-langit koridor, "Rasanya itu terdengar dilebih-lebihkan. Memang kenyataan itu bisa saja benar. Walau pada akhirnya, kita tidak mengerti apa-apa."
"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Naura.
Rian berhasil menghabiskan teh hangatnya. Dengan segera dia berdiri dari kursi dan berjalan ke arah dispenser. Dia menaruh gelasnya tepat disamping kiri gelas yang sebelumnya dipakai oleh Naura.
Perlahan dia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Lalu Rian tiba-tiba teringat dengan apa yang dikatakan oleh Amanda. Itu tentang perkumpulan yang berisi penyintas perputaran waktu. Perkumpulan itu ingin sekali dibuat oleh Nagita.
"Bagaimana jika kita bertemu dulu dengan mereka?" tanya Rian sambil bersandar pada dinding koridor.
__ADS_1
Jadi telunjuk tangan kanannya Rian mengarah ke gedung. Naura yang tidak mengerti maksud dari Rian langsung memejamkan matanya berkali-kali. Menyadari suasana yang canggung, membuat Rian mengarahkan telunjuknya ke atap gedung.
"Namanya Tempo Sercanto (Pencari Waktu)."