
"Dasar cewek aneh!"
"Murahan banget jadi cewek. Dia itu pacarnya Intan!"
"Kalau gue jadi lu. Gue udah malas sekolah disini. Keburu malu duluan."
Semua ocehan itu terus mengalir setiap harinya di sekitar telinga Nara. Tepat di ruang kelas 1-E, ada sebuah perundungan yang sudah terjadi selama dua bulan.
Perundungan itu dimulai ketika Nara membantu salah satu cowok populer di sekolah yang kesusahan karena membawa banyak buku pada kedua tangannya. Diluar dugaan, karena perbuatan Nara, dia malah menjadi korban perundungan para gadis di kelasnya.
Nara sama sekali tidak mengerti mengapa dia terus-terusan dirundung atas perbuatannya yang menolong orang lain. Padahal dia juga tidak menyusahkan siapa-siapa.
Rumor yang awalnya dari satu mulut ke mulut lainnya akhirnya sampai ke telinga Nara. Ternyata semua hanya kesalahpahaman. Nara diduga sengaja mendekati cowok populer yang sudah mempunyai pacar. Sialnya pacarnya itu ada di kelasnya. Karena hal itulah, dia menjadi korban perundungan di kelasnya.
Awalnya Nara bisa menghiraukan ucapan orang-orang yang terjadi karena kesalahpahaman. Toh, Nara memang sudah terbiasa hidup menyendiri sejak kecil. Pemandangan perundungan yang terjadi di sekolah sudah menjadi makanan sehari-harinya saat di SMP.
Nara hanya ingin menjalani hari sebagai murid biasa. Karena hal itulah, dia menghabiskan waktu dengan membaca novel dan berusaha tenggelam ke dalam ceritanya. Bagi Nara, kehidupan memang begitu kompleks. Jadi, dia sulit untuk marah dan menjelaskan situasinya. Sudah jelas, itu hanya tindakan yang sia-sia.
Hari ini adalah kegiatan pentas seni sekolah. Awalnya Nara ingin sekali tidak datang ke sekolah dengan beralasan sakit. Tapi, kebetulan dia teringat dengan tugasnya menjadi penjaga pameran. Sebab kelasnya mengadakan pameran foto
Dengan kedua langkah kaki yang kuat. Sesampainya di sekolah, ketua kelas yang adil terhadap semua orang memberikan tugas keamanan kepada Nara dan beberapa orang lainnya. Karena sebagian orang di kelasnya berperan penting untuk menampilkan tari modern.
Disisi lain, ketua kelas juga minta maaf karena tidak bisa membantu Nara dalam perundungan. Oleh karena itu, dia menempati Nara di kelas agar menjauhi Nara dari kelompok perundung yang menguasai kelas.
Mendengar perkataan ketua kelas yang tulus. Membuat Nara bersyukur masih ada orang di kelasnya yang seperti dirinya.
__ADS_1
Pameran foto yang diselenggarakan oleh kelas 1-E bermuatan dengan pemandangan-pemandangan alam. Semua foto pilihan ini berdasarkan pemungutan anggota kelas sebelum pameran.
Seluruh foto akan dipajang secara anonim tanpa nama untuk tidak membuat rasa iri antar orang di kelas. Mau dipikir berulang kali, ide yang dipaparkan oleh ketua kelas memang sangat adil.
Sambil berdiri di sudut ruangan yang berdekatan dengan jendela. Nara merapihkan dasi abu-abu yang dia kenakan agar terlihat sedap dipandang oleh seorang lain.
Dirinya tidak menyangka kalau hari ini akan begitu panas, beruntungnya Nara telah mengenakan seragam putih abu-abu lengan pendek. Keputusannya pada pagi ini sudah tepat.
Diluar dugaan. Beberapa anggota kelas lainnya memasuki kelas. Kebetulan karena belum ada pengunjung yang memasuki kelas. Para anggota tari modern terpaksa latihan di dalam kelas.
Saat itu pukul di jam tangan Nara telah menunjukkan angka pukul setengah delapan pagi. Nara melihat orang lain dari kejauhan. Nata menyadari ada beberapa orang yang tergabung dalam anggota perundung melihat Nara dan berbisik-bisik.
Dengan cepat salah satu orang dari anggota perundung yang sering menganggu Nara datang dan berbisik pelan.
Mendengar perkataan itu membuat Nara terdiam tanpa merespon ucapannya. Dia tidak mengerti mengapa dirinya disuruh untuk pulang. Ada rasa bimbang untuk menetap di kelas atau memang meninggalkan sekolah.
Setelah berpikir dalam waktu lama. Entah bagaimana Nara memutuskan untuk tetap di kelas. Karena dia pikir, ucapan yang dia dengar tadi hanya gertakan kecil untuk menakutinya.
Layaknya nasi yang sudah menjadi bubur. Keputusan yang dipilih oleh Nara langsung menghancurkannya.
Semua bermula pada pukul setengah sembilan. Tidak ada yang menyangka sebelumnya, kalau beberapa pengunjung mulai berdatangan untuk melihat-lihat pameran foto di kelas 1-E.
Disaat kelas sedang begitu ramai. Nara yang berdiri di sudut ruangan sambil memperhatikan keadaan sekitar segera menjadi korban atas permainan kecil teman-teman di kelas yang merundungnya. Sejak awal, sebenarnya para perundung itu tidak ingin bertindak begitu jauh sampai mendapat sorotan pengunjung luar sekolah.
Salah satu orang perundung yang awalnya ingin memberikan beberapa cipratan ke pakaian Nara menggunakan air bekas cuci foto. Tubuhnya malah tidak sengaja disenggol oleh seorang pengunjung yang sedang melihat-lihat.
__ADS_1
Air yang berada di dalam baskom langsung membasahi pakaian Nara. Kedua tangan si perundung langsung bergetar karena panik dengan insiden yang telah terjadi.
Nara hanya terdiam mendapat perlakuan seperti itu. Dia tidak ingin menangis di depan banyak orang. Jadi, dia berjalan pelan meninggalkan kelas. Beberapa orang membicarakannya dari belakang. Bukan tentang Nara. Namun, konflik perundungan itu tiba-tiba menyebar dikalangan pengunjung.
Di sepanjang koridor, beberapa orang memperhatikan Nara dengan pakaiannya yang basah. Ada bisikan dan menanyakan apa yang sedang terjadi.
Nara rasanya ingin sekali menghilang dari dunia ini. Pikiran dia hanya tertuju pada ruangan di ujung koridor lantai dua. Kamar mandi perempuan.
Sesampainya di kamar mandi. Nara langsung melepas dasi abu-abunya dan seragam putihnya. Walau kamisol putih yang dia kenakan juga ikut basah. Untungnya pakaian dalamnya tidak basah.
Setelah mencuci pakaian putih, kamisol dan dasi abu-abunya menggunakan air yang mengalir. Nara bersandar pada pintu kamar mandi dan menangis tanpa suara dengan perlahan. Air matanya membasahi kedua pipinya.
Nara ingin sekali mati setelah semua yang terjadi. Bagaimana pun juga, tindakan yang dilakukan oleh perundung itu begitu berlebihan pada hari ini. Sebelumnya dia hanya bisa menahan semuanya sendirian ketika seperti mendapat perlakukan seperti buku yang dicoret-coret, mejanya yang diacak-acak, bahkan peralatan pribadi yang dihilangkan.
Namun, untuk pertama kalinya. Nara mendapat perlakuan seperti itu. Tentu saja, membuat Nara sedih dan tidak ingin keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian yang basah.
Tiba-tiba, layaknya sebuah malaikat yang datang membantu. Ada ketukan dari balik pintu. Suara seorang gadis yang belum pernah Nara dengar.
"Aku melihatnya tadi. Apakah kau sudah meluapkannya? Aku ingin meminjamkanmu ini," ucap gadis itu.
Nara perlahan membuka pintunya sambil memegang pakaian basahnya untuk menutupi bagian dadanya. Kedua matanya terkejut melihat ada seorang gadis berambut hitam yang memberikannya jaket.
"Namaku Nagita. Dari kelas 2-B," ucap gadis itu, "Aku harap, kau mau memakainya sambil menunggu seragam itu kering."
Tepat setelah pertemuan Nara dengan Nagita dikamar mandi kala itu. Nara telah terjebak dalam perputaran waktu dan bersenang-senang dengan Nagita. Dia sudah mengulangi waktu untuk yang ke kedua puluh kalinya.
__ADS_1