
Amanda menghembuskan napas berat. Dia memandang langit malam dari teras lantai dua kamarnya bersama dengan Nara. Sebenarnya Amanda belum pernah mengundang orang lain ke rumahnya. Walau begitu, dia senang dengan kedatangan Nara.
"Apakah kau tidak dicari oleh orang rumah?" tanya Amanda.
Nara tertawa kecil. Dia berkata kalau selama perputaran waktu ini, Nara belum pernah pulang ke rumah. Ada hal yang tidak ingin dia ceritakan.
Mendengarnya membuat Amanda terdiam. Dia minta maaf karena membawa topik tersebut. Jadi, dia beranjak dari kursi dan berniat untuk mengambil beberapa cemilan di kulkas.
"Apa kamu membutuhkan sesuatu selagi aku ke bawah?" tanya Amanda.
Nara menggelengkan kepala dengan cepat. Dia tidak ingin apa-apa. Dirinya hanya ingin ketenangan.
...***...
3 Desember 20××
05:33 WIB
Andi Cahyano menghembuskan napas berat sambil memandang langit yang biru. Hari itu adalah hari dimana SMA Putra Bangsa mengadakan pentas seni untuk pertama kalinya.
Sebenarnya dia malas sekali datang ke sekolah pada hari ini. Tapi, dia ingin melakukan sesuatu. Dia ingin menyelesaikan kesalahpahaman yang menimpa kepadanya pada beberapa hari lalu.
Dirinya mendapat tuduhan palsu bersama seorang adik kelas ketika terkunci di ruang gudang olahraga. Apalagi dia adalah mantan Ketua eskul Sepak Bola. Jelas hal itu menyebar dengan cepat ke seluruh sekolah.
Apalagi sejak mencuatnya masalah itu, Hubungan percintaannya bersama dengan pacarnya menjadi renggang. Karena hal itulah, dia ingin menyelesaikan semua masalahnya pada hari ini.
Tepat ketika Andi berjalan memasuki gerbang sekolah. Sambil menggendong tas olahraganya. Dia mendapat beberapa tatapan aneh dari para anak-anak kelas satu. Walau ada juga yang menyapanya seperti biasa karena tidak percaya dengan rumor.
"Selamat pagi."
"Sore nanti bakal main enggak?"
"Wajah lu pucet banget, Ndi."
"Udah gak usah dipikirin. Orang-orang hanya gak dekat sama lu. Karena itu, mereka bisa mengatakan hal seenaknya pada lu."
"Semangat, Ndi!"
__ADS_1
Entah sudah berapa kali ucapan penuh hangat yang dilontarkan oleh beberapa temannya. Andi hanya bisa terdiam dan merenungkan banyak hal. Dia sudah membulatkan tekad untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini. Terutama kepada para anggota eskul sepak bola.
Saat itu jam di arlojinya telah mengarah pada angka setengah tujuh pagi. Acara pentas seni belum dimulai. Andi memutuskan untuk berjalan menaiki tangga dan menuju ke kelasnya.
Kelas 3-E. Kelas yang mengadakan acara rumah hantu. Letaknya ada pada lantai teratas gedung barat. Kedua kaki Andi berjalan santai menyusuri anak tangga.
Sesekali dia bertukar sapa dengan beberapa orang. Dari murid kelas lain, staff sekolah, bahkan si Ketua OSIS.
Andi tertawa kecil melihat Danang yang rambutnya masih basah. Dia tahu kalau Danang habis mandi di kamar mandi sekolah.
"Habis mandi lu, Nang?" tanya Andi.
Danang berhenti sesaat. "Iya, nih. Ngomong-ngomong, gue gak nyangka kalau lu bakal datang ke sekolah. Apalagi setelah rumor tidak mengenakkan itu beredar."
"Aku berniat menyelesaikan semuanya hari ini," jawab Andi, "Yah, rumor itu sangat buruk. Bahkan kudengar adik kelas yang terkunci denganku juga mengalami peristiwa buruk di kelasnya."
Danang menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. "Bagus tuh. Gue gak tahu, semuanya bermula dari siapa. Tapi, kalau gue jadi lu. Gue bakal membuat wajah si penyebar rumor itu hancur."
"Makasih."
"Tenang saja. Gue disisi lu," balas Danang sambil menepuk pundak Andi, "Orang lain itu gak tahu lu siapa. Andi melakukan hal mesum dengan adik kelas? Jangan bercanda. Orang pengecut macam lu aja gak bisa nyium pacar sendiri. Walau si cewek yang minta lu buat nyium pipinya"
"Dah, ya. Gue harus ke ruang OSIS dan membicarakan rencana untuk hari ini," kata Danang.
"Semangat!" seru Andi.
Andi kembali melanjutkan langkah kedua kakinya menaiki tangga. Ada embusan angin yang dingin dari arah belakang. Berkat itu sampai membuat Andi memegang bagian belakang lehernya.
Dalam batinnya dia berharap kalau semuanya akan baik-baik saja. Sebab sudah sejak dulu, ketika dia merasakan itu. Andi yakin kalau ada sesuatu yang buruk akan segera menimpanya.
Kelas pada tiap koridor yang seharusnya untuk satu angkatan. Terkadang untuk beberapa kondisi akan kedatangan angkatan yang ada di bawahnya.
Saat itu kedua kakinya Andi berjalan mantap menuju kelasnya. Tapi, diluar dugaan, Andi mendengar perkataan yang membuat dirinya sangat marah datang berasal dari kelas 2-E.
"Akhirnya gue bisa ngerebut pacarnya Andi! Dadanya gede banget sialan," ucap Puji, "Lu pada mau lihat foto-fotonya, enggak?"
"Bajingan juga Ketua baru eskul sepak bola ini."
__ADS_1
"Gue bahkan semalam tidur dengannya. Yah, dengan beberapa ancaman yang membuat dia terpaksa," balas Puji dengan penuh sombong, "Gue juga yang ngerusak hubungan mereka berdua karena rumor itu, haha."
"Terus gimana pas di kasur?"
"Wah, emang cantik banget itu cewek."
Andi sangatlah marah mendengar perkataan Puji. Dia sangat tidak menyangka kalau Puji, orang yang sudah dipercayainya. Malah lebih bajingan yang dari Andi kira.
Tanpa berpikir panjang. Andi langsung memasuki kelasnya Puji dengan wajah yang penuh amarah.
"Emang orang kaya itu kadang gayanya, anjing!" seru Andi.
Beberapa teman sekelasnya Puji yang dekat dengan Puji langsung menjauh dengan cepat ketika Andi datang. Berkat kedatangan Andi, foto-foto yang ada di mejanya jatuh berantakan dan salah satunya terbang ke arah kakinya Andi.
Andi tidak menyangka kalau dia akan melihat pacarnya yang menangis ketika di foto oleh Puji. Dengan segera, dia menyobek foto itu menjadi potongan berkeping-keping dan berlari ke arah Puji.
Kaki kanan Andi dilayangkan ke meja Puji dengan kuat. Berkat kekuatannya membuat Puji jatuh ke belakang dan tertimpa meja.
"Tunggu sebentar, bang," kata Puji, "Gue bisa jelasin."
Andi langsung menarik meja yang menimpa puji dan melemparnya ke sisi lain kelas. Tanpa ampun, Andi langsung menendang perut Puji dan membuatnya kesakitan.
"Mau dijelasin seperti apa, hah!" seru Andi, "Semua udah ada buktinya. Foto dan pengakuan lu barusan. Lu pikir gue ini budek? Gue mendengar semuanya."
Andi langsung menduduki perutnya Puji. Tas yang ada di punggungnya dia lepas dan kedua tangannya bersiap untuk bergerak.
Ada beberapa suara orang yang ingin melerai perkelahian Andi dan Puji. Tapi, teman-temannya Andi mendukung perbuatannya.
"Udah pukulin aja itu bocah."
"Kalau gue jadi lu. Gue bakal bikin hidupnya gak nyaman."
"Minimal tulang hidungnya patah!"
Andi tertawa keras mendengar semua ucapan teman-temannya. Dengan suara yang lantang, dia meminta Puji untuk bersiap dengan segala kemungkinan.
Puji berkali-kali meminta maaf. Tapi, pikiran Andi sudah terlalu dipenuhi oleh kabut. Tanpa aba-aba. Pukulan pertama langsung mengarah ke tulang hidungnya Puji dan membuat dia berdarah.
__ADS_1
"Arggggg!" teriak Puji.
Disanalah Andi tidak tahu. Sebab dia akan selalu memukuli Puji pada satu hari yang sama. Hari dimana pentas seni dilaksanakan.