
"Saya juga tidak mengerti, pak," ucap pak Gandhi kepada polisi, "Semuanya bergerak dengan begitu cepat. Saking cepatnya, seolah-olah saya tidak sempat untuk mengedipkan mata."
"Tenang saja, pak Gandhi," balas si polisi, "Saya tidak menuduh anda. Saya hanya ingin mendapatkan keterangan dari anda yang berdiri tepat sebelum tertembaknya korban."
Pak Gandhi melanjutkan kalau dia hanya berbicara dengan Rian tentang masalah mata pelajaran.
"Rian menanyai saya tentang mata pelajaran yang begitu sulit diajari oleh guru lain. Kebetulan saya memang tidak mengajari angkatannya tahun ini karena kesibukan lainnya," kata pak Gandhi, "Yah, saya harus bertemu dengan banyak orang. Karena itu, saya mengurangi jatah pembelajaran kelas."
Pak polisi tersenyum kecil. "Enaknya, ya? Bisa bebas kesana-kemari dan tidak terikat aturan sekolah."
"Ah, bukan begitu. Saya tetap mengajar, kok. Cuma yang biasanya mengajar sekitar lima atau enam kelas dalam satu tahun. Tahun ini hanya kebagian mengajar sebanyak tiga kelas," lontar pak Gandhi.
Seorang polisi melirik ke beberapa gedung yang berdekatan dengan SMA Putra Bangsa. Sambil memikirkan semua kemungkinan. Dia mengangguk pelan.
"Sniper, ya?" gumam polisi, "Menarik."
...***...
Rian. Seorang Sekretaris OSIS SMA Putra Bangsa dinyatakan meninggal. Dugaan polisi untuk sementara adalah peluru nyasar. Jadi, kasus ditutup dengan cepat dengan minim penyelidikan.
Dengan kasus penembakan itu. Sekolah menjadi tempat yang berbahaya. Karena hal tersebut, kepala sekolah SMA Putra Bangsa menginstruksikan untuk memulangkan seluruh murid dan membatalkan kegiatan pentas seni. Dia tidak ingin melihat ada yang terluka lagi.
Nagita, Naura dengan Nara dan Amanda terkejut mendengar kabar itu. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Dalam hatinya Nagita, dia tahu kalau ada yang tidak beres.
Entah karena apa. Nagita terkadang seperti mampu merasakan niat aneh dari orang-orang di sekitarnya. Walau itu hanya perasaanya semata. Tapi, terkadang, perasaannya selalu benar.
Menatap tempat kejadian membuat Nagita kebingungan dan dia sudah tidak sabar untuk menanyakan kabarnya Rian. Jadi, dia berlari meninggalkan sekolah dengan segera.
Di tengah keramaian yang diciptakan oleh para murid pada gerbang sekolah. Nagita menancapkan kedua kakinya. Ditambah tekad yang kuat. Dia akan menyusul Rian.
Tepat ketika gerbang sekolah dibuka. Nagita langsung berlari ke tengah jalan dengan sebuah mobil truk besar yang berjalan cepat ke arahnya. Kedua tangannya yang membentang ke kedua sisi membuat Nagita tampak pasrah dengan hidupnya.
__ADS_1
Supir truk yang melihat kegilaan seorang cewek berdiri di tepi jalan, jelas membuat dia terkejut. Beberapa kali sang supir menginjak rem-nya untuk menghentikan mobil. Tapi, apa daya, semua sudah terlambat.
Hantaman kuat segera mengarah ke Nagita. Ada suara retak tepat ketika mobil itu menginjak tubuhnya Nagita. Dengan hasil akhir, mobil itu juga terguling tepat di tengah perempatan jalan.
...***...
Mengetahui Nagita menabrakkan diri ke mobil. Amanda dan Nara memutuskan untuk pulang bersama dengan menganggap tidak ada yang terjadi. Sebab sebelumnya mereka sudah pernah melihat kematian Nagita yang sengaja bunuh diri dan mereka malah saksi dari polisi.
Di pinggir jalan yang dipenuhi pepohonan. Amanda membuka topik pembicaraan tentang tempat tinggalnya Nara. Merasakan kecanggungan diantara Amanda dengan Nara, membuat Amanda sedikit tidak nyaman. Dia tidak menyangka akan sesulit itu berbicara dengan orang yang baru dikenal.
"Em, tidak jauh dari jalan ini," jawab pelan Nara, "Ka-Kau hanya perlu jalan ke depan sampai perempatan jalan kedua. E..., Lalu belok ke kiri dan masuk ke gang kiri kedua. Ada warteg dengan bangunan dua lantai di tepi jalan kecil. Nah, warteg itu tempat tinggalku."
Mendengar perkataan Nara membuat Amanda terkejut. Dia tidak menyangka kalau rumahnya Nara sedekat itu dengan sekolah. Jadi, ada keluhan kecil yang keluar dari mulut Amanda sambil mengeluarkan napas berat.
"Enaknya, ya?" gumam Amanda, "Punya rumah yang dekat dengan sekolah."
Kepala Nara berputar cepat. "Enggak juga, kok. Bagiku, itu masih tetap jauh. Memangnya rumahmu ada dimana?"
"Kamu tahu Perumahan Pucuk Indah?" tanya Amanda.
Mendengar ucapan Nara. Amanda langsung menunjuk dengan penuh semangat. Dia mengaku ingin sekali bisa pergi ke tempat yang baru. Untuk orang yang sepertinya, Amanda sulit mendapatkan izin dari kedua orang tuanya ketika keluar dari rumah.
Nara mengangguk pelan. "Aku tahu perasaan itu."
Kedua mata Amanda menatap langit dengan pelan. Dia menawarkan Nara untuk datang ke rumahnya. Sebab kedua orang tuanya sedang pergi bekerja.
"Apa kau yakin?" tanya Nara, "Bukankah kita baru bertemu?"
Amanda tersenyum kecil. "Kak Nagita sudah sangat mempercayaimu. Jadi, aku yakin, kalau kamu adalah orang yang baik."
"Aku akan menerimanya dengan senang hati."
__ADS_1
...***...
3 Desember 20××
05:33 WIB
Rian terbangun dengan cepat dan berlari ke arah pagar di depan ruang OSIS. Dengan sekuat tenaga, dia berlari di sepanjang koridor dan kembali ke tempat dimana dirinya ditembak.
Kedua mata Rian melihat ke seliling bangunan dan memperkirakan dimana dia ditembak. Dengan hembusan napas berat. Tangan kanan Rian yang dia kepalkan, langsung dibenturkan ke pagar besi.
Dia tidak mengerti apa yang telah terjadi. Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Diantaranya; Mengapa dirinya ditembak?
Dari kejauhan Naura memanggil Rian di kejauhan dengan napas yang terengah-engah. Dia bertanya apa yang sedang terjadi.
Rian menggelengkan kepala. "Aku juga tidak mengerti. Aku hanya menanyakan tentang time loop ke pak Gandhi dan tiba-tiba perutku ditembak oleh seseorang."
Naura terkejut mendengar penjelasan Rian. Dia menambahkan kalau itu tidak mungkin peluru nyasar.
"Ah, jadi polisi berkata seperti itu?" tanya Rian dengan nada amarah, "Mata mereka buta, ya?"
Rian marah sambil menunjuk ke arah bangunan lima lantai yang sudah tak terpakai. Bahkan dia sampai berteriak kesal.
"Aku yakin kalau tembakannya dari arah sana!" geram Rian, "Tapi, semuanya masih sangat memusingkan."
Tiba-tiba dari arah koridor yang lain. Ada suara langkah kaki pelan bergerak ke arah Rian dan Naura yang sedang bersandar pada pagar. Mereka berdua kepusingan memikirkan semua kemungkinan yang terjadi.
Seorang laki-laki tinggi yang populer dikalangan para gadis datang mendekat. Dengan papan nama 'Andi Cahyano' yang terpasang pada jaket olahraganya. Dia ingin ikut berdiskusi dengan Rian dan Naura.
Sebab beberapa perputaran waktu terakhir. Andi memperhatikan kelompok Rian dan mendapatkan kalah mereka juga terjebak dalam perputaran waktu. Karena itulah, Andi berniat untuk mengajaknya bekerja sama.
Dengan keyakinan yang tinggi. Andi berdiri di depan Rian dan Amanda yang tercengang dengan kehadirannya.
__ADS_1
Disanalah Andi memulai pembicaraan dan membuat Rian serta Amanda terdiam.
"Aku mempunyai teori gila dalam perputaran waktu yang menimpa kita."