
Seluruh kegiatan sekolah langsung dihentikan akibat tewasnya Nagita yang terjun dari lantai atas koridor. Semua murid langsung diliburkan dan dipulangkan. Tidak lupa, pihak sekolah memanggil pihak berwajib untuk menyelidiki insiden itu.
Beberapa orang yang sebelumnya menyaksikan Rian dengan Nagita. Memberikan petunjuk ke arah polisi kalau sebelumnya Rian dan Nagita sedang dekat dengan balkon sekolah.
Akibat informasi tersebut. Rian tidak diizinkan pulang dan ditahan untuk dimintai keterangan terkait insiden itu.
Rian diinterogasi lebih dari tiga jam oleh pihak berwajib akibat tragedi ini. Apalagi ditambah kebersamaan mereka berdua terlihat dari rekaman pengawas yang terpasang di koridor sekolah. Dia yang tidak mengerti apa-apa, hanya bisa menjawab semua pertanyaan dengan ketidakmengertiannya.
Setelah hampir seharian diinterogasi oleh polisi. Rian dibebaskan dan kasus tewasnya Nagita dianggap sebagai bunuh diri tanpa kejelasan yang jelas. Sebab dari rekaman pengawas tidak ada tanda-tanda perkelahian atau rencana pembunuhan yang dilakukan oleh Rian.
Walau awalnya dia ditanyai oleh polisi terkait alasan kenapa dirinya memegang pundak Nagita lalu menyeretnya di dinding. Rian hanya bisa menjawab dan berbohong kalau Nagita mengajaknya bercanda. Karena hal itu, setelah pendorongan ke dinding tidak ada tanda-tanda Rian adu mulut dengan Nagita dan malah terlihat dalam pembicaraan yang serius.
Rian menjelaskan kalau sebelumnya dia cukup dekat dengan Nagita. Pembicaraannya terkait taruhan yang dia buat bersama. Taruhan itu tentang mendapatkan nilai lebih tinggi di mata pelajaran matematika. Polisi yang mengerti hanya bisa mengangguk pelan.
Setelah keluar dari gerbang sekolah. Rian mendapati pesan dari si Hantu Perpustakaan, "Amanda Geisya" yang memintanya untuk bertemu di taman dekat sekolah.
Dengan cepat, Rian menyalakan motornya dan bergerak ke arah taman di dekat sekolah. Saat ini waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Tapi, entah bagaimana suasananya masih terasa panas. Cahaya matahari seperti membakar kulitnya.
Ketika memarkirkan motornya. Rian menemukan Amanda sedang melambaikan tangannya dari gazebo yang terletak di tengah taman.
Kedua langkah kaki Rian bergerak cepat ke arah Amanda sambil memegang tas dengan erat menggunakan kedua tangannya. Sesampainya di gazebo, ada beberapa cemilan dan minuman botol yang disediakan oleh Amanda.
"Ambil, kak. Hari ini, aku yang traktir," ungkap Amanda sambil tertawa kecil.
Tanpa berlama-lama, Rian mengangguk pelan dan mengambil botol berisi air mineral. Tepat setelah membukanya, air mineral yang dipegang oleh Rian langsung terjun dengan deras di dalam tenggorokannya.
"Kamu harus membiasakan diri dengan hal ini," bisik Amanda, "Tapi, diintrogasi oleh polisi memang menyebalkan. Aku pernah mengalaminya."
Ada embusan yang berat keluar dari mulut Rian. Dia tidak ingin membahas hal ini lagi.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong. Bagaimana jika kita mempersingkatnya saja? Aku yakin, ada banyak yang ingin kak Rian sampaikan, 'kan?" tanya Amanda.
Rian mengangguk. "Itu benar. Aku sama sekali juga tidak mengerti apa yang terjadi pada hari ini. Rasanya semua terjadi begitu cepat."
"Kak Nagita memang seperti itu," ungkap Amanda sambil tertawa kecil, "Saat aku pertama kali bertemu dengannya. Situasiku sama dengan kak Rian. Menjadi tersangka utama atas tewasnya kak Nagita yang menabrakkan diri ke mobil."
"Oke, itu memang menyebalkan. Ketika ketemu dirinya lagi. Aku pasti akan memukul kepalanya," jawab Rian sambil menghembuskan napas berat, "Kenapa dia seolah-olah tidak menyayangi nyawanya sendiri, sih? Dengan mudahnya mati dan terus mengulangi hidup."
Amanda segera menggelengkan kepala. Dia mengakui kalau pendapatnya sama dengan Rian.
Tangan Amanda langsung mengeluarkan buku dan membuat lingkaran yang sama seperti Nagita. Pada lingkaran pertama dia menuliskan nama Amanda dan pada lingkaran kedua dia menuliskan nama Rian.
"Tentang perputaran waktu yang dialami kak Rian. Sekarang sudah yang ke berapa?" tanya Amanda.
Rian memikirkannya untuk sejenak. Lalu dia menjawab kalau dirinya telah mengalami dua kali perputaran waktu.
Mendengar jawaban dari Rian. Amanda segera menulis angka dua di lingkaran milik Rian. Perlahan Amanda terhenti dan memikirkan sesuatu. Lalu menghembuskan napas berat.
Mendengar yang dikatakan oleh Amanda membuat Rian terkejut. Dia juga teringat dengan perkataan Nagita kalau dirinya telah mengalami perputaran waktu lebih dari yang dipikirkan.
Rian langsung berdiri dari kursi dan memejamkan matanya. Dia berjalan-jalan kecil karena kebingungan dengan apa yang dialaminya saat ini.
Tangan telunjuk Rian menunjuk ke arah Amanda dan mengungkapkan kalau ada anggota OSIS lainnya yang mengalami hal sama.
"Ah, Wakil Ketua OSIS itu, ya?" tanya Amanda, "Aku tidak menyangka kalau dia juga terjebak dalam perputaran waktu ini. Berarti dengan kata lain, kalian berdua terjebak dalam waktu yang sama?"
Rian mengangguk pelan. Dia kembali ke tempat duduknya dan menyandarkan kepalanya ke atas meja berisi makanan serta minuman.
Kepala Rian terasa ingin meledak menyaksikan semua ketidakmengertian yang dia alami saat ini. Dia tidak mengerti bagaimana cara sistem perputaran waktu ini. Dia juga tidak mengerti, mengapa bisa terjebak dalam peristiwa ini.
__ADS_1
"Hei, Amanda. Kalau dipikir-pikir, kenapa harus di acara pentas seni, ya? Tentang semua perputaran waktu ini. Terlebih lagi perbedaan perputaran waktu yang dialami oleh setiap orang. Aku sama sekali tidak mengerti," keluh Rian.
Amanda mengangkat kedua bahunya. Dia membuka kripik kentang rasa balado dan mengunyahnya. Kemudian dia menambahkan jawaban atas perkataan Rian.
"Apa mungkin kita adalah orang yang berdosa? Tuhan sengaja menciptakan perputaran waktu tanpa akhir ini untuk kita. Agar mampu merenungkan semua kesalahan yang pernah kita buat?"
Mendengar jawaban dari Amanda membuat Rian semakin terpuruk. Rian merasa kalau dia selama ini adalah orang yang baik. Jadi, tentu saja, dia tidak ingin terjebak dalam perputaran waktu tanpa henti ini.
Rian kembali melontarkan pertanyaan kepada Amanda perihal hubungannya dengan Nagita. Rian bertanya-tanya, apakah Nagita membicarakan hal lain kepadanya. Sebab sebelumnya, Nagita ingin memperkenalkan Rian kepada Amanda.
Kedua mata Amanda melirik ke tempat lain. Terlihat jelas kalau memang ada maksud tertentu yang ingin disampaikan oleh Nagita ke Rian.
Bibir Amanda bergetar. Dia menjelaskan kalau Nagita ingin membuat perkumpulan orang-orang yang terjebak dalam perputaran waktu ini. Sebab Nagita yakin, ada banyak orang diluar sana yang terjebak seperti dirinya.
Rian mengerti. Rasanya semua menjadi masuk akal mengenai pertemuan Rian dengan Nagita pada pagi ini.
"Nama perkumpulannya, 'Tempo Sercanto'. Itu ideku. Kak Nagita menyukai namanya," lanjut Amanda.
Rian mengambil kripik yang dimakan oleh Amanda karena terlihat enak. "Hah? Aku belum pernah mendengarnya. Dari bahasa apa itu?"
"Itu bahasa Esperanto. Artinya 'Pencari Waktu'," balas Amanda, "Sejauh ini anggotanya berarti ada empat. Aku, kak Nagita, kak Naura dan kak Rian."
Rian terkekeh pelan. Padahal dia belum menyetujuinya mengenai gabungnya dirinya dalam perkumpulan aneh tersebut. Namun, Rian sadar kalau itu nama yang terdengar keren.
"Jadi, apa tujuannya?" tanya Rian.
"Tentu saja, bukan?" jawab Amanda dengan cepat, "Kita harus mencari cara agar lepas dalam perputaran waktu yang sialan ini."
Rian terkejut ketika Amanda mengatakan itu. Bukan tentang tujuannya. Tapi, itu sesuatu yang lain. Wajahnya yang manis dan terlihat mungil, ternyata mampu berkata kasar. Tentu, itu tidak seperti yang seharusnya dilakukan oleh gadis cantik seperti dirinya.
__ADS_1
Karenanya, Rian mengerti satu hal penting. Perputaran waktu memang menyebalkan untuk semua orang yang mengalaminya.