
Pak Gandhi perlahan berhenti berjalan. Dia menatap langit yang biru dan bersandar pada balkon. Ada embusan napas yang berat dari mulutnya.
Rian yang menyadari pak Gandhi berhenti berjalan. Dia mulai bergerak ke arah pak Gandhi dan menanyakan arah dari pembicaraan.
Pak Gandhi dengan cepat menjelaskan kalau time loop tidak mungkin bisa terjadi di dunia nyata. Dia menganggap kalau Rian mungkin hanya terlalu banyak menonton film fiksi ilmiah.
"Apa kau yakin itu bukan False Awakening?" tanya pak Gandhi.
Mulut Rian menganga mendengar perkataan pak Gandhi. "T-tapi...."
"False Awakening terjadi ketika seseorang merasa dirinya sudah terbangun dari tidurnya. Tapi, faktanya dia masih tertidur," lanjut pak Gandhi, "Aku tahu kalau kamu sebagai sekretaris OSIS sangat kelelahan. Penuh tekanan banyak pihak. Jadi, bisa saja itu memicu False Awakening."
Rian menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak-tidak. Saya sangat yakin kalau ini time loop. Sebab aku sudah terjebak lebih dari sepuluh kali disini!"
Rian yang tiba-tiba meninggikan suaranya langsung meminta maaf. Secara mengejutkan pak Gandhi juga meminta maaf.
Dalam sekejap ada perasaan panas dalam perut Rian. Kedua mata Rian perlahan bergerak ke arah perut. Ada dua noda merah yang mulai membasahi pakaiannya. Dengan rasa takut yang luar biasa, dia menyentuhnya.
Kedua tangan pak Gandhi langsung memegang pundak Rian. Dia berteriak meminta bantuan dan berkata kalau Rian telah ditembak oleh orang tak dikenal.
Pandangan Rian mulai menggelap. Dia mengerti untuk sesaat. Dalam batinnya dia tertawa kecil. Rian tidak menyangka akan mati karena ditembak layaknya dalam film aksi blockbuster.
...***...
Di dalam perpustakaan yang hangat. Naura berdiri sambil menatap suasana pentas seni di lapangan. Dia penasaran apakah dirinya akan terus melihat pemandangan yang sama sampai akhir hayat hidupnya.
__ADS_1
Tiba-tiba kepalanya memutar ingatan masa lalu yang terus terbawa hingga sampai hari ini. Tentu saja, alasan mengapa dia memutuskan untuk tinggal sendiri dibanding bersama ibunya dengan menetap di sebuah kos-kosan yang murah.
Dalam kesendiriannya, ada rasa syukur pada Naura. Sebab pamannya membantu Naura untuk meringankan masalah keuangan dengan bekerja paruh waktu di warung makan milik paman Naura.
Jika berbicara masa lalu. Naura tidak ingin sekali mengingat masa-masa sekolah dasar. Karena dulu, dia adalah murid yang pintar di kelasnya. Naura sering mendapat pujian dari ibunya setiap mendapat nilai yang bagus setelah ujian. Lalu semuanya terhenti ketika secara tiba-tiba nilai Naura menurun. Naura yang biasanya mendapat peringkat satu, pada kelas lima, dia malah mendapat peringkat kedua.
Naura sulit melupakan kenangan buruk yang diciptakan oleh ibunya. Saat itu, Naura mendapatkan banyak cacian. Walau kenyataannya dia sudah belajar dengan sekuat tenaga.
Dirinya justru kalah sama sahabat barunya sendiri. Dia adalah seorang gadis pindahan mampu berteman dengan siapa saja. Nama gadis itu Rika. Dengan tipe rambut berwarna hitam sampai punggung. Gadis itu mampu merebut posisi pertama Naura.
Keberadaan Rika tidak membuat Naura membencinya. Justru berkat Rika, Naura jadi semakin termotivasi untuk belajar. Karena hal itulah, Naura sering belajar bersama dengan Rika di perpustakaan.
Tapi, semakin Naura bekerja keras untuk mengejar Rika. Semuanya seolah-olah menghilang dalam sekejap. Ketika mengetahui kalau dirinya masih mendapatkan peringkat kedua. Disanalah mulai ada rasa benci di dalam hatinya kepada Rika.
Rika yang saat itu merasa dihindari oleh Naura. Mulai sadar kalau dirinya dibenci oleh Naura. Tapi, sebagai sahabatnya, dia tidak bisa membenci Naura. Sebab Rika tahu, hanya Naura yang tulus berteman dengannya. Dia mengetahui hal itu karena memang sudah berteman dengan Naura sekitar kurang dari setahun.
Semua keterpurukan Naura dimulai ketika sore itu. Sore dimana dirinya habis mengikuti kegiatan Pramuka. Naura yang sedang berjalan sendirian untuk pulang ke rumah. Tempatnya tidak jauh dari gerbang sekolah.
Naura sedang berjalan dengan termenung tiba-tiba mendapatkan klakson dari arah belakangnya. Naura yang tidak mendengar malah dikejutkan dengan dorongan seseorang. Berkat dorongan yang kuat, kaki kanannya berdarah. Namun, yang berdarah bukan hanya dirinya.
Ada seorang gadis yang terpental lima meter dari mobil dan menghantam dengan keras sebuah tong sampah besi di dekat tiang listrik. Beberapa orang langsung mendekati gadis itu. Naura langsung bangkit dari tanah dan menemukan kalau si pengendara mobil terluka karena menghantam tiang listrik.
Dengan langkah kaki yang tertatih karena kesakitan. Naura mendekati kerumunan orang-orang dan menyaksikan sosok yang sangat mengejutkan dia.
Naura menemukan kalau gadis yang membantunya tadi adalah Rika. Keadaannya sangatlah menyedihkan. Kaki kiri Rika nampak berputar ke belakang dan kepalanya dipenuhi darah. Bahkan aliran darah yang mengalir di wajahnya membuat Naura menjerit ketakutan.
__ADS_1
"Rika. Rika!" teriak Naura sambil memegang perutnya, "Tolong. Tolong dia!"
Naura berdiri dan mendekati beberapa orang yang melihat insiden itu. Kedua tangannya terus memegang pakaian orang lain dan terus meminta bantuan. Hingga seorang wanita muda berkacamata langsung memegang pundak Naura.
Air mata Naura perlahan mengalir. "Ini semua salahku. Semuanya salahku. A-A-andai saja. Andai saja...."
Wanita muda itu langsung memeluk Naura dengan erat. Naura histeris dan tidak bisa menghentikan air matanya. Apalagi ketika wanita muda itu berkata kecil.
"Dia sudah meninggal, nak."
Semua pemandangan yang dilihat oleh Naura. Semua warna dalam kehidupannya. Mendadak berubah menjadi kelam. Naura terus meminta maaf kepada kedua orang tuanya Rika. Walau kedua orang tuanya terus meminta Naura untuk tidak bersedih. Naura tahu kalau kedua orang tuanya sangat menyayangi Rika.
Adegan yang sangat cepat itu membuat Naura sering melamun. Bahkan, nilai ujiannya semakin merosot dan Naura terus dihujani perkataan kasar oleh ibunya.
Naura terus mendapatkan perlakuan itu sampai dirinya tumbuh di sekolah menengah pertama. Naura yang pendiam menjadi sulit didekati oleh orang lain. Tidak lepas, dia juga beberapa kali mendapatkan dirinya diperlakukan tidak baik di kelasnya dan terus menahannya hingga lulus.
Memasuki sekolah menengah atas. Naura memutuskan untuk meninggalkan rumah dan ibunya. Tidak dia sangka kehidupan di sekolah menengah atas ini mendadak berubah. Warna kehidupan yang sudah lama tidak dilihat oleh Naura mendadak terlihat. Naura tidak ingin melepaskan semua warna yang dia lihat saat ini.
...***...
Entah bagaimana beberapa kali terdengar langkah kaki yang cepat memenuhi sepanjang koridor. Nagita yang penasaran mulai membuka pintu dan menanyakan kepada murid yang lewat.
"Eh, ada apaan?" tanya Nagita.
"Itu si Rian. Dia katanya ditembak oleh orang tak dikenal."
__ADS_1
Mendengar perkataan murid itu. Langsung membuat suasana perpustakaan menjadi hening dan tak bergerak.