
Hari itu pukul delapan pagi. Kelompok Tempo Sercanto langsung menggelar pertemuan mendadak di atap sekolah setelah diberitahu oleh Rian dan Naura. Tentu saja, ditambah bantuan Nagita untuk menghubungi Amanda serta Nara.
Tentu saja, berkat bantuan Nagita yang mampu menyatukan semua orang. Pertemuan itu dimulai lebih cepat dari biasanya. Sebab Rian tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama.
Bintang utamanya adalah Andi Cahyano. Seorang kakak kelas dan mantan Ketua eskul sepak bola. Dia mengakui kalau dirinya juga terjebak dalam perputaran waktu dan selama ini diam-diam memperhatikan kelompok Tempo Sercanto dari kejauhan.
Dari penuturannya. Dia tidak ingin membuat kontak yang tidak penting kepada orang lain. Walau begitu, dia tetap menciptakan alur waktu yang sama setiap harinya.
Tanpa butuh waktu lama. Semua orang telah berkumpul di atap. Nagita langsung mengulur tangannya di depan Andi sebagai tanda pertemanan. Jadi, dia berharap bantuannya.
"Oke. Maaf baru bergabung dengan kalian semua. Tapi, gue juga terjebak dalam perputaran waktu ini," ucap Andi di depan kelompok Nagita, "Sebenarnya selama ini sengaja menghindar dari kalian karena sedang menyelidiki sesuatu."
Nagita langsung mengangkat tangan kanannya. "Ini sudah perputaran waktu yang ke berapa untuk kak Andi?"
Andi terdiam sejenak. Lalu perlahan menghitungnya dengan kedua tangannya. Wajahnya yang serius mendadak tertawa untuk sesaat. Andi juga menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Jujur saja. Aku juga lupa. Mungkin sekitar lima puluh ke atas? Aku juga sudah tidak terlalu peduli dengan ini," lontar Andi, "Tapi, aku sadar. Kalau aku mungkin yang kedua setelah Nagita.*
"Maksudnya?" tanya Amanda dengan wajah yang serius.
"Singkatnya begini. Anggaplah aku sudah terjebak lebih dari lima puluh kali. Aku selama ini memperhatikan gerak-gerik semua orang," jelas Andi, "Tapi, Nagita sangatlah mencolok. Dia beberapa kali bunuh diri dengan cara yang keji. Ada juga salah satu kejadian yang menyeret gue."
"Ah...." gusar Nagita, "Harusnya kau bilang dari awal, bodoh. Aku tidak menyangka kalau yang saat itu. Kau juga terjebak dalam perputaran waktu dan berakting seolah tidak terjadi apa-apa."
Nara langsung melontarkan pertanyaan yang penting terkait Nagita. "Emang apa yang sebelumnya terjadi dengan kak Nagita?"
__ADS_1
Andi memicingkan matanya. "Kau serius untuk menanyakan itu? Bagaimana jika tidak kau tanya kepada Nagita?"
Rian berpura-pura batuk dan melihat Andi. Dia ingin serius dengan segala hal yang terjadi. Sebab itu, Rian membuat topik diskusi kembali ke jalan yang benar.
"Ngomong-ngomong apa yang kau selidiki, kak Andi?" kata Rian, "Bukankah tadi katanya kau ingin bertukar informasi?"
Andi mengiyakannya. Lalu dia segera menceritakan tentang bola hitam saat sebelum masuk ke dalam perputaran waktu. Latarnya malam hari. Tepat setelah kegiatan pentas seni selesai.
Mendengar pengakuan Andi membuat semua orang yang ada di atap tidak mengerti. Mereka hanya bisa mengangkat kedua bahunya sesekali dan mengaku tidak melihat bola hitam yang dimaksud.
Tentu saja, Andi hanya garuk-garuk kepala. Dia juga mengaku kalau semua orang yang ada disini ikut masuk ke dalam bola hitam tersebut. Walau begitu dia agak aneh.
"Mengapa hanya gue yang bisa mengingatnya?" gumam Andi lalu melirik Rian, "Lu serius gak ingat hal itu, Rian?"
Rian menggelengkan kepala. Dia kemudian menjelaskan tentang awal dari dirinya yang terjebak dalam perputaran waktu. Nagita, Naura, Amanda dan Nara juga mengalami hal yang serupa seperti Rian.
Nagita menoleh cepat. "Apa itu ada hubungannya, Man?"
"Hanya teori saja. Aku penasaran," balas Amanda.
Andi mengangguk dan menunjuk Amanda. Dia mengaku kalau kepalanya pernah terbentur menabrak tiang sepak bola hingga pingsan. Kejadiannya pada saat masih kelas satu.
"Apa jangan-jangan karena ada yang salah dalam kepala ini. Makannya gue yang hanya bisa mengingat tentang bola itu?" gumam Andi.
Amanda mengangguk pelan. "Dugaanku begitu, sih. Jadi, bagaimana jika kak Andi menceritakan lebih jauh tentang bola itu? Kita semua juga masuk ke dalam sana, 'kan?"
__ADS_1
Andi mulai menceritakan dari sudut pandangnya. Dia menelan ludah. Dia tidak mengerti secara pasti mengapa hanya dirinya yang mengingat hal itu. Sesekali ada rasa aneh dalam dirinya. Dengan embusan napas yang kecil. Dia kembali menatap semua orang.
"Apa kalian sungguh menerimanya semua ini dengan mudah? Kalian tahu, 'kan? Tentang rumor itu?" tanya Andi.
Nagita mengangguk. Dia diberitahu oleh Rian sebelumnya untuk tidak mempercayai rumornya. Tepat setelah itu, Nagita memberitahu Amanda dan Nara.
Mendengar ucapan Nagita ada embusan napas lega. Dia berteriak dengan keras nama Puji. Laki-laki yang telah menyebarkan rumor tersebut dan membuat dia terus membenarkan rumor itu pada orang lain dalam perputaran waktu ini.
"Sudah-sudah. Bagaimana jika kita kembali ke topik pertama?" lanjut Nagita yang sudah tidak sabar dengan informasi dari Andi.
Andi mulai menceritakan semua yang dia lihat. Malam itu muncul sebuah bola hitam di belakang gedung sekolah. Andi tidak sengaja melihatnya ketika dia sedang berjalan-jalan kecil setelah kumpul dengan eskul sepak bola.
Kala itu Andi melihat Rian dan Naura yang sedang berbincang berdua di depan bola tersebut. Andi yang tidak ingin menganggu obrolan mereka berdua terpaksa bersembunyi di belakang pohon. Secara tiba-tiba ada kilatan putih yang terpancar dari bola itu.
Rian dan Naura mendadak hilang dari pandangan Andi. Jelas dia langsung berlari untuk melihat apa yang telah terjadi. Disisi lain, Nagita langsung berlari dan masuk ke dalam bola hitam tersebut.
Andi yang melihat fenomena itu hanya bisa mengernyitkan dahi karena tidak memahami apa yang telah terjadi. Andi yang terperosok dikejutkan oleh suara Amanda.
"Itu apa, kak?" tanya Amanda, "Bukannya tadi ada yang berlari masuk ke dalam sana?*
Kepala Andi langsung bergerak. Dia menggelengkan kepala dengan segera. Dirinya juga tidak mengerti apa yang telah terjadi. Secara tiba-tiba ada suara lain lagi yang mendatangi Andi dan Amanda.
"Bukankah kedua orang tadi ditelan sama bola ini?" tanya Nara dengan khawatir, "Kita harus segera memanggil guru dan menyelamatkannya. Apalagi kak Nagita juga masuk ke dalam sana, 'kan?"
Belum saja ketiganya bergerak. Tiba-tiba ada cahaya putih lainnya yang berasal dari bola hitam. Layaknya menjerat ketiganya. Andi langsung menemukan dirinya sedang terbaring di atas tempat tidur dan dia mulai kembali mengalami hari yang sama.
__ADS_1
"Lalu kemana bola itu?" tanya Amanda.
Kedua mata Andi langsung menjadi tajam. "Disanalah misterinya. Bola hitam itu tiba-tiba menghilang dan tidak terlihat lagi bentuknya di tempat yang sama."