
Sesuai kesepakatan Rian dengan Naura. Tepat pada pukul setengah sembilan pagi. Saat sedang ada penampilan drama teater oleh kelas 1-C.
Naura menyelinap dari tugas sebagai penanggung jawab acara dan meminta anggota OSIS lain untuk menggantikannya. Dengan alasan, perutnya mendadak sakit. Anggota OSIS itu langsung mengiyakannya dan akan segera memberitahu Danang.
Tepat setelah itu, Naura berlari kecil disepanjang koridor lantai satu sambil mencari Rian di beberapa tempat. Untungnya seorang murid kelas satu memberitahunya kalau ada seorang anggota OSIS laki-laki yang menaiki tangga ke arah atap.
Naura setelah mendapatkan informasi tersebut segera berlari menaiki tangga. Sesampainya di atap, Naura mendapatkan Rian sedang berbicara dengan dua orang gadis yang terlihat akrab dengannya.
"Ah, itu dia Naura!" sapa Rian dari kursi taman.
Naura segera berjalan mendekat karena canggung sambil melambaikan tangan. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Nagita yang dikabarkan bunuh diri itu.
Amanda langsung berinisiatif menggelar karpet di depan kursi taman. Itu karpet kecil berwarna merah yang dia udah siapkan sebelumnya.
"Rasanya akan lebih bagus jika kita duduk bersama disini," ucap Amanda.
Nagita mengangguk pelan dan tersenyum kecil. Dia ingin membahas perihal peristiwa perputaran waktu yang menyeret beberapa orang ini.
Setelah Nagita, Amanda, Rian dan Naura duduk di atas karpet. Nagita langsung membuka kolom diskusi tentang bagaimana pandangan pertama mengenai perputaran waktu.
Rian menjelaskan secara rinci perihal yang dia alami pertama kali. Layaknya cerita time loop pada umumnya. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi dan rasanya dirinya akan terjebak selamanya di dalam perputaran waktu ini.
"Aku tidak menyangka. Kalau hubungan kak Rian dengan orang tuanya begitu buruk," timpal Amanda.
Nagita mengangkat bahunya dan menepuk Amanda. "Jika kamu belum pernah mengalaminya. Bukankah kamu harusnya bersyukur? Setidaknya yang mengusikmu hanya orang-orang di sekolah."
Amanda termenung mendengar perkataan Nagita. Dia merasa perkataannya itu ada benarnya.
Penceritaan mulai bergeser ke arah Naura. Dari sudut pandang Naura. Saat malam terakhir. Naura sedang sedih sambil memandang foto sahabatnya.
Nagita yang penasaran menanyakan maksud dari si foto. "Apa ada masalah?"
__ADS_1
Bibir Naura terlihat bergetar. "Dia meninggal karena telah menyelamatkanku saat kecil. Dirinya tewas tertabrak sebuah mobil. Aku yang kala itu masih kecil, tidak bisa melakukan apa-apa. Jika mesin waktu itu ada seperti dalam film. Aku ingin sekali menyelamatkannya."
Rian mengerti untuk sesaat. Dia tidak menyangka kalau beban yang dibawa oleh Naura begitu berat. Rian berpikir kalau itulah penyebab Naura sulit beradaptasi dalam lingkungan pertemanan.
Singkatnya rasa bersalah dan tidak ingin menjalin hubungan dengan orang lain. Rian menghembuskan napas berat. Dia ingin sekali membantunya beradaptasi di OSIS. Sebab beberapa kali, adik kelas membicarakan Naura yang terlihat kesulitan berada di OSIS.
Nagita mengarahkan panggung ke arah Amanda. Dia ingin Amanda menjelaskan situasinya kepada Rian dan Naura. Walau sebelumnya, Amanda pernah menceritakannya pada Nagita.
Amanda menjelaskan tentang perundungan yang dia alami di kelasnya. Semua berawal karena Amanda berkali-kali dipuji oleh guru karena nilainya yang bagus. Dengan kata lain, Amanda adalah murid yang pintar.
Tentu saja, ada beberapa orang yang tidak menyukainya. Tepatnya ketika ujian. Ada seorang gadis yang mempunyai pengaruh besar di kelas. Dirinya meminta contekan kepada Amanda. Berat hati, Amanda berkata kalau dia sulit melakukannya karena duduk dibarisan depan. Berkat kejadian itu, Amanda dianggap musuh kelas.
Amanda sadar kalau memang tidak semua orang yang ada di kelasnya tidak menyukainya. Terkadang masih ada beberapa orang yang membantunya dikala Amanda sedang kesulitan. Tapi, karena pengaruh gadis itu yang begitu kuat, sesekali Amanda diganggu. Hingga akhirnya, Amanda selalu menghabiskan waktu di perpustakaan.
Amanda tertawa kecil. "Begitu juga dengan julukan 'Hantu Perpustakaan'. Semua hal itu berawal dari kelasku. Walau ujung-ujungnya, aku tidak memedulikan hal tersebut."
Naura menyambar cerita Amanda. "Kau, orang yang kuat."
"Tidak, kok. Kak Naura lebih kuat dibanding diriku," balas Amanda sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Di tengah pembicaraan. Tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari pintu atap. Semua kepala langsung mengarah ke pintu atap karena penasaran siapa yang akan datang ke atap.
Tepat ketika pintu terbuka, ada sesosok gadis yang mempunyai tinggi seperti Amanda. Dengan rambut hitam panjang. Dia melambaikan tangannya ke arah Nagita.
"Ah, kak Nagita!" seru gadis itu.
Nagita langsung melambaikan tangannya tinggi-tinggi dan mengajak gadis itu untuk bergabung. Sambil tertawa kecil, Nagita ingin memperkenalkan anggota baru dari perkumpulan yang dia buat ini.
Kedua mata gadis itu terlihat sulit melihat wajah orang lain. Rian menyadari hal itu ketika gadis itu sedang melepas sepatunya dan memutuskan untuk duduk di dekat Nagita.
"Namanya Nara. Dia adalah anggota terakhir dalam perkumpulan ini. Kuharap kalian bisa berteman baik dengannya," ucap Nagita.
__ADS_1
Amanda memiringkan kepala untuk sesaat. "Eh, kelas satu? Kenapa kak Nagita tidak pernah menceritakannya kepadaku?"
Nagita cengengesan. "Maaf, aku bukannya tidak ingin memberitahumu. Ada hal lain yang telah terjadi. Tentu, aku yakin, kalian berdua akan menjadi teman yang baik."
Amanda jelas terkejut ketika mengetahui ada anak kelas satu yang seperti dirinya terjebak dalam perputaran waktu. Karena dia selalu sendirian dalam perputaran waktu ini. Karena hal itu, dia sedikit bersyukur, kalau masih ada orang lain yang seperti dirinya.
"Aku memutuskan untuk mengajaknya ketika sedang memikirkan cara keluar dari perputaran waktu ini. Semakin banyak orang, semakin baik, bukan?" tanya Nagita.
Nagita menambahkan sambil mengelus kepala Amanda. Dia ingin agar Amanda berteman baik dengan Nara. Sebab Nara memiliki situasi yang sama seperti Amanda.
Amanda yang mengerti maksudnya memejamkan mata. Ini juga cara agar Amanda mampu berteman dengan orang lain. Dia tidak ingin hidup sendirian lagi.
"Jadi, apa langkah pertamanya?" tanya Rian yang langsung ke inti pembahasan, "Aku yakin, kau sudah mempunyai beberapa petunjuk dan terlihat lebih mengetahui tentang perputaran waktu dibanding kami semua."
Nagita tersenyum kecil. "Langkah pertama adalah....."
...***...
Di jalan kecil yang gelap dengan minim penerangan. Siang hari, biasanya jalan kecil itu dilewati oleh banyak siswa dan siswi. Tapi, ketika malam hari, jalan kecil yang menjadi penghubung dua gedung menjadi agak menyeramkan.
Teriakan gembira terdengar nyaring pada satu titik. Semua orang merayakan kegembiraan sesuai melakukan pentas seni untuk pertama kalinya di sekolah. Berkat tempat yang sepi itulah, ada seorang pria sedang memukuli seseorang.
Dengan penuh amarah. Pria itu terus meninju pipi seorang pria yang sudah terbujur kaku di jalan yang minim penerangan.
"Bajingan! Mau lu mati untuk ke berapa kalinya. Gue pasti bakal membunuh lu lagi!" seru pria itu dengan penuh dendam.
Bukannya tanpa alasan si pria itu menyerang pria lainnya. Diketahui pacarnya telah diperkosa dan diancam oleh pria yang telah tewas untuk ke sekian kalinya. Tentu saja, pria penuh dendam itu sangatlah marah. Apalagi pria yang telah tewas itu adalah orang terdekatnya di eskul sepak bola.
"Sialan. Walau hari ini akan terus terjadi. Gue tidak akan berhenti untuk terus membunuh lu!"
Pria itu perlahan mengambil kartu tanda pengenal sekolahnya. Namanya Andi Cahyano. Mantan ketua eskul sepak bola.
__ADS_1
Andi berjalan meninggalkan mayat temannya di belakang sekolah. Secara tiba-tiba, tepat di depannya ada secarik kertas yang berasal dari atas mendarat di depan kakinya. Merasa penasaran, dia mengambilnya.
Kedua matanya terkejut ketika melihat sebuah gambar bola hitam ada di tengah kertas. Layaknya kertas rancangan. Mata Andi bergerak cepat. Dia tahu persis bola hitam itu. Sebab karena bola hitam, dia terjebak dalam perputaran waktu yang abadi ini.