
Andi menggaruk-garuk kepalanya dengan cepat. Dia benar-benar marah dengan perputaran waktu ini dan mengeluhkan ke orang-orang yang ada di depannya. Dia juga menambahkan kalau dirinya pernah tertembak ketika sedang berbicara dengan pak Gandhi.
Rian langsung menarik kerah Andi dengan cepat. Dia berteriak kencang kenapa tidak memberitahu hal itu dulu. Sebab, Rian selalu kepikiran dengan hal tersebut.
"Udah gue duga. Ada yang aneh dengan pak Gandhi!" seru Rian, "Ketika gue berbicara dengannya saat itu. Tiba-tiba wajahnya pucat dan terlihat begitu terkejut."
"Tentang apa?" tanya Nagita dengan wajah yang serius, "Jangan terlalu melebih-lebihkan, Rian."
Rian menjawab dengan lantang kalau itu tentang time loop. Mendengar perkataan Rian membuat Andi berdiri dengan sontak. Kepalanya kembali memutar tentang peristiwa yang pernah dia alami sebelumnya.
Ada banyak hal yang terjadi kepada Andi sebelumnya. Kertas. Orang aneh. Tertembak. Pak Gandhi.
Merangkai semuanya menjadi satu. Andi mencurigai pak Gandhi. Dia yakin kalau pak Gandhi adalah biang dari semua ini. Dalang dari perputaran waktu dan bola hitam itu.
Nagita melihat Andi berdiri di depan pagar pembatas. Merasa penasaran, Nagita meminta Andi untuk menceritakan apa yang dia ketahui. Sebab dirinya juga ingin keluar dari perputaran waktu ini.
"Maaf-maaf. Ekspresi gue udah terbaca, ya?" tanya Andi lalu kembali ke tempat Tempo Sercanto, "Gue mempunyai teori gila yang mungkin saja masuk akal. Gue juga gak minta kalian percaya sama teori ini. Intinya dalang dari perputaran waktu adalah pak Gandhi."
Amanda menyanggah pernyataan Andi. "Maaf, kak. Atas dasar apa mengucapkan hal itu? Apa karena pak Gandhi adalah ilmuwan?"
Andi mengangkat kedua bahunya. Harus diakui kalau itu hanya sekedar teori. Lalu dia menambahkan peran pak Gandhi begitu kuat di sekolah. Andi juga tertawa kecil dan mengaku kalau dia sampai tertembak sebanyak tiga kali di tempat acak.
Rian mengangguk pelan. "Setuju, sih. Walau dia bukan dalangnya. Tapi, peran pak Gandhi itu sangat kuat. Sebelum tertembak. Kedua mataku melihat pak Gandhi menekan beberapa angka di layar ponselnya."
"Apa ini cocoklogi?" balas Amanda.
Naura memiringkan kepalanya dan menjatuhkan badannya ke lantai. Kedua matanya fokus melihat daun di atas kepala. Dirinya tidak bisa mengikuti perkataan orang-orang dalam grup. Sebab dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.
Nagita yang duduk disamping Naura langsung mengikuti Naura. Dia tertawa kecil sambil menatap Naura.
__ADS_1
"Ternyata menyenangkan hati, ya?" tanya Nagita, "Apa kau sering memandang langit yang biru seperti ini?"
"Um," balas singkat Naura, "Apa kau sering melakukan ini?"
"Apanya?"
Nagita tertawa kecil. "Ya, menatap langit seperti ini?"
Naura mengangguk sambil tertawa pelan. "Kukira kau menanyakan apa. Tapi, aku memang sering memandang langit seperti ini. Layaknya tenggelam dalam lautan biru yang tak terbatas. Walau begitu, ini bikin hati damai."
"Ah, begitu," jawab Nagita yang tiba-tiba terdiam dan bergumam, "Kurasa tidak ada salahnya mengulang waktu selama seribu tahun pun."
Naura hanya bisa menengok ke arah Nagita. Dia hanya ingin mengonfirmasi kalau apa yang didengar olehnya itu benar-benar dari Nagita.
"Kenapa kau-"
"Pak Gandhi itu kan ilmuwan. Sudah sepantasnya dia dicurigai disini. Kita berpikir secara lurus saja. Apakah semuanya terasa begitu kebetulan?" ungkap Nagita, "Kalau begitu. Topiknya mari kita ganti. Sebenarnya kenapa kita yang terjebak dalam perputaran waktu?"
Andi memotong Nagita. "Rasanya itu hanya kebetulan. Seperti yang gue katakan sebelumnya. Kita semua terjebak dalam perputaran waktu ini secara kebetulan."
Nagita menggelengkan kepala. "Rasanya tidak mungkin jika disebut kebetulan. Apakah mungkin Rian dan Naura hanya memandang bola hitam itu kemudian tidak melakukan apa-apa?"
"Itu....." kata Andi dengan perlahan .
"Apakah mungkin Amanda dan Nara langsung datang begitu saja?" tanya Nagita, "Padahal mereka bisa saja pulang lebih awal daripada di sekolah sampai malam hari seperti itu."
Mendengar perkataan Nagita membuat Amanda memiringkan kepalanya. Dia berkata kalau yang diucapkan oleh kak Nagita itu benar. Hanya saja, dia heran mengapa Nagita bisa tahu. Padahal Amanda belum pernah memberitahunya.
Nagita langsung membentuk tangan kanannya layaknya sebuah pisau yang akan membelah apa saja. Lalu diarahkan tangannya itu ke atas kepalanya Amanda.
__ADS_1
"Udah lupa, ya?" tanya Nagita sambil tertawa pelan, "Masih bocah. Tapi, udah gampang lupa. Kamu pernah memberitahuku saat di perpustakaan."
Amanda menggaruk-garuk kepalanya. Dia baru mengingatnya. Jadi, dia hanya tertawa untuk menimpali pembelaan Nagita.
"Jadi, apa yang membuat lu berpikir kalau semuanya tidak kebetulan?" tanya Andi dengan penasaran, "Sebab, sejak awal, kita semua memang tidak saling dekat. Mungkin pengecualian untuk Rian dan Naura yang ada di OSIS."
Nagita mengirup napas panjang dan menyerah. Dia hanya mencoba berpura-pura menjadi detektif. Lalu dia tertawa untuk sesaat. Kemudian meminta Andi untuk memimpin diskusi.
Andi menceritakan kalau dia pernah menemukan buku misterius di ruang guru yang berisi catatan serta cetak biru sebuah alat. Buku itu berisi banyak hal yang tidak dapat dimengerti oleh otaknya yang kecil.
"Namanya projek Mini Big Bang," kata Andi dengan dingin, "Yang kuyakin, ini ada sangkut pautnya dengan bola misterius itu."
Amanda memotong pembicaraan. "Apa kak Andi membaca novel fiksi ilmiah? Rasanya itu terdengar seperti cerita fiksi ilmiah."
Kedua mata Andi bergerak tajam ke arah Amanda. "Gue serius. Buat apa gue mengada-ada saat terjebak dalam perputaran waktu abadi yang sialan ini. Gue juga pengen segera lepas dari perputaran waktu ini."
Amanda segera meminta maaf dan meminta Andi untuk melanjutkan ceritanya. Andi yang mendengarnya kemudian menceritakan kelanjutan dalam ceritanya.
"Nah, tujuan kita adalah buku misterius itu. Entah buku itu milik siapa. Tapi, dugaan gue, jelas itu milik pak Gandhi yang mampu menjelaskan semua permasalahan ini. Sebab siapa guru di sekolah kita yang sampai memikirkan hal gila macam itu?" ungkap Andi dengan semangat.
Nagita menghembuskan napas berat dan memandang langit. "Jadi, sudah berapa kematian yang kau alami karena buku itu?"
Andi dengan segera menoleh ke arah Nagita. Dia tahu apa yang dimaksudnya. Dengan kata lain, Nagita diam-diam melihat aktivitasnya yang mati-matian untuk mengambil buku itu.
"Tunggu sebentar. Lu tahu gue udah berkali-kali berusaha untuk mengambil buku itu?!" seru Andi dengan menaikkan suaranya.
Nagita menatap semua orang. "Jujur saja. Pertama aku ingin minta maaf. Aku telah berbohong kepada kalian semua dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Sebab, aku menyukai dunia ini dibanding dunia nyata."
Berkat ucapan Nagita. Semua orang mendadak hening dan tidak mengerti. Layaknya pecahan kaca yang hancur dan tidak bisa disatukan kembali.
__ADS_1