Alvaska:Nayara

Alvaska:Nayara
Alvaska:Nayara 01


__ADS_3

Tanpa di sadari, waktu sangat cepat berlalu, khusus nya dari hari sabtu sampai minggu, di mana setelah itu senin nampak menunggu, menuai tatapan malas dan raut wajah tidak baik-baik saja dari sebagian besar siswa dan siswi di dunia.


Senin Pagi


SMAN DERMAGA BINTANG 05


CIIITT..


Suara rem motor yang di tekan mendadak oleh pengembudi nya karena seseorang nampak menghalangi jalanan yang ia lalui.


Naya berdecak kesal, kemudian kembali mengembudikan motor nya masuk kedalam halaman Dermaga Bintang. Naya membuka helm fullface nya, kemudian turun dari motor yang sudah terparkir rapi di lapak parkir Dermaga Bintang.


Rambut panjang nan hitam nya tergerai bebas, kulit putih bersih, bibir ranum yang tebal, manik coklat muda dengan bulu mata lentik, pipi agak chubby, dan alis tipis bak lukisan sketsa, mampu mengalihkan tatapan para siswa dan siswi Dermaga Bintang yang langsung berbisik ria selagi Naya berjalan santai dan acuh di hadapan nya.


"NAYAAA?!" Teriak seseorang dari arah belakang, refleks Naya memutar setengah badan nya.


"Uwaww! Naya cantik banget hari iniii." Michelle berjalan dengan senyuman lebar kearah Naya, di ikuti tiga gadis lain di belakang nya.


"Tumben lo muji orang Chelle? Biasanya juga gak begitu." Sindir Vio seraya mendahului mereka menuju kelas nya.


"Hilihh! Sewot banget sih lo." Kesal Michelle, sedangkan Naya dan dua gadis lain nya mulai mengikuti langkah Vio, membuat Michelle juga mengikuti nya dari belakang, seraya menyapa siswa dan siswi Dermaga Bintang di sepanjang koridoor sekolah.


Sesampai nya di kelas, ke lima gadis itu pun duduk di bangku nya masing-masing.


"Lo sokab bet si Chelle." Celetuk Meli yang sejak tadi diam, sedangkan Michelle hanya mencibir kesal.


"Emangnya kenapa kalau gue sokab sama mereka? Lagian gue emang deket tuh."


Nara menatap Michelle sambil mengangkat bibir atas nya, "Michelle jelek ih kalau kaya gitu." Seloroh Nara tanpa wajah berdosa masih menatap Michelle yang melotot kepadanya.


"Apalagi kalo kaya gitu." Cicit Nara seraya menatap Michelle yang siap-siap meledakkan lava dari bibir merah nya.


"Heh? Lo pikir lo cantik apa? Lo juga jelek kalo pake ekspresi kaya gitu, lo tau gak lo mirip apa?" Tanya Michelle, sedangkan Nara menggeleng sebagai jawaban.

__ADS_1


"Kaya pangsit kusut! Terus kalo di liat-liat ya, lo tuh kagak mirip sama bokap nyokap lo Nar, apa jangan-jangan lo bukan anak orang tua lo lagi, atau jangan-jangan lo anak yang di pungut dari kolong jembatan Nar? Atau jangan-jangan.." Michelle menatap Nara dengan raut wajah tak bisa di artikan, sedangkan Nara, mata nya sudah memanas sejak tadi karna mendengar ucapan Michelle.


Nara menatap kesal kearah Michelle, bibir nya sudah cemberut sambil mengerutkan alis nya.


Michelle terbahak, kemudian melotot kearah Nara membuat nya semakin kesal dan..


"AWW?! Emakkk! Anak muu di cubittt.. ahhhanjirrr sakit bet lu dasar sialan!" Ringis Michelle seraya mengusap-usap lengan nya yang mulai memerah akibat cubitan Nara, sedangkan Nara menatap nya dengan senyuman kemenangan.


Di sisi lain Meli ikut tertawa karna perdebatan Nara dan Michelle walau pun terlihat sibuk dengan laptop nya, sedangkan Vio benar-benar sibuk bermain game seraya rebahan di atas meja, dan Naya hanya tersenyum kecil dengan sebelah pipi yang mengembung karna permen lolipop yang baru saja dia masukkan kedalam mulutnya.


-


SMA SANTARA BANGSA 03


'AAAA!! KAK ASKA GANTENG BANGETTTT?!'


'ANJIR GUE DI KEDIPINNN'


'HWAAA MELENYOTTT'


'ANJIRRR PENTOLAN VEGHELAS KOK BISA PADA GANTENG SEMUA SIHHH?!'


Teriakan histeris para siswi Santara Bangsa terdengar nyaring ketika Aska, Ketua Osis yang di ketahui menjabat sebagai ketua Vaghelaz itu mengedipkan mata nya ke salah satu siswi di koridoor sekolah ketika berjalan menuju ke kelas nya.


Begitu juga dengan ke enam teman nya, yang sibuk menebar pesona, membuat jantung para siswi itu dag-dig-dug gak karuan sambil menjerit histeris saking senang nya.


Seperti itulah kebiasaan anggota inti Vaghelaz, Geng yang di pimpin oleh Aska, dan di wakili oleh Aka, Geng paling di takuti sekaligus penguasa jalanan di Ibu Kota, sampai-sampai tidak ada yang berani mengusik nya, termasuk pihak sekolah.


Nama Vaghelaz, seringkali menjadi sorotan awak media karena aksi nya yang membuat siapa pun tak habis pikir, bahkan dengan seenak nya menjadikan Santara Bangsa sebagai markas besar Vaghelaz, dimana 99% siswa dan siswi Santara bangsa merupakan anggota Vaghelaz.


Mereka sering berkumpul di Santara Bangsa, atau bahkan melakukan hal tidak berfaedah di gudang tidak terpakai yang berada di halaman belakang sekolah, berada jauh dari Santara Bangsa walau masih bisa di bilang kawasan nya.


"Ka, lo bilang kemaren lo mau di jodohin ya? Ma siapa?" Tanya Devan yang detik berikut nya mulai mengunyah bakwan yang sempat dia beli di kantin sekolah tadi.

__ADS_1


"Ma adek nya Aka, kenape?" Acuh Aska.


"Lah? Emang lo punya adek Ka?" Kaget Raga.


"Kudet lo anjing." Sindir Jefran, sedangkan Raga menatap nya datar.


"Mana gue tau kalo dia punya adek." Seloroh nya.


"Payah." Aland bersuara, anggota paling irit berbicara itu nampak lurus-lurus saja saat melihat mata Raga yang hampir loncat karna tak percaya saat mendengar ucapan nya.


"Yaelah Ga, masa lo gak tau tentang asal usul keluarga Dwitama?" Kevin menyahuti, menuai lirikan tajam dari Aka yang tak suka jika membahas sesuatu tentang keluarga nya.


"Eh, sorry Ka, gak bermaksud gue." Cengir Kevin, kemudian mengalihkan perhatian pada bel sekolah yang sudah berbunyi, begitu juga dengan anggota Vaghelaz lain nya.


-


Matahari mulai melewati di puncak nya, hari pun berubah sore, akhir nya siswa-siswi Santara Bangsa di perbolehkan pulang ke rumah masing-masing.


Naya berjalan malas tanpa ekspresi menuju pintu utama kediaman keluarga nya. Terlihat sepi, tidak ada siapa pun di ruang utama dan ruang keluarga yang bersebelahan, alhasil Naya meluruskan pandangan menuju pintu hitam di sebelah dapur, disana lah kamar nya berada.


"Reva! Saya mau kamu tetap di rumah sampai malam nanti, jam delapan kamu harus sudah siap dengan gaun yang sudah saya siapkan." Ucap seorang wanita yang tengah memegang segelas minuman dingin di tangan kanan dan remot tv di tangan kiri, rupanya ia baru saja selesai membuat minuman di dapur untuk menemaninya menonton tv.


Note: Naya sering kali di panggil 'Reva' oleh kedua orang tua nya.


Langkah Naya tercegat di depan pintu kamar, ia membalikkan badan kemudian menatap manik hitam milik Mika, Mikanda Andini.


"Buat apa?" Dingin Naya.


"Kamu hanya perlu ikuti apa yang saya katakan! Paham?" Mika balik bertanya setengah menyentak, tak kalah tajam menatap manik coklat Naya.


Malas berlama-lama dan pada akhir nya hanya akan berdebat, Naya kembali melangkahkan kaki menuju kamar, dan mengistirahatkan tubuh nya di atas ranjang.


-

__ADS_1


Silahkan tinggalkan jejak setelah membaca..


__ADS_2