
"Papaaa?!" Seorang gadis berlari kearah Rayyan, melewati Naya yang tengah duduk santai seraya membaca sebuah majalah, hari minggu yang kemungkinan akan cukup buruk.
Rayyan membalas pelukan itu, kemudian mencium keningnya, dan terus tersenyum menatap putri bungsu yang baru saja pulang dari Singapura setelah menjalani operasi dan masa pemulihan jantung yang bermasalah.
Naya memutar bola mata malas, tak mau peduli, dia kembali membaca majalah nya. Sedangkan seseorang datang dari arah pintu utama, dia Aka, yang baru saja menjemput gadis bernama Alya, anak bungsu keluarga Dwitama.
Alya memeluk Mika setelah melihat nya keluar dari dapur, kemudian kembali memeluk Aka, Aka tersenyum, mengacak rambut Alya pelan.
"Heh? Ngapain lo masih di sini?" Ketus Alya pada Naya, namun Naya seakan tidak mau mendengar ucapan nya, dia terus fokus pada majalah yang tengah ia baca.
"Woy! Lo gak denger ya?" Kesal gadis yang masih memeluk Aka tersebut. Aka menghela nafas, pertengkaran pasti akan segera di mulai, dan.. Siapa yang harus dia bela? Kedua nya adalah adik yang dia cintai bukan?
"Alya.. Udah dong, 'kan lo baru pulang? Lo juga mesti jaga kesehatan lo, dah sana istirahat, lo harus siap buat sekolah besok, jangan kecapean." Ucap Aka lembut, dia mengusap kepala Alya pelan.
"Ish, dasar anak sialan, kenapa dia gak di usir aja sih?" Kesal Alya, dia mendelik tajam kearah Naya, sedangkan Naya tak menghiraukan.
"Ihhh! Tuh liat! Dia yang cari masalah sama Aya Paa!" Adu Alya pada Rayyan, Rayyan menghela nafas kasar.
"Reva!—
"Hm, gue ke sana ya? Oke." Naya beranjak kemudian pergi begitu saja seraya mengobrol dengan suara yang berada di balik handphone, dan berjalan santai menuju kamar nya. Tak lama kemudian dia kembali keluar dengan jaket dan celana jeans panjang, juga topi hitam di kepala nya, seperti seseorang yang hendak pergi.
"Mau kemana kamu?!" Tanya Mika ketus, dia menatap tajam kearah Naya.
"Pergi lah, ngapain gue di sini." Jawab Naya acuh.
"Cih! Lo pikir kita mau apa lo ada di sini? Lebih baik lo gak balik lagi sekalian." Sarkas Alya.
__ADS_1
"Cuih! Kalau bukan karna gue kasian sama lo! Gue udah pergi dari dulu, dasar bego!" Naya meludah sungguhan ke samping nya, dia berkacak pinggang menatap Alya dengan sorot mata tajam.
"Lo pikir gue butuh belas kasihan lo? Lagian gue bisa sembuh tanpa lo! Bahkan Dwitama.Group gak akan pernah butuhin lo buat sukses, lo tuh cuma beban tau gak!" Alya maju, menatap Naya menantang, seperti nya dia belum tahu dengan prusahaan yang hampir bangkrut itu.
"Dasar anak gak tau diri, kalau gitu kenapa lo gak mati aja sih? Hah?!" Kesal Naya.
"Reva! Kamu jangan asal bicara ya? Kamu pikir kamu siapa?" Sentak Mika, Naya memutar bola mata nya malas.
"Siapa suruh cari gara-gara sama gue? Tapi kali ini gue maafin lo, awas aja kalo sampe ni anak bikin gue kelewat kesel!" Naya menatap remeh kearah Alya yang hendak berbicara namun di tahan oleh Aka.
Naya mengacungkan telunjuk nya kearah Mika dan Rayyan, kemudian pergi menuju rumah Viona, berniat menginap karena kesal dengan keluarga nya.
-
"Adek lo balik? Kapan?" Tanya Vio seraya mengunyah cemilan nya.
"Ohh, tapi soal cowok yang kemaren sama lo itu pacar lo bukan sih?" Tanya Meli.
"Iye, dia yang pernah gue ceritain waktu itu, yang mau pindah ke London, eh tau nya balik lagi." Jawab Naya.
"Maksud lo cowok itu tuh.. Sahabat lo ama Kak Gilang dari kecil 'kan? Kok bisa jadi pacar?" Tanya Vio.
"Gak tau, gue nerima dia waktu gue kelas 2 SMP, terus 2 tahun udah itu dia pindah ke London." Jawab Naya tanpa berhenti mengunyah cemilan.
"Anjir! Masih bocil udah pacaran lo." Kaget Michelle yang hanya di acuhkan oleh Naya.
"Tapi Nay? Lo kok bisa bahasa inggris sih? Perasaan selama ini gue gak pernah denger lo bisa bahasa inggris, kemaren aja gue gak ngarti apa-apa waktu ngintip lo bedua." Tanya Meli dengan raut heran, sedangkan Nara hanya melempar pandangan sana sini, menyimak pembicaraan seraya nyemil.
__ADS_1
"Sialan! Ngapain ngintip segala sih?" Kesal Naya.
"Eitss.. Tenang dulu dong sister, kita cuma penasaran aja kok, 'kan kita semua kagak tau kalo cowok yang lo ceritain itu bule ganteng." Ucap Vio seraya tersenyum-senyum.
"Sorry aja dek, tapi dia punya gue!" Sahut Naya dengan wajah sombong.
"Ck, sialan." Umpat Michelle seraya terkekeh.
"Gak papa, masih ada Kak Gilang yang tampan nya gak kalah dari Aska." Meli tertawa geli dengan ucapan nya sendiri, membuat tiga teman nya tertawa juga, kecuali Michelle yang hanya tersenyum tipis menanggapi.
"Kapan lo ketemu sama Gilang?" Tanya Naya.
"Waktu si Michelle jatuh gegara main basket terus kaki nya ke kilir Nay, lo pasti tau 'kan kalo Kak Gilang tuh anak PMR?" Naya meng-ohh mendengar penjelasan Vio.
"Tapi kapan?" Tanya Naya lagi, pasal nya dia tidak ada di moment itu.
"Waktu lo lagi sibuk sama Kak Lingga Nay, pas istirahat kedua, habis nguping.. Si Michelle maen basket ma kelas 10." Jelas Meli, membuat Naya meng-ohh lagi tanda mengerti.
"Ngapain lo diem aja Chelle?" Tanya Vio, heran dengan Michelle yang hanya diam dan tersenyum kecil untuk sekedar menanggapi.
"Hah? Gak, gue gak papa kok." Jawab Michelle sedikit memaksakan senyuman nya, ke empat gadis mengangguk lega, takut terjadi sesuatu dengan Michelle.
"Yaudah deh, gue balik dulu ya? Udah malem juga." Ucap Naya ketika menyadari hari semakin gelap, ke empat sahabat nya mengangguk kemudian mengantar Naya sampai di depan gerbang kediaman Viona, tak berselang lama satu per satu gadis lain pun mulai meninggalkan kediaman Viona dan pulang ke rumah nya masing-masing.
-
Tinggalin jejak nya yaa..
__ADS_1