
Beberapa jam berlalu, jam pulang Santara Bangsa pun tiba, ketujuh pemuda dan ke lima gadis pun bergegas menuju parkiran sekolah.
"Kalian se mobil ma gue ya? Motor nya tinggal aja di sini, kagak akan ngilang kok." Ucap Naya seraya menatap ke empat teman nya, mereka mengangguk setuju.
"Nay? Lo beneran mau nyusul Michelle?" Tanya Aka.
"Kita ikut, biar nanti lo di kawal, gue gak mau lo kenapa-napa." Aska menyela ketika Naya hendak menjawab.
"Eh? Ya gak bisa gitu lah, gue bisa kok sendirian ke sana tanpa di kawal." Kesal Naya.
"Gak ada, pokok nya kita harus ikut, Jef Dev, lo kanan! Ka lo ma gue di kiri! Land, Vin, Ga, kalian di belakang." Aska membagi tugas dengan singkat, ke enam teman nya pun mengangguk tanda mengerti.
"Lah? 'Kan gue gak bilang iya!" Kesal Naya.
"Tuh? Lo bilang iya 'kan, yaudah ayok." Kekeh Devan seraya mulai menaiki motor nya, begitu juga dengan Vaghelaz lain. Sedangkan Naya terus mencibir selama masih dalam perjalanan.
Beberapa jam berlalu, bahkan Nara sampai tertidur di jok belakang samping Meli hingga akhir nya mereka sampai, di mana Michelle tengah duduk di kursi tunggu dengan seorang gadis berusia 5 tahun yang berdiri di hadapan nya.
Michelle sedikit membungkuk untuk menatap lebih dekat ke wajah putri nya. Sedangkan Naya bersama Aka, Aska dan ke empat sahabat nya terlihat menatap dari jauh, berhenti sejenak untuk melihat apa yang akan Michelle katakan pada gadis itu. Sedangkan Vaghelaz lain menunggu di parkiran.
"Oma kenapa Mommy?" Tanya Kia, dia menatap Michelle seraya memiringkan kepala. Michelle tersenyum kecil menatap Kia, kemudian mengusap lembut surai dan pipi gadis kecil itu.
"Oma lagi sakit Kia, Oma harus di rawat sama Dokter, Oma lagi koma sekarang." Jelas Michelle dengan yang sejujur-jujur nya, membuat gadis itu mengangguk mengerti, walau dia tidak tahu apa itu koma, yang jelas nenek nya sedang sakit sekarang.
__ADS_1
"Kalo Oma lagi sakit, Kia sama siapa Mommy?" Suara imut itu kembali bertanya dengan sedikit ekspresi sedih.
"Kia tinggal sama Mommy di Jakarta." Jawab Michelle seraya kembali tersenyum manis kearah Kia.
"Kenapa Mommy gak tinggal di sini aja sama Kia?" Gadis itu sedikit cemberut mendengar diri nya harus pergi ke Jakarta dan meninggalkan Kota Malang, begitu juga dengan sang Nenek yang sangat dia sayangi.
"Mommy 'kan sekolah di sana, jadi Mommy gak bisa ninggalin Jakarta." Jelas Michelle, Kia menekuk wajah, tidak mau berbicara lagi.
CEKLEK
Seorang wanita cantik keluar dari ruang rawat, wajah nya sudah datar sejak melihat Michelle. Michelle melirik sekilas, tetap tersenyum pada Kia. Sedangkan Naya segera mendekat.
"Kia?.." Panggil Naya, Kia menoleh, kemudian berbinar bahagia, sedangkan Naya merentangkan tangan, membuat Kia berlari kearah Naya dan segera memeluk nya erat. Naya berdiri seraya menggendong Kia.
Naya duduk di jok belakang mobil nya, dengan posisi Kia yang duduk di pangkuan nya. Naya memeluk tubuh kecil Kia, bagian atap yang terbuka membuat Kia sedikit kedinginan. Sedangkan Devan, dengan sigap melepas jas nya, menyelimutkan jas itu kepada Kia, tak lupa, dia tersenyum tipis, dan mengelus lembut rambut Kia sekilas.
"Si Michelle nya mana?" Tanya Devan dengan wajah serius.
"Paling lagi debat ma emak nya, tapi tenang aja, si Meli temenin dia kok." Ucap Naya seraya mengelus punggung kecil Kia.
"Debat kenapa?" Kepo Raga.
"Jan banyak nanya dong woy! Ada anak kecil juga." Vio dan Nara baru saja sampai di sana, kedua nya duduk di samping Naya, mulai mengajak main Kia, mengalihkan perhatian gadis itu dari pemikiran jika Mommy dan Nenek nya tengah bertengkar lagi karena diri nya sendiri. Kia memang sudah mengerti akan hal itu, karena ia sering kali melihat pertengkaran mereka, apalagi Michelle yang tidak pernah berbohong pada nya, sepahit apapun itu, Michelle akan menjelaskan nya dengan jujur.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Vaghelaz terlihat bosan ketika melihat ke tiga gadis yang berusaha menghibur Kia, walau memang terlihat lucu dan imut, tetap saja mereka merasa sangat bosan jika hanya diam dan memperhatikan.
Namun Michelle dan Meli segera datang menghampiri, Michelle terlihat masih kesal, sedangkan Meli hanya diam membungkam diri nya sendiri.
"Langsung cabut aja Nay, Oma di urus ma nyokap gue juga." Michelle naik ke jok belakang setelah Vio pindah tanpa di rusuh, Naya mengangguk, Vaghelaz sigap kembali menaiki motor nya masing-masing, Meli duduk di kursi pengembudi, kemudian ketujuh pemuda dan kelima gadis bersama satu gadis kecil pun kembali melakukan perjalanan menuju Jakarta.
-
"Ahh.. Cape juga ye? Bolak balik dari Jakarta ke Malang." Keluh Meli seraya membaringkan tubuh nya di sofa panjang ruang keluarga apartemen Michelle. Jam menunjukkan pukul 01.00, beberapa Vaghelaz masih berada di sana bersama Naya, sedangkan Vio tengah mengantar Nara bersama Devan dan Jefran.
"Nay? Lo nginep aja di sini, kalo lo balik malah di hukum lagi nanti nya, gue gak mau lo dapet hukuman gegara gue." Ucap Michelle seraya berjalan mendekat setelah menutup pintu kamar nya, Michelle baru bisa menidurkan Kia beberapa jam tadi, dan untuk sekedar menunggu Kia tertidur pulas, Michelle menemani nya sebentar.
Naya menganggukkan kepala seraya memejamkan mata, posisi nya tengah bersender di punggung sofa, sedangkan Vaghelaz sibuk menonton film action Cina di televisi, karena harus fokus pada translate, maka tidak ada waktu untuk sekedar melirik kearah lain, apalagi berkomentar.
Michelle duduk di sebelah Naya, menghela nafas panjang seraya memejamkan mata nya sejenak.
"Capek juga." Keluh nya setelah kembali membuka mata, melihat adegan action di televisi dengan mata berat karena mengantuk.
Tak lama Vio kembali bersama Devan dan Jefran, apartemen milik Michelle memang cukup luas, ada tiga kamar, dan Vaghelaz serta ke tiga sahabat nya memutuskan untuk menginap. Michelle bersama Kia, Naya sekamar bersama Vio dan Meli, Vaghelaz tertidur di kamar terakhir, kecuali yang ketiduran di sofa ruang tengah. Sedangkan Nara memutuskan untuk pulang, kedua orang tua nya sudah bersiap untuk mengomel di rumah, mau tak mau Nara harus pulang.
-
Tinggalin jejak nya ya temen temen semua, bantu dukung outhor juga biar semangat.
__ADS_1