Alvaska:Nayara

Alvaska:Nayara
Alvaska:Nayara 09


__ADS_3

Malam melenggang, pagi menjelang, rasanya baru beberapa detik lalu dia menutup mata, namun malam benar-benar singkat kali ini, alhasil Naya harus kembali bangun dan menjalani hari nya di Santara Bangsa.


Setelah siap, Naya segera keluar dari kamar dan menuju bagasi tanpa sarapan terlebih dahulu, kemudian mulai menginjak pedal gas mobil sport berwarna putih nya, karena dia memutuskan untuk memakai mobil hari ini.


-


Semua teralihkan, mobil sport keluaran terbaru memasuki halaman Santara Bangsa, rupa nya Naya baru saja tiba di parkiran sekolah, tak menunggu waktu lama, dia segera keluar dari mobil mewah itu, kemudian menghampiri empat teman nya yang masih melongo tidak percaya.


"Anjir! Sejak kapan lo punya mobil mewah kaya begitu Nay?" Tanya Vio kaget.


"Sejak kapan pula lo ngepet?" Celetuk Michelle, sedangkan Meli tertawa kecil di samping nya.


"Sialan." Umpat Naya dengan santai seraya berjalan mendahului ke empat sahabat nya menuju kelas.


Tak lama bel masuk pun berbunyi, dan seluruh siswa kembali ke kelas nya masing-masing.


-


Naya menghampiri anggota Vaghelaz karena ada Lingga di sana, tak lupa bersama ke empat gadis di belakang nya. Naya mendekat, rupanya mereka tengah berbicara santai, namun seorang gadis menjadi sorotan Naya.


Dia Alya, dengan santai nya merangkul lengan kiri Lingga, tapi beberapa kali Lingga melepaskan tangan nya dan sedikit bergeser dari posisi duduk sebelum nya dengan ekspresi tidak enak, oh, posisi mereka tengah membelakangi Naya sekarang, alhasil hanya anggota Vaghelaz yang tau akan kedatangan Naya.


Tak lama, dengan berjalan santai bak model papan atas, Naya pun sampai di meja yang bisa di bilang agak belakangan dan sudah biasa menjadi tongkrongan kelas 12 seperti Lingga.


Tanpa ba-bi-bu Naya mendorong keras bahu Alya, membuat nya menjauh dari Lingga, setelah itu dia duduk di sebelah kiri Lingga, dan segera menggandeng lengan nya. Lingga tersenyum kecil melihat itu, kemudian kembali fokus pada mie ayam nya.


"Sialan! Lo berani banget sih?!" Gumam kesal Alya, dia mengangkat tangan nya bermaksud ingin menampar pipi Naya, namun Vio terlebih dahulu mencegah dengan sedikit memutarkan lengan nya, membuat dia mengaduh kesakitan.


"Woy! Lepasin ngak?" Aka berdiri menatap tajam kearah Vio, namun Vio hanya melirik nya sekilas.


"Kali ini aja, kalau sampe lo kaya gitu lagi.. Eumh, gue pastiin lebih dari ini." Ucap Vio, tak lama dia menghempaskan lengan Alya.


"Awas aja lo!" Kesal Alya kemudian pergi meninggalkan kantin dengan rasa kesal dan rasa sakit di tangan nya.


"Kaya nya lo gak takut ya sama Vaghelaz?" Tanya Raga ketika Vio dan tiga teman nya sudah duduk bersebelahan.

__ADS_1


"Ngapain takut?" Vio balik bertanya tanpa menoleh.


"Kalo kita takut sama lo pada, yang ada populasi cewek di dunia ini bakal habis di bun*h!" Michelle menyambung kalimat Vio, sedangkan gadis lain nya diam mendengar ucapan Michelle, mereka tau jika Michelle pun salah satu dari banyak nya korban yang di bun*h mengenaskan oleh Vaghelaz, bahkan sampai diri nya di usir dan hanya tinggal sendirian dalam sebuah apartemen bersama pengasuh nya sejak kecil.


"Heh, kalo lo mau tau gue kasih tau, tapi kalo lo udah tau gue ingetin lagi, bukan Vaghelaz gen 26, tapi, Vaghelaz gen 24-25, ngarti ora?" Devan menatap lurus kearah Vio dan Michelle.


"Gue juga tau pelaku kejadian itu abang lo Ka." Michelle menatap datar kearah Aska, membuat Aska bingung, dan tak mengubris ucapan Devan.


"Dari mana lo tau?" Tanya Aska seraya memelankan suara nya, seperti takut jika siswa dan siswi lain mengetahui hal itu.


"Orang gak akan pernah tau kalo dia gak ngerasin sendiri gimana rasa nya!" Michelle beranjak, kemudian pergi begitu saja.


Hening.


"Sialan! Dasar Kenzo sialan!" Umpat Devan pelan dan tertahan, membuat Aka yang berada di samping nya menoleh bingung.


"Nape lo Pan?" Tanya Aka, sedangkan Devan hanya menggelengkan kepala.


"Gue heran, ngapa sih tu cowok serakah banget? Minimal buat gue satu kek." Lanjut nya menggerutu.


"Lo suka sama Michelle?" Tanya Meli setengah serius setengah bercanda.


"Biar gue comblangin lo ma anak pala batu itu." Jawab Meli dengan santai seraya di lanjutkan dengan kekehan, Devan mencibir dengan tatapan tajam. Sedangkan yang ia ucapkan memang benar ada nya, dia menyukai Michelle, walau sering berdebat hebat dengan gadis itu.


"Berani buka mulut, awas aja lo anjg!" Sarkas Devan seraya menahan kesal karena Meli terus menggoda nya.


"Hehe.. Gue juga gak akan pernah bicarain soal itu sama dia, yang ada ngamok tu anak." Kekeh Meli lagi.


"Kenapa?" Tanya Raga mendahului Devan.


"Dia gak suka cowok." Acuh Meli.


TAKK


"Aduh! Aduh! Aduuuh?! Sakit anjir?!" Ringis Meli.

__ADS_1


"Yang bener aja lo kalo ngomong Mel, gue gergaji mulut lo baru tau rasa tau ngak?!" Ancam Michelle, sedangkan Meli diam seraya mencibir dalam hati.


"Kenapa lo balik lagi Chelle?" Tanya Vio.


"Pamit, siang ini gue kudu balik ke Malang, Oma koma, gue juga gak tau kenapa, tapi yang pasti gue harus kesana buat jemput Kia ke Jakarta, sekaligus temenin Oma beberapa hari, mobil nyokap juga udah dateng." Jelas Michelle dengan ekspresi lempeng.


"Gue ikut." Naya menyela Vio yang hendak berbicara, kemudian menatap serius kearah Michelle.


"Mau ngapain lo?" Tanya Michelle heran.


"Gak juga, udah lama gue gak ketemu si Kia." Ucap Naya.


"Yaudah, lo nyusul aja nanti, gue harus kesana sekarang, Kia cuma di jagain sama suster nya, lagupula gue gak percaya sama tu cewek, dah ya.. Byee!" Michelle melambaikan tangan sejenak selagi berjalan menuju pintu keluar kantin, kemudian mulai bejalan setengah berlari menuju parkiran sekolah.


"Mau sekarang?" Vio bertanya antusias.


"Ayo, bolos juga ayo gue mah." Sahut Meli, kedua nya mulai menatap Naya, termasuk Nara.


"Kia siapa nya Michelle?" Tanya Devan, dia mengalihkan pandangan kearah empat gadis itu.


"Anak nya." Jawab Meli sekenanya.


"Yang bener aja lo, jangan bilang si Michelle juga di jodohin kaya si Naya sama si Aska." Datar Devan.


"Sialan lo Mel! Gue jadi takut temenan ama elo." Vio melirik Meli dengan wajah risau, sedangkan Meli hanya tertawa kecil mendengar nya.


"Woy! Jadi Kia itu anak sape?" Tanya Devan yang terlihat mendesak, penasaran dan heran.


"Dia emang anak Michelle, Michelle sayang sama dia, tapi status yang sebener nya cuma anak angkat Michelle." Jelas Nara, tapi Devan masih diam dengan penuh kebingungan, begitu juga dengan anggota Vaghelaz lain nya.


"Jadi si Kia ini anak siape sebener nya?" Tanya Jefran dengan raut wajah bingung.


"Ck, kenapa juga dia angkat tu anak jadi anak nya?" Kevin nampak kesal setelah memikirkan nya lebih lama.


"Ho'oh, dia 'kan masih sekolah, satu angkatan lagi sama kita." Lanjut Raga.

__ADS_1


"Ish, nama nya anak angkat ya anak angkat, bisa ngerti gak sih?" Naya menatap kesal kearah teman-teman nya, sedangkan Lingga masih merangkul Naya seraya memainkan rambut nya, mencoba diam dan hanya menyimak pembicaraan dan pertikaian mereka.


-


__ADS_2